KKN DI TANAH SUNDA
[A TRUE HORROR STORY]
Namaku Devina, aku kuliah disalah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Barat. Aku bukan asli orang sini sih, tapi aku tinggal disini dari sejak SMA mengikuti orang tuaku. Bertahun-tahun aku tinggal disini tetap saja aku tidak terlalu bisa bahasa sunda yang halus, tau sendiri kan pendatang selalu diajarkan bahasa daerah yang kasar-kasar hehe
Hari dimana pembagian kelompok KKL tiba dan semua mahasiswa dikumpulkan di aula. Seingat ku ada hampir 32 kelompok saat itu yang dibagi dari kampus dan setiap kelompok terdiri dari 13 mahasiswa. Satu kelompok terdiri dari 3 jurusan yang kebanyakan cowonya sih, cewe nya paling 3 orang dalam 1 kelompok.
Saat itu aku kebagian kelompok 23, dan dari 13 orang itu yang ku kenal hanya Dela anak jurusan pkn selebih nya aku kenalan disaat itu. Kita pilih lah disitu siapa yang menjadi ketua dan struktur lainnya. Diumumkan juga bahwa akan ada survei ke desa tersebut sebelum KKL dilaksanakan pada tanggal 1 agustus 2017. Entah kenapa kelompok ku emang agak mageran mahasiswanya, gada yang menawarkan diri untuk mengikuti survei itu, jadi terpaksa juga aku yang harus berangkat, karena memang aku yang terbilang aktif dari mereka dan cukup famous di akademisi kampus.
Hari berlalu dan tiba juga pada hari survei tersebut. Aku berangkat bersama pacarku namanya Reyhan, kebetulan dia adalah ketua kelompok di kelompoknya.
"Lah kamu sendirian yang berangkat?" Tanya Rey.
" The best group ever baby" jawabku meledek.
Kita berangkat dari kampus pukul 7/8 pagi, dipertengahan jalan menuju desa ini kita memang hanya menggunakan motor masing-masing berboncengan. Pacarku sengaja berada dibelakang karna memastikan yang depan tidak salah jalan. Di tengah perjalanan tiba-tiba 3 motor didepan kita meminggirkan motornya kekiri dan saling tanya satu sama lain. Mereka tidak yakin akan jalan yang diambil, hahaha aku sempat tertawa karna aku fikir mereka hafal jalan dengan ngebut tadi, ternyata lagi-lagi pacarku pun yang harus memimpin di depan.
Kita sampai di desa tersebut sebelum dzuhur, aku menyapa teman sekelasku yang ternyata ikut dalam survei.
" hai fan, ikut juga? Sapaku.
" hai dev, iya nih aku udah dari pagi disini tapi kordes nya gak dateng-dateng juga" jawab nya kesal.
Kordes adalah koordinator desa yang ditunjuk dari kampus sebagai ketua KKL kita tahun ini. Ada 2kordes yang ditunjuk dan salah satunya di desa yang akan ku tempati ini.
"Dev dzuhur dulu yuk, lama banget kordesnya" ajak fani.
Kita solat dzuhur di mushola dibelakang kantor desa tersebut. Disini hawanya memang dingin tapi ada yang aneh di mushola yang terletak diatas yang kita harus menaiki tangga kayu yang reyot ini, mushola itu membelakangi sawah yang luas dan memang sangat sunyi sepi, saat ku mulai solat itu, di rakaat kedua aku merasa ada yang mengikuti gerakan solat ku, seketika aku merinding dan panik. Padahal temanku fani berada disampingku, lalu siapa yang mengikuti gerakanku?
Aku hanya mencoba tenang dan tidak menceritakan hal ini ke fani.
Hingga jam 3 kordes tak kunjung datang, lalu ada pertunjukan singa depok didesa itu, kesenian sunda yang sering diadakan saat ada hajatan khitan. Kami menonton takjub hingga jam 3 sore dan kordes pun baru datang didesa. Aku dengan kesal sudah gak karuan menggerutu.
Kordes memberi tau bahwa penentuan homestay berdasarkan kocokan saja, dan ia pun membuat kocokan mirip arisan dengan no rt nya sebagai penentuan homestay kami. Semua kelompok yang sudah mendapat no rt langsung membubarkan diri dan berangkat masinng-masing ke homestay nya. Aku dengan sedikit bengong langsung melemparkan kertas kocokannya.
"Apa-apaan ini, kok no rt ku ga ada di daftar, jangan gitu lah kita sama-sama nunggu dan sama-sama survei loh" aku dengan marah-marah dan capek.
Kordes diam dan memberi solusi aku mendapat homestay di rt 05. Aku sebenarnya tidak terima tapi pacarku menenangkanku dan mengajaku buru-buru agar tidak kemalaman dijalan.
Kita sepakat mencari rt pacarku yang terletak diujung desa, meski denggan berat hati aku menurut saja. Kita hampir sejam berputar-putar di desa itu namun tidak menemukan rt yang dimaksud, hingga kita tak sadar hampir nyasar kesebuah hutan yang ternyata tembusnya ke gunung padang di daerah itu. Aku sudah hampir nangis waktu itu, namun kami bertemu bapak-bapak yang menanyakan hendak kemana kita. Akhirnya setelah mengobrol kami pun diantar ke rumah rw yang dimaksud. Akhir nya pak rw tersebut menunjukkan homestay yang akan dipakai kelompok pacarku. Itu adalah sebuah padepokan yang memiliki 2 kamar dibelakang padepokan itu, sontak pacarku sedikit interupsi kepada pak rw.
"Pak punteun, kami ber 13, tidak akan cukup disini"
"Bagaimana ya, saya antar ke pak rt saja ya kalau gitu" jawab pak rw.
Kami diantar kerumah pak rt setempat dan dengan obrolan yang aku tak paham karena memakai bahasa sunda halus waktu itu, yang ku tangkap dari obrolan itu bahwa bapak rt itu mempersilahkan memakai rumahnya sebagai homestay, namun lagi-lagi pacarku menolak karena memang tidak cukup untuk ber 13.
Sebenarnya ada rumah kosong di situ, namun bertahun-tahun tidak ditempati oleh pemiliknya karena sudah stay di bandung katanya. Pacarku membujuk pak rt untuk mengijinkannya menempatinya.
Akhirnya setelah melewati perdebatan alot akhirnya kita diijinkan.
Lalu kita kerumah itu untuk memfoto tiap sudut ruangan, terdapat 3 kamar dengan 1 kamar memiliki pintu dan 2 lainnya hanya menggunakan hordeng. Dengan ruang tamu dan dapur yang sangat luas. (Kami memfoto lengkap di kamera pacarku namun setaun kemudian kamera nya hilang dan aku belum menemukan file nya di laptop karna laptop mati perlu diservis).
Magrib menjelang dan kita masih dijalan pulang, akhirnya kita tidak jadi survei homestay ku dan memilih melanjutkan pulang. Aku kesal hari itu tidak mendapat apa-apa, aku meminta maaf ke kelompokku dan menjelaskan yang terjadi di grup wa kita. Malam harinya di grup angkatan kami di line, kordes desaku mengirimkan foto homestay ku yang tidak ku survei tadi, aku lega dan aku minta maaf atas sikapku tadi siang. Ternyata dia survei sebelum kami datang agar tidak memakan waktu harus masing-masing survei.
Karena foto nya hanya dari luar saja, kelompok ku sepakat untuk datang 2 orang sebelum tanggal 1.
H-1 keberangkatan dan semua koper dikumpulkan di 2 orang temanku Ahmad dan Fauzan. Mereka pun ke homestay kami dengan mobil dan menaruh semua koper kami jadi besok pagi kami datang hanya membawa diri saja.
Malam nya ahmad dan fauzan mengirimkan video singkat mereka sedang ngopi di warung dan mereka bilang
"Wah keren gais, dev lu dapet homestay mantuuulllll, surpres banget pokonya buruan kesini" bilang nya.
Mereka tidak berbicara apa-apa lagi dan hanya mengetik digrup kalau warung jauh dan surprisse lainnya.
Aku makin penasaran apa lagi ini?
Pagi itu semua mahasiswa di angkut menggunakan angkutan truk TNI menuju desa tersebut. Pihak kampus hanya mengijinkan maksimal 2 motor dalam 1 kelompok. Aku berangkat bersama pacarku dan hanya membawa diri saja karena koper sudah di bawa semua oleh temanku.
Jam 9 pagi kami sampai di kantor desa disambut oleh perangkat desa dan pak kades. Perwakilan kelompok mengikuti upacara penyambutan di balai tersebut dan lagi-lagi aku yang disana. Setelah beres penyambutan lalu teman kami menjemput dengan 2 motor dan bolak balik untuk menjemput kami.
Sesampainya di homestay aku terkejut karena homestay ku satu-satunya homestay yang masih menggunakan timba sumur untuk mendapatkan air.
Aku sudah lemas, dan melihat keadaan rumah yang hanya 1 kamar saja karena itu rumah rt setempat. Tanpa kasur hanya karpet saja, dan semua rumah di desa itu lantainya masih kayu yang otomatis ada celah udara. Desa itu terkenal akan dinginnya, terbayang kan jika malam seperti apa.
Hari itu kami tidak ada rencana apapun selain istirahat. Pada tengah malam harinya, aku terkena hipotermia, aku tak sanggup dengan udara yang hampir membekukan tulang. Aku menggigil sejadi-jadinya hingga gigiku gemertak, temanku dela memberiku sendok untuk ku gigit setidaknya mengurangi gemertak ku. Setelah teman-temanku mengerubungiku akhirnya aku mulai sadar dan menormalkan suhu tubuhku. Pada pukul 02.00 dini hari, dela kebelet pipis, oiya kamar mandi disini rata-rata tidak didalam rumah,tapi di samping, dan untuk mendapatkan air harus menimba, dela membangunkan fauzan untuk membantunya menimba, dan aku saat itu pun terbangun karena tak mungkin aku biarkan dela sendirian juga, aku dengan kaos kaki dan jaket layaknya di kutub utara, aku menunggu dela dari luar kamar mandi, fauzan menimbakan air untuk dela pipis, aku melihat waktu itu sekelilingku sunyi tak ada suara apapun selain suara katrol dari timbaan fauzan.
