Hai.....
Salam kenal untuk kalian. Namaku Cahaya Gloria panggil saja aku Echa. Aku benci disapa dengan panggilan Cahaya atau pun Gloria,karna hidupku tak seindah namaku.
Aku berasal dari keluarga sederhana. Tapi hidupku tak sesederhana itu,banyak hal rumit terjadi.
Aku seorang gadis remaja dengan sejuta mimpi dan harapan yang selalu aku pendam.
Jika aku boleh bertanya, apa definisi broken home menurut kalian?
Perceraian orang tua?
Mungkin itu bagi sebagian orang.
Definisi broken home menurutku ialah ketika berada dalam sebuah hubungan yang dinamakan KELUARGA tetapi aku tidak pernah tau arti dan makna sebuah KELUARGA.
Ya....Aku memiliki keluarga lengkap dan utuh. Memiliki kedua orang tua lengkap dan satu adik laki-laki.
Bolehkah aku mengatakan bahwa orang tuaku adalah toxic parents?
Kalian hanya bisa menjawabnya ketika kalian berada di posisiku. Aku berusaha menepis kenyataan bahwa orang tuaku adalah toxic parents, tapi pada kenyataannya memang seperti itu dan aku tidak bisa menyangkalnya.
Aku memiliki sebuah trauma masa kecil dimana sampai detik ini aku enggan mengungkapkannya,bahkan ketika mengingatnya saja kepalaku terasa berdenyut nyeri.
Tapi tidak seorang pun tau akan hal itu.Aku cukup pintar menyembunyikan perasanku,perasaan hancur yang ingin membuatku mati.
Orang-orang sekitarku mengira kehidupanku begitu tenang dan damai melihat sikapku yang begitu mudah tersenyum dan selalu ceria.
Tapi pernahkah mereka tau bahwa aku mempunyai luka yang mendalam??
Aku tidak ingin menjadi pribadi yang lemah. Aku ingin menjadi pribadi yang gigih dan kuat. Aku ingin menjadi cahaya yang memiliki sinar bagi orang lain,agar aku layak dipanggil dengan nama Cahaya.
Meski hidupku tak bercahaya, aku ingin setidaknya diriku bisa menjadi cahaya bagi orang lain.
Setiap hari aku belajar terbiasa dengan sebuah tuntutan yang diberikan orang tuaku. Setiap hari juga aku harus merasa kecewa karena usahaku tak dihargai.
Setiap malam aku hanya menangis lalu berdoa agar memiliki hati untuk memaafkan.
Aku menyayangi kedua orang tuaku. Seribu kali mereka menamparku pun,aku akan tetap memaafkan mereka meski tak sekalipun kata 'maaf' terucap dari bibir mereka.
Bertahun-tahun aku memendam semua luka,pada dasarnya bukan luka tetapi bekas luka. Karena ketika luka itu datang aku selalu mengobatinya dengan memaafkan.
Benar apa yang dikatakan orang-orang. Luka itu memang bisa sembuh tetapi apakah bekasnya akan hilang?
Tidak.
Aku memiliki bekas luka. Bekas luka yang selalu aku tutupi dengan senyuman.Tak seorang pun menyangka bahwa dibalik senyumku ada kepedihan.
Bertahun-tahun aku melewati hari-hariku dengan senyuman keikhlasan,meski hidupku selalu dipenuhi dengan tuntutan dan tekanan.
Bertahun-tahun mengalami hal itu membuat aku berada di titik 'terbiasa'. Dari terbiasa itu membuat aku menjadi pribadi yang tidak bisa mengekspresikan diri.
Apapun yang terjadi dalam hidupku, aku tetap berekspresi santai di depan khyalak ramai. Tapi pernahkah mereka tau dibalik itu ada setetes air mata yang ingin mengalir?
Terkadang aku merasa bahwa diriku sedang berada diruangan sempit. Dimana ketika aku bergerak ke arah kiri tidak bisa, ke arah kanan tidak bisa, ke arah atas tidak bisa,ke arah bawah tidak bisa. Mungkin yang aku lakukan hanya bisa diam meski terasa sesak.
Apa rasanya ketika kalian memiliki sebuah bakat atau hobby tetapi tidak bisa kalian tunjukkan?
Aku memiliki beberapa bakat,salah satunya menulis. Aku mencintai sastra dan dunia literasi. Tapi tidak ada yang tau akan hal itu. Bukan tanpa sebab,kembali lagi ke point awal aku adalah sosok yang tidak bisa mengekspresikan diri.
Aku menutup diri dengan orang-orang sekelilingku. Mungkin mereka tidak pernah tau, karena aku pintar menyembunyikan perasaan.
Sekalipun aku menutup diri, aku bukanlah sosok pendiam, hanya saja aku sulit bergaul dan benci keramaian. Aku suka sebuah ketenangan dan tempat sepi.
Semua hal yang terjadi dalam hidupku membuat aku menjadi sosok yang sebenarnya bukan diriku. Bahkan aku saja tidak mengenal dengan pasti siapa aku sebenarnya.