P.S: Cerita ini dibagi menjadi dua chapter & satu special chapter
Title: Trapped (Pt. 1)
***
"Nana, coba dengarkan aku dulu. Aku hanya butuh waktumu sebentar. Tolong, aku hanya ingin jujur kepadamu kalau aku iniㅡ"
"Cukup! Kenapa kamu menjadi aneh seperti ini? Aku tidak mau mendengarkan penjelasan apapun tentang Seungwoo. Kamu itu bukan Seungwoo, tolong sadarlah! Tidak perlu bertingkah segila ini hanya untuk membuatku move on darinya. Dan kamu juga tidak perlu sampai berpura-pura menjadi Seungwoo, karena kamu itu bukan Seungwoo!"
"Iya, aku tahu kalau aku ini Seungyoun, tapi akuㅡ aku yang ada di hadapanmu iniㅡ"
"Cho Seungyoun! Kubilang cukup! Kamu sudah gila, hah? Berhenti mengucapkan namanya kalau kamu masih ingin berteman denganku! Aku sadar kalau aku masih mencintainya, tapi aku juga tidak sedepresi itu sampai kamu harus berpura-pura menjadi dirinya!"
"Iya, aku tahu. Tapi aku Seungwoo. Han Seungwoo. Dan aku butuh bantuanmu saat ini. Kumohon, tolong aku."
"Gila, kamu sepertinya sudah gila. Kamu pikir aku lupa bentuk wajah Seungwoo, hah? Sudahlah, sepertinya kita lanjutkan besok saja tugas kuliah kita. Lebih baik sekarang kamu pulang dan beristirahat, karena besok pagi kita ada presentasi."
Seungyoun hanya bisa menatap nanar dirimu yang sudah berjalan keluar kafe dan meninggalkannya. Dan kini Seungyoun hanya bisa menundukkan kepalanya sembari memukul dadanya dengan keras, berharap apa yang dialaminya ini hanyalah mimpi belaka. Ia masih bingung dengan keadaan yang tengah dialaminya secara tiba-tiba ini, dan ia juga hanya memiliki sisa waktu yang sangat terbatas.
Entah apa alasan Seungyounㅡyang notabene-nya adalah teman semasa sekolah dan kuliahmu itu tiba-tiba saja mendadak mengaku jika dirinya adalah Seungwoo di hadapanmu, padahal biasanya temanmu itu terlihat baik-baik saja. Intinya, kamu hanya merasa jengkel ketika mendengar nama Seungwoo kembali disebut.
Seungwoo sebenarnya adalah cinta pertamamu, sekaligus kekasih pertama yang kamu miliki sejak SMA hingga sebelum kalian masuk ke dalam dunia perkuliahan. Menjalin kasih selama tiga tahun lalu putus secara mendadak setelah masuk kuliah tentu membuatmu marah. Seungwoo memutuskanmu secara sepihak dan tanpa alasan, lalu menghilang begitu saja hingga sekarang.
Kira-kira, sudah ada kurang lebih sekitar setahun ia menghilang, tanpa kabar dan tanpa penjelasan. Namun, anehnya kamu tetap tidak pernah bisa move on darinya. Meskipun selama ini ada Seungyoun yang selalu berada di sisimu, namun kamu tetap tidak bisa menaruh perasaan padanya karena kamu hanya menganggap Seungyoun sebatas teman.
Seungyoun yang masih terdiam di tempat itu lalu memutuskan untuk pulang sembari mengusap bulir-bulir airmatanya yang mulai mengalir. Ia tidak tahu bagaimana cara membuatmu percaya jika dirinya adalah Seungwoo, namun ia juga tidak bisa menyerah begitu saja karena nyawanya kini sedang menjadi taruhan.
Ia sadar waktu yang dimilikinya tinggal sedikit lagi, dan ia saat ini tidak boleh menyerah begitu saja. Kebetulan pula Seungyoun dan kamu memilih jurusan yang sama dan bahkan sekelas, tentu akan membuat Seungyoun lebih mudah untuk mendekatimu dan meminta bantuanmu. Intinya, mulai besok Seungyoun harus memikirkan cara lain agar bisa membuatmu percaya. Hanya kamu yang bisa membantu Seungyoun, dan hanya kamu pula yang bisa menyelamatkannya saat ini.
