キーホルダー
Kīhorudā
Karya: W.Ddvemalleon WET
🦊⚜️🦊
Chiyeko Miura, nama seorang Tuan Putri di keluarga Miura. Keluarga Miura hidup di mansion yang megah. Namun mansion itu tidak memiliki pelayan satupun, mereka bisa mengurus mansion mereka sendiri. Keluarga Miura sendiri adalah keluarga yang sangat harmonis. Hidup damai dan tak pernah timbul pertengkaran. Mereka hidup seperti manusia pada umumnya, tapi sebenarnya mereka adalah keluarga siluman kucing, Bakeneko.
Haruki Miura, Ayah dari Chiyeko dan Akane Kiyomizu, Ibu dari Chiyeko. Mereka saling menyayangi Putri sulung mereka. Kelak, Ayah dan Ibu Chiyeko akan menunjukkan sebuah ruangan turun temurun keluarga mereka. Chiyeko berharap akan segera mendapatkan kunci ruangan itu. Dia sungguh tidak sabar menanti - nanti apa yang ada di dalam ruangan itu.
Ketika Chiyeko menginjak umur dua belas tahun, Chiyeko sudah boleh membuka ruangan itu. Tapi Chiyeko tidak membuka ruangan itu. Dia akan menunggu kedua Orang Tuanya terlebih dahulu yang sebelumnya pergi entah kemana.
Jam terus berputar, bunyi tik tak tik tak terus berbunyi di kepalanya. Ia selalu melihati jam dinding seperti orang tak ada pekerjaan. Gelisah. Ia berputar - putar di ruangan yang sama.
Ting Tong
Suara bel rumah Chiyeko berbunyi. Tidak seperti biasanya, orang tua Chiyeko biasