Seorang pemuda tampan sedang berkutat di depan komputer, sekali-kali dia melirik ke sebuah gambar. Ia tersenyum sendiri, mengingat sang pujaan hatinya. Ia akan melakukan surprise untuk sang kekasih yang beberapa hari ini akan ulang tahun ke 25. Ia melirik lagi ke sebuah kotak beludru, cincin dengan desain cantik terlihat begitu indah. Ah seperti akan sangat cantik kalau dipakai olehmu sayang, gumam sang pria itu.
Tepat besok adalah hari ulang tahun sang kekasih, dan sudah beberapa hari ini ia selalu mengirimkan pesan meski tak dibalas oleh lelaki pujaanya.
Lelaki itu singgah dulu ke rumah lamanya, senyum terus mengembang dimana setiap sudut ia selalu melakukan hal-hal gila dengan sang kekasih.
Lelaki itu terdiam di depan rumah minimalis, tetapi apa yang terjadi di dalam sana? Kenapa banyak orang yang berada di rumah tersebut dan bendera kuning itu? Apa mungkin aku salah rumah, tapi aku ingat betul ini adalah rumah...
Seketika semua badannya lemas, ia tak sanggup untuk masuk lebih dalam lagi. Apalagi ketika ia mendengar suara tangis seseorang yang sangat ia kenal, air mata langsung terjun bebas tanpa dikomando.
"Kak Juan?" Panggil gadis berambut pendek dengan air mata yang berurai, ia langsung menangis di dalam pelukan Juan.
"A.. A.. apa yang terjadi Sindi?" Suara Juan tersekat tak mampu mengucap kata-kata, sebuah buket mawar merah terjatuh ke lantai begitu saja.
"Kak Sinta..." Mereka berpelukan dengan erat menyalurkan kesedihan yang tak terbendung.
Juan melangkah ke tempat dimana orang yang sangat ia cintai terbaring tak bernyawa. Wajahnya yang selalu tersenyum kini sirna, pipinya yang selalu merona bagaikan buah cherry kita terlihat pucat. Juan menggenggam tangan ke kasihnya, ia elus tangan sang pujaan hati. Hatinya bagaikan ditikam beribuan pisau, sakit dan sangat sakit.
"Nak sebaiknya Sinta segera dimandikan dan dikuburkan, tidak baik dibiarkan berlama-lama." Ucap salah satu pelayat.
"Kak ikut aku!" Perintah Sindi.
"Ini surat yang ditinggalkan Kakak untuk Kak Juan." Juan menerima surat itu dengan gemetar, ia tak ingin membuka surat itu. Tapi ia juga penasaran apa isi surat itu. Secara perlahan Juan membuka surat itu dan membacanya dengan hati yang tak menentu.
"Hey Jelek apa kabar? Ah pasti kau sedang mengerjaiku kan karena lusa aku ulang tahun? Trik mu terlalu murahan untuk mengerjaiku. Ah tidak apa-apa aku akan pura-pura tidak tahu, hehe.✌️
Seandainya besok atau lusa aku tidak bisa bertemu denganmu, aku harap kau tidak akan bersedih, kau harus kuat seperti biasanya kau selalu menjadi pahlawanku, menjadi orang yang selalu membuatku selalu bersemangat menjalani hari-hariku. Ah tapi aku akan kasih toleransi, hanya satu kali kau menangisi kepergian ku.
Entah aku pergi dengan sendirinya atau aku pergi karena tuhan telah berkehendak. Kau akan selalu ada dihatiku, kau berhak mendapatkan wanita yang lebih sempurna dariku. Yang bisa memberikan apa yang kamu mau dan kamu impikan. Impian itu tak perlu bersamaku, aku sudah memutuskan janjimu. Kau tak berhutang janji padaku.
Hiduplah dengan bahagia dan terus tersenyum, kau semakin jelek kalau cemberut. Ingat itu!!🤪 Ah sepertinya sudah terlalu panjang aku menulis, selamat tinggal jelek. Aku titip Sindi ya dan terimakasih dengan hadiah yang telah kau siapkan, bye bye jeleknya yang tak pernah ketulungan sampai pantatnya monyet.😅✌️"
"Kak sana ikutan sholat jenazah!" Perintah Sindi dengan suara amat lirih, air mata Juan semakin deras, ia tak menyangka akan menyolatkan kekasihnya dan apa aku mampu melihat dia...? Kaki Juan gemetar ketika ia melangkah sampai akhirnya ia melihat bagaimana sang kekasih dimakamkan di depan matanya, air mata yang tadinya sudah surut kini deras bagaikan ombak yang sedang pasang.
