"Yugo maaf kayanya hari ini kita gabis ketemu deh, aku harus lembur karena ada kerjaan tambahan gimana kalau besok?" Ucapmu dari sebrang telpon
Aku sedikit menyunggingkan senyum ku meski ia tak bisa melihat nya. Lalu aku hanya menghela nafas.
"Iyaa gapapa Ras, semangat ya." Balasku seadaanya
"Makasih ya Go besok aku kabari lagi, oke." Ucapmu yang langsung mematikan sambungan telpone nya
Lagi-lagi kebohongan yang sangat jelas, kamu selalu menipuku.. tak peduli seberapa kali kamu coba menutupi nya.
"Apa kata Laras?" Tanya Ian yang sedari tadi diam disampingku
Aku menggeleng, "Gajadi, katanya dia ada kerjaan."
Raut wajah Ian berubah kesal, karena Ian lah yang mengenalkan Laras padaku. Laras sempat memohon pada Ian untuk mengenalkan nya pada siapun agar Laras bisa menjalin hubungan yang serius, mengingat umurnya yang sudah cukup untuk menikah. Meskipun seharusnya umur bukan patokan seseorang untuk cepat cepat menikah.
Karena menikah bukan soal umur tapi soal kesiapan, untuk membangun hubungan dengan level yang lebih tinggi dari pada hanya sekedar berpacaran.
"Kerja apa lagi sih anak itu, menyebalkan."
"Sudahlah aku gapapa katanya besok dia bakal ngabarin lagi ko." Ucapku menenangkan nya
Aneh bukan, aku yang menjalani ini tapi Ian yang merasa kesal.
Sejujur nya aku selalu berpura-pura tak mengetahui nya, padahal aku tau hubungan macam apa yang ia punya dengan "teman" lelaki nya itu.
Karena tanpa aku sadari, aku selalu mengintip halaman media sosial pribadinya. Melihat semua postingan yang ia bagikan. Hingga di satu titik aku menemukan kebohongan yang selama ini ia selalu sembunyikan dari ku.
Pada akhirnya firasat ku benar. Tapi aku belum berani menanyakan hal ini pada Ian.
Lagi lagi aku hanya memasang raut wajah kecewa, entahlah raut ini ku tunjukan karena aku mengetahui kebohongan Laras atau ketidak jujuran Ian padaku. Karena hari demi hari, Ian juga menunjukan wajah bersalah nya padaku.
"Kamu mau bilang sesuatu ga, atau aku aja yang bertanya lebih dulu padamu." Tanyaku menyudutkan
Sudah cukup, sampai disini.. aku tak memiliki lagi batas untuk terus menunggu seperti ini, hingga aku pun mulai bertanya pada Ian.
"Maaf Go aku ga mau jelasin apa apa, aku ingin kamu yang menilai nya sendiri. Aku gaberhak menjelek jelekan seseorang. Aku yakin kamu pasti udah tau banyak kan tantang Laras."
Aku tersenyum lega, "Kamu gausah jelasin apa apa, tapi makasih ya kamu udah berani bilang gitu. Setidaknya prasangka ku pada Laras ternyata semua nya benar."
"Aku nyesel Go ngenalin Laras ke kamu, harus nya aku biarin aja rengekan dia kemarin kemarin."
"Nasi udah jadi bubur, udah gapapa biar aku yang beresin semua nya sama Laras malem ini."
"Nyebelin banget sih, dari mana nya ingin serius kalau dia masih belum bisa lepasin laki laki yang terus nempel sama dia selama ini."
Ian terus merutuk dengan kesal, aku hanya bisa mendengarkan semua ucapan nya sambil menghubungkan puzzel teka taki yang selama ini aku liat lewat media sosialnya.
"Dia itu ya, bilang ingin serius sama semua laki laki. Saat semua laki laki sudah tergila gila pada nya sekuat tenaga ia berusaha mempertahankan agar mereka terus menyukainya."
"Laras gamau kehilangan semua penggemarnya ya." Ucapku menimpa rutukan Ian yang tak ada henti nya
Ian hanya mengangguk dengan kesalnya.
¤ ¤ ¤ ¤
Sekarang sudah jam 10 malam, dan aku sedang berdiri didepan rumah Laras, sambil menunggu Laras mengangkat telpone dari ku.
Panggilan pertama ditolak oleh nya.
Aku coba sekali lagi, hingga kulihat bayangan dari balik jendela dan itu Laras yang sedang berjalan keluar dari rumah nya.
Dengan cepat aku bersembunyi.
"Hallo Yugo.."
Ternyata Laras mengangkat telpone dari ku,
"Emm Laras bisa ketemu sekarang ga?" Ucapku asal karena aku sebenarnya tak tau harus berkata apa
"Aku baru pulang Go, cape banget nih. Kamu lupa ya kita kan besok ketemunya." Ucapnya dengan suara sedikit berbisik itu
Lagi lagi aku hanya bisa tersenyum.
"Ohh iyaa maaf yaa hehe yaudah selamat istirahat ya Ras."
"Iya Go kamu juga ya." Ucapnya, lalu aku pun mematikan sambungan telpone ini dan kulihat Laras kembali masuk kedalam rumah dengan seseroang yang sedang menunggunya didalam sana
Kau bilang pada ku kalau kau lelah. Tapi yang kudengar dari depan rumah mu adalah suara tawa mu juga suara lelaki itu.
Aku bakal nunggu kamu Ras, sampai kapan pu itu.
Tertanda : Yugo
Selesai.