pelukan Sang Malam,Nama dari sebuah legenda kuno nan terkenal di Kota Shutter yg terletak di kontinen terpencil "Arashi".Kota yg bahkan tidak dilirik oleh masyarakat dari daerah lain.
Legenda tentang "Pelukan Sang Malam" adalah legenda mengenai seorang pria yg memiliki darah penyihir di dalam nadinya.Namanya adalah Aillard Anwyn,Ia dikisahkan sebagai pria yg memangsa setiap gadis remaja yg keluar di malam hari.Tapi belum ada bukti jelas apakah legenda ini hanya cerita belaka atau sungguh kenyataan dikarenakan beberapa gadis remaja dari Kota Shutter juga menghilang secara misterius tanpa jejak sehingga beberapa penduduk Kota Shutter percaya akan legenda ini dan sebagian lagi tidak tentunya.
"Legenda aneh!-Memangnya siapa yg percaya akan legenda aneh nan konyol seperti ini?Gadis remaja yg menghilang secara misterius itu sudah pasti menghilang di hutan Clife yg sangat lebat itu.Pikiran mereka yg percaya sungguh kuno di zaman modern ini,Huhh.."Kesal seorang gadis remaja yg berusia 18 tahun kira-kira.
Setiap kali mendengar tentang legenda tersebut,Gadis remaja bernama Luciana Magnolia atau yg akrab dipanggil Lucy itu selalu membantah adanya legenda "Pelukan Sang Malam".Padahal,Teman-temannya sudah mengatakan kepadanya untuk percaya akan legenda itu supaya dijauhkan dari Aillard Anwyn tapi Luciana tetap bersikukuh akan pendapatnya sendiri.
"PRIA BERNAMA AILLARD ANWYN ITU TIDAK ADA!"Ucap Lucy dengan suara lantang di jalannya pulang ke rumah yg bisa terbilang cukup jauh dari pemukiman warga lainnya.
Tiba-tiba dari arah belakangnya,Lucy merasakan deru napas berat khas seorang pria dewasa dan juga hawa panas yg menguar dari tubuh pria tersebut yg secara tiba-tiba memeluknya.Pria tersebut kemudian berbisik pelan di telinga Lucy..
"Luciana Magnolia,Aku senang bisa bertemu denganmu kembali.."Ucap lembut pria tersebut tepat di telinga Lucy.
Saat Lucy hendak berbalik ke belakang untuk melihat pria kurang ajar mana yg memeluknya itu,Ia tak melihat apapun di depan matanya.Hanya terdengar suara burung gagak ketika ia berbalik.Hal itu lantas membuat bulu kuduk Lucy merinding dan akhirnya teringat akan legenda yg sering dibantahnya.
"Jangan bilang legenda itu memang nyata?!"Gumam Lucy seraya memegangi lengannya yg bergetar hebat sambil berusaha melupakan kejadian barusan dan melangkah menuju rumahnya.
Belum sempat Lucy memegang gagang pintu rumahnya yg sudah sangat dekat,Ia dikagetkan dengan kemunculan seorang pria berbaju gelap tepat di hadapannya.Pria tersebut muncul dari segerombolan burung gagak bermata merah yg tadinya berterbangan di depan pintu rumah Lucy sehingga ia mundur sedikit ke belakang.
Pria yg tidak lain adalah Aillard Anwyn itu tersenyum manis saat menatap wajah Lucy yg pucat pasi akibat kemunculannya yg begitu tiba-tiba.
"Maaf mengagetkanmu,Lucy.Aku hanya..Tidak bisa bersabar untuk segera menemuimu"
Aillard berlutut di hadapan Lucy kemudian mencium punggung tangan Lucy setelah berkata selembut itu.Lucy sendiri bingung kenapa pria yg ada dalam legenda itu memperlakukannya dengan begitu lembut padahal kalau ingin memangsanya,Aillard bisa langsung membawa paksa dirinya atau bahkan mengambil rohnya.
"Siapa kau dan kenapa kau memperlakukanku dengan selembut ini?"Tanya Lucy hingga akhirnya berani menatap wajah Aillard yg bisa dibilang cukup rupawan.
