Teriakan itu memekakkan telingaku. Kepalaku dipenuhi oleh makian yang keluar dari bibir pucat ibu. Semua suara seolah memaksa masuk menembus gendang telinga. Samar, suara berat dari ponsel yang ada di genggaman ibu mengusik pendengaranku.
Aku berada di ambang pintu, bersiap untuk keluar dari ruangan yang terasa menyesakkan. Atmosfer di unit apartemen ini terus menekanku. Kepalaku seolah ingin pecah. Ayah, yang duduk di shofa mengacak rambutnya frustasi. Dan ibu berjalan kesana-kemari sembari berteriak melalui ponsel. Mungkin tetangga kami dapat mendengar semua yang di teriaki oleh ibuku. Aku begitu malu dan tertekan.
Aku tak tahan. Tanganku menarik kenop pintu ke arah dalam. Membuat pintu itu terbuka sedikit demi sedikit. Perlahan, kakiku melangkah keluar, meninggalkan ayah dan ibu di dalam. Pintu kembali tertutup. Mungkin, tak ada yang sadar bahwa aku telah pergi. Biarlah. Mereka pasti tak ada waktu untuk mengurusiku.
Lorong panjang, yang memiliki penerangan minim itu menyambutku dengan rasa ngeri. Aku menelan salivaku dengan susah payah. Setidaknya, suhu di sini lebih baik dari di dalam. Tidak panas dan menekan.
Punggungku bersandar pada tembok lusuh di sebelah kiri pintu apartemen tempatku tinggal. Aku tak pergi jauh, hanya mencari ketenangan singkat. Dapat kurasakan dinginnya lantai yang sudah aku duduki. Sunyi. Tepat apa yang kubutuhkan.
Tepat satu pekan kakak laki-lakiku kabur dari rumah. Kepergiannya membuat ayah dan ibu panik setengah mati. Kakak mengganti nomor telponnya. Tak ada dari kami yang tahu nomornya dan di mana ia berada. Setidaknya sampai hari ini. Pagi ini teman ibuku memberikan nomor kakak yang baru. Entah dari mana wanita paruh baya itu tahu nomor baru kakakku di saat kedua orangtuaku saja tak mengetahui apapun.
"Kau tinggal di apartemen nomor berapa?" suara berat itu menyapu kedamaian yang baru saja datang. Sungguh, aku ingin mengumpat saat itu juga.
Aku malas mendongakan kepala. Jadi, aku hanya diam tak bergerak, hanya sesekali berkedip. Mataku dapat menangkap sepatu kets berwarna merah yang orang itu pakai. Lama tak mendapat jawaban, ia berjongkok—melambaikan tangannya tepat di depan mataku.
"Apa kau sakit?" tanyanya lagi.
Aku akhirnya menyerah. Kepalaku mendongak dengan tatapan malas. Seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya di gulung sebatas siku, berada tepat di depan mataku. Wajahnya seperti pahatan yang sempurna. Tanpa celah. Sesaat, aku terkagum. Tetapi, sepertinya umurnya jauh di atasku.
"Em..., aku baik-baik saja," jawabku singkat. Aku tak tahu harus menjawab apa lagi.
"Kau tinggal di apartemen nomor berapa?" ia melontarkan pertanyaan yang sama lagi. Aku hanya menunjuk pintu yang ada di sebelah kananku duduk. Berharap ia akan pergi dengan segera setelah mengetahuinya.
"Kenapa kau ada di luar dik?" Spertinya rasa penasaran pria ini benar-benar luar biasa. Ia tak mau berhenti bertanya.
"Aku hanya bosan," jawabku asal. Mata pria itu menatapku intens, seolah tak percaya pada jawabanku.
"Mau cokelat hangat?" tawarnya dengan senyum ramah.
Ia mulai berdiri dan merapihkan kemejanya yang sedikit berantakan. Tangannya terulur, sepertinya berniat membantuku berdiri. Aku mengabaikan uluran tangannya. Membiarkan tangan kekar itu mengapung di udara.
"Maaf kak, aku bukan anak kecil yang akan mengikuti orang asing," tolakku dengan tegas.
"Aku juga tak tertarik dengan anak berumur 15 tahun." Sontak aku menerima uluran tangannya dan berdiri.