***
Pagi datang, dan kamu pun segera bersiap untuk berangkat ke kampus karena ada presentasi kelompok dengan Seungyoun. Memang, hanya Seungyoun teman yang paling dekat denganmu di kelas, dan kamu pun juga selalu mengajak Seungyoun untuk satu kelompok denganmu, karena memang tidak ada yang mau dekat denganmu selain temanmu itu. Biasa, teman sekelasmu menganggapmu jutek dan sombong, dan kamu pun merasa jika mereka semua memang sengaja menjauhimu.
Tapi tidak masalah, karena kamu tidak akan mati hanya karena tidak memiliki teman. Dan untungnya juga, masih ada satu sosok manusia yang betah beteman denganmu semenjak duduk di bangku SMA, dan hingga kini pun masih seperti itu. Hanya saja, pagi ini kamu masih merasa sedikit kesal karena mengingat omongan aneh Seungyoun semalam.
Dan kamu hanya bisa berharap jika hari ini temanmu itu sudah kembali normal seperti biasanya, karena kamu juga tidak mau hubungan pertemanan kalian menjadi canggung nantinya. Kamu hanya malas saja jika Seungyoun tiba-tiba bertingkah aneh seperti kemarin dan mengaku menjadi Seungwoo, karena itu sungguh tidak masuk akal bagimu.
Kelas memang masih terlihat sepi, namun netramu langsung menangkap sosok Seungyoun yang sudah duduk manis di kursi depan paling pojok yang jauh dari pintu masuk. Aneh memang, karena kamu paham betul jika Seungyoun pasti selalu datang terlambat ke kelas. Dan sungguh aneh lagi karena temanmu itu tiba-tiba saja duduk di bangku paling depan.
'Tumben sekali Seungyoun mau duduk paling depan, dekat kursi dosen pula. Kenapa aku masih merasa ada yang aneh darinya? Ah! Aku tidak peduli, yang terpenting presentasi hari ini harus berjalan lancar.'
Tanpa menaruh rasa curiga, kamu pun duduk di sebelah Seungyoun, dan lelaki itu hanya tersenyum manis padamu sejenak, lalu ia kembali terfokus pada ponsel di tangannya untuk mempelajari materi power point presentasi kalian berdua. Kamu memicingkan sebelah matamu, merasa heran dengan tingkah aneh Seungyoun yang mendadak berubah menjadi kalem seperti itu.
Ingatanmu kembali berputar ke masa ketika kamu masih duduk di bangku kelas tiga SMA dulu, ketika kamu kebetulan bisa satu kelas dengan Seungwoo, kekasihmu saat itu. Perilaku Seungyoun saat ini sama persis dengan mantan kekasihmu yang memang merupakan murid teladan di sekolah, dan pintar juga tentunya.
Seungwoo memang selalu duduk di bangku paling depan, dekat dengan meja guru. Dan ia juga selalu menjadi orang pertama yang datang ke kelas setiap harinya, lalu ia menghabiskan waktunya untuk membaca buku sebelum guru masuk. Tentu, perilaku aneh Seungyoun ini membuatmu merindukan sosok Seungwoo, sebelum lelaki itu menghilang tanpa sepatah kata setelah kalian lulus SMA.
Berbeda 180 derajat dengan Seungyoun temanmu yang memang tidak pernah mengerjakan tugas jika tidak dipaksa, lalu selalu terlambat masuk kelas dan pasti ia akan memilih untuk duduk di bangku paling belakang karena ia takut ditunjuk. Dan kamu pun masih heran karena saat ini Seungyoun terlihat sedang mempelajari materi presentasi kalian, padahal Seungyoun yang kamu kenal tidak pernah seperti itu.
"Tumben kamu mau membaca materinya. Kamu sehat, kan? Biasanya juga kamu yang menyuruhku untuk presentasi. Kamu mau menggantikanku presentasi hari ini memangnya?"
"Apa boleh? Kalau begitu, biar aku saja yang presentasi. Lagi pula, aku juga sudah paham dengan materinya."
Mulutmu menganga lebar, tidak paham dengan perubahan drastis Seungyoun yang sangat mendadak ini. Dan kamu pun masih tetap bingung sampai dosen kalian masuk dan menyuruh kalian untuk segera presentasi, karena Seungyoun kini benar-benar maju untuk presentasi mewakili kelompokmu saat ini. Pikiranmu mendadak kosong, dan kamu pun sekarang seperti sedang melihat sosok Seungwoo di dalam diri Seungyoun.
'Apa aku sedang stress akhir-akhir ini? Mengapa aku seperti melihat Seungwooㅡ Argh! Pasti ada yang salah dengan otakku. Kenapa pula aku mengira jika omongan Seungyoun kemarin adalah fakta? Rupanya aku sudah benar-benar gila! Sepertinya aku harus segera pergi ke psikiater untuk memeriksakan kondisi kejiwaanku.'
