Siang yang cukup terik bagi Aily, seorang gadis 24 tahun dengan kulit kuning langsat. Aily tipe gadis yang akan menghindari terik matahari dengan alasan takut kulitnya bertambah hitam. Namun tidak dengan akhir-akhir ini, dia rela keluar kantor hanya untuk ke toko bunga disebrang kantornya.
"Siang Mbak" Sapa Ko Ivan pada Aily.
"Siang, Ko pot bunga yang modelnya kayak kemarin udah datang ?" tanya Aily dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
"Udah mbak, masuk aja ada di rak paling ujung." Jawab Ko Ivan sambil menunjuk rak yang paling ujung.
Aily segera mencari pot yang dia inginkan, dan dia sengaja berlama-lama ditoko itu karena dia tertarik dengan Ko Ivan pemilik toko tersebut. Jujur saja, Aily dulu tidak menyukai bunga karena baginya sangat merepotkan karena harus menyiraminya setiap hari tapi semenjak dia ketemu Ko Ivan dia jadi suka bertanam.
"Pah aku pulang." Aily mendengar ada anak kecil bicara tapi dia mengabaikannya karna dia pikir mungkin itu anak pembeli lain tapi tunggu dulu, Aily seperti menyadari seauatu.
"Muel tasnya jangan ditaruh disitu, sini bawa masuk." Ucap seseorang yang suaranya sangat familier ditelinga Aily.
Deg... seperti ditusuk ribuan jarum tepat dijatungnya, Aily merasa sesak didadanya. Aily pikir Ivan masih single,tapi kenyataannya dia sudah memiliki anak. Sakit memang tapi mau apa lagi toh dia yang terlalu cepat menaruh hati, sedangkan dia tidak pernah menyeledikinya terlebih dahulu.
Selesai memilih pot bunga yang dia inginkan, Aily segera ke meja kasir untuk membayar belanjaannya. Aily melirik anak yang duduk disamping Ivan sambil memainkan gadgetnya. Memang benar jika buah jatuh tak jauh dari pohonnya, wajahnya sangat mirip dengan Ivan, mungkin dulu seperti itulah wajah Ivan saat masih kecil.
***
"Pada akhirnya aku harus menyerah, sedangkan aku belum berjuang sama sekali dan untuk kesekian kalinya aku terluka atas nama cinta." Batin Aily dalam lamunannya.
"Aily, segeralah keluar Reyhan dan orang tuanya sudah datang." ucap ibu Aily sambil mengetuk pintu kamar Aily. Aily tersadar dari lamunannya lalu menghapus air mata dipipinya.
Diruang tamu orang tua Aily, Reyhan dan Orang tua Reyhan sudah berkumpul diruang tamu. Aily duduk disebelah Ibu nya dan tersenyum sebagai rasa hormat pada tamu.
"Karna Aily sudah disini jadi langsung saja, kami kesini dengan tujuan meminang Aily untuk Reyhan anak kami." ucap ayah Reyhan.
"Iya nak, kamu sangat cocok bersanding dengan Reyhan." tambah Ibu Reyhan.
Reyhan tampak tersenyum percaya diri karna dulu Aily mencintainya, dia sangat yakin Aily akan menerimanya. Sedangkan Aily masih terdiam dengan ekpresi yang tidak bisa dibaca.
"Kami akan sangat senang jika bisa berbesanan dengan bapak dan ibu tapi keputusannya saya serahkan ke Aily saja." Ucap Ayah Aily.
"Aily..." lirik Ibu Aily sambil menyenggol lengan Aily karena sejak tadi Aily hanya diam saja. Aily menghiruo lalu membuang nafasnya kasar.
"Maaf bukan maksut saya untuk bersikap tidak sopan, tapi saya tidak bisa menerima pinangan Reyhan." Ucap Aily dengan lembut karena takut menyinggung perasaan kedua orang tua Reyhan.
"Kenapa Ay, bukannya kamu mencintaiku ?" Ucap Reyhan dengan kasar.
"Itu dulu Reyhan, sekarang tidak lagi." Tegas Aily.
"Ini memalukan Hadi, putrimu menolak Reyhan anak kami." Ketus Ayah Reyhan pada Ayah Aily.
