Ya, aku adalah wanita yang bukan atau bahkan memang tidak pernah tahu apa itu cinta.
Mungkin karena masa lalu dan sedikit keadaan yang membuatku menjadi seperti itu.
Patah hati terbesar seorang anak adalah melihat orang tuanya berpisah, ya... itu menurut diriku pribadi.
Tak sedikit pasti lika-liku yang sudah akau alami, mungkin memang pahit... tapi aku percaya akan hal manis.
Aku melewati semuanya begitu mudah di mata dunia, tapi ketika sang surya lelah dan diganti dengan bulan, aku me dadak redup.
Bahkan kekuatan untuk sekedar menatap dunia aku tak mampu.
Menghabiskan waktu lebih di kamar, bekerja, pulang, makan dan tidur... begitulah alur kehidupanku waktu itu.
Hingga pada akhirnya seseorang itu mendekatiku, dengan berbagai cara dilakukan untuk bisa sekedar mengetuk pintu hati ini yang mungkin masih baru untuk mengenal apa yang namanya cinta.
Setelah bersikeras fikiran campur aduk, melawan antara masa lalu dan sekarang and well ini mungkin saatnya aku harus memulai dari nol untuk kehidupanku sendiri.
" Hay... "
Mungkin seperti itu sapaan yang aku dapat waktu itu, dan percayalah aku sama sekali tidak tertarik.
Semakin ia berusaha mengejar dan menggapai hatiku, ntah kenapa rasa risih itu justru hadir di waktu yang mungkin bisa dibilang salah.
" Aku mencintaimu..... "
" Tapi itu terlalu cepat untukku... "
" Why...? kita jalani saja dulu... please.... "
" Tapi itu tidak mungkin, aku hannya takut seseorang melukai hatiku hingga aku tidak mampu lagi untuk membiarkan orang masuk ke kehidupanku... "
Ucapku penuh tekan pada sosok laki-laki yang tengah memelas di hadapanku.
" Please.... Rindu... "
Ia berusaha meyakinkan dengan menyebut namaku.
" Kak
.... "
" Please.... aku mohon... "
Sebuah jawaban yang harus aku sampaikan namun terasa berat.
" Bagaimana kalau dia melukaiku dan pergi dengan wanita lain...?
bagaimana kalau dia kasar padaku..?
Terus bagaimana nasib kehidupanku nanti...? "
Ucapku dalam hati.
Ntah kenapa perlakuan ayahku dulu pada ibuku membawa ketakutan yang teramat besar dalam kehidupanku, salahkah jika aku berfikir kalau laki-laki itu sama seperti apa yang sudah aku lihat di diri ayahku..? .
Sungguh aku berharap besar itu tidak BENAR.
" Baiklah.... "
" Kau menerimaku Rindu...? serius..? "
" Em... jangan pernah kecewain aku ka Alex... aku mohon... "
" Of course.... "
Hubungan itu berlangsung lama, 2 bulan.
Ya... bagiku 2 bulan itu waktu yang sangat lama, sementara diriku seakan lupa akan ketakutan dalam diri yang selama ini menghantuiku.
Mungkin aku terlalu polos hingga aku merasa sudah sangat jatuh cinta pada kekasihku itu, aku percaya... bahkan aku sudah melupakan ketakutanku waktu itu.
Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain.
Malam itu aku melihat di depanku sebuah motor gede warna merah yang digilai beberapa perempuan diluar sana namun terasa biasa di mataku.
Aku memandang jijik ke arah wanita yang bergelayut manja di lampu lalu linta yang kebetulan memperlihatkan warna merah.
Kedua tangannya memeluk erat dan melingkar di perut laki-lakinya.
Kini mataku tertuju pada jaket, sepatu dan juga plat nomor yang bagiku tidak asing.
" Wait...! kenapa. aku bisa melupakan hal kecil yang bahkan sudah nongol di depanku begitu jelas...?
oh... Shi*...!!!! Alex....!!
Ya.. laki-laki itu tidak lain dan tidak bukan adalah Alex yang sudah berlutut bahkan mengemis di depanku 2 bulan lalu.
" Apa ini cinta...?!!! sungguh aku tidak percaya itu lagi...!! "
.
.
.
Semenjak kejadian itu aku berhenti untuk memikirkan tentang kehidupanku sendiri maupun perjalanan cintaku unyuk kedepannya.
Pengalaman itu membuatku ilfil setiap melihat buaian, rayuan bahkan hannya sekedar sapaan laki-laki.
" PEMBOHONG... "
Ya.. kata yang selalu aku ucapkan dalan hati ketika mendengar semua puisi cinta ataupun yang lainnya di hadapanku.
Aku melewati hariku sendirian... ya.. sendirian.
4 tahun aku sendiri.
Pada suatu malam ponselku berbunyi.
Ya satu pesan masuk dari nomor yang tidak aku kenal.
Namanya Albert, dia teman kerjaku kurang lebih 3 tahun.