***
"Seungyoun, kamu benar-benar tidak sakit, kan? Mengapa tingkahmu masih aneh seperti ini? Kamu sudah konsultasi ke dokter, belum? Siapa tahu ada yang salah dengan otakㅡ"
"Nana, kamu mau pesan orange juice? Biar aku pesankan."
Kamu otomatis langsung menganggukkan kepalamu, padahal kamu belum sempat menyelesaikan kata-katamu tadi. Kebetulan setelah kuliah berakhir, kalian berdua langsung menuju ke kantin karena kamu merasa haus, dan kamu masih heran mengapa saat ini Seungyoun mau memesankanmu minuman. Padahal, biasanya kamu yang akan memesan, dan Seungyoun hanya akan tinggal duduk manis di bangku kantin saja.
Beberapa saat kemudian, kedua tangan Seungyoun kini sudah penuh karena harus membawa segelas orange juice untukmu, dan juga lemon tea hangat, untuk dirinya sendiri. Kamu lagi-lagi kebingungan, sejak kapan pula Seungyoun meminum lemon tea? Dalam keadaan hangat pula. Biasanya juga Seungyoun akan memesan es kopi atau es cokelat, karena ia membenci minuman panas.
"Tumben kamu minum minuman hangat? Kamu sedang kurang sehat memangnya?"
"Tidak. Aku merasa baik-baik saja. Memangnya aneh kalau aku ingin minum minuman hangat?"
"Yaㅡya tidak, sih. Aneh saja karena kamu selama ini membenci minuman hangat."
Seungyoun hanya tersenyum tipis sambil menyeruput minumannya dengan gaya yang sungguh elegan. Persis seperti apa yang dilakukan Seungwoo setiap mereka berkencan dulu. Kamu lagi-lagi menggelengkan kepalamu sembari menampar pipimu berulang kali, karena merasa aneh melihat tingkah laku Seungyoun yang semakin lama semakin mirip dengan Seungwoo.
"Kenapa, Na? Apa kamu sakit? Kenapa sepertinya kamu sejak tadi pagi memandang aneh padaku, hmm?"
"Ah, tidak. Aku tidak apa-apa. Hanya merasa aneh saja."
Kamu meringis pelan, lalu memandang ke arah lain sambil meminum minumanmu. Dalam hati, kamu berusaha untuk meyakinkan diri jika yang ada di hadapanmu sekarang ini adalah Seungyoun, bukan Seungwoo. Dan ia pun mengakui, jika ia tiba-tiba saja merindukan sosok Seungwoo saat ini. Memang, perilaku Seungwoo yang lembut, elegan dan tenang itulah yang membuatmu jatuh cinta padanya. Dan kamu pun tidak menampik jika memang kamu tidak bisa move on darinya hingga sekarang.
"Nana, setelah ini kamu senggang, tidak? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Oh? Hah? Oㅡoke, kebetulan aku senggang. Mau ke mana memangnya?"
"Ke tempat di mana kamu akan menyadari semuanya."
Kamu mengernyitkan keningmu karena bingung, dan Seungyoun lagi-lagi hanya tersenyum tipis ke arahmu sembari menghabiskan minumannya dengan santai. Memang Seungyoun sudah memikirkan ini sejak semalam untuk membuatmu percaya jika dirinya adalah Seungwoo, meskipun ia sendiri juga masih tidak yakin apakah caranya ini bisa membuatmu percaya atau tidak.
'Waktuku tinggal sedikit, Nana. Jadi, sebelum semuanya terlambat, aku berharap kamu mau memercayaiku dan membantuku. Aku tahu kamu masih memiliki perasaan padaku. Begitu pula aku. Aku ingin kembali padamu, Nana. Aku ingin kembali berada di sisimu seperti dulu. Dan aku juga menyesal karena meninggalkanmu tanpa penjelasan seperti waktu itu.'
***
"Bagaimana kamu bisa tahu tempat ini? Perasaan kamu dulu tidak begitu dekat dengan Seungwoo, tapi mengapa kamu mengetahui tempat rahasiaku dengan Seungwoo? Apa Seungwoo pernah memberitahumu?"