Semua orang sudah pergi meninggalkan pemakaman, tetapi tidak untuk Sindi dan Juan.
"Kak, sekarang Sindi harus bagaimana? Kenapa kakak meninggalkan Sindi? Bukannya kakak janji akan selalu ada untuk Sindi menggantikan Ibu? hikshikshiks.”
"Sayang happy birthday. Sungguh ini diluar rencanaku, seandainya kamu akan seperti ini, aku tidak akan pernah mengabaikanmu. Tapi aku akan memenuhi salah satu janjiku, dimana ketika aku sukses aku akan melamarmu dengan cara yang spesial. Entahlah perkataan mu selalu tepat, dimana aku sukses mungkin kamu sudah tidak ada."
Juan mengambil kotak beludru itu dan membukanya.
"Sintia Aulia Azuhro, maukah kau menikah denganku. Meski ini ketidak mungkinan kita bersama, aku tetap sayang kamu. Tapi tuhan lebih sayang kamu. Kau tak akan pernah merasakan kejamnya dunia ini lagi. Terimakasih atas semua kenangan yang telah kamu berikan. Sepertinya aku tidak akan bisa melihat senyum bodohmu itu secara langsung."
"Sindi?" Sindi dan Juan secara spontan menoleh kesumber suara.
"Ayo kak kita pulang!!"......"Tapi Sindi?"....."AYO KAK!!" Teriak Sindi.
"Sindi...Sindii....tunggu!! Kakak tidak tau semuanya akan seperti ini. SINDIIII!!!”
Sindi langsung mengajak Juan ke rumah dan menguncinya.
"Ada apa sebenarnya Sin? Dan siapa dia?"
"Kakak tau bahwa ibuku istri kedua?" Juan mengangguk.
"Dia kakak tiri kami."
Flashback
"Loh kemana bapak, kok sekarang gak ikut teh?" Tanya Sinta.
"Kondisi bapak lagi drop. Oh iya, kakak boleh minta bantuan Sin?" Tanya Lia
"Apa?"
"Apa mau kamu mendonorkan salah satu ginjal kamu untuk bapak? Kamu tahukan yang cocok itu cuma kamu sama kakak, tapi kakak gak bisa soalnya lagi hamil." Jantung Sinta berpicu 2x lipat dari biasanya, apa selama 1 minggu terakhir ini mereka sering kesini hanya untuk mendapatkan ginjalku saja? Seketika itu hati Sinta terasa sakit dan amat sakit, apa tidak sepeduli itukah mereka kepadaku? Bahkan hampir 12 tahun bapak tidak ada kabar, sekalinya datang hanya untuk sebuah tujuan.
"Kakak mohon tolong bantu bapak Sin!!”
"Baiklah aku setuju." Cuma satu ginjalkan gak akan mati juga. Sinta menguatkan hatinya supaya ia bisa menerima takdir yang diberikan tuhan. Mungkin dengan ini aku bisa berbakti kepada bapak.
"Tapi kemungkinan besar kami akan sulit hamil Sin." Deg.... Bukankan impian ku dan Juan menginginkan keluarga yang lengkap.
"Gimana apa kamu mau?" Sinta terdiam begitu lama hingga...
"ENGGAK, AKU GAK MAU KAKAK MELAKUKAN HAL BODOH. KAKAK GAK BOLEH OPERASI DAN KAKAK JUGA HARUS MEMILIKI MOMONGAN DENGAN KAK JUAN, BUKANKAN ITU IMPIAN KAKAK DAN KAK JUAN." Ucap Sindi yang tiba-tiba datang dengan mata yang merah menahan amarahnya.
"Teth bisa pulang dulu!! Biar Sinta bicarakan ini dengan Sindi."
Kini suasana menjadi mencekam diantara Sindi dan Sinta.
"Sin ingat dia juga bapak kita, kita harus berbakti dengan orangtua kita. Selama ini kita tak pernah melakukan apapun untuk bapak, mungkin dengan ini bapak dan yang lainnya bisa melihat ke arah kita."
"Tapi kak tidak dengan seperti ini, bapak juga tidak pernahkan ingat kita buat apa kita berbakti padanya."
