"Aku ingin rumah warisan bapak ini dijual!"
Ucap Dania sambil menyilangkan kakinya.
Kunjungan dari anak-anak yang sudah berkeluarga seharusnya menjadi momen yang membahagiakan, tapi tidak untuk kali ini. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba kedua anak perempuanku berkunjung kerumah yang susah payah aku bangun dengan jerih keringat bersama almarhum suamiku.
"Iya Bu, lagipula rumah ini terlalu besar untuk ibu tempati sendiri. Ibu tak usah khawatir lagipula ibu akan mendapat bagian dari hasil penjualan rumah ini," Salima menimpali ucapakan kakaknya.
"Memangnya kenapa kalian ingin menjual rumah ini, apa kalian sedang ada masalah dengan keuangan?"
"Itu bukan urusan ibu, yang pasti kami ahli waris yang sah dari rumah bapak, jadi kami berhak untuk menjualnya!" Ucap Dania lebih keras.
"Betul yang dikatakan kak Dania, lagipula kalau kami susah apakah ibu bisa membantu keuangan kami, jadi kami mohon kepada ibu untuk tidak menghalangi kami untuk menjual rumah peninggalan bapak!"
Aku kira sakitnya seorang wanita ketika melahirkan adalah sakit yang tiada tandingannya, nyatanya mulut-mulut yang berbisa dari dua anak yang pernah aku lahirkan dengan bertaruh nyawa lebih menyakitkan.
"Apakah sebegitu tak bergunanya aku sebagai ibu kalian?"
"Udah la Bu, nggak usah pakai drama segala, ada acara tangisan, toh ini rumah memang hak kami!"
"Lalu mau kamu buang kemana ibumu yang tua renta ini?"
Sorot mataku semakin tajam menatap kedua anakku yang tak tau terimakasih.
"Itu urusan ibu, aku capek jadi orang susah aku kira dengan menjual rumah bapak bisa membantuku untuk membuka warung lebih besar!" Jawab sisulung
Hatiku tersayat mendengar ucapan anakku paling tertua, tak terasa air mataku menetes teringat akan suamiku yang telah pergi, apakah harus pergi seperti suamiku, tapi aku tak boleh menyerah aku ada sandaran hidup walaupun bukan anak-anakku
Dengan berat hati aku memberikan sertifikat rumah kepada mereka, biarlah aku mengalah demi kebahagiaan anak-anakku yang tak menginginkan aku rela dan ikhlas.
"Nah gini dong dari tadi, ibu siap-siap saja karena 3 hari ini aku akan menyuruh orang untuk mengantar ibu ke panti jompo!" Perintah Dania dan merebut sertifikat rumah dari tanganku.
Mereka berlalu pergi dengan mobil mewah mereka masing-masing setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Ya mereka terlihat lebih mewah dan sosialita, tapi mirisnya mereka rumah satu-satunya milik ibunya mereka rampas tanpa memperdulikan perasaan ibunya.
"Pak, ibu kangen sama bapak. Kapan kita bisa kumpul sama-sama seperti dulu? Ibu sendirian disini. Lihatlah pak anak-anak kita yang pernah merengek meminta rumah yang kita bangun dengan perjuangan. Apa salah kita pak, apa didikan kita yang salah? Padahal kita selalu mengajarkan hal-hal yang baik kepada mereka. Mereka berubah setelah menemukan keluarga baru pak!"
Aku tergugu memeluk foto suamiku, hanya itu cara satu-satunya selain mendoakan dalam sujudku ketika rindu ini benar-benar mendera. Rindu akan senyumnya, rindu akan tutur katanya yang bijaksana yang selalu menyejukkan hati dalam situasi apapun.
"Wes, pokoknya makanan apapun yang ibu masak pasti enak, kalau makannya sama ibuk, tempe pun rasa rendang."
"Ish, bapak ini bilang aja pengen makan rendang tapi gak bisa, kan giginya tinggal dua."
Kita sama-sama tergelak dalam tawa diruang makan, aku rindu itu pak!!!
tangis yang kutahan akhirnya pecah dalam diam, perih didada bagai disayat oleh kata kata anak-anakku.
○