Seungyoun hanya menggeleng, lalu menarik tanganmu untuk segera mengikutinya masuk ke dalam sebuah ruangan semacam gudang di belakang sekolahmu dulu. Meskipun hanya gudang, namun dulu Seungwoo mengubah gudang tersebut menjadi sebuah tempat yang bisa kalian berdua pergunakan untuk bersantai.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui tempat tersebut, karena memang Seungwoo selalu menggemboknya ketika tempat itu sedang tidak kalian pergunakan. Biasanya, kalian berdua akan mengunjungi gudang tersebut setelah sekolah usai, dan kalian menggunakannya untuk belajar bersama, dan juga menghabiskan waktu berdua.
Ya, hanya berdua. Meskipun kalian tidak pernah melakukan hal-hal yang terlarang karena Seungwoo sangat menjagamu. Kamu merasa seperti kembali ke masa lalu ketika kamu mendatangi gudang yang sudah dipenuhi oleh debu tersebut, dan dadamu kini terasa sesak karena kamu merindukan Seungwoo.
Mustahil jika kamu tidak merindukan lelaki itu, karena sampai saat ini rasa sayangmu terhadapnya masih sangat besar. Kamu bahkan masih tidak paham mengapa Seungwoo menghilang begitu saja tanpa jejak, dan ia bahkan tidak bisa kamu temukan di mana pun. Seungyoun saat ini hanya bisa terdiam sembari membiarkanmu mereka ulang kejadian masa lalu, dan berharap jika kamu nantinya akan menyadari bahwa dirinya adalah Seungwoo, bukan Seungyoun.
Ya, roh Seungwoo saat ini memang tengah memasuki tubuh Seungyoun, entah dengan alasan apa ia juga masih tidak paham. Intinya, ia hanya diberi waktu sedikit untuk meminta pertolongan kepada seseorang yang masih hidup. Dan hanya kamulah orang yang bisa membantunya. Seungwoo ingin sekali kembali masuk ke tubuhnya, namun ia tidak tahu bagaimana caranya.
Tubuhnya di mana saja ia tidak tahu, karena ia sendiri tidak mengetahui apa yang telah terjadi kepadanya sebelumnya. Ia sebenarnya belum meninggal, dan hampir selama setahun ini rohnya selalu berkeliaran di sekitarmu. Namun, baru saat ini ia diberikan kesempatan untuk masuk ke dalam tubuh seseorang, dan kebetulan orang itu adalah Seungyoun.
Dan kini, Seungwoo hanya bisa menangis pelan ketika melihatmu menangis dengan kencang. Ia menyadari jika meninggalkanmu adalah suatu kesalahan, dan ia sadar jika dirinya adalah seorang pengecut yang tidak bisa memperjuangkan cintanya. Hanya karena dirinya dijodohkan secara sepihak oleh sang ayah, membuat Seungwoo langsung memutuskanmu dan pergi begitu saja dari kehidupanmu.
Padahal, Seungwoo sebenarnya tidak perlu bertindak sejauh itu. Dan Seungwoo kini juga menyadari jika hanya kamu orang yang paling berharga baginya. Hanya kamu seorang yang tidak melupakannya hingga sekarang. Di saat ayahnya yang merupakan keluarga satu-satunya sudah melupakannya karena menganggap Seungwoo telah pergi dan memutuskan hubungan dengannya, namun rupanya kamu tidak begitu.
Sosok Seungwoo masih terekam jelas dalam ingatanmu, dan sejujurnya kamu pun tidak pernah melupakannya meskipun Seungwoo pernah menyakitimu. Dan kini, kamu memilih untuk berbalik badan lalu berjalan pelan ke arah Seungyoun yang sudah menangis sejak tadi. Kamu sudah memantapkan pikiranmu kalau memang perkataan Seungyoun malam itu adalah benar. Seungyoun adalah Seungwoo, cinta pertamamu.
"Aku masih tidak memercayai semuanya, tapiㅡ"
"Tolong bantu aku, Nana. Aku, aku takut. Tolong bantu aku menemukan di mana tubuhku berada, sebelum semuanya terlambat."
"Seungwoo? Seungwoo! Tidak! Jangan pergi dulu! Seungwoo!"
Dengan jelas kamu saat ini dapat melihat roh Seungwoo yang terlepas keluar dari tubuh Seungyoun, dan temanmu itu kini ambruk di lantai dan tak sadarkan diri. Sementara Seungwoo, lelaki itu menghilang tepat di hadapanmu. Dan kamu pun hanya bisa berteriak histeris sembari memanggil namanya berulangkali.
'Tolong temukan tubuhku, Nana.'
***
ㅡ To Be Continued ㅡ