MONOLOG SENJA DI PUSARA
Oleh : E. Mulia
Senja di pemakaman, mungkin menakutkan bagi sebagian orang. Tapi bagiku senja terasa menentramkan di antara batu-batu nisan.
Kuletakkan buket bunga di atas pusara tanah. Mawar bermacam warna yang banyak tumbuh di halaman kami. Bukan buket bunga yang indah, tetapi aku tahu itu akan cukup menyenangkannya. Sama seperti ketika dulu dia selalu memandang bunga-bunga itu sambil menikmati secangkir teh hangat.
"Yang warna kuning belum berbunga, Har," bisikku, sambil mengelus kayu nisan di atas pusara.
Gundukan tanah itu diam. Namun kutahu dia pasti tersenyum seraya menyesap aroma wangi bunga-bunga ini. Masih jelas tergambar di kepala, bagaimana raut wajahnya menunjukkan kebanggaan atas apa yang sudah dia tanam.
Kutatap pusara dengan nisan kayu mahal itu. Kami memang belum membangun nisan permanen pada pusaranya. Menunggu hingga seribu hari, menghindari tanah ambrol karena belum kuat dan memadat untuk menahan beban berat.
"Har, aku kesepian," bisikku lagi, lirih. Kupeluk nisan kayu itu dan menciumnya berulang-ulang.
"Seharusnya kamu tidak meninggalkan aku seperti ini! Seharusnya kita bisa lebih lama menikmati masa tua bersama, seperti katamu!"
Tanganku masih erat memeluk nisannya. Dan seperti senja-senja sebelumnya, air mata kemudian luruh bersama cahaya matahari yang semakin redup.
"Di masa tua nanti, aku, kita, jangan sampai menyusahkan anak-anak!" Itu kalimat yang sering dia ucapkan dulu.
"Kita harus mandiri. Kita berdua harus bisa mengurus dan merawat diri sendiri!" lanjutnya penuh semangat.
"Biarkan anak-anak kita pergi sejauh apa pun yang mereka suka, untuk mengejar impian mereka. Biarkan mereka sukses dengan apa yang dicita-citakan. Kita berdua akan menikmati hari tua di sini, di sebuah rumah mungil dan nyaman!" Dengan mata berbinar dan senyum terkembang dia bicara.
Saat itu kami baru saja membeli sepetak tanah di kampung ini. Rencananya akan kami bangun sebuah rumah mungil yang indah, lengkap dengan kolam ikan dan kebun kecilnya.
"Nanti kalau kamu sakit, gimana Har?" tanyaku.
"Tentu saja kamu yang akan merawatku, sayang," jawabnya sambil memencet hidungku.
Aku tertawa kecil. "Kalau aku yang sakit?"
"Ya, aku lah yang merawat!"
"Kalau kita sama-sama sakit?"
Dia mendelik kesal karena pertanyaanku yang bertubi-tubi. Aku kembali tertawa, membuatnya semakin kesal. Dicubitnya pipiku gemas.
Waktu berlalu tanpa mau menunggu. Satu persatu anak kami pergi mengejar cita-cita. Galen, anak laki-laki pertama, pindah ke pulau seberang untuk membuka usaha. Arsen, anak laki-laki kedua, menjadi tentara dan sering berpindah-pindah tugas. Una, anak perempuan bungsu kami, yang saat itu telah lulus sekolah, meminta ijin pula hendak melanjutkan sekolah musik di Swiss.
"Mama nggak setuju!" hardikku nyaring.
Una terkesiap. Ditatapnya aku nanar. Lalu berganti memandang papanya dengan sorot mata penuh harap.
"Sudahlah, maa ... biarkan saja! Toh, dia disana bukan untuk main semata. Tapi untuk mengejar cita-cita," redam Harsyan, suamiku.
Aku menggelengkan kepala. "Pa, cukup Galen dan Arsen yang jauh dari kita. Aku nggak mau anak bungsu kita pergi juga. Malah semakin jauh pula!"
Una tertunduk lesu. Jemarinya memainkan ujung baju.
"Ma, kamu jangan seperti itu! Untuk memperoleh beasiswa belajar musik di Swiss itu nggak mudah, lho! Masak kita akan melewatkan kesempatan ini begitu saja?"
Kugigit bibir bawah. Membayangkan anak bungsuku pergi dari rumah saja rasanya menyakitkan. Bagaimana dengan hari-hari selanjutnya yang akan kulalui tanpanya?
"Kasihan Una. Piano adalah segalanya bagi dia. Mama jangan egois, menjadi pemutus mimpi-mimpinya!"
Kesadaranku terhentak oleh kata-kata Harsyan. Kutatap Una yang sekarang juga menatapku penuh harap.
"Mama," bisiknya lirih.
Dan tangisku pecah. Una berlari memelukku erat.
