"Astaghfirullah...aku telat!."
Dengan tergesa-gesa Maulana bangkit dari tempat tidurnya, dia lalu melihat jam tangannya.
"Setengah delapan??? Aduuh gak sempat mandi dan sarapan kalau begini!."
Tak berapa lama kemudian Maulana sudah bersiap menuju ke tempat kerjanya yang berjarak lima belas kilo meter dari rumah kontrakannya. Ia langsung menggas dengan cepat motornya, ia tak memperdulikan lagi beberapa polisi tidur yang melintang dan berkali-kali membuat bagian bawah motornya menumbuk dengan keras.
Sesaat setelah tiba di jalan besar ia terhalang dengan barisan kendaraan yang macet, ia mencoba mencari celah untuk menerobos kemacetan itu namun barisan kendaraan itu begitu rapat. Keringat segera mengucur di tubuh Maulana, ia berkali-kali melihat jam tangannya untuk memastikan estimasi waktu yang ia perlukan untuk tiba di tempat kerjanya sebelum waktu batas absensi habis. Ia semakin cemas karena waktu yang tersisa menurut perhitungannya semakin menipis sementara laju motornya hanya bisa berjalan pelan mengikuti laju kendaraan yang macet, ia menghembuskan nafas kesal karena tak ada sedikitpun celah yang bisa ia gunakan untuk melintas melewati barisan kendaraan macet tesebut.
Maulana tak mengerti mengapa setelah sholat subuh tiba-tiba ia begitu mengantuk padahal ia merasa semalam ia tidur cepat sesuai kebiasaan waktu tidurnya. Selama ini ia tak pernah terlambat menuju ke tempat kerjanya bahkan ia dikenal sebagai salah satu karyawan yang paling tepat waktu.
Jam delapan telah lewat lima belas menit saat Maulana sudah berhasil terbebas dari kemacetan, ternyata kemacetan itu disebabkan sebuah mobil truk besar mogok ditengah jalan, ia bisa melajukan kembali motornya dengan cepat, Maulana tahu ia sudah sangat terlambat dan batas waktu absensi sudah habis kini ia hanya berharap bisa mendapatkan pemakluman dari pimpinannya sehingga ia masih bisa masuk kerja hari itu.
Saat ia berbelok ke jalan utama menuju kantornya tiba-tiba ia mendengar suara dentuman keras, suara itu cukup mengagetkan Maulana lalu dengan perlahan ia menghentikan laju motornya, ia melihat asap membumbung tinggi dari tempat kerjanya disertai teriakan panik dan memilukan dari karyawan yang berlarian keluar. Belum habis rasa terkejutnya tiba-tiba suara dentuman terdengar lagi dan kali ini suaranya lebih keras, Maulana melihat dengan jelas api muncul dan mulai merambat ke semua bangunan yang ada disitu, ia juga melihat beberapa karyawan jatuh setelah suara dentuman kedua terdengar. Rasa terkejut Maulana berganti rasa khawatir, ia tahu pasti masih banyak karyawan yang belum sempat keluar dari bangunan yang terbakar itu.
Maulana kemudian turun dari motornya, ia segera berlari ke arah tempat kerjanya yang terbakar hebat. Maulana hendak bertanya ke karyawan yang berlarian melewatinya namun melihat wajah panik dan pucat mereka Maulana mengurungkan niatnya.
Seketika Maulana tersadar mungkin ini rahasia Tuhan mengapa ia begitu mengantuk setelah sholat Subuh sehingga terlambat menuju ke tempat kerjanya, seandainya ia tiba di tempat ini sesuai kebiasaannya ia mungkin menjadi karyawan yang terjebak di dalam bangunan yang terbakar itu.
Sesaat setelah Maulana mengucap rasa syukur dalam hatinya, suara sirine ambulans terdengar mendekat ke arah lokasi yang kini telah menjadi kobaran api besar.