"Ingat Sin, bagaimanapun bapak kita orang yang pernah hadir diantara kita, memberikan kasih sayang meski tak selamanya kita dapatkan."
"Tapi..."
"Tak ada tapi tapian adanya baskom, dan jangan bilang masalah ini kepada Juan, awas kau" Sindi hanya menghela nafas, kakaknya memang keras kepala seperti bapaknya.
"Kak apa Kak Juan belum membalas pesan kakak?" Sinta hanya tersenyum.
"Mungkin dia lagi ngerjain kakak." Ucap Sinta sambil tetap fokus kepada hpnya.
"Apa aku kasih tau aja kalau kakak mau dioperasi malam ini?”
"JANGAN!" Tuh mata kalau dah melotot kaya telor ceplok aja pengen ditojos, gumam Sindi.
""Yang marah yah? Apa salah dan dosaku sayang, cinta suciku kau buang-buang💃.""
"Ayolah balas dulu napa!! Yaudah selamat tinggal goodbye, say hello and let me go oh hoooo🎤"
"Yaudah kalau gak mau bales. Jaga kesehatan selalu dan selalu bahagia dan tersenyum, jangan lupa ibadah mekipun sibuk. Love you sekebon MUACH😘"
Tok...Tok...Tok...
"Nona operasinya akan segera dimulai, mari saya bawa ke ruang operasi." Sinta hanya tersenyum mendengar sang suster.
"Kak?”
"Gak apa-apa, percayalah." Sinta menguatkan Sindi. Bahwa semuanya akan baik-baik saja sesuai rencana.
Disaat semua orang sedang terlelap dalam mimpi indahnya masing-masing, tidak dengan para dokter dan suster yang sedang berusaha menyelamatkan seorang yang sedang diambang kematian hingga tuuuutttt. Seorang pimpinan bedah menggeleng, hingga...
"Sintia Aulia Azuhro, menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 5 Maret 2021 pukul 3 waktu indonesia barat."
Flashback Off
"Hiks..hiks..hiks bagaimana kak aku tidak mau ikut mereka? Aku muak melihat wajah mereka." Ucap Sindi tersedu-sedu. Juan mendekap tubuh Sindi mencoba menenangkan Sindi.
"Aku tau bagaimana kamu agat tidak bersama mereka."
"Bagaimana?"
"Menikahlah denganku."
"APA?"
"Semua ini demi kebaikanmu, aku tidak bisa membawa kamu ketempat ku tanpa sebuah ikatan, meski aku menganggapmu adik, tetapi tidak dengan mereka yang hanya melihat dari sebelah arah."
"Ini juga untuk menepati janjiku kepada Sinta bahwa aku akan menjaga mu."
"Tapi Kakak tidak mencintaiku."
"Aku akan mencoba mencintaimu, meski kamu sudah ada dihati ku aku mohon jangan meminta untuk menghapus perasaanku kepada Sinta karena kamu dan Sinta akan berbeda. Kita sudah bersama-sama dari seragam merah putih, tidak mungkin aku melupakannya."
"Bagaimana?" Sindi menghela nafas hingga...
"Baiklah aku akan menikah dengan Kak Juan."
"Maafkan aku kak, seharusnya ini hari bajagiamu tapi aku malah merebutnya." Kata hati Sindi.
"Maafkan aku Sindi dimana makam mu belum kering aku sudah melamar adikmu, semoga dengan ini aku bisa mebepati janjiku kepadamu menjaga adikmu dan membuatnya bahagia."
Sedangkan disebuah rumah sakit, seorang paruh baya mengerjapkan matanya.
"Sinta...Sinta" Panggilnya dengan lirih, Lea yang mendengar gumaman Sang Ayah langsung mendekat.
"Ayah kau sudah bangun?"
"Dimana Sinta?" Seketika Lea membatu tak tau apa yang harus ia katakan pada sang ayah.
"Lea akan cari dokter dulu."
"Gimana kondisi ayah sama dok?"
"Kondisinya sudah stabil tetapi jangan sampaj membuat beliau kembali drop seperti mengatakan hal hal yang mengejutkan." Entah apa yang harus ia lakukan saat Ayahnya bertanya dimana Sinta dan bagaimana keadaannya. Lea tak mau membuat sang ayah kaget mendwngar bahwa Lea telah tiada.