Berlian tidak lebih berharga dari setetes air. Apa yang kalian harapkan dari sebuah berlian? Apakah menukarnya dengan sekumpulan kertas?
Atau mengharapkan cinta dan sebuah pernyataan baru?
"bukankah kamu mencintaiku?" tanya dia dengan penuh harap.
"aku mencintaimu. Tapi, aku tidak menginginkan sesuatu yang lebih dari ini" jawabku.
Dion, pria yang sedang bertekuk lutut di hadapanku, mengulurkan tangannya dengan sebuah kotak dan sebuah cincin berlian di dalamnya.
15 Agustus, aku menolaknya. Lamaran yang selalu aku impikan di setiap keadaan, tapi tidak menjadi keinginanku lagi saat ini.
"maafkan aku... Aku harap hubungan kita berakhir disini" ucapku.
"Clara..." dia berteriak pelan memanggil namaku.
Tapi, aku sudah melangkah menjauh dan pergi meninggalkannya. Aku bertindak seolah tidak mendengar atau peduli dengannya.
Bagaimana ini semua bisa terjadi?
Bagaimana bisa aku menolaknya?
Setelah dia menyiapkan bunga, makanan manis, alunan musik merdu, meja yang di tata indah, dua minuman di dalam gelas dan pemandangan tanpa gangguan.
Aku menolaknya karena satu alasan yang sering terdengar di manapun. Yaitu, dia terlalu baik untukku.
Dia adalah laki-laki yang memberikan jaketnya padaku di hari cerah namun angin bertiup kencang. Dia memberikan segelas coklat panas di saat musim dingin. Dia memberikan keramaian di saat sepi. Dia memberikan ketenangan di setiap kekacauan. Dia memberikan obat di ketika terluka.
PRANKK!!!
Suara cermin yang pecah terdengar nyaring di telingaku.
"cukup!!! Aku tidak ingin mendengarnya lagi!" teriakku.
Aku berjalan ke hadapan orangtua ku. Mereka sedang bertengkar dan aku mendengarnya saat masuk ke halaman rumah. Mereka akan berpisah dan saling memperebutkan hak asuh atas diriku.
Kejadian itu aku alami dua belas tahun yang lalu. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Suara Papa yang keras dan tangisan Mama yang pedih.
Aku semakin mengingatnya saat Dion berkata ingin menikahiku. Aku semakin takut, karena menurutku pernikahan adalah awal dari sebuah perpisahan. Tapi, bagaimana bisa mereka berpisah setelah menghasilkan buah cinta?
Apa aku adalah alasan mereka menjadi tidak saling mencintai?
Apa aku adalah alasan mereka untuk menjauh?
Katanya, para orangtua menjadi lebih sibuk ketika mempunyai buah hati.
Katanya, para orangtua terus berpikir setiap hari tentang masa depan anaknya.
Katanya, para orangtua menginginkan anaknya agar bahagia?
Tapi, apakah seorang anak akan bahagia jika orangtua mereka berpisah?
Apakah seorang anak akan bahagia melihat orangtua yang kesulitan?
Bulir-bulir air berjatuhan di atas kepalaku. Dinginnya udara di tambah tetesan air membuatku sulit bergerak. Tetasan air itu semakin banyak dan turun dengan deras, membuatku harus mencari tempat untuk berteduh.
Seorang pria, berpakaian rapi dengan setelan jas berwarna abu-abu tua. Membentangkan payung di atas kepalaku, memberikan keteduhan di saat hujan. Menemaniku berjalan ke tempat berlindung.
Sudah ku katakan, dia adalah pria yang terlalu baik untuk ku pertahankan. Bagaimana bisa aku bertahan dengan orang yang sangat tulus padaku? Sedangkan aku sendiri masih ragu dengan ketulusanku.
Dion membawaku ke tempat berlindung yang lebih luas. Wajahnya menatapku dengan lekat saat kami berjalan di bawah payung. Padahal, aku baru saja menolaknya, bagaimana bisa dia mempertahankan hati yang sudah ku hancurkan?
"aku tidak tau, apa yang kamu takutkan dari sebuah pernikahan. Aku tidak tau, apa yang kamu inginkan dari sebuah pernikahan. Kalau kamu tidak ingin melakukannya, aku akan mengikuti keinginanmu. Tetaplah seperti ini. Tetaplah bersamaku" ucap Dion.
Ucapannya membuatku jatuh dalam kebingungan. Di depan teras toko yang sepi, aku hanya bisa mendengar suara rintikan hujan dan suara darinya. Tidak ada orang lain di sekitar kami.
"kamu mengenalku jauh lebih baik dari siapa pun. Kamu mengetahui sesuatu yang aku sukai dan tidak ku sukai. Kamu juga sangat memahami sifatku yang bahkan diriku sendiri tidak mengerti. Tapi, saat ini aku sudah memutuskan sesuatu yang tepat" ucapku.