"Sesuai dengan legenda yg beredar di Kota Shutter-mu yg begitu terpencil ini,Namaku adalah Aillard Anwyn.Tapi khusus untukmu,Kau boleh memanggilku dengan sebutan 'Aill',Luciana.Dan kenapa aku memperlakukanmu selembut ini?Singkatnya,Kau adalah milikku"
Mata semerah darah yg terkena cahaya bulan itu bersinar dengan indahnya begitu juga dengan rambut peraknya yg semakin kelihatan berkilau dan juga sama indahnya seperti mata semerah darahnya tersebut.Senyuman miring yg diberikan Aill berhasil membuat Lucy tak tersadar untuk sesaat karena terhanyut akan keindahan wajah Aill.
"Apa maksudmu dengan 'Milikku'..?"Tanya Lucy dengan wajah kebingungan akan kata-kata Aill.
"Sepertinya pujaan hatiku ini lupa akan jati diri dan juga ingatannya,Bagaimana kalau aku membantumu untuk mengingat semuanya..Di kastilku?"Ucap Aill kemudian menjentikkan jarinya yg membuat keduanya berteleportasi di hadapan sebuah kastil bergaya klasik yg identik dengan abad pertengahan.
Seni artistiknya,Taman,Hingga lentera biru yg dipasang di beberapa bagian kastil itu membuat mata Lucy terbelalak kagum.Seumur hidupnya,Baru kali ini ia bisa melihat kastil abad pertengahan secara langsung dan bukan melalui layar ponselnya.
Aill terkekeh ketika melihat Lucy yg tidak menghiraukannya dan hanya fokus menatap sekeliling kastil miliknya yg...
"Ini..Kastilmu,Aill?"Tanya Lucy sambil menunjuk kastil di hadapannya dengan mata berbinar-binar seperti orang yg begitu bersemangat.
"Mungkin maksudmu..Kastil kita,Lucy"Jawab Aill kemudian langsung mendekap Lucy di pelukannya yg terasa begitu hangat.
"KENAPA DARITADI KAU SEPERTI INI SIH?!-Pertama memelukku tanpa izin,kedua mencium punggung tanganku,ketiga membawaku kesini tanpa persetujuanku,dan keempat menggodaku dengan kata-kata manis!"Bentak Lucy kepada Aill.
Untuk sesaat Aill teringat kembali akan sebuah memori kecil di masa lalu yg mengingatkannya kepada sosok wanita bernama 'Miranda'.
"Ya karena aku sudah mengklaim dirimu sebagai milikku sejak lama..Sekali"Jelas Aill dengan kata-kata yg tak bisa dimengerti oleh Lucy pada saat itu.
Tanpa berlama-lama lagi,Aill langsung menarik Lucy masuk ke dalam kastil besar nan megah miliknya tersebut.Di dalam kastil Aill,Terdapat banyak sekali lukisan pasangan.Tapi dari sekian banyaknya lukisan disana,Ada 1 lukisan yg paling menarik perhatian Lucy.Lukisan tersebut adalah lukisan dari seorang wanita yg seperti bangsawan karena gaun khas abad pertengahannya.
Di bingkai tempat di letakkannya lukisan wanita bangsawan itu,Tertulis dengan warna emas nama 'Miranda Flynn' di bagian bawah lukisan itu.Lucy seakan tersihir saat menatap mata 'Miranda' yg begitu berwibawa yg sudah selayaknya dimiliki seorang bangsawan.
Rambut biru tua bagai lautan dalam dan mata emas yg berkilauan di balik kelopak matanya semakin membuat hati Lucy berdebar-debar ketika melihat.Seperti merasakan ikatan dengan wanita tersebut(?).
"Dia adalah Miranda Flynn,Wanita yg sangat kucintai dulu.."
Mata Aill terlihat berkaca-kaca saat menatap lukisan 'Miranda' di depannya tersebut.Ia seperti ingin menangis tapi tangisannya itu ditahannya sekuat tenaga supaya tak jatuh.
"Maaf,Tapi apa yg terjadi kepada wanita bangsawan bernama 'Miranda' ini?"Tanya Lucy ragu-ragu.
"Dia sudah meninggal dunia karena di penggal oleh pihak kerajaan.Tragis sekali,Bukan?"Jelas Aill sambil melirik Lucy dengan mata yg begitu sendu dan juga rindu(?)