Pada akhirnya, untuk kesekian kali aku harus merelakan anakku pergi. Lalu kami pun juga pergi meninggalkan rumah besar bertingkat itu. Seperti katanya semula, kami membangun sebuah rumah kecil di kampung. Seperti janjinya pula, kami menikmati hari-hari yang tenang dan bahagia di rumah itu. Bahkan kerinduan pada anak-anak pun sanggup terkesampingkan oleh kolam ikan, sepetak kebun sayur dan taman di depan rumah. Meski lebih tepatnya bukan karena itu, tetapi karena kebersamaan kami melakukan semua hal berdua, dalam kehangatan cinta sepasang manula.
"Semua ini memang sudah kamu rencanakan, kan, Har," kataku sambil menata tangkai-tangkai mawar di atas pusara. Beberapa saat lalu, angin senja mengacak letaknya. "Kamu biarkan anak-anak kita pergi. Seperti burung yang terbang sendiri-sendiri mencari makan, hingga terkadang lupa akan sarang tempat mereka dilahirkan. Kamu habiskan waktu hanya berdua denganku, seperti pada awal dulu kita bersatu. Kamu buat aku sibuk hanya memikirkanmu hingga mengaburkan kerinduan pada anak-anak kita."
Kuambil setangkai mawar merah jambu. Kucium dan kuletakkan tepat di depan nisan kayu.
"Tahukah kamu, Har, itu juga membuat mereka terbiasa nyaman meski jauh dari kita. Tak pernah ada beban saat memikirkan kita yang hanya berdua saja."
Aku berhenti sejenak untuk menghela napas. "Bahkan disaat kamu sakit keras, mereka tak juga pulang. Meski sebenarnya bukan karena mereka tak mau pulang, tapi kamu sendiri yang menghendaki supaya mereka tak dikabari."
Kubuang napas panjang, mencoba mengurangi beban yang menghimpit dada. Kilas balik saat-saat terakhirnya kembali terulas.
"Jangan!" larangnya dengan suara parau tertahan.
"Kenapa, Har? Biarlah anak-anak kita datang kesini menjenguk dan mendoakanmu!"
Dia tersenyum. Lalu digelengkannya kepala. "Mereka sibuk. Jangan diganggu!" katanya pelan, namun tegas.
Harsyan menggenggam tanganku. Napasnya tersengal-sengal. Matanya terpejam.
Ah, bahkan menjelang ajal pun, dia tak ingin mengganggu Galen yang sedang sibuk dengan pembukaan cabang baru perusahaannya. Tak mau membuyarkan konsentrasi Arsen yang sedang menempuh pendidikan perwira tingginya. Tak hendak mengusik Una yang mempersiapkan konser tunggalnya di Swiss sana. Harsyan, suamiku, harus meregang nyawa hanya ditemani aku, istrinya. Di rumah mungil kami, kuantar dia menemui Khaliqnya.
"Har, kamu lebih beruntung dibandingkan aku!" sungutku kesal. Nisan kayu itu masih beku dalam diam.
"Saat kamu sakit, ada aku. Saat kamu meninggal, ada aku!" dengkus napasku terasa sedikit memburu.
"Lalu, bagaimana denganku nanti?" Kuremas kelopak mawar merah. "Aku akan mati dalam kesendirian!"
"Bukan aku yang egois, Har. Tapi kamu!" Nada suaraku meninggi. Tanganku mencengkeram nisan. Mataku mendelik kesal. Untuk sesaat kubiarkan hati terbawa emosi. Adakalanya meluapkan amarah, mampu meringankan beban yang harus ditanggung.
Senja semakin gelap. Kurebahkan kepala di atas pusara. Masih ada beberapa menit lagi sebelum Maghrib, untuk aku meletakkan lelahku disini.
***
Tiga bulan kemudian, aku duduk di sebuah kafe kecil sudut kota Granada. Sebuah kota cantik di kaki Sierra Nevada, gunung tertinggi di kawasan Andalusia. Kota ini telah mengikat sisa cintaku di usia senja.
Ujung mataku menatap layar gawai. Ada notifikasi surel baru masuk. Kubuka akun, ada tujuh surel yang belum kubaca. Semuanya dari anakku. Dua dari Galen, dua dari Arsen dan tiga dari Una. Isinya rata-rata sama, menanyakan keberadaanku.
Aku tersenyum. Kututup lagi akun tanpa menjawab surel-surel itu. Hal yang biasa aku lakukan jika mendapat surel dari mereka. Jemariku beralih membuka layar word. Kuketik satu judul novel di sana.
'PEREMPUAN TUA PENAKLUK ANDALUSIA'
Mungkin mimpi kita memang sudah berakhir, Har. Tapi aku masih bisa memulai mimpiku yang lain. Sama seperti anak-anak kita, aku pun berhak mengejar mimpiku sendiri. Mimpi yang selama puluhan tahun harus mengendap, karena kesibukanku membangun mimpi-mimpi kita.