"Anjir berat banget " keluh fauzan.
"Mau gue bantu gak zan" tawar ku.
"Panggilin putra dev" suruh fauzan.
Aku memanggil putra untuk membantu fauzan saat itu. Putra pun heran kenapa hanya menimba pun harus dengan 2 lelaki.
"Bantuan ieu berat pisan (bantuin ini berat banget)" dengan lirih fauzan berkata.
"Lemah banget sih maneh (lemah banget sih lu)" kata putra.
Hampir 10 detik menimba dan saat timba mulai naik tiba-tiba fauzan melepaskan timba tersebut sambil lari terbirit-birit masuk kerumah, melihat fauzan lari putra pun ikut melepaskan timba dan lari mengejar fauzan,aku yang shock langsung bertanya ke fauzan ada apa.
"Anjing itu tadi yang keluar dari sumur bukan timbaan, itu item gede banget sepohon anjir" cerita fauzan sambil meringkuk ketakutan.
Seketika semua bangun diruang tamu itu dan aku tersadar dela masih tertinggal, aku berlari kelur dan melihat dela dengan bengong melihat ke sumur itu, langsung ku tarik masuk kerumah dan setelah itu dela tidak sadar-sadar dan masih bengong pucat tatapan nya kosong, berulang kali ku tampar dia dan sesekali sadar namun selebihnya selalu bengong. Malam itu kami membangunkan pak rt di rumah belakang dan beliau hanya bilang jangan biarkan dela sendiri. Kami bergantian menjaga nya sampai subuh, dan pagi itu kami berunding untuk meminta pak rt memperbaiki sanyo agar kami tidak menimba.
Saat siang aku melihat ke arah sumur ternyata kebun diatas sumur itu adalah kuburan coy :'(
Seminggu berlalu dan aku berkunjung ke homestay pacarku karena hanya homestay dia yang airnya berlimpah.
Aku sering kesana dan ada 1 teman kelompok nya namanya sita, entah kenapa dia seperti tidak suka dengan kehadiranku disana, melihatku seperti jijik. Aku sempat berfikir kalau dia suka sama pacarku makanya dia seperti itu. Namun sikap nya berubah-ubah aneh, kadang dia judes sama aku kadang dia baik banget, aku tidak mengerti dengan kelakuannya, tapi aku cuek saja lah mungkin doi sedang PMS.
Sampai pada satu hari homestay ku kedatangan mahasiswa dari kelompok lain dan mereka sangat rame sekali di teras. Aku keluar dan menyapa mereka, salah satu lelaki itu menyapa ku balik dan berkata
"Eh dev, lu pacarnya Reyhan kan? Jagain si Rey, itu dia lagi deket sama Astrid tuh, temen sekelompoknya tiati lu" ujarnya.
Aku yang bingung cuma bisa tersenyum dan bodohnya aku langsung uring-uringan dan membuat status di WA dengan sindiran-sindiran tanpa memastikan dulu. Setelah 3 hari aku mengabaikan telpon dan chat Reyhan, akhirnya sore itu dy datang bersama temannya dan mengajakku jalan-jalan kesawah didekat homestay ku. Dia bertanya banyak hal dan aku jawab semua dengan masih emosi, dia pun memintaku untuk ke homestay nya agar Astrid bisa klarifikasi juga. Aku hanya meng iya kan saja dengan masih ada perasaan tidak ingin kesana karena teman kelompoknya aneh-aneh hahaha.
Minggu ke 2 proker kami berjalan baik-baik saja sampai pada saat dimana banyak sekali selisih pendapat di kelompok ku. Memang disini aku berperan terlalu menonjol dibanding teman kelompokku yang lain, namun mungkin karena egoku juga yang tinggi dan terlalu ambisius makanya ada sedikit perdebatan dalam kelompok kami sampai sudah tidak berada di plan yang kita susun dari awal. Aku pun hanya fokus mengerjakan laporan KKL dan tidak tertarik mengikuti kegiatan bersama teman kelompokku lagi. (Jangan ditiru ya,intinya kalau ada masalah jangan utamakan ego)
Setelah 17 agustusan semua proker kami beres, dan minggu terakhir pun tiba.
Minggu terakhir aku berada di desa ini semua berjalan biasa,namun cerita horor dari banyak kelompok lain mulai muncul di grup-grup kelas dan meluas menjadi horor sebenarnya. Dari yang diganggu arwah nenek-nenek yang merasuki mahasiswa putri hingga belasan jam dan tak sadar-sadar sampai gangguan fisik. Aku sempat tidak percaya dan menganggap itu hanya halusinasi mereka saja.
Minggu terakhir ini aku ijin pada teman sekelompokku karena memang sudah banyak yang santai pulang pergi kerumah juga.
Akhirnya aku mengemas koper ku dan pindah ke homestay pacarku. Malam itu aku ngobrol bersama 3 teman kelompoknya Astrid, Sita dan Lisa. Akhirnya disitu Astrid menjelaskan bahwa dia tak ada hubungan apa-apa dengan Reyhan, aku hanya salah paham, oke deh aku kembali lega waktu itu. Malam semakin larut Sita dan lainnya.
Saat semua orang sudah diruang tamu, terdengar suara muntah sangat kencang dari samping rumah.
"Hhhuueeeeekkkkk....... hhhuuueekkkk"
Ternyata itu Lisa, kami semua sontak keluar dan membawanya masuk kerumah. Dia terlihat pucat dan terdiam sesaat, lalu Rey menyuruh Astrid membuatkan teh panas agar Lisa membaik.
Dasar aku juga anaknya tidak tau sikon sih, aku nyeletuk "Aku juga mau ya teh nya 1" celetukku.
"Siap ibu negara" jawab Astrid.
Aku mengusap punggung Lisa yang masih terdiam tak mau bicara, dia hanya menatapku tajam tanpa ekspresi.
Teh pun datang dan aku protes ke dika.
"Heh ini kenapa masih ngebul sih tehnya, anget aja dong" protesku.
Tanpa ku duga teh itu diambil oleh lisa dan langsung diminum nya habis sambil menatapku tanpa berkedip.
(Anjjjiiirrrrr sumpah itu teh panas air baru mendidih)
Tidak sampai situ aja teh ku pun diambil Lisa dan diminum habis. Semua orang disitu yang menyaksikan hanya bisa melotot satu sama lain tanpa berkomentar.
Lisa hanya senyum melotot ke arahku, aku pun karena tidak tau maksud nya ya aku diam saja.
Malam itu aku tidur di salah satu kamar yang hanya berpintu hordeng, berkali-kali Lisa mengajakku tidur bareng di kamar nya namun aku menolak. Lisa sudah normal saat itu namun aku tetap tak mau.
"Dikamar itu dingin loh ga ada kasur, ayok tidur sama aku aja" pinta Lisa.
"Gapapa kan dikamar sana udah bertiga, nanti sempit kalian, aku disini aja" tolak ku.
Sambil menyeringai Lisa masuk kekamar.
Aku tidur dengan kepala disamping pintu kamar dan Reyhan ada diluar tepat depan kamarku.
*pleettaaakkkk .........
Disela kami beristirahat terdengar kerikil di lemparkan kedalam kamarku. Aku diamkan karena kufikir cuma angin. Tidak lama kerikil itu berkali-kali dilemparkan ke kamarku.
Aku membangunkan Rey dan minta dia mencari sumber lemparan itu. Rey menyenteri kamarku dan tidak ada kerikil atau batu disana, tapi aku yakin sekali ada yang dilemparkan ke kamarku, Rey menenangkanku dan menyuruhku tidur. Dikamar ini memang tidak ada lampunya, jadi semua halusinasiku bermain malam itu, ya untung nya aku ada perasaan bodo amat yang penting aku gak ganggu.
Sekitar jam 3 pagi, aku mendengar suara langkah kaki 3/4 kali melangkah, aku keringat dingin saat itu, karena jika ada yang bangun ke kamar mandi langkah nya tidak sependek itu. Apalagi lantai disana semua dari kayu yang sangat terdengar sekali jika ada yang berjalan. Dua kali aku menghitung langkah kaki itu, tapi tidak ada suara pintu yang dibuka dan tidak ada yang sependek itu langkahnya.
Hingga akhirnya pagi datang, aku terbangun dan merasa perutku tak sanggup untuk bergerak. Ternyata pagi itu aku sedang menstruasi. Aku kaget dan menghubungkan kejadian semalam karena ini. Akhirnya Sita mengajak Rey membeli obat pereda haid ke kota, karena di desa ini tak ada apotek. Dan hasilnya hingga siang mereka pulang namun tak mendapatkan obat tersebut. Aku heran namun aku hanya bisa menahan nya dengan air panas didalam botol yang dibuatkan Astrid.
Siang itu anak laki-laki berisik sekali dari kamar Lisa, mereka keluar masuk entah ada apa.
Saat aku masuk kamar ternyata Lisa kesurupan lagi, dia meminta aku menutup pintu.
"Tutup pintu nya" sambil melotot ke arahku.
Aku menurutinya dengan suara anak lelaki diluar yang ragu dan takut aku kenapa-kenapa.
Aku hanya berfikir semoga dia hanya bercanda. Namun dugaan ku salah saat itu. Aku duduk disebelahnya didekat tembok kamar itu. (Rumah disana masih dari kayu)
Sekejap aku duduk dan memandangnya penuh tanya tiba-tiba
*bbrraaakkkkkk
Aku terkejut setengah mati saat alat mandi yang berada dibelakang ku yang di letakkan di palangan tembok itu jatuh kedepan hadapanku, (begini logikanya,kalau jatuh pasti dibelakangku bukan kedepan tubuhku karna itu jaraknya jauh, aku tidak menyandar ke tembok)
Seketika Lisa menyeringai dan berkata "aku bilang juga apa" senyum lagi.
(Aaannnjjjiiiirrrr ini aku ngetik masih inget itu muka nyengir)
Aku masih ingat aku hanya bilang "maaf kalau kehadiran saya disini mengganggu atau bagaimana, tapi tolong jangan ganggu teman saya ya, saya mohon maaf lagi" seketika aku langsung keluar buru-buru.