"Apa kurangnya Reyhan? Dia sarjana dan memiliki pekerjaan yang mapan. Harusnya kamu bersyukur karna Reyhan mau sama kamu." Timpal Ibu Reyhan tak kalah ketus.
"Ya saya memang bersyukur, karena Allah sudah menunjukkan sebajingan apa anak anda." Ucap Aily dengan Lantang, Aily beranjak pergi.
"Aily..." Teriak Ayah dan Ibu Aily. Ibu Aily meraih tangan Aily yang langsung menghentikan langkah Aily.
"Aily, bicara yang sopan." Bentak Ayah Aily.
"Harus sesopan apa lagi yah? Bukankah Aily sudah bilang Aily gak mau dijodohkan, kenapa kalian tetap memaksa." Lantang Aily.
"Aily Reyhan laki-laki yang baik." Sahut Ibu Aily.
"Baik menurut Ibu dan Ayah bukan berarti baik buat Aily. Apa kalian tahu gimana rasanya dijadikan bahan taruhan sama orang yang kita cintai?"
"Itu masa lalu Ai, sekarang sudah berubah. Aku suka sama kamu Aily." celetuk Reyhan.
"Bagimu itu masa lalu, tapi tidak dengan ku Rey. Rasa sakit atas segala penghinaanmu tidak mudah untuk dilupakan karna terlalu menyakitkan.
"Maaf Yah, bu Aily pergi." pamit Aily lalu bergegas kekamar mengambil tas, Aily akan kembali ke kontrakannya.
"Saya kecewa dengan putri mu Di, putrimu terlihat baik tapi kenyataannya dia hanyalah gadis yang tidak punya sopan santun." ucap ayah Reyhan.
Ayah dan ibu Aily, malu dengan sikap yang ditujukkan Aily. Gadis yang penurut menjadi pembangkang dan kasar.
"Aily...selangkah saja kamu pergi dari rumah ini mak janga pernah kembali lagi Aily." Ketus ayah Ailu saat Aily melewati ruang tamu.
"Yah..." lirih ibu Aily sambil memegang lengan suaminya.
"Terimakasih Yah, bu sudah merawat dan membesarkan Aily, maaf membuat kalian kecewa." ucap Aily lalu tersenyum getir penuh kekecewaan.
"Jika kalian tidak mengizinkan Aily kembali, Aily tidak akan kembali. Aily akan berjuang sendiri untuk hidup Aily. Ini pilihan Aily dan Aily tidak akan menyesalinya. Aily tahu dosa Aily sangatlah besar pada kalian, sekali lagi maaf." Lalu Aily pergi dari rumah orang tuanya dengan penuh rasa kecewa, hanya karena menolak seorang pria ayahnya tega mengatakan hal yang selayaknya tidak boleh dikatakan oleh orang tua.
***
"Badai kehidupan memang kejam, dia memporak porandakan kehidupan tanpa ampun dan belas kasihan. Tapi percayalah setelah badai akan ada pelangi indah yang menghiasi kehidupanmu, membentangkan warna yang menenangkan jiwa." ucap Aily pada anak yang ditemuinya.
Anak itu menceritakan kesedihannya pada Aily. Menceritakan perpisahan kedua orang tuanya, hingga dia berpisah dengan adiknya karena hak asuh adiknya jatuh ke tangan mamah nya. Perpisahan itu terjadi karna kesalahan mamahnya dan sekarang mamahnya sudah menikah lagi sedangkan papahnya belum, meski begitu dia tidak membenci mamahnya. Sungguh anak kecil yang bijak.
"Siapa namamu ?" Tanya Aily pada anak kecil yang ditemuinya.
"Samuel, nama tante siapa ?." Jawab anak itu dan Aily tersenyum.
"Nama yang bagus, samuel wajahmu mirip sekali dengan koh Ivan, oh iya nama tante Aily." Ucap Aily lalu tertawa sedangkan samuel tersenyum.
"Tentu saja dia papahku, tante kenal papah ?" Tanya Samuel. Aily menghentikan tawanya dan diam sejenak.
"Emmm.... tidak, hanya saja tante pelanggan di toko papahmu." Jawab Aily.
"Muel, ayo pulang." teriak Ivan dari jauh lalu dia mendekati Samuel dan Aily.
"Iya pah." Jawab samuel sambil berdiri dari duduknya, sedangkan Aily juga ikut berdiri dan dia hanya bisa tersenyum canggung pada Ivan.
