Xia Li gadis berumur tujuh belas tahun yang hidup di tahun 2021 dikirim Siluman Rubah ke masa lalu tahun 2010. Untuk sebuah tujuan penting.
Xia Li terbangun dan tersadar bahwa ia telah melintasi waktu sepuluh tahun lalu, tepatnya sekarang berada di atas punggung Siluman Rubah.
"Hai Rubah kenapa kau menculik ku," dengus Xia Li. Putri kerajaan terbesar di antariksa yang hidup di bumi bersama adik bungsunya, Xixian.
"Maaf Tuan Putri Baginda lah yang menyuruh saya menjemput Tuan putri untuk mengawasi pangeran Robun agar berhenti mencintai penyihir jahat bernama Luiz di kerajaan antariksa," jelas si Luman Rubah.
"Tuan Putri mohon untuk berpegangan erat kita akan meloncati awan-awan," tutur Siluman Rubah begitu melihat banyak awan di depannya.
Lima belas menit perjalanan akhirnya sampailah mereka di halaman istana kerajaan antariksa.
Xia Li langsung berlari menuju ke dalam istana. Dia mencari Robun ke kamarnya. Nihil, ia tidak ada. Yang ada hanya botol-botol kaca warna hijau tua.
"Hah, Robun kau," ucap Xia Li kaget sambil menutup mulutnya.
"Bukankah Robun sebagai calon pewaris tahta yang telah memutuskan untuk menghapus pesta miras, narkoba, dan judi. Tapi kenapa dia melanggar keputusannya sendiri. Ah ini tidak mungkin!" seru Xia Li, ia pun berjalan menelusuri lorong kerajaan. Sepi, tidak ada siapa-siapa.
Bahkan Xia Li sempat mampir ke kamar raja. Namun, sepi tidak ada siapa-siapa.
Begitu dia keluar dari istana dia tidak menemukan Siluman Rubah. Kemana perginya?
Apakah Xia Li dijebak dengan dikirim di dunia tahun 2010.
***
Xia Li duduk di taman. Di pintu belakang samar-samar ia melihat wanita berjubah hitam bergandengan dengan pangeran Robun.
"Hai siapa kau?" Tanya Xia Li dari kejauhan.
Wanita berjubah hitam itu langsung terbang dengan tongkatnya dan ditangan kanannya membawa berlian kedamaian.
Tidak tinggal diam dengan kekuatannya Xia Li terbang mengejar Luiz si penyihir jahat. Namun, usahanya gagal. Robun berhasil mencekal tangan Xia Li.
"Lepaskan Robun!''
"Tidak.''
"ROBUN LEPASKAN," bentak Xia Li.
"Kenapa kau kembali ke masa lalu?"
"Sekarang bukan saatnya bertanya Robun. Lihatlah Luiz kekasihmu, dia mengambil berlian kedamaian kita."
Robun berpikir sejenak, ternyata selama ini ia telah dimanfaatkan.
Robun dan Xia Li bekerja sama memusnahkan Luiz dan mengambil kembali berlian kedamaian.
Perlahan seluruh kerajaan antariksa gelap-gulita, rupanya Luiz akan menghancurkan alam semesta.
Di dalam gua Luiz berada, dia tertawa menggelegar. Sedikit lagi dengan sendirinya berlian itu akan menancap pada ujung tongkat sihirnya.
Sebelum alam semesta hancur. Xia Li dan Robun segera menyatukan kekuatannya.
Dengan konsentrasi mereka berdua menyerang Luiz dari arah belakang. Luiz berteriak-teriak seperti orang kesurupan, tak lama ia terbang menjadi kelelawar. Akhirnya Xia Li dan Robun berhasil mengambil berlian kedamaian itu dan menaruhnya di dalam sebuah kotak kaca.
Perlahan-lahan berlian itu menyinari antariksa.
***
Sampailah Xia Li dan Robun di istana.
Semua menyambut kedatangan kakak beradik ini.
"Terimakasih Xia Li kau sudah menyelamatkan kerajaan antariksa," ujar ibu ratu mengelus rambut panjang Xia Li.
Xia Li masih tampak bingung. Tadi sepi sekarang ramai.
"Maaf gara-gara Robun semuanya dikurung di bawah tanah," ucap Robun penuh penyesalan.
Xia Li mengerti, itulah sebabnya dia dikirim ke dunia masa lalu.
Kehidupan di antariksa lebih lambat dari kehidupan di bumi dengan selisih sepuluh tahun lebih lambat hidup di antariksa.
"Tugas Xia Li sudah selesai, sekarang saatnya Xia Li kembali ke bumi menemani si bungsu Xixian," pamitnya.
Ibu ratu dan raja memeluk Xia Li penuh kasih sayang.
"Sudah Ayah, Bunda. Siluman Rubah sudah menunggu. Xia Li pergi dulu ya," katanya sambil melirik Siluman Rubah.
"Tunggu Kakak."
Xia Li menoleh ke belakang.
"Terimakasih sudah menyadarkan Robun dari cinta palsu Luiz," ucap Robun.
Xia Li mengangguk sebagai jawaban.
***
Dari masa lalu Xia Li kembali ke bumi dengan cara keluar dari lukisan kerajaan antariksa di kamarnya.
Baru saja sampai Xixian sudah mengetuk pintu kamar Xia Li
"Kakak Kak."
"Ada apa sih Xixian?" Tanya Xia Li pura-pura mengantuk, padahal hari masih pagi.
"Kakak ngapain aja di kamar? Maraton drakor? Dari semalem sampai pagi aku panggil tidak ada jawaban, pintu di ketuk tidak di buka. Bikin khawatir aja."
"Tumben banget khawatir," kekeh Xia Li.
"Eh malah ketawa. Lihat nih," Xixian menunjukkan jam tangannya "Jam tujuh."
Sekarang saatnya mengantar Xixian yang masih kelas dua SD pergi ke sekolah.
Kulit putih, mata sipit, pipi tembem, ditambah raut muka cemberut membuat hidung Xixian tidak kelihatan. Xixian sungguh menggemaskan.