Malamnya didesa sedang ada acara dangdutan (aku lupa tapi aku tidak ikut)
Rey yang sibuk seharian baru pulang habis magrib saat itu, semua baik-baik saja sampai ketika Rey tiba-tiba memeluk ku erat hingga sampai duduk bersila dan tertunduk. Aku kira dia hanya ingin meminta maaf karena tadi pas dangdutan dia nyawer bulurah, ternyata lebih horor dari itu.
Tiba-tiba dia tertawa berat seperti kakek-kakek.
Sontak semua yang ada di ruangan terdiam dan hanya bilang "Rey kunaon, istigpar rey istigpar"
Aku yang speechless cuma bisa melepaskan pelukannya dan agak menjaga jarak namun aku tetap disampingnya.
Dia menunduk dan berkata memakai bahasa sunda yang halus dan aku tidak mengerti.
Hanya teman-teman nya yang sesekali bertanya assalamualaikum ki, mau apa mampir kesini dan dia menjawab tetap memakai bahasa sunda yang aku tak ingat apa itu, intinya dia menyampaikan bahwa hidup harus "saling" satu sama lain. Pokoknya hanya wejangan dan nasehat yang beliau sampaikan.
Setelah beliau pamit, Rey tersadar dan heran kenapa muka kami tegang melihatnya. Tidak ada yang berani bertanya lagi padanya. Saat semua normal lagi, aku melihat ada kakek-kakek berdiri diantara depan pintu kamar berhordeng itu, memakai baju hitam dan pangsi hitam, ia tersenyum sambil mengangguk kepadaku. (Fak coy saat nulis part ini aku didatengin lagi astagfirullah)
Lama sekali kakek itu disitu, dan bodohnya aku langsung cari kamera digital terus memotrek sudut itu dengan flash. Dan hasilnya cuma orbs yang tampak, tapi setidak nya aku tidak halu.
Aku makin bertanya-tanya ada apa denganku ini, mengapa halusinasiku makin menjadi-jadi.
Pagi itu tidak ada kegiatan di kelompok Rey, mereka hanya menghabiskan sisa hari di desa dengan bermain tok tak (permainan semacam badminton namun memakai raket terbuat dari kayu).
Malam harinya ada doa bersama di padepokan sekalian untuk pelepasan mahasiswa yang KKL di rt itu. Aku ragu sebenarnya karena aku bukan kelompok tersebut, namun semua anggota tetap mengajak ku dan tidak membiarkan aku tinggal sendiri di rumah itu.
Akupun ikut ke padepokan dengan perasaan deg-deg an entah kenapa. Disana acara berjalan lancar dan hingga akhir acara aku jadi dokumenter untuk kelompok rey (gak masuk frame coy huh) setelah akan pulang, Rey bertanya kepada sesepuh setempat mengapa ada gangguan akhir-akhir ini di homestay nya, dan aki itu hanya menjawab "neng itu belum di kenalkan kepada leluhur" ( gue coy )
Dan ternyata sebelum menempati rumah itu semua anggota kelompok Reypun melakukan doa bersama di padepokan untuk "memperkenalkan diri" kepada leluhur disana. Nah berati selama ini aku belum perkenalan dong ya hhhuhuhuhu
Cerita horor desa ini memang sudah berhenti disini, namun cerita Lisa tidak sampai disini saja.
Keesokan hari nya, tepat nya hari terakhir kita KKL pun masih ada saja yang mengejutkan. Siang itu Lisa mengajak ku, Edo dan Bejo untuk ke pasar beli keperluan barbeque an untuk malam terakhir kita disana, aku pun semangat, karena aku tidak mau ada kesan horor lagi pastinya.
Kita mulai pergi jam 11 an siang itu, karena pasar lumayan jauh, kita ngobrol panjang lebar dijalan sampai pada obrolan yang menurutku horor lagi. (Ku ketik percakapan ya)
Lisa : Dev, lu tau sesuatu ngga tentang gw?
Aku : ngga tuh, apaan?
Lisa : aku dulu tu normal tau ngga, aku dulu ga begini, aku dulu gabisa liat setan
Aku : loh bukannya malah asik ya bisa liat begituan (gbl*g emang gue nanya gini)
Lisa : awalnya takut, tapi lama-lama terbiasa, dan ketakutan terbesarku saat ini bukan "mereka" tapi dijauhin semua orang.
Aku : ngga kok, asal kamu bisa kontrol itu pasti orang lain juga maklum. (Gw kasian sebenernya tapi ya gimana)
Lisa : aku punya temen kecil loh, lucu deh, coba bayangin
Aku : iya ya cewe (sumpah demi apapun ini spontan dan ga gue pikirin sama sekali)
Lisa : dia dulu kenalan nya pas aku lagi tidur dia loncat-loncat dikasur ku dan diantara badan ku.
Aku : iya lucu ya, pake dress putih pink (mulai disini gue gasadar apa yg gue omongin, tapi yang pasti ini yang ada diotak gue)
Lisa : hahaha nah kan kamu tau
Singkat cerita kita lama dipasar karena emang sudah siang dan pada tutup, kita nyari sosis, ayam, dan syuran.
Pulangnya kita mampir di indoma*rt untuk beli minum dan istirahat lagi.
Lisa :aku tau kamu bisa liat juga dev, kamu sama kaya aku, tapi kenapa kamu pura-pura galiat? Oh iya pasti kamu takut orang-orang jauhin kamu kaya aku ya?
Aku : eh ngga, aku gapernah berfikir gitu, aku coba kontrol diri aku sendiri, kalau aku dengan sadar melihat mereka pasti ketakutan itu lebih besar dari diriku sendiri. (Padahal kalo liat apa-apa aku lebih bayangin itu adalah benda apa gitu yang menyerupai, jadi ya ga takut)
Singkat cerita sore itu kita beres-beres semua dan mulai bakar-bakaran. Tiba-tiba saat lagi happy-happy an diteras depan, aku kekamar Lisa dan dia disitu nangis sejadi-jadinya, aku bingung ada apa, aku tanya dia cuma nangis sambil ketawa-ketawa. Beberapa temen lelaki nenangin tapi malah didorong keluar kamar dan kamar dikunci dari dalem.
(Bayangin lu sekamar sama orang kesurupan dan dia malah narik tangan gw dan ngajak gue joget-joget sambil dy tetep netesin air mata dan ketawa). Aku cuma bisa baca doa semampuku dan berusaha ikutin apa mau dia, dan gak lama kemudian dia jatuh ke lantai antara kasur dan lantai. Aku langsung manggil temen lain buat bantuin, saat pada ngerubungin Lisa aku pun lari ke kamar mandi diluar dan tiba-tiba (annjjjjgggg demi Tuhan gw langsung nangis sejadi-jadinya depan kamar mandi) Lama ga ada yang sadar kalo aku disitu karena emang lampu didalem kamar mandi dan aku jongkok menghadap sawah sambil masih nangis.
Rey datang dan dia memeluk ku erat banget. Saat itu aku gak sadar apa yang terjadi, dan berbalik sekarang Rey yang nangis kenceng meluk aku. (Stress gak lu ini kenapa pada nangis)
Malam itu kita memutuskan tidur di ruang tamu semua dan bergantian berjaga.
Setelah itu kami semua tidak bertemu lagi, aku pun sudah tak pernah bertemu Lisa lagi.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
ASTRAL PROJECTION
Mungkin sebagian dari kita pernah mengalaminya. Bahkan mungkin ada pula yang mampu mengendalikannya. Tidak sedikit orang yang mampu atau bertahan di alam lain dengan hanya mengandalkan keberanian atau ketidak sengajaan bersinggungan dengan alam lain tersebut.
Ini adalah kisah nyata yang dialami Sari seorang gadis yang tak sengaja mengalami kejadian yang mengerikan dalam hidupnya yaitu berpindah alam. Kejadian menyeramkan itu terjadi pada bulan Juli 2020.
Membuat nya tak bisa melupakan tiap jengkal kejadian itu hingga saat ini kutuliskan kisahnya.
[A True Horror Story]
Juli 2020
Hari minggu yang disenangi setiap orang justru adalah hari yang mengerikan bagi Sari.
Sari gadis berusia 25th yang baru saja menyelesaikan kuliahnya disebuah perguruan tinggi dikota Bandung, harus menelan kesedihan karena masalah yang datang bertubi-tubi menghampirinya di tahun 2020 kemarin.
07.00Wib
Terdengar suara tangis dan percakapan dari arah kamar mandi Via pagi itu.
Via : "Sarrr... sariiii lu di dalem ya?" Tanya Via memastikan.
Sari : "Iya gue tau tapi ini berat banget,gue mau pergi dari kota ini plis bantu gue Dit" Sari dengan sesenggukan sambil menelpon temannya.
Tak lama kemudian Sari keluar kamar mandi dengan masih menangis dan langsung memeluk Via sahabatnya.
Sari : "Viii.... hiks..hikss.. gue harus pergi sekarang vi" Emosi Sari tak dapat dibendung lagi.
Via : "Sar lu kenapa?cerita "
Sari menceritakan bahwa keadaannya saat ini snngat buruk. Ia telah kehilangan semua uangnya dan usahanya saat itu. Terlebih Sari di Bandung hanya merantau dan dia harus menghidupi kehidupannya sendiri. Orang tua nya tinggal di Semarang dan sakit-sakitan.
Setelah lulus kuliah 2019 Sari memutuskan untuk berwirausaha dibidang pertanian di daerah lembang. Ia dan pacarnya menyewa lahan sayuran dan mengelola bersama. Hingga pada bulan Mei usahanya gulung tikar disebabkan wabah Covid yang membuat hasil produksi nya tidak dapat dipasarkan karena adanya PSBB besar-besaran.
Sari : "Vi, gue harus ke Cirebon, gue udah minta tolong Adit temen gue disana buat cariin kerjaan" Tutur Sari sembari menangis.
Via : " Hah??? Serius lu Sar? Plis lu cari kerja disini aja gue bantu, jangan kesana. Terus Tio gimana?kamu udah bilang dia?" Jawab Via.
Sari : " Plis gue gamau lagi denger nama itu, gue udh blok semua kontaknya, apapun yang terjadi jangan pernah bilang apa-apa tentang gue ya Vi pliisss" mohon Sari.