"Darimana kau tahu umurku?!?!" aku bertanya dengan nada sedikit keras.
"Hanya menebak," jawabnya santai.
Pria itu melenggang pergi. Sekarang keadaannya berbalik, aku yang jadi penasaran dengannya. Cepat-cepat aku berdiri. Langkah kecilku mencoba mengikuti langkah pria itu.
"HEI KAK! SIAPA NAMAMU?" teriakanku memenuhi lorong sunyi itu.
"Adler."
"AKU THEA!" teriakku bersemangat. Sekilas, terukir lengkungan tipis di bibir Adler. Puas. Itu yang aku rasakan sekarang.
***
Entah sejak kapan, aku bisa berada di unit apartemen milik Adler. Pria itu seolah menghipnotis langlahku, dan aku takluk padanya. Mengikutinya dengan tenang. Apa dia benar-benar menghipnotisku? Entahlah. Pikiranku terbang kesana kemari memikirkan berbagai kemungkinan.
Adler datang dari dapur dan menaruh dua cangkir cokelat hangat. Gelas kaca yang beradu dengan meja kayu, memecah keheningan. Dua gelas minuman cokelat hangat tersedia di hadapanku. Adler duduk di shofa yang berada tepat di depanku. Ia memainkan ponselnya dengan tenang. Aku menatapnya intens, seolah meminta ia untuk memulai percakapan. Tetapi, sepertinya ia tidak peka sama sekai.
"Apakah ini unit apartemen milikmu?" tanyaku basa-basi. Aku bosan dengan keheningan. Terpaksa, aku yang memulai pembicaraan.
"Kau benar. Maaf dik, bukan maksudku mendiamkan tamu, aku hanya agak sibuk...," kilahnya.
"Aku paham," ucapku.
"Kak Adler, apa kau tinggal sendiri? Dimana orangtuamu? Kau sudah bekerja? Berapa umurmu? Sampai kapan kau akan tinggal di sini?" aku meluapkan semua pertanyaan yang sejak tadi memuatari pikiranku. Deretan pertanyaan itu sepertinya membuat Adler pusing.
"Wow, santai-santai. Kita masih punya banyak waktu untuk semua pertanyaan," ucapnya sambil menenangkanku.
Aku meminum cokelat panasku segera. Tak akan ku biarkan minuman ini menjadi dingin. Apalagi minuman yang kudapat gratis. Aroma cokelat pekat memasuki indra penciumanku. Sanggat damai rasanya. Manisnya minuman itu seolah membawaku lupa akan kejadian di rumah.
"Pertama, aku memang tinggal sendiri. Orangtuaku ada di desa. Dan aku sudah bekerja, karena umurku sudah 27 tahun," jawabnya dengan perlahan.
Aku terdiam. Sedikit terkejut dengan jawaban jujur tentang umur Adler. Tak pernah ku sangka, bahwa umurnya setua itu. Aku tahu dia berada jauh di atasku, kukura ia 22 atau 23 tahun. Apa karena wajahnya yang terlihat muda sehingga menipu mataku?
"Kau terlihat lebih muda dari itu, kak," pujiku. Entah ucapan itu di anggapnya pujian atau sebuah hinaan, aku tak peduli.
"Orang lain juga bilang hal serupa, hahaha...," tawa renyah Adler membuatku tersihir. Suaranya yang hangat, wajahnya yang ramah dan tampan, aku seperti berhalusinasi. Dan..., Senyumnya, menjeratku dalam keindahan.
"Kalau boleh jujur, kau sanggat baik. Saat kau di sini, aku seperti merasakan kehadiran kakakku," ucapku padanya.
"Aku merindukannya...," lirihku sanggat pelan. Bahkan, mungkin saja ia tak mendengar kalimat barusan.
"Zane kan? Hubungi dia sekarang. Bocah itu kabur-kaburan terus." Adler melemparkan ponselnya ke arahku. Dengan gesit aku menangkap benda pipih itu, takut jika benda mahal itu jatuh ke lantai.
"Dari mana kau tahu ten—"
"Adler, jangan hubungi gue sekarang, gue capek," suara di sebrang sana menghentikan ucapanku.