Selama beberapa saat,Lucy dan Aill terjebak dalam kesunyian setelah pembahasan tentang sosok wanita bangsawan 'Miranda Flynn'.Tapi setelah itu,Aill langsung memecah kesunyian itu dengan menarik pelan tangan Lucy semakin dalam menuju sebuah kamar di dalam kastilnya.
Saat Aill membuka pintu kamar tersebut,Ia terdiam sebentar saat wangi bunga mawar yg begitu pekat menguar dari dalam kamar yg begitu elegan nan indah di hadapan keduanya.
"Bunga mawar!"
Lucy langsung melewati Aill dan masuk ke dalam kamar tersebut dengan sangat senangnya kemudian duduk di sofa yg ada di dalam.
Bunga mawar adalah bunga favorit yg bahkan sampai membuatnya rela menghabiskan uangnya hanya untuk membeli 1 buket bunga mawar segar untuk dijadikan hiasan di kamarnya.Lucy selalu memimpikan kamar yg memiliki bau bunga mawar seperti kamar yg saat ini ia masuki.
"Ini adalah kamar Miranda,Lucy"Ucap Aill yg langsung membuat Lucy tersentak dan membuatnya berpikir kalau Aill akan membunuhnya karena telah masuk sembarangan ke kamar 'Miranda'.
"A-ah,Maafkan aku.Aku tidak tahu kalau ini adalah kamar milik Nona Miranda,Aill"
Aill hanya tersenyum ketika melihat Lucy yg merasa bersalah karena memasuki kamar 'Miranda'.Ia lalu berjalan mendekati Lucy dan menekan pelan bahu Lucy agar ia duduk kembali saja di sofa.
"Ini kan kamar Miranda!-Bagaimana aku bisa duduk disini!?"Tolak Lucy seraya menepis tangan Aill dari bahunya.
"Tidak apa-apa,Aku yakin kalau Miranda juga tidak akan keberatan dengan ini"
Lagi-lagi,Aill menampakkan senyuman yg tidak bisa diartikan oleh Lucy.Aill seperti senang jika Lucy menggunakan kamar itu semaunya.
"Bagaimana kalau aku membantumu mengingat ingatanmu sekarang?"
Lucy tak mengerti akan apa yg dibicarakan Aill mengani ingatannya yg menurutnya ya normal-normal saja.Tapi apalah dayanya yg penasaran akan apa yg ingin dikatakan Aill selanjutnya.
*SWOOSHH*
Jendela di kamar itu secara tiba-tiba terbuka semuanya dan membiarkan angin malam yg begitu dingin masuk ke dalam kamar.Bersamaan dengan itu,Tepat di hadapan Lucy maupun Aill muncul bayangan 2 orang..
"Sebagai seorang wanita bangsawan dari keluarga ternama,Sebaiknya kau memberikan contoh yg baik untuk masyarakat luas.DAN BUKANNYA MENCINTAI PENYIHIR SEPERTI AILLARD ANWYN!!"Murka seorang pria dewasa yg tidak lain adalah ayahnya kepada Miranda yg ada di hadapannya.
"MEMANGNYA KENAPA KALAU AKU MENCINTAI AILL,AYAH!!?"Balas Miranda dengan siara yg sama lantangnya.
*PLAK*
Pipi Miranda langsung ditampar dengan begitu kerasnya oleh ayahnya sampai ia terjatuh ke lantai.
Lucy yg melihat adegan yg menurutnya sedikit tak asing itu langsung merasakan sakit yg luar biasa di kepalanya dan juga hatinya bagai disayat dengan pisau.Rasa sakit yg begitu nyata bagi Lucy yg bukanlah siapa-siapa..
"AYAH MENYETUJUINYA ATAU TIDAK,AKU AKAN TETAP MENIKAH DENGAN AILL!"Sambung Miranda seraya memegangi pipinya yg begitu merah akibat tamparan ayahnya.
Tanpa pikir panjang,Ayah Miranda langsung menyeretnya keluar dari kamar itu dan mendorongnya ke lantai aula kastil tersebut.
Reka ulang memori Miranda itu kemudian berganti kepada saat Miranda sudah ada di lantai aula kastil di hadapan ayah Miranda yg sudah begitu murka.