Tio adalah pacar Sari sejak kuliah dulu, dan Sari snngat kecewa dikala msa sulitnya seperti ini Tio malah menghilang dalam waktu lama dan jarang menghubunginya. Dan Via pun sudah paham betul akan hubungan mereka yang seperti itu.
Sari "gue berangkat pake travel ya Vi, yang jam 11, anterin gue ke pasteur ya"
Via : " oke deh, tapi janji ya kabarin gue terus apapun yang terjadi"
|
|
|
|
|
|
10.35Wib Pasteur
Via : " Sar, lu beneran mo pergi?" Tanya Via sedih.
Sari : "gue pergi cuma 2bulan, ntar gue pulang ke rumah lu ya" jawab Sari.
Saat itu air mata kedua sahabat ini tidak berhenti mengucur kala mobil yang akan membawa Sari pergi telah bersiap akan berangkat. Mereka saling berpelukan hingga akhirnya benar-benar berpisah siang itu.
15.40Wib
Chat WA
*Dit, gue bentar lagi nyampe nih,jemput ya*
*Oke Sar,gue otw dari kantor*
Sore itu sekitar pukul 16.00 Sari telah tiba di Cirebon dan menunggu Adit menjemput nya di shelter.
Tak lama kemudian Adit datang dengan motor maticnya dan langsung mengajak Sari menuju hotel yang sudah dipesan oleh Adit untuk nya.
"Sar lu nginep disini dulu ya, lu tenangin diri dulu, kalo ada apa-apa lu chat gue, kantor gue ga jauh dari sini sengaja gue pesenin disini biar kalo ada apa-apa gampang" ujar Adit.
"makasi banget Dit, gue gatau kalo gada lu gue harus gimana" jawab Sari.
"Yaudah lu istirahat gue mo balik ke kantor bentar, ntar gue jemput lagi buat makan malem ya jam 7 an" ujar Adit.
Sore itu Sari beristirahat dan mengumpulkan kembali tenaganya untuk menghadapi hari-hari baru di kota yang baru ia datangi ini.
|
|
|
|
|
|
Jam menunjukkan pukul 18.30 dan Sari terbangun dari tidurnya yang nyenyak.
Ia tersadar bahwa ia belum makan sejak datang tadi sore. Akhirnya ia siap-siap mandi dan menunggu Adit menjemputnya.
*Dit udah pulang blm? Gw dah siap ya ini*
*Udah kok,ini 5mnt lg otw hotel ya tunggu*
Tak berapa lama kemudian Adit mengetuk pintu hotel Sari dan buru-buru Sari membukanya.
"Udah siap Sar" tanya Adit.
"Udah yuk" jawab Sari.
Adit pun membawa Sari ke kafe favoritnya. Sesampainya disana Sari bercerita banyak hal tentang apa yang ia alami saat ini.
Akhirnya Adit paham dan dia mencoba memberi semangat pada Sari yang sudah hampir kehilangan semangat hidup.
"Selama disini gw bisa bantuin lu cari kerjaan, ntar biar gue yang bkinin cv dll,Lu gausah mikirin gimana hidup disini,gue bantu sebisa gue Sar" jawab Adit sambil menggenggam tangan Sari dengan erat.
Malam itu selesai berkeliling kota Adit mengantarkan Sari kembali ke hotel dan meminta ijin untuk pulang.
2 hari dihotel itu Sari pun mengatakan bahwa ia akan mencari kos-kosan saja untuk menghemat budget nya selama tinggal di Cirebon.
Pagi itu setelah Sari selesai sarapan di hotel tersebut, Adit pun bilang kalau ia tak bisa menemani Sari pindah ke kosnya.
*Sar sorry bgt gabisa anterin ke kosan km, gw byk bgt kerjaan soalnya, tapi plg kntor gw lgsg ke kos ya,shareloc aja*
*iya gpp, ini udah dimobil kok otw kekosan*
Kosan Sari terletak di daerah xxx , masih ditengah kota namun masuk didalam perumahan. Sebenarnya kosan itu lebih seperti guess house yang bisa disewa perbulan sekitar 900 ribuan.
Sesampainya dikosan khusus putri tersebut, Sari mulai berkenalan dengan anak ibu kos yang kebetulan ibu kosnya sedang tidak ada.
Kosan ini terasa nyaman,meski tidak terlalu besar, namun fasilitas seperti kasur,meja,lemari,wifi,ac sudah sangat nyaman dengan harga yang lumayan.
Sari langsung beristirahat merebahkan badannya dan tak berselang lama ia merapikan baju dari dalam kopernya kedalam lemari. Lemari itu berbahan besi ringan yang tiap dibuka tutup pasti bersuara. Ia segera merapikan baju-bajunya dari paling atas hingga digantung dan saat ingin menyimpan kopernya di lemari bagian paling bawah, ada tumpukan baju yang dimasukan didalam plastik putih seperti bekas di laundry. Sari heran, harusnya sekelas guess house kalau ada barang yang tertinggal dari penyewa sebelumnya pasti akan diamankan atau diambil oleh petugas bersih-bersihnya. Namun karena Sari sudah terlalu capek waktu itu ia mengabaikannya.
Ia akan menanyakannya nanti pada ibu kos nya saja pikirnya.
Malam pertama dikota ini terasa biasa saja, dan Sari pun tertidur pulas kareka lelah hari ini. Namun sekitar pukul 2 dini hari Sari terbangun kaerena sesuatu.
*Asstagfirullah*
Sari terbangun dengan keringat bercucuran padahal kamarnya menggunakan AC yang ia setel 26*C.
Ia sangat terkejut dengan mimpi yang ia alami namun seketika ia lupa akan mimpi buruknya saat terbangun. Sari merasa aneh karena ia bisa dibilang sangat jarang mimpi saat tidur apalgi mimpi buruk.
Akhirnya malam itu ia tak bisa tidur sampai subuh menjelang dan ia tertidur saat matahari sudah muncul.
Ternyata keadaan ini tidak berhenti begitu saja, selama 3hari berturut-turut Sari mengalami hal yang sama terbangun sekitar jam 2/3 dini hari karena mimpi buruk dan terlupa saat bangun.
Sari pun mencoba bercerita dengan Adit yang hanya satu-satunya temannya disana. Namun Adit seolah tak percaya dengannya. Menurutnya bagaimana bisa kosan yang bisa dibilang modern ada hantunya. Namun Sari meyakinkan Adit kalau yang ia alami itu tidak biasa saja.
Malam itu Sari diantar pulang sehabis makan malam dari kafe yang biasa mereka kunjungi.
"Dit makasih ya malam ini" ucap Sari yang telah sampai di gerbang kosannya.
"iya sama-sama. Pokonya jangan takut ya, jangan lupa berdoa sebelum tidur dan minum air putih yang banyak. Yaudah aku pulang dulu ya" ujar Adit sembari berlalu dengan motor maticnya.
Setibanya dikamar Sari yang sangat lelah dan lemas karena pola tidurnya berantakan akhirnya tertidur begitu saja diranjang dengan AC masih menyala.
Tak lama berselang Sari tiba-tiba membuka matanya dan ia terkejut bukan main melihat dirinya berdiri disebelah ranjang sebelah kirinya dan diatas ranjang itu ada tubuhnya yang sedang terbaring tidur dengan dengkuran yang keras.
Sari pun terkejut dan menangis sejadi-jadinya. Namun suaranya tak bisa keluar saat itu,teriakannya pun ada. Sari menutup mukanya menggunakan kedua tangannya. Ia takut dan panik akankah ia meninggal jika rohnya keluar dari tubuhnya saat itu. Bahkan ia tak tahu caranya masuk kembali kedalam tubuhnya.
|
|
|
|
Tak lama setelah itu Sari perlahan membuka tangan dan kedua matanya, alangkah terkejutnya saat itu juga keadaan kamar berubah menjadi hutan yang sangat gelap dan semak belukar yang rimbun disekitar nya. Anehnya saat itu ia tak bisa kemana-mana dan hanya berdiri mematung tapi mata Sari yng sedang tertidurpun terlihat terbuka saat itu juga. Sari dapat melihat keadaan itu dengan dua sudut pandang yang berbeda. Sari yang tengah tertidur tak bisa melihat rohnya yang sedang berdiri. Fenomena macam apa ini.
|
|
|
Namun tak tampak ketakutan dari Sari yang tengah tertidur itu dan ia menegok kesebelah kiri didalam semak-semak yang sangat rimbun dan terlihat sangat gelap, perlahan terlihat cahaya merah yang terlihat seperti sepasang bola mata yang memandang tajam. Lama kelamaan sepasang mata itu terbuka satu-persatu seperti kunang-kunang. Dan alangkah terkejutnya Sari melihat sosok pria besar yang keluar dari semak-semak itu dengan postur tubuh tegap dan kekar keluar dan berdiri disana. Tidak hanya satu pria namun banyak. Sekarang mata yang dari tadi mengintai telah menampakkan wujudnya.
Namun anehnya muka mereka semua sama. Gagah tegap dan kekar. Terlihat pula mereka tak memakai baju dan hanya mengenakan celana pendek warna hitam sembari menggenggam tombak hitam di tangan kanan mereka.
Saat itu Sari tak terlihat takut namun bibirnya seketika berucap *Maaf saya yang mengontrak disini* ucapnya tanpa ia sadari.
Seketika itu pula para pria yang melihatnya itu berjalan keluar satu-persatu dari semak itu dengan pandangan tajam yang masih memandang marah terhadap Sari. Mereka berjalan sambil terus memandanginya. Tatapan yang tak pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya.
Entah bgaimana caranya Sari tersentak bangun dari tidurnya dengan mata terbuka kesebelah kiri dan yang ia tatap adalah lemari.
Sungguh aneh pikirnya, ia merasa sudah tidur sangat lama dan pasti sudah pagi ini. Tapi dilihatnya jam di hp nya masih menunjukan pukul 23.00. Kejadian itu ia alami 2jam an saja sejak ia pulang makan malam dengan Adit.
Sari meraba-raba tubuhnya dan memastikan rohnya sudah kembali kedalam tubuhnya. Dan benar saja setelah itu ia merasa seluruh tubuhnya seperti habis tersetrum listrik dan masih terasa aliran-aliran seperti kesemutan.