Sial! Adler sudah memencet panggilan suara pada ponselnya. Sekarang, aku harus berbicara dengan kakakku tanpa persiapan apapun. Aku menimbang-nimbang, haruskah ku tutup saja panggilan ini, atau aku teruskan?
"Kakak." ku beranikan diri berbicara pada kakakku. Aku merindukannya, sungguh. Tak akan kusiakan kesempatan ini. Ibu juga tak akan membiarkanku menelefon kakaku. Ini bukan kesempatan yang bisa datang dua kali.
"Aku Thea kak. Kakak baik-baik aja?"
"Jangan khawatirkan kakak. Thea, nyalakan speakernya," perintah kak Zane. Tanpa membantah atau bertanya, aku memencet tanda speaker di ponsel Adler.
"HEI ADLER! JIKA KAU MACAM-MACAM DENGAN ADIKKU, KU PATAHKAN LEHERMU!" ancaman itu membuat aku dan Adler kaget. Telingaku seolah ingin pecah dibuatnya.
"Kalem bro..., Gue gak ngapa-ngapain kok," Adler mencoba menenangkan kakakku.
"Bagus," ucap kak Zane dari sebrang telepon.
Kembali ku matikan speaker. Aku takut jika kak Zane akan kembali berteriak pada Adler. Aku junga ingin berbicara berdua dengan kakakku.
"Kak, aku merindukanmu...," kalimat itu seolah membungkam mulut orang yang mendengarnya. Hening.
"Aku juga. Tapi coba pahamilah, Thea. Merka tak pernah memperhatikan dan memikirkan perasaan anak-anaknya. Aku berharap jika aku pergi, setidaknya perhatian mereka akan beralih penuh padamu. Nikmati kebahagiaanmu."
"Aku tak bahagia kak. Caramu salah," ucapku dengan nada lirih.
"Pulanglah kak. Sekali saja...," pintaku memohon.
Suara sambungan telepon yang terputus menghancurkan hatiku. Kak Zane memutuskan panggilan secara sepihak. Mataku yang semula baik-baik saja berubah sendu. Butiran cairan bening merambat turun melewati pipiku.
"Dia tak akan kembali," kataku dengan penuh kecewa.
Pandanganku menunduk—menatap lantai putih yang kosong—memejamkan mata. Air mata itu terkumpul sedikit demi sedikit di lantai. Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Sesak memenuhi dadaku. Tangisanku pecah saat itu juga.
Adler bangkit dari duduknya, dan duduk di sisi kananku. Refleks, aku memeluknya dari samping. Adler juga tak menolak, dia membalas pelukanku dan mengusap rambutku dengan lembut. Tak peduli siapa atau apapun itu, aku hanya butuh kekuatan sekarang. Hatiku benar-benar hancur. Untungnya, kehangatan yang ia berikan dapat sedikit menenangkanku.
Dan, entah sejak kapan jantungku berdegup cepat. Wajahku juga perlahan memanas. Aku luluh pada perhatiannya dalam satu hari, oleh kelembutannya, kehangata dan rasa sabarnya. Aku tak bodoh, aku tahu persis perasaan apa ini, karena aku sudah banyak merasakannya. Ini gila! Rekor cinta tercepatku sepanjang hidup.
***
Sudah empat hari berlalu. Rasanya, waktu berjalan begitu lambat. Setiap hari, aku selalu merindukan kakakku, berharap ia akan pulang walau sesaat. Menangis, berdoa, berharap, bertanya pada banyak orang, mencoba menghubunginya, semua itu sudah kulakukan. Tetapi tak ada hasil.
Tetapi lain halnya saat aku bersama Adler, waktu terasa berlari. Sanggat cepat, seperti tak ada waktu yang cukup untuk bersamanya. Tentu saja, aku tak langsung mengungkapkan perasaanku. Aku hanya bisa menikmati semua momen kami. Dan, aku rasa, perasaan ini tak berbalas. Apalagi mengingat umurnya yang sanggat jauh. Aku takut terluka.
Sore ini, aku pergi menghabiskan waktu lagi, di unit apartemen Adler. Jika di rumah, aku hanya akan melihat tangisan dan teriakan frustasi ibu. Aku lelah melihat pemandangan itu. Menggunting dan melipat kertas warna menjadi kegiatan kami sore ini.