"Karena kau tak mengindahkan perkataanku,Maka hukuman pemenggalan atas dirimu akan dilaksanakan 2 hari lagi!"Ucap ayah Miranda sambil menatap tajam Miranda.
"Huh,Ayah tidak bisa memenggal kepalaku sesuka hati jika tidak mendapatkan izin dari yg mulia raja!"Sanggah Miranda dengan beraninya.
"Siapa bilang aku tak mendapatkan izin dari yg mulia raja~?"
Memori Miranda kemudian berganti kembali,Tapi kali ini adalah saat kepala Miranda sudah ditaruh di bawah sebuah alat pemenggalan bernama 'Guillotine' yg pada masa itu dianggap sebagai hukuman mati paling 'Manusiawi'(?).
Ketika sebilah besi tipis nan tajam yg ada pada Guillotine itu dijatuhkan,Lucy langsung berteriak dengan kerasnya sampai berlutut di lantai.Air mata jatuh membasahi wajahnya dan Rasa takut akan kematian menghantuinya kembali.
"A-aill..Aku tak ingin mati lagi!"Gumam Lucy dengan kaki yg begitu gemetaran dan juga air mata yg sudah jatuh banyak sekali sampai membasahi wajahnya.
*GREP*
Aill langsung memeluk Lucy alias Miranda (di masa lalu) dengan begitu eratnya.Lucy menangis dengan kerasnya sampai suaranya menjadi serak.Ia takut akan kematiannya di bawah Guillotine itu.
"Tenanglah,Mira.Kau tak akan mati lagi.Aku tak akan membiarkanmu mati lagi"Jelas Aill seraya menepuk-nepuk punggung Miranda.
"Kenapa..Kenapa saat itu kau tak datang menyelamatkanku..Aill?"Ucap Miranda hingga akhirnya jatuh pingsan karena memori beruntun yg masuk ke dalam kepalanya kala itu.
Saat Miranda sadar dari pingsannya,Ia sudah berada di atas kasur di kamar yg pekat akan wangi bunga mawarnya lagi.Tepat di samping kanannya,Duduk seorang Aillard yg tertidur dengan rambut yg begitu berantakan.Miranda yg sudah ingat kembali akan masa lalunya pun hanya bisa tersenyum ketika memandangi Aill.
"Maafkan aku..Karena..Terlambat datang..Menyelamatkanmu dari hukuman penggal..Guillotine itu"Gumam Aill dalam tidurnya.
"Aku memaafkanmu,Aill"Jawab Miranda seraya menyibak rambut Aill ke kanan.
Tiba-tiba Aill terbangun dari tidurnya ketika Miranda mengaitkan rambutnya ke telinganya.Keduanya saling bertatapan mata hingga akhirnya Aill menunjukkan senyuman yg begitu dirindukan oleh Miranda.
"Aku senang kau memaafkanku,Mira"Ucap Aill sampai membuat Miranda berwajah merah padam.
"Jadi kau pura-pura..Tidur?"
"Menurutmu?"Tanya Aill balik seraya tersenyum miring.
Miranda langsung memukul kepala Aill karena hal kecil itu.Aill sendiri hanya terkekeh ketika Miranda memukulnya beberapa kali yg bisa dibilang tidak akan menimbulkan efek apapun padanya yg merupakan seorang manusia dengan darah penyihir di nadinya.
"Pokoknya,Aku senang kau terus mencari reinkarnasi diriku di masa lalu,Aill.Tapi,Apakah menurutmu pilihanku sewaktu menjadi wanita bangsawan itu salah?"
Ia menunduk setelah menyelesaikan kalimatnya.Miranda bingung apakah pilihannya untuk tetap mencintai Aill itu benar atau sebaliknya karena di masa lalu,Kerajaan Poli hancur tak bersisa karena amarah Aill atas meninggalnya dirinya.Menurut pemikirannya,Dia adalah penyebab kehancuran Kerajaan Poli itu sendiri dan juga orang-orang tak bersalah lainnya.
"Mencintai seseorang,Apakah perlu memikirkan pendapat atau nasib orang lain?Lagipula,Itu adalah salah mereka sendiri karena telah bersuka cita atas hukuman pemenggalan yg dijatuhkan kepadamu"Jelas Aill tanpa beban sedikitpun.