Ia buru-buru ke kamar mandi untuk mencuci muka dan mencoba untuk tidur kembali. Sayang setelah kejadian itu ia tak pernah bisa memejamkan mata di malam hari.
Ia hanya bisa tidur saat adzan subuh terdengar atau bahkan saat matari sudah memasuki kamarnya.
Siang harinya saat Sari masih tidur, suara-suara aneh selalu terdengar didalam kamarnya. Entah ada yang memainkan flush toiletnya, ada suara benturan benda tumpul di lemarinya, dan paling parahnya lagi make up dan kaca rias Sari mendadak hilang satu-persatu. Bisa dipastikan Sari ini hampir 24jam ia dikamar karena memang ia belum mendapat pekerjaan saat itu dan hanya kerja part time mengurusi olshopnya.
Pagi hari Sari mulai merasa lelah dan mengantuk, akhirnya ia mencoba memejamkan matanya lalu tertidur.
Entah sudah berapa jam ia tertidur namun ia merasa seluruh badannya sangat sakit seperti habis bergulat semalaman. Ia pun terbangun dalam keadaan sedikit gelap diluar, ternyata hampir maghrib. Sari seketika bangun dan mulai mencuci mukanya lalu duduk termenung didepan meja tempat ia berdandan.
Kosan ini hanya menyediakan 2 meja kecil yang dihiasi dengan vas bunga saja, Sari menaruh alat make up nya di meja sebelah kasurnya. Lama dia termenung Hp nya pun berbunyi yang ternyata itu adalah Adit yang menelponnya untuk menanyakan keadaan Sari apakah ia sudah makan atau belum, karena seharian tak bisa dihubungi.
"Halo Sar, lu kemana aja ga bisa dihubungin dari pagi, ditelpon ga diangkat di wa ga dibales, lu baik-baik aja kan?" Tanya Adit kawatir.
"Eh iya dit, sorry banget gue baru bangun ini" jawab Sari.
"Yaudah bentar lagi gue jemput ya abis isya kita makan ditempat biasa" ajak Adit.
"Oke dit, gue siap-siap dulu sekarang ya"
Sari mulai mandi dan bersiap-siap untuk pergi keluar mencari makan bersama Adit. Ketika ia selesai mandi ia pun duduk dimeja rias nya dan akan berdandan disana. Tiba-tiba Sari heran karena kaca dan sisir yang biasa ia pakai untuk berdandan tidak ada. Ia kebingungan mencari kesegala arah namun tetap saja tidak ketemu.
"Tolonglah jangan diumpetin kacanya, kalo mau minjem balikin lagi kek" ucap Sari dengan nada kesal.
Sari dengan hati yang kesal saat itu akhirnya menememui Adit yang sudah menunggunya di depan gerbang kosan.
Mereka pun pergi makan malam ditempat yang biasa mereka sering makan.
"Lu kenapa sih Sar, kok bete gitu?" Tanya Adit yang heran mengapa Sari begtu muram.
"Lu tau ga, dikosan gue tuh horor banget, masak kaca ama sisir gue mendadak ilang gue cari kemana-mana gak ada jejaknya" ujar Sari kesal.
"Yaelah sisir dang kirain kenapa, abis ini beli deh ya di a'famart" ucap Adit.
"Masalahnya bukan itu aja...." Sari menceritakan semua yang ia alami semalam.
"Mm gitu ya, nanti malam kalo lu gabisa tidur gue temenin vc ya biar lu ga takut" jawab Adit yang sdikit menenangkan Sari.
Akhirnya malam itu Sari telah sampai didepan kosannya.
"Dit makasih bannget ya lu dah mau bantuin gue" ucap Sari.
"Iya, yaudah sana masuk, ntar sampe rumah gue vc lu."
Malam itu Sari merasa agak lega karena Adit aan menemaninya dikala malam mencekam dikosannya.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian Sari pun menyalakan AC yang ia atur 26'c. Tak lama hpp nya berbunyi yang ternyata itu adalah Adit.
"Hei, udah nyampe dit" tanya Sari.
"Udah nih, lu lagi ngapain? Tanya Adit.
Hampir semalaman mereka melakukan video call yang padahal tak banyak yang mereka obrolkan, hanya hp ditaruh dimeja masing-masing lalu mereka saling sibuk dengan kegiatannya. Sari dengan hp nya yg lain sedang asyik bermain game mobile legend sedangkan Adit dengan PUBGnya. Akhirnya Sari pun bosan, ia mengajak Adit beralih untuk vc di line.
"Dit udah kan mabarnya? Vc di line aja yuk, bisa maen game tebak-tebakan loh di line" ajak Sari.
"Okedeh, gue juga dah bosen ni."
Akhirnya mereka video call di apllikasi line yang ternyata ada fitur filter dan game sederhana agar tampilan video call tidak membosankan. Mereka asyik mencoba satu-persatu filter itu hingga Sari memencet salah satu game yaitu tebak kata. Game itu dimainkandengan cara satu orang yang menjadi peraga dan satunya menjaddi penebak. Kata demi kata mereka tebak satu sama lain hingga pada akhirnya Adit memeragakan satu karakter yang mengherankan. Adit tiba-tiba pucat dan ia menunjuk arah atas lemarinya Sari berulangulang.
"Hah apasih, lemari?besi?kayu?duduk?duduk dilemari? Hah apasih gatau ah pass." Diasaat waktu yang disediakan telah habis maka kata yang tak bisa ditebak itu akan muncul.
Betapa terkejutnya Sari mengetahui kata yang tak bisa ia tebak itu.
"Hah KUNTILANAK" mata Sari seketika membelalak ketakutan.
Wajah Adit yang pucat pun tak bisa menyembunyikan ketakutannya, hingga akhirnya mereka pun mengkahiri game itu dan berharap tadi hanyalah eror dari aplikasi tersebut.
Malam itu hingga jam 12 malam Adit masi tetap menemani Sari yang masi terlihat ketakutan dengan keadaan kamar kosannya yang horor.
Adit coba menenangkan Sari sampai pada jam 1 dini hari Adit sudah merasa ngantuk dan mengajak Sari untuk segera tidur agar ia tak bangun sore lagi. Sari pun meng iyakan saja tanpa ia tau apakah ia bisa tidur atau tidak.
"Udah ah Dit, gue dah cape mo tidur ya, lu juga tidur besok kan kerja" ujar Sari.
"Ok deh Sar, lu jangan lupa baca doa sebelum tidur ya, see u" di akhiri dengan menutup vc nya.
Malam itu Sari merasa gelisah dengan apa yang ia alami tadi bersama Adit. Sari berusaha keras untuk memejamkan mata namun tetap tidak bisa, semakin ia berusaha keras untuk tidur semakin gelisah yang ia rasakan.
Akhirnya karena Sari sudah jenuh berguling-guling dikasur Sari memutuskan untuk memainkan hp nya sekedar untuk melihat sosmed dan sekrol-sekrol ig. Ia pun iseng untuk melakukan streaming di ig malam itu untuk mengusir kegabutannya.
*hai guys, ada yang masih melek gak nih, Q&A yuk .......* Sari berbincang dengan viewer nya berharap ada yang menemaninya untuk mengobrol. Waktu menunjukkan pukul 3 dini hari namun Sari tetap tak ada rasa mengantuk sama sekali, hingga pada saat asyik-asyiknya Sari Q&A dengan viewernya tiba-tiba ....
*tok..tok..tok.....
Suara ketukan agak keras dari jendela kosannya yang mengejutkan Sari hingga ia seketika menengok kebelakang tepat jendela berada.
Sari menengok dr jendela dan menyibakkan hordengnya perlahan namun tidak ada orang sama sekali diluar. Sari yang sudah ketakutan semakin tidak fokus dengan livenya.
*hei, itu suara apa?*/*wah itu apaan yang gedor2 kenceng bener*/wey mo ikut live tu kunti nya hahaha*
Viewer Sari pun mengatakan bahwa mereka semua mendengar suara gedoran jendela dari kamar Sari itu.
*kalian denger itu guys???? Serius kan?* tanya Sari ketakutan.
*iya itu kenceng banget yg gedor2 barusan*/serius itu kedengeran keceng/ duh horor nih siapa yg namu jam 3 gini hahaha*
*mm yaudah guys aku udahan dulu ya live na, thank u bye-bye* Sari mematikn live streamingnya sesaat setelah ia membaca komentar-komentar dari livenya semua mengatakan hal-hal horor yang membuatnya semakin ketakutan.
Sari mencoba memejamkan matanya dan menutupi seluruh badannya menggunakan selimut hingga ke kepalanya. Saat ia hampir tertidur lelap, ia mendengar suara lemari yang terbuat dari besi itu seperti di ketuk-ketuk menggunakan benda tumpul berulang-ulang dengan pelan dan lama-kelamaan suara bentran itu terdengar jelas dan semakin keras. Kerinat Sari mulai bercucuran, dinginnya ac pun tak terasa saat itu, Sari sekuat tenaga mengumpulkan keberaniannya sambil terus baca do'a hingga ia perlahan membuka selimutnya dan langsung menghadap kearah lemari itu.
*Allahuakbar, Astagfirullahaladzim*
Suara Sari bergetar tak tahan melihat sesosok perempuan tengah duduk diatas lemaari itu dengan baju putih panjang hingga kakinya tak terlihat karena ditutupi bajunya yg putih lusuh tengah mengayunkan kakinya membentur ke lemari berulang-ulang.
*dddeeennngggg....... dddeeennngggg.... dddeeennnggggg
Saat Sari melihat arah wajahnya, perempuan itu senyum menyeringai ke arah Sari dengan wajah pucat dan mata yang putih semua. Seketika Sari , lemas seluruh badan dan ia tak mengingat apapun setelah itu. Entah apakah Sari saat itu pingsan atau ia bermimpi kala tidur, yag pasti Sari tak bangun hampir sore hari.
*ddddrrrtttt.....ddddrrtttt....ddrrttttt
Sari merasakan ada getaran di arah mejanya berulang-ulang hingga membangunkan tidurnya.
*hhhooooaaaahhhhhh
Sari terbanggun dan mengucekucek matanya mencoba melihat pesan dari hp nya yang berulang kali bergeetar tanpa henti.
39 missed call from Adit
*Astaga, gue tidur berapa jam anjir* ditengoknya jam sudah menunjukkan pukul 18.03wib.