"Maaf, saya mengajak samuel berbicara agak lama sampai saya lupa waktu." ucap Aily dengan canggung.
"Gak papa, saya malah seneng kamu deket sama Samuel." jawab Ivan dan Aily sedikit terkejut mendengar jawaban Ivan.
"Pah dia tante Aily." ucap Samuel.
"Iya papah tau, kalau gitu ayo pulang. Aily ikut aku, aku antar kamu pulang." ucap Ivan.
"Tapi..."
"Gak ada tapi-tapian tante." ucap samuel memotong ucapan Aily.
"Tapi kontrakan tante deket dari sini." ucap Aily.
"Iya gak papa, aku tetep anterin kamu." sahut Ivan.
Akhirnya Ivan mengantarkan Aily sampai kekontrakan. Semenjak hari itu mereka semakin dekat entah sebagai teman atau lebih tidak ada yang tahu, karena Ivan tidak memperjelas status Aily sebagai siapanya, sampai saatnya tiba, Ivan mengajak Aily makan malam bersama kali ini tanpa ada samuel.
"Aily, aku bukan pria yang pandai mengucapkan kata cinta yang romantis, aku juga bukan pria lajang, aku duda dengan dua anak. Meski begitu bolehkan aku minta sesuatu ?" ucap Ivan sambil menggenggam tangan Aily.
"Apa ?"
"Menikahlah denganku, jadilah mamah dari Samuel dan Senna."
"Maaf ko, aku tidak bisa." ucap Aily sambil menarik tangannya dari genggaman Ivan.
Aily juga mencintai Ivan dia juga ingin hidup dengan Ivan, harusnya dia senang karena ini yang dia inginkan sejak dulu. Namun dia sadar saling mencintai bukan berarti bisa bersama karena mereka berbeda.
"Kenapa ?" Tanya Ivan yang tampak kecewa. Ivan pikir ini salahnya karena mendekati Aily tanpa memberi status yang jelas mungkinkah Aily punya kekasih tanpa Ivan ketahui.
"Ko kamu tahu kita beda, kita tidak seiman. Kamu dan aku gak bisa bersama, kita menyembah Tuhan yang berbeda. Aku bukan orang yang bisa menikah dengan orang berbeda agama. Bagiku hanya boleh ada satu keyakinan didalam pernikahan, aku tidak bisa ikut agamamu dan aku juga tidak mau memaksamu ikut dengan agamaku. Aku memang berteman dengan siapa saja tanpa memandang agama atau suku mereka, tapi tidak untuk pernikahan meskipun aku sangat mencintaimu." Ucap Aily dengan air mata yang berderai.
"Kamu itu ngomong apa sih, Aily sayang ?" Jawab Ivan sambil menahan tawa.
"Kamu yang kenapa ? aku gak bercanda ya ko." Ketus Aily.
"Maaf maaf, aku yang salah karna gak kasih tau kamu kalau aku muslim sejak menikah dengan mamahnya samuel. Jadi gak ada alasan lagi dong ?"
"Tapi..." Aily menghentikan ucapannya.
"Tapi apa lagi ? kamu tenang aja kita sama-sama kerumahmu minta restu dari kedua orang tuamu."
"Kamu gak tahu bagaimana Ayah ko ? Aku sudah gak boleh datang ke rumah, aku takut ditolak."
"Aily ditolak atau enggak, kita gak akan tahu kalau gak mencoba. Yang penting kita berusaha dulu."
"Baiklah besok kita kerumahku."
Keesokan harinya Ivan dan Aily pergi kerumah orang tua Aily. Pada awalnya Aily disuruh pergi, dan ayah Aily bilang tidak peduli lagi dengan kehidupan Aily, tapi Ivan dan Ailh tetap berusaha meminta maaf dan meyakinkan ayah Aily sampai pada akhirnya Ayah Aily menyerah dan luluh, ibu Aily juga ikut andil dalam membujuk Ayah Aily.
Akhirnya Ivan dan Aily menikah dengan pesta yang sederhana atas permintaan Aily. Samuel bahagia karena Aily menjadi mamah sambungnya, mereka hidup bahagia, Aily sekarang resign dari tempatnya bekerja karna sedang mengandung, kadang-kadang dia membantu Ivan ditokonya.
TAMAT