"Aku suka sama kamu."
Tulisku pada secarik kertas kecil yang ku sobek dari halaman terakhir buku matematika ku
"Buat Tira kan!"
Tiba tiba seseorang merebut kertas itu dari ku. Sontak aku kaget dan berteriak, namun ia malah berlari menuju kelas Tira.
"Kevinnnnnn jangaan!" Namun terlambat sudah
Aku pasrah lalu duduk lemas di bangku ku, dalam hati aku mengutuk keras perilaku Kevin yang selalu seenak nya padaku.
"Cieeeeee Albii.."
Suara Kevin kembali terdengar, dan kulihat Tira berdiri diambang pintu kelas ku dengan tatapan marah yang ia arahkan padaku.
Aku menunduk dalam diam hingga Tira pun pergi dengan sendirinya meninggalkan kelas ku.
"Huuhhh..." aku bernafas lega
Kevin yang bingung datang menghampiri ku dan bertanya, namun aku menghiraukan nya dan memilih untuk pergi meninggalkan nya.
Kuberanikan diriku untuk menghampiri Tira namun ia sama sekali tak menggubrisku, terlihat sekali kalau ia sangat marah pada ku. Sesekali juga kulihat matanya berkaca-kaca.
Hancur sudah persahabatan ku dengan nya, hanya karena secarik kertas yang kutulis untuk nya. Aku ingin sekali menjelaskan namun ia tak memberi sedikit pun kesempatan padaku.
¤ ¤ ¤ ¤
Sudah 5 bulan lama nya sejak insiden secarik kertas itu, hingga sekarang hari perpisahan sekolah, aku dan Tira sudah tak bertegur sapa sama sekali.
Tour perpisahan pun dimulai..
Dari awal kegiatan, aku terus memperhatikan nya berusaha mencari moment yang pas untuk berbicara padanya.
Saat di bis, ku lihat ia sedang duduk sendiri dengan cepat aku coba menghampirinya, namun ternyata ia sedang memejamkan mata. Jadi, kembali ku urungkan niat ku.
Lalu saat jam makan siang, ia diam melamun karena ia seorang yang tak bisa makan nasi jadi ia hanya diam memainkan bungkus plastik roti yang sudah ia habis kan lebih awal.
Aku coba menghampirinya, namun ia melihat ku lebih dulu. Aku mematung, hingga ia pun beranjak untuk menghindari ku.
"Gagal lagi.." aku merutuk kecewa
Hingga waktu kami sudah tak banyak lagi, karena Tour perpisahan ini sebentar lagi berakhir. Dan sekarang sedang dalam perjalanan pulang.
"Oke saat turun dari bis nanti aku harus bisa berbicara padanya!"
Namun.. aku malah tertidur, lalu terbangun dan menyadari kalo bis sudah berhenti. Teman teman ku sudah sibuk mengemasi barang mereka. Aku yang panik karena ketiduran berusaha mencari keberadaan Tira, namun ia sudah tak ada di dalam bis ini.
"Vin kenapa ga bangunin aku sih!" Kesalku
Aku berbegas keluar dari bis menggunakan pintu belakang hingga aku mendapati Tira sedang mengobrol bersama teman nya di pintu bagian depan.
Aku segera pulang dan memilih untuk menunggu nya di depan rumah ku, karena ia pasti lewat sana.
Tak lama kemudian kulihat Tira berjalan sendiri, aku sedikit bersembunyi dan saat ia sudah melewati rumah ku aku pun keluar lalu menarik lengan nya dari belakang.
Ia berbalik kaget lalu menatap ke arah ku.
"Maafin aku Ra.." ucapku dengan sendu
Ia hanya diam lalu melepaskan gengaman tangan ku dan berlari pergi meninggalkan ku.
Sudah hanya sampai disitu, aku tak tau apa yang Tira pikirkan. Aku tak tau apa Tira memaafkan ku atau tidak. Setidaknya aku berterima kasih padanya karena sudah membiarkan ku untuk mengucapkan kata maaf dihari perpisahan kita.
Tertanda : Albi Yasa
Selesai.