Sari mengingat-ngingat apa yang terjadi dan ia perlahan menengok kearah atas lemari namun sosok itu sudah tidak ada disana.
Malam itu Adit seperti biasa menjemput Sari di kosannya untuk makan malam ditempat biasa.
Sesampainya di kafe, Adit tanpa basa-basi langsung membicarakan perihal keadaannya selama ini dikosan tersebut.
"Sar, sorry banget gue nanya ini, apa lu pas pertama kali nempatin kosan itu ada sesuatu yang lu rasa ganjil atau ada benda apa gitu dikamar lu? Tanya Adit.
"Mm, gaada tuh, dan gue pun ga bawa banyak barang cuma baju sekoperrrr.....mm.. ohiya Dit gue nemuin baju seplastik di lemari bagian bawah" jawab Sari megingat-ngigat.
"Baju siapa itu? Udah lu tanyain ke ibu kos?"
"Belum, gue belum sempet. Besok pagi gue tanya deh"
Adit menceritakan perihal astral projection yang Sari alami kala itu dikosan barunya.
"Sar, sebenernya, mm.. gue nanya ke paman gue yang bisa hal begini, beliau bilang kalo ada sesuatu yang tidak mereka suka dari lu, pas pertama pindah lu misi-misi gak?" Tanya Adit.
"Gue gak nglakuin hal-hal aneh disitu Dit, malah gue yang dikerjain dari awal barang-barang gue diumpetin, gue digangguin, diliatin pokoknya gue diteror tanpa gue tau maksud tujuan mereka itu apa" tutur Sari.
"Yaudah tenang- tenang, abis ini lu banyak berdoa aja disana terus kabarin gue kalo lu bangun, dan usahakan lu jangan tidur sampe mgrib lu alarm aja biar gak kebablasan" ujar Adit.
Malam itu Sari kebali lagi kekosannya dengan hati yang lebih deg-degan dari hari-hari sebelumnya. Ia merasa seakin hari semakin tinggi intensitas gangguan makhluk astral itu.
Namun ternyata malam itu tidak ada gangguan sama sekali yang dirasakan olehnya. Perasaan lega itu pun tak bertahan lama dalam diri Sari karena ia teringat dengan baju yang ia temukan dilemari itu. Entah apa yang difikirkannya hingga iia pun memberanikan diri untuk membuka kembali bungkusan baju itu.
*kkkreeeekkkk
Sari membuka lemari besi itu dan langsung mengambil bungkusan baju itu yang tersusun rapi. Seketika bau barang lama yang tersimpan itu menyeruak hingga membuat Sari bersin sesekali. Bungkusan baju itu seperti baju yang telah selesai di laundry namun tidak ada catatan laundry atau bon yang harusnya tertempel diplastiknya. Sari memberanikan dirinya untuk membuka plastik itu dengan perasaan takut namun penasaran mengalahkan ketakutannya.
Sari mengeluarkan baju itu satu persatu, baju itu terlihat normal dengan semua baju lengan panjang dan ada banyak kerudung berbahan paris berbagai warna.
*pasti yang punyanya ukhtii
Perasaan Sari sudah tidak takut lagi karena ini adalah baju orang yang normal menurutnya, hanya saja model baju ini semuanya sangat tidak mengikuti jaman anak abg sekarang, dimana masih ada kemeja flanel, baju atasan dengan pita, baju motif bunga-bunga, dan ada rok hitam panjang seperti orang yang sedang magang kerja.
Sari heran mengapa model baju pemiliknya masi sangat kuno seperti model baju tahun 2000 an.
Tapi mungkin selera orang dalam berpakaian itu berbeda-beda akhirnya Sari mengabaikn itu.
Sari memasukkan kembali baju-baju itu ketempatnya dan membaringkan lagi tubuhnya diatas kasur. Ia akan menanyakan kepemilikan baju itu kepada ibu kos besok pikirnya.
Tertidurlah malam itu Sari degan lega karena tidak penasaran lagi dengan baju itu, meskipun itu tidak sopan ya teman-teman melihat barang milik orang lain jangan ditiru.
Pagi itu Sari terbangun pukul 10 dan merasa badannya sudah mulai segar tidak seperti sebelumnya kala ia tak bisa tidur sepanjang.
*aaaahhhhh.... tumben ga mimpi buruk *
Saripun memulai hari nya dengan memesan makanan melalui ojeg online pagi itu. Saat Sari keluar kamar terlihatlah seorang wanita kisaran 20 tahun sedang berada didepn kamarnya sepertinya penghuni kosan juga.
"Punten teh" sapa Sari.
"Iya mangga, teteh penghuni baru ya?" Tanya wanita itu.
"Iya teh baru seminggu sih, eh punten ya teh mau ngambil makanan dulu kedepan" ijin Sari.
"Oh iya sok sok."
Akhirnya dari perkenalan singkat itu diketahui bahwa perempuan itu bernama Tiara, ia baru saja lulus dari kuliah nya tahun ini, itu berarti satu tahun lebih muda dari Sari. Tiara dan Sari makin akrab dan sering mengobrol satu sama lain meski hanya didepan kamar. Akhirnya pada suatu hari Sari menanyakan pada Tiara tentang seluk beluk kosan tersebut, namun Tiara terkesan tak ingin membahasnya dengan selalu mengalihkan pembicaraan setiap Sari menanyakan itu padanya.
Semakin penasaran Sari karena hal itu membuatnya selalu kepikiran dan berusaha mencari tahu. Namun karena ia sudah tak pernah diganggu ataupun mengalami mimpi buruk lagi, maka ia sudah tak terlalu mengabaikannya lagi. Hingga pada bulan Agustus tepatnya satu bulan ia kos disana, Sari memutuskan untuk kembli ke bandung karena ia dapat pekerjaan disana. Sehari sebelum ia kembali ke Bandung, Sari berpamitan kepada ibu kos melalui pesan singkat whatsap dikarenakan ibu kosnya terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter karena sedang mewabahnya Covid-19 kala itu.
Akhirnya Sari mengemasi semua barang-barangnya kedalam koper dan sekejap menengok ke arah tumpukkan baju didalam pelastik laundry itu. Masih terbayang banyak pertanyaan dikepala Sari itu baju siapa, namun sampai sekarang ia pun tidak menanyakannya kepada ibu kos. Anehnya setiap ia berniat menanyakan hal itu ia selalu lupa dan pasti ada kesibukkan mendadak yang membuatnya tidak jadi menanyakannya.
Pukul 11.00Wib Sari menuju sebuah shuttle di kota itu menggunakan G'car karena Adit tidak bisa mengantarnya dikarenakn kesibukannya dikantor. Sesampainya di bandung Sari telah mendapatkan kosan baru dan setelah beberapa hari ia menempai kosan itu tiba-tiba Tiara menghubunginya melaluli pesan whatsap yang mengejutkan Sari.
*Hai SAr, udah dibandung ya? Sorry ya ga sempet perpisahaan kita :(*
*Iya Ra, sans aja, gue juga keburu-buru kemaren hehe*
*Tapi balik lagi kesini ngga Sar?*
*Engga deh kayanya ra, gw dh dpt kerjaan disini :( but, gw bakalan maen-maen lagi deh kesana :)*
*yahhh,,, :(
Oiya Sar sebenernya waktu itu gw mau ngomong sesuatu ama lu, cuman gw bingung gimana ceritanya
Tentang yang lu tanyain soal kosan itu
*Knp ra, cerita aja, toh gw dah ga kos disana kan
*Jadi sebenernya kosan itu tuh udah di renov, sebelumnya yang gw tau sih ada yg bunuh diri disitu, makkanya gw g heran kalo lo digangguin terus disitu soalnya kamar yg lo tempatin itu bekas dia, dan setau gw kamar lo gapernah disewain krn gada yg betah pasti lgsg keluar lagi,mkanya gw heran kok lo berani bgt dsitu
Seketika jantung Sari berdegub kencang membaca cerita Tiara saat itu.
*oh, yaudah gpp ra, udh ga kos jg kok gw nya hehehe sans, oh kalo boleh tau itu kejadiannya th kpn ra?
*wah gw gatau pasti sih Sar, tapi itu kejaddian udah lama bgt sih,sebelum direnov mungkin tahun2 2010 ato lebih
*ohh gitu, yaudah thanks ya ra, soorry bgt gw mo kerja lagi nih kita sambung ntr mlm yaaa see u
*okkk see u
Perasaan Sari kala itu campur aduk antara ia ketakutan namun lega karena sudah tidak tinggal disana, terbayang jika Tiara memberi tahunya saat ia masih kos disana mungkin Sari akan lebih shock lagi.
*dddrrrtttttt....dddrrrttttttt.....
Ternyata saat itu juga ibu kosan yang mengirimi whatsapp, mungkin ibu kosan ingin mengucapkan perpisahan pikirnya, karena tidak sempat bertemu saat Sari pulang hari itu.
*Neng, maaf ini bajunya ketinggalan ya tadi bibi beresin kamar neng
(IMAGE)
Degggg seketika jantung Sari ingin copot karena karena ibu kos nya memfotokan sepelastik baju masih terbungkus didalam lemari besi itu. Sari pun membalas pesan ibu kosnya dengan tangan yang bergetar.
*Maaf bu, itu bukan punya Sari, saat pertama dtg baju itu udh ada dilemari bawah cuma Sari mau nanyain selalu lupa bu hehe
*ohh gitu ya, yaudah neng makasi ya
*iya bu :)
Sejak kejadian itu Sari menhubungkan segala hal yang ia alami saat berada dikosan tersebut. Seperti baju-baju yang ia temukan itu dengan model lama tahun 2000an yang sudah dibenarkan oleh Tiara kapan peristiwa itu terjadi. Lalu jin yang berwujud kuntilanak yang suka berdiam dan mengganggunya saat di kosan itu. Hingga barang-barang nya yang sempat hilang hingga sampai ia pulang pun tidak ketemu, atau bahkan jika kamarnya sempat dibereskan oleh bibi yang disana mengapa tidak memberitahukan apakah menemukan barangnya yang tertinggal disana.
Semua pertanyaan itu membuat Sari sempat stress beberapa hari.