Dia menggenggam tanganku, menarik tubuhku untuk berada di hadapannya, menatap mataku dengan lekat. Tatapan sedih terlihat dari wajahnya.
"aku mencintaimu. Aku menyukai setiap kata yang keluar dari bibirmu, tapi aku tidak menyukai ucapan yang bermakna perpisahan" ucapnya.
Aku tersenyum padanya dan berkata dengan lembut.
"pada suatu hari, kamu akan menemukan wanita yang lebih baik dariku. Pada suatu hari, kamu akan menemukan wanita yang tulus mencintaimu. Pada suatu hari kamu akan melamarnya dan dia menerimamu, tidak meninggalkanmu sendirian dengan lutut yang menyentuh tanah. Dia akan menggunakan cincin berlian di jari manisnya, mengenakan gaun pengantin di hadapanmu dan keluargamu. Terlihat cantik dan kamu sangat bahagia. Tapi dia bukanlah aku" ucapku.
Dia menatapku dan menahan bibirnya yang tidak bisa berkata-kata. Aku pun menurunkan tangannya dan hendak melangkah.
"jangan pergi..."
Dion menggenggam tanganku saat aku hendak meninggalkannya.
"dia tidak akan meninggalkanmu seperti ini" ucapku.
Aku menepis tangannya dan berlari melewati derasnya air hujan. Seolah langit sedang mendukungku, air hujan ini menutupi air mataku. Tidak ada yang bisa membedakan aku sedang bersedih atau sebaliknya. Hanya aku sendiri yang mengetahuinya. Aku sedang menancapkan pedang yang sama yang aku hunuskan pada Dion di jantungku. Darah transparan yang tidak terlihat, sakit yang tidak bisa di ungkapkan.
Hah... benar. Setetes air lebih berharga dari sebuah berlian. Air mata yang mengalir dari mataku, mampu menghilangkan sedikit rasa sakit di hati. Tetesan air hujan, bisa menghidupkan sebuah pohon. Aku hanya tidak mengerti, mengapa mereka lebih memilih benda yang tidak bisa di gunakan.
Jika bisa memilih, kebanyakan dari mereka akan lebih memilih untuk tinggal di Neptunus yang memiliki hujan berlian dan tidak memiliki kehidupan dan air. Padahal, pada dasarnya, manusia membutuhkan air lebih dari apapun.
Mungkin, aku termasuk salah satu dari mereka.
"bagaimana? Kamu sudah siap?" tanya seseorang padaku.
Aku mengangguk.
Pada suatu hari. Hari ini pukul 9 pagi tanggal 12 Oktober. 3 orang berjalan dengan menggunakan pakaian putih yang tebal dan berat serta helm kaca berbentuk bulat. Termasuk aku.
Astronaut, begitulah orang-orang menyebut kami. Hari ini, aku dan dua orang temanku menjalankan misi keluar angkasa, tepatnya menuju planet Mars.
Mungkin perjalanan ini akan memakan waktu selama enam bulan atau setahun.
Dear Diary...
***
"kamu tidak meninggalkannya untuk sementara, melainkan meninggalkan semuanya untuk selamanya" ucap Dion.
"HARI INI, TANGGAL 12 OKTOBER TAHUN 20XX. KITA SEMUA MEMPERINGATI KECELAKAAN TRAGIS YANG TERJADI AKIBAT TABRAKAN DUA PESAWAT ANTARIKSA 15 TAHUN YANG LALU. KEJADIAN INI MENEWASKAN BANYAK ORANG-ORANG YANG_
Dion mematikan layar televisi di hadapannya. Menggenggam erat buku berwarna biru di tangannya. Dan menatap dengan tatapan yang kosong.
"ayah sedang apa?" tanya seorang anak kecil pada Dion.
Dia adalah seorang anak perempuan yang cantik berusia 5 tahun.
"tidak ada, kamu mau bermain?" tanya Dion.
Anak kecil itu mengangguk.
"Anya mau bermain bersama Ayah dan Ibu" ucapnya.
"baiklah. Dimana ibumu?" tanya Dion.
"disitu" Anya menunjuk ke halaman rumah.
Dion melihat ke arah tersebut. Terlihat wanita cantik yang tersenyum sambil menyiram tanaman. Dia melambaikan tangannya.
"pada suatu hari kita akan bertemu lagi. Dan ketika itu terjadi, aku tidak akan pernah melepaskanmu walaupun harus mengikatmu dengan erat, walaupun kamu menangis dengan nyaring, walaupun kamu membenciku, Clara" ucap Dion di dalam hatinya.
~Selesai~