Kita hannya saling kenal, bahkan untuk menyapa tidak pernah terjadi.
" hay Rindu.... "
Aku menutup ponselku kembali, dan aku berfikir sama.
" PEMBOHONG DATANG LAGI... "
Hampir setiap gari dia mengirim pesan padaku tanpa henti walau sesekali aku hannya membalas pesan darinya.
.
.
Kini sudah 3 bulan lebih dia selalu menghubungiku.
Hingga pada suatu saat dia berdiri di depan pintu rumahku dan disambut hangat oleh orang tuaku.
" Why...? kenapa kamu kemari...? "
" Aku hannya ingin main... "
Senyum yang biasa aku lihat.
" Tapi kamu kan bisa kirim. pesan dulu... "
" Aku sudah mengirim banyak pesan Ri... kau saja yang tidak membalasnya... "
Aku tak menyangka kalau dia benar-benar tidak putus asa untuk mengajarku.
Bahkan setiap hati dia juga menanyakan kabarku hingga membuatku hampir frustasi.
" Apa maunya...? "
Aku berusaha keras acuh padanya, tapi dia tidak perduli akan hal itu, justru ia semakin nekat hingga datang kerumahku.
" Percayalah Ri.. aku bukan laki-laki seperti itu.. aku berani bersumpah dan berjanji untukmu.. "
" Aku masih belum ingin... "
" Apa kau tidak percaya padaku..? tidak semua laki-laki itu sama
... "
" Bagaimana kalau semua sama...? "
" Itu konyol Ri.. sungguh aku bersumpah...! aku benar-benar serius, aku ingin mencari pendamping.. bukan kekasih... "
Deg...
deg...
Kata-kata yang keluar dari mulut Alex membuatku sedikit terkejut.
" Pendamping..? apa artinya dia berniat menikah denganku..? tapi hatiku... aku masih takut... "
...
" Percayalah Ri... "
Menggenggam tanganku.
Aku melihat sepasang mata yang benar-benar tulus kali ini, ntah kenapa hatiku bilang begitu.
" Tapi
.. "
" Aku sungguh ingin mencari pendamping.... sungguh Rindu... "
❤❤❤❤❤
kami menjalani semua ini mengalir tanpa ada kata jadian ataupun apa, hannya panggilan nama untuk melengkapi kedekatan kita saat ini
Aku memutuskan mengambil air wudhu.
" Ya Allah... aku benar-benar bingung dengan hatiku, aku mohon beri hamba petunjuk untuk langkah hamba selanjutnya.
Tunjukkan pada hambamu ini kalau laki-laki itu memang benar-benar tulus padaku.
Setidaknya hadirkan dia dalam mimpiku... "
Hari berganti bahkan bulan juga begitu.
" Will you marry me... "
" Yes... I will... "
Ya.. aku menyetujui semua ini, setidaknya memang bukan karena terburu-buru atau kasihan.
Tapi kali ini Allah telah menunjukkannya sendiri dalam mimpiku dan menghadirkan nya dalam 4 kali di setiap malamku.
Dengan bismillah aku memutuskan untuk melangkah maju dan membangun kehidupanku yang memang aku mulai dari nol dan benar-benar dari nol.
Aku merasakan kesal kenapa aku harus tenggelam dan larut dalan trauma itu...?
Sebuah keputusan yang memang harus aku ambil, ada rasa takut yang sangat besar akan ditinggalkan dan diperlakukan kasar oleh laki-laki.
Yang membuat mantap bukan karena umurku yang di tuntut untuk segera menikah, tapi ini sulit dijelaskan.
Aku memintanya dari yang Kuasa dan yang Kuasa memperlihatkan semua sesuai yang aku inginkan.
🍃🍃🍃🍃🍃
7 tahun berlalu.....
Aku dan laki-laki yang bersamaku selama 7 tahun hidup bahagia, kami dikaruniai 2 anak.
Hampir tidak ada pertengkaran atau air mata yang jatuh.
Sungguh, dia laki-laki yang sangat sempurna untukku dan anak-anak ku.
Untuk sekedar membentak ku itupun tak pernah ia lakukan.
Apalagi main kasar padaku, sungguh itu jauh dari sifatnya, aku diterima baik di keluarganya begitu juga sebaliknya.
Allah memang baik, mungkin seperti itulah jalan takdir setiap manusia.
Ia memberikan cobaan yang amat besar, sementara kita harus kuat bagaimanapun caranya.
semua orang pasti punya rasa trauma yang berlebihan, tapi kali ini rasa itu perlahan memudar hingga menjadi rasa percaya pada sosok yang melindungi ku 7 tahun lebih.
Aku percaya semua akan indah, semua akan baik-baik saja dan benar-benar akan ada bahagia di penghujung hidup kita.
Sungguh ini semua karena aku menemukanmu dalam doaku, ya...
aku MENEMUKANMU......❤❤❤❤❤