Sekian kisah ini dituturkan berdasarkan kisah nyata dan tanpa mengurangi cerita didalamnya. Petik hikmah dari setiap kejadian, karena tidak ada yang lebih sempurna dari manusia.
|
|
|
|
|
|
THE WATCHER
Bagaimana perasaanmu ketika kamu menghadapi perbedaan dimensi diantara dunia nyata dan tidak nyata?
Tersesat berjam-jam disebuah hutan yang harusnya tidak kamu lalui. Apakah kamu akan berteriak?
Bersyukurlah jika kamu tak mengalaminya, pasalnya Wardan dan Stefia mengalami hal mengerikan yang tak pernah ingin siapapun membayangkan akan tersesat selama berjam-jam disebuah hutan.
[A True Horror Story]
MEI 2015
Perkenalkan namaku stefia, aku anak kedua dari dua bersaudara. Kala itu usiaku menginjak 20tahun, dan aku berkuliah disalah satu universitas swasta di jawa Barat.
Aku memiliki pacar bernama Wardan, ia berkuliah di kampus yang sama denganku. Kita sudah berpacaran selama satu tahun waktu itu, jadi aku memutuskan untuk mengenalkan Wardan kepada kedua orang tuaku.
Masih dibulan yang sama tepatnya pertengahan bulan Mei 2015, kakak laki-laki ku akan melakukan pernikahan dengan calon istrinya yang tinggal di pelabuhan ratu sukabumi. Aku pun antusias kala itu karena semua keluarga besarku dari Jawa Tengah akan datang kesini untuk ikut mengantar kakakku menikah.
Dan inilah momen dimana aku bisa mengenalkan Wardan ke keluarga besarku.
H-2 hari pernikahan itu tiba, satu-persatu keluaga besarku datang. Malam harinya aku sangat sibuk membantu budhe ku untuk membungkus seserahan yang amat banyak.
"Stef, katanya kamu udah punya pacar ya?" Tanya budheku tiba-tiba.
"Eh, iya budhe cuma teman dekat hehe" Jawabku sanga hati-hati.
"iya udah besok diajak aja" ucap budhe.
"Iya budhe, besok ikut kok hehe" Jawabku.
Hampir selesai semua bungkusan ini tiba-tiba supir budheku mengabari kalau temannya yang disewa budhe untuk menyetir mobil satunya tiba-tiba membatalkan dengan alasan sakit dan tidak bisa menyetir untuk mengantarkan rombongan kami esok.
"Lah gimana ya, ada yang bisa gantiin gak jo?" tanya budhe pada supirnya.
"Saya sudah hubungin semua teman-teman saya tapi tidak ada yang bisa bu" Jawab bejo kebingungan.
"Wah gimana ya, nanti gak akan cukup kalo cuma 2 mobil doang" ucap budhe.
"Budhe gapapa aku nanti pake motor aja sama pacarku, lagian ga terlalu jauh juga kok sukabumi aman lah" ucapku memotong.
"Lah berani gak kalian naik motor? jauh lho ini. apalagi besok kita berangkatnya malem lho" Jelas budhe.
"Aman budhe, malah gak macet kalo malem" jawabku.
"Yaudah kalo gitu, tapi jangan jauh-jauh dari mobil kita ya jalannya, pepet mobil terus" ujar budhe.
"Siap budhe" jawabku.
Akhirnya aku diijinkan oleh orang tuaku untuk mengendarai motor bersama Wardan. Aku sangat senang karena jika aku berada dimobil bersama keluarga besar pasti akan membosankan dengan banyak pertanyaan-pertanyaan klasik keluarga tentang pacarku. Wardanpun setuju untuk kita mengendarai motor kesana, dan kita juga berencana pergi kepantai pulang dari acara.
H-1
Akhirnya h-1 tiba, kami semua bersiap-siap untuk mengemasi semua seserahan kedalam mobil. Keluargaku berencana berangkat jam 10 malam waktu itu, agar sampai disana subuh dini hari.
Tiba-tiba saat aku sibuk memasukkan seserahan kedalam mobil, Wardan datang
dengan ojeg dan terburu-buru menhampiriku,
"Beb, gimana ini motor aku tiba-tiba gabisa hidup dari tadi magrib" ucap Wardan.
"Hah kok bisa sih? terus gimana dong, kan mobilnya gak muat" ujarku kesal.
"Kenapa stef? eh Wardan kenapa gak masuk? loh motornya mana?" tanya mamaku.
"Mah motornya mogok gabisa jalan dari tadi magrib ga nyala-nyala" jawab Wardan panik.
Akhirnya ditengah kepanikan kita mama menyuruhku menggunakan motor maticku untuk pergi. Akupun sempat menolak karena jarak yang akan kita tempuh lumayan jauh dantidak memungkinkan untuk kita mengendarai motor matic, itu mengapa aku mengusulkan untuk menggunakan motor Wardan yang notabene adalah motor trail yang mampu menempuh jarak jauh.
Namun setelah aku dibujuk beberapa saat akupun mengiyakan karena tak ada alternatif lain dan waktu sudah mulai mendekati pukul 22.00WIB.
22.05WIB Bandung
Wardan terlihat mengobrol dengan supir budheku dan membahas rute yang akan diambil, tak lupa mengingatkkan Wardan untuk selalu beriringan dengan mobil. Wardan mengatakan kepada supir untuk bertemu disalah satu persimpangan karena kita akan mengisi bensin terlebih dahulu.
Akhirnya rombongan kami berangkat dengan posisi aku dan Wardan berada di belakang mobil.
15menit kemudian mobil mengisi bensin dan diikuti dengan Wardan.
Setelah selesai mengisi bensin, kami melihat mobil pun masih mengantri cukup panjang, akhirnya Wardan menhampiri mobil budheku untuk bilang ke supir akan menunggu di persimpangan.
Supir pun mengiyakan dan kami langsung bergegas pergi duluan dari pom bensin.
Setibanya dipersimpangan jalan, Wardan menepikan motor kepinggir jalan untuk menunggu mobil rombongan keluargaku. Namun sudah hampir 15 menit kami menunggu, mobil budhe dan orangtua ku tak kunjung lewat. Padahal jarak dari pom bensin dan persimpangan jalan itu tidak terlalu jauh, tapi anehhnya mobil mereka tak kunjung datang.
Aku pun meyuruh Wardan untuk melanjutkan perjalanan dengan patokan plang penunjuk arah di setiap jalan.
"Beb, kayanya udah pada jalan duluan ya, tapi masak kita gak lihat mobil mereka sih? Padahal jalan udah sepi ya." Ujar Wardan.
"Iya beb, mungkin supir gak liat kita tadi. Yaudah jalan lagi aja" ucapku meyakinkan.
Waktu itu perjalanan kami sangat lancar dikarenakan jalanan yang sepi saat malam hari. Aku tak banyak bicara dengan Wardan, ia fokus untuk mengejar rombongan mobil keluargaku barangkali masih bisa tersusul, secara kami memakai motor dengan laju yang lumayan karena jalanan lengang waktu itu.
Beberapa saat kemudian plang jalan sangat jarang kulihat dijalan, hingga Wardan membuka obrolan kami.
"Beb, kamu udah pernah kesana kan pas tunangan beberapa bulan yang lalu?" Tanya Wardan.
"Mm, iya sih, cuman aku ingetnya dari kotanya beb, kalo masi disini aku gak inget soalnya pas berangkat dulu aku tidur hehe" jawabku.
"Coba deh kamu buka Google Maps, soalnya ini udah gak keliatan ada plang lagi" Suruh Wardan.
Aku membuka ponselku dan mulai membuka Gmaps dan aku mengarahkan Wardan sesuai dengan arah yang ditunjukkan GMaps.
Hampir 1,5 jam kami berjalan, namun tak kunjung menemukkan plang jalan. Hingga Wardan mulai lelah menyetir, ia menepikkan motor kepinggir jalan untuk meregangkan ototnya.
"Beb ini bener gak sih jalannya? Kok kita gak nemu plang jalan sama sekali." Kata Wardan heran.
"Iya nih aku gatau ini dimana, ini hpku juga error Gmaps nya nge bug beb gak bisa gerak" Ujarku sembari menunjukkn hpku pada Wardan.
"Punyaku udah lowbath dari pas berangkat tadi, aku lupa ngecharge beb" ujar Wardan.
"Yaudah kita tanya orang aja dijalan." Ujarku.
Namun herannya sepanjang jalan besar itu tak ada seorangpun yang lewat atau bahkan pedagang pun tidak ada. Seingatku dikanan kiri jalan hanya ada bangungan toko yang semua sudah tutup dan hanya ada penerangan jalan yang menerangi jalan. Tak heran karena waktu itu aku melihat hp ku sudah sekitar jam 12 malam,
Tak lama kemudian Wardan melihat ada pos jaga sebuah pabrik yang terlihat ada 2 orang satpam yang masih berjaga disana.
"Beb itu ada satpam, kita tanya aja." Kata Wardan.
Wardan menepi ke pos jaga itu dan bertanya arah menuju pelabuhan ratu harus mengambil arah mana.
"Punteun pak, mau nanya kalo mau ke pelabuhan ratu arahnya kemana ya? Soalnya dari tadi gak liat plang jalan " tanya Wardan.
"Wah a, bukan kesini kalo mau ke pelabuhan ratu, jauh banget kalo dari sini, tapi bisa sih ngambil kiri dari sini lurus aja terus nanti ada pertigaan ambil kiri, cuman mendingan jangan jalan jam segini soalnya rawan pisan a." Ucap satpam.
"Iya pak gapapa, soalnya ini juga diburu-buru pak." Jawab Wardan
Wardan memperhatikan arahan pak satpam untuk mengingat-ingat jalan yang ditunjukkan.
Akhirnya kita pun berterimakasih pada pak satpam sebelum melanjutkan perjalanan. Namun tak hanya sekali pak satpam itu mengingatkan kita untuk melanjutkkan perjalanan esok pagi saja dengan alasan rawan jika memaksakan tetap pergi.
Aku tak berfikir macam-macam saat itu, dan aku menganggap peringatan pak satpam hanya sekedar kawatir jika diperjalanan ada begal atau orang jahat.