Balkon terbuka yang kami tempati, terus di terpa angin, membuat beberapa kertas berterbangan dengan lambat. Hangatnya sore membuatku betah berada di sini. Jujur saja, Adler terlihat seperti mengurusi anak kecil. Dan, akulah bocah itu. Menyedihkan.
"Kak, ini untukmu saja. Bentuknya aneh!" Aku menyerahkan kertas lipat berbentuk sedikit aneh. Sebenarnya aku ingin membentuk katak, tetapi kaki dan badan katak kertas itu tidak simetris.
"Hahaha..., Pincang sebelah!" Adler menertawakanku dengan keras, tetapi tetap menerima katak gagal tersebut.
"Jangan mengejekku! Aku sudah berusaha untuk katak itu!" kataku dengan nada sedikit keras. Adler tak memedulikan ucapanku, ia masih saja tertawa sambil menatap katak kertas itu. Menyebalkan!
"HEI KAU APAKAN THEA?!?!" teriakan itu membuatku menoleh. Orang yang baru datang tersebut langsung menjewer Adler.
Aku terkejut saat mengenali wajah itu. Wajah yang aku rindukan. Mataku melebar sempurna. Dan tanpa sadar, bagian bawah mataku sudah basah oleh air mata. Tanpa berpikir aku menerjang orang tersebut dengan pelukan.
"KAKAK!" teriakku bahagia.
"Kenapa kau tak pulang-pulang..., Aku sangat merindukanmu...," tangisku di pelukannya. Air mata menyebalkan! Ia selalu meluncur tanpa izin.
Kak Zane melepas jewerannya dari Adler. Ia balas merengkuhku dalam pelukannya. Kehangatan itu menjalar dengan cepat. Aku rindu pelukan ini, pelukan yang ada saat aku sendiri dan sedih. Ku eratkan dekapan itu, seolah tak mau melepaskannya. Bahkan aku mencengkram bajunya dengan posesif.
"Hwaaa..., Jangan pergi lagi kak. Kau jahat! Aku sendirian, aku kesepian, kau jahat!" rengekku dengan kencang.
"Maaf Thea, harusnya kakak tetap di sisimu saat kau kesepian. Seperti dulu," ucapnya lirih.
"Siapa yang membujukmu kemari? Tak mungkin kau datang tanpa ancaman atau bujukan," tanya Adler curiga.
"Tunanganmu mengancamku dengan cutter. Dia gadis gila! Bisa-bisanya kau jatuh cinta pada orang seperti itu!" maki kak Zane. Matanya melirik pada orang yang berada tak jauh dari kami bertiga. Dengan perlahan ia melepaskan dekapannya padaku.
Hatiku hancur saat mendengar itu. Dadaku seperti dipukul oleh benda keras. Wanita berambut pendek dan memakai kaus hijau tua itu mendekati kami. Kaki jenjangnya berjalan teratur dan indah, seperti model. Semakin sakit saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Adler dan wanita itu berpelukan mesra.
Bodoh! Apa yang aku harapkan dari rasa ini. Aku mengutuk driku sendiri yang telah membuat luka untuk diri sendiri. Jelas saja, pasti Adler melihatku hanya sebagai bocah kecil yang ingin berteman, bukan sebagai wanita.
Wanita itu tersenyum dan menyapaku. Aku hanya diam. Tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Mungkin, ini waktunya untuk melupakan cinta sesaat ini. Cinta yang datang hanya karena perhatian. Aku juga sadar, mereka pasti akan segera menikah karena sudah bertunangan. Lebih baik pergi daripada menjadi perusak hubungan orang lain.
"Aku akan pulang dengan adikku. Bermesraanlah sesukamu," Kakak menarik tanganku untuk pergi dari tempat itu. Kami berdua tak mau jadi nyamuk yang terbang dengan menyedihkan, karena melihat kemesraan merka.
Tapi aku bersyukur, karena saat aku patah hati karena cinta, ada hati lain yang terobati. Kakakku. Adler mungkin hanya di kirim tuhan untuk menguatkanku saat lemah, dan untuk mengembalikan kakaku. Lain kali aku juga harus berterimakasih pada tunangan Adler, dia telah membantu kakakku pulang.
Mungkin ia hanya singgah sementara, tetapi kenangan yang ia berikan, menetap selamanya.