Aill tersenyum kembali lalu mencium punggung tangan Miranda untuk yg ke sekian kalinya.
"Kau tak perlu lagi memikirkan akan apa yg terjadi di masa lalu lagi,Mira.Jalani saja hidupmu yg sekarang..Bersamaku tentunya"
Ia kemudian menjentikkan jarinya yg kemudian membuat 2 lentera yg ada di kamar tersebut mati..
Keesokan harinya,Ketika Miranda sedang memandangi lukisan dirinya di masa lalu yg sampai sekarang masih dengan indahnya dipajang di dinding kastil itu.Tiba-tiba dari belakang..
"DUAR!"Kata Aill mengagetkan Miranda.
"Astaga,Aill!-Kau hampir membuatku mati karena serangan jantung!"Marah Miranda kepada Aill.
"Ayo ikutlah denganku.Ada sesuatu yg harus kulakukan padamu!"Ucap Aill dengan semangatnya kemudian langsung menarik tangan Miranda seraya tertawa.
Miranda dibawa menyusuri koridor kastil milik Aill dengan sangat lama hingga sampai ke sebuah ruangan berpintu kayu yg begitu besar.Aill lalu membukakan pintu tersebut untuk Miranda kemudian menyuruhnya untuk masuk duluan.
"Tempat..Ritual?"Tanya Miranda kebingungan akan ruangan yg baru saja dimasukinya.
Di lantai ruangan tersebut terdapat sebuah simbol Ankh yg begitu besar dan dikelilingi hamparan bunga krisan yg tumbuh dengan suburnya.Di pojok ruangan juga terdapat beberapa lentera berukiran kupu-kupu dengan nyala api berwarna kuning keemasan yg menyinari ruangan yg tadinya gelap gulita itu.
"Bukan tempat ritual sembarangan,Mira.Kau akan tahu nanti.Tapi,Untuk sekarang maukah kau berdiri bersamaku di tengah-tengah simbol Ankh itu?"Tanya Aill sambil mengulurkan tangannya kepada Mira dan menunggu jawaban untuk keluar dari bibir Miranda.
"Baiklah kalau kau memintaku demikian,Aill"Jawab Miranda seraya mengambil uluran tangan Aill yg kemudian menariknya ke tengah-tengah simbol Ankh tersebut.
Tepat setelah keduanya berdiri di tengah-tengahnya,Aill merapalkan sebuah mantra sihir yg bahasanya tidak bisa diketahui oleh Miranda.
"Ekde hodiaŭ ... Mi, Aillard Anwyn, dividos mian eternan spiron kun la honorinda virino antaŭ mi, Miranda Flynn.."Ucap Aill sambil memegang tangan Miranda.
Arti:"Mulai hari ini dan seterusnya..Aku,Aillard Anwyn akan membagi nafas abadiku dengan wanita terhormat di hadapanku,Miranda Flynn.."
Ruangan yg tadinya biasa-biasa saja dengan penerangan berupa lentera seketika menjadi sangat silau dengan cahaya kuning keemasan yg melambangkan keabadian.Untuk sesaat,Dada Miranda terasa begitu sakit seperti ditusuk-tusuk dengan jarum namun..
"Bertahanlah,Mira.Ritual kecil ini akan selesai sebentar lagi"Ujar Aill seraya tersenyum manis kepada Miranda yg sedikit pucat karena rasa sakit di dadanya.
"Apapun untuk Aill.."Jawab Miranda singkat.
3 tahun lebih berlalu setelah kejadian di hari itu.Yg mana,Aill akhirnya bisa menemukan reinkarnasi dari cintanya di masa lalu 'Miranda Flynn',Mengembalikan ingatannya lagi walaupun bukan ingatan yg menyenangkan,Dan memberikan Miranda nafas abadinya yg membuatnya bisa hidup sampai sekarang menunggu reinkarnasi Miranda.
Theodore Anwyn,Ezekiel Anwyn,dan Guinevere Anwyn adalah putra putri dari Aill dan Miranda yg uniknya merupakan kembar 3.Miranda sendiri yg dulunya hidup di abad pertengahan jarang menemukan pasangan yg memiliki anak kembar 3 seperti ketiga putra putrinya itu.
~THE END~