Tak lama dari pos jaga yang kita lalui, akupun heran karena kita melalui rel kereta api yang cukup aneh. Sesaat melalui rel kereta itu aku merasakan seperti menembus sebuah kabut dingin yang tak terlihat. Setelah melalui rel itu, daerah itu lebih sepi dari sebelum kita melewati rel tersebut. Aku makin erat memeluk Wardan yang ternyata dia menyadari jika aku mulai ketakutan saat itu.
"Udah gapapa, ini bener kok jalannya yang dikasih tau sama pak satpam tadi itu didepan ada ptigaan kita ambil kiri." Ujar Wardan sambil menggenggam tanganku sesaat.
Sampailah kita dipertigaan itu, dan Wardan langsung mengambil arah kiri tanpa ragu. Seketika pemandangan yang awalnya kanan kiri masih pemandangan kota dengan pertokoan dan lampu jalan berubah menjadi pepohonan dan rumput alang-alang yang menjulang disepanjang jalan. Tak ada penerangan dari lampu jalan ataupun toko bahkan rumah satu pun tak ada disepanjang jalan itu.
Aku tak pnah tau jalan itu sebelumnya, yang mana benar-benar tak ada tanda-tanda kehidupan manusia. Namun anehnya jalan yang kita lalui masih aspal yang mulus dan lebar seperti jalan besar dikota-kota pada umumnya.
Motor kami melaju dengan kecepatan 40km/jam, tapi benar-benar aneh karaena jalan yang kami lalui hanya lurus dan tak ada persimpangan sama sekali. Kami tak saling mengobrol sama sekali saat itu karena aku tu kalau Wardan pun menyadari ada hal yang aneh saat itu.
Aku memperhatikan kanan kiri hanya ada pepohonan besar dengan rumput ilalang yang sangat lebat dibawahnya. Aku tak tahu berapa lama kami melalui jalan itu karena hpku pun mati sesaat setelah bertanya pada satpam tadi. Namun perjalanan itu terasa sangat lama sekali karena punggungku mulai terasa kaku dan pegal sekali. Akupun meregangkan dengan memundurkan sedikit dudukku yang sudah pasti aku melepaskan pelukanku dari perut Wardan yang aku tahu diapun pasti kelelahan terlihat dari punggungnya yang melengkung kedepan.
Ketika aku mulai meregangkan punggungku tiba-tiba ada ranting pohon yang lumayan besar jatuh ditengah-tengah dudukku sontak aku menjert sekencang-kencangnya karena terkejut.
"Aaaaaaaaaaaaaa....." teriakkanku membuat Wardan sedikit oleng dan menggoyangkan motor kami.
"Kenapa sih kamu." Bentak Wardan,
Aku tak menjawab dan langsung membuang ranting itu sambil ku rapatkan kembali tubuhku mendekap Wardan.
Sekujur tubuhku seketika menjadi tegang saat itu, aku menatap kearah kiri memperhatikan barisan pepohonan yang amat besar dan menjulang tinggi. Sesaat aku memperhatikkan pohon-pohon yang berjajar itu, tiba-tiba pohon itu setengah nya berubah menjadi sesosok wanita dengan baju panjang dan muka tertutup rambut yang panjangnya sepanjang tubuhnya tengah menatap kearahku. Dari awalnya hanya setengah pohon dan setengah wanita kini menjadi sepenuhnya sosok wanita yang tinggi setinggi pohon itu tengah berdiri menatap kami. Tak hanya satu pohon namun semua pohon yang kulihat waktu itu berubah menjadi sosok wanita yang sama.
Kini kami berada ditengah-tengah pengawasan kuntilanak ang berjajr dikanan kiri. Aku tak tahu apakah Wardan melihat itu atau tida yang pasti saking takutnya aku tak bisa berteriak bahkan berkedip pun aku tak mampu.
Kejadian itu berlangsung lama sekali hingga aku tersadar karena Wardan seperti menabrak sebuah batu besar serasa seperti polisi tidur namun tak ada wujudnya.
Seketika jalan aspal yang lebar berubah menjadi jalan batu yang sangat ekstrim seperti sedang berada dipelosok kampung. Seketika tubuh Wardan menjadi lemas dan ia hampir melepaskan kemudinya yang langsung aku pegang tangannya untuk menopang agar ia tak melepaskan setirnya.
"Beb, kamu kenapa? Kamu capek? Gantian ya sama aku nyetirnya?." Tanyaku panik.
Wardan tak menjawab pertanyaanku dan masih tetap lemas dengan tubuhnya yang gontai namun tetap memaksakan menyetir. Helm kami pun beradu kencang karena medan jalan yang kami lalui sangat buruk. Aku berkali-kali menanyakan keadaannya dan menawarkan untuk gantian menyetir namun ia tak menjawab sedikitpun.
Sesaat setelah itu kami melewati sebuah jembatan yang tak panjang mungkin hanya 2meter lalu keadaan jalan berubah kembali menjadi jalan kampung dengan tanah merah. Wardan pun tersadar dari gontainya dan fokus kembali menyetir namun tetap saja ia tak mau berbicara padaku.
Tak berselang lama, aku melihat kanan kiriku sudah mulai tampkseperti perkampungan pnduduk. Namun anehnya mengapa rumahnya terlihat rumah jaman dahulu dengan masih menggunakan kayu dan jarak rumah satu dengan yanglain sangat jauh. Diterangi dengan lampu neon kuning 5 watt.
Tak ada satu orangpun yang terlihat atau aktivitas kehidupan disemua rumah itu. Beberapa kali aku melihat ada warung yang masih buka dan tukang bensin eceran dengan rak yang sangat lapuk. Akupun elirik kearah speedometer motor memastikan apakah bensin kami masih ada atau habis, pasalnnya kami mengisi bensin saat awal perjaanan hanya satu kali.
Benar saja, kulihat jarum sudah menunjukkan ke arah E nya. Namun Wardan tak bernia menghentikkan motornya sedikitpun. Aku heran mengapa ia tak menjawabku sama sekali waktu itu.
Jalan itu kulalui hingga tiba-tiba didepan kami ada sebuah truk warna kuning sedang melaju . Aneh sekali karena sepanjang jalan kami tak merasa ada kendaraan lain namun tiba-tiba didepan kami ada sebuah truk yang melaju.
Wardan mengkuti dibelakag truk itu berharap akan menemukkan jalan raya lagi.
Akhirnya setelah beberapa lama kami terus memepet truk itu, sampailah kami pada jalan raya besar dengan kanak kiri pertokoan kembali.
"Beb kamu capek gak? Kita istirahat dulu cari warung ya?" Sete;lah tak berkata sedikipun akhirnya Wardan berbicara seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Ami menepi disebuah pertigaan yang masih ada warung buka satu-satunya. Wardan pun memesankan susu coklat hangat waktu itu, dan menyuruhku duduk didepan perapian yang dibuat olrh bapak penunggu warung menggunakkan drum yang isinya ia bakar
"Adek ini dari mana? Kok sepertinya abis jalan jauh ya?." Tanya bapak warung itu.
"Kami dari Bandung pak, mau ke oelabuhan ratu, kira-kira masih jauh nggak ya pak dari sini?" Tanya Wardan.
"Iya pak kami dari Bandung mau ke pelabuhan ratu tapi tadi sempet nyasar dihutan dan perkampungan gitu sampe ada truk yang lewat jadi kami ikutin akhirnya sampe jalan raya" ujar Wardan menjelaskan.
"Hah hutan? Didaderah sini ga ada hutan a" ucap bapak penjagawarung itu sambil menyodorkan susu coklat ku.
"Masa pak? Kita lewatin hutan-hutan itu loh pak, hp kita mati jadi gabisa buka gps, maaf pak kalo boleh tau ini jam berapa ya?" Tanya Wardan.
"Jam setengah 5 subuh a" jawabnya.
Tak lama kemudian terdengar kumandang adzan bersahutan saat itu, membuat kami antara lega dan bingung. Pasalnya sebentar lagi kakakku akan melangsungkan akad namun kita belum sampai tujuan bahkan tak tahu sekarang sedang berada dimana.
"Pak maaf kalo ke arah pelabuhan ratu kearah mana ya? Terus kira-kira berapa lama ya dari sini?" Tanya Wardan.
"Wah lumayan sih a kalo dari sini tinggal lurus ikutin jalan ini terus ....." bapak itu menjelaskan dengan detail pada Wardan.
Akhirnya kamipun mengucapkan terimakasih kepada bapak penjaga warung itu dan berpamitan untuk melanjutkkan perjalanan. Seenarnya bapak tersebut sempat melarang kami untuk jalan subuh itu, dan menyarankan agar menunggu matahari terbit terlebih dahulu untuk melanjutkannya. Namun karena ini adalah hari spesial keluargaku, tak mungkin aku tidak ada disana.
Lama kami menyusuri jalan akhirnya kami menemukkan jalan menuju kearah rumah calon istri kakaku. Waktu itu kulihat jam sudah menunjukan pukul 6.45WIB, dimana semua orang sibuk berdandan dan mengganti pakaian kebaya masing--masing. Sesaat setelah kami memarkirkan motor terdengar suara mama dan keluargaku yang lain begitu panik melihat kami yang baru datang.
"Ya Allah, kalian ini kemana aja? Dihubungiin gak bisa " tanya mamaku kawatir.
"Nyasar mah," jawab kami kompak.
"Yaudah minum teh dulu sarapan dulu, nanti baru ganti baju" ucap mamaku.
Karena aku yang terlambat datang, jadinay akupun berdandan sendiri dan ganti baju.
Terlihat Wardan yang sedang tertidur mendengkur sesekali badannya bergerak reflek, seperti mengigau. Tak heran memang, ia mengendarai motor lebih dari 8jam sudah pasti ia kelelahan.
Akhirnya hari itu semua lancar dan tak ada kendala apapun. Kami bergegas pulang dan lagi-lagi aku menggunakan motor bersama Wardan. Sesekali aku mengajaknya mengobrol dijalan namun lagi-lagi ia hanya menjawab sekenanya saja. Aku takut apakah ia kesambet atau ia marah padaku karena aku yang menyebabkan kita terssesat semalam.
Akuppun nyeletuk mengajakknya ke pantai yang ada disana namun ia menolak dan tetap fokus memepet mobil rombongan keluargaku didepan.
*SELESAI*
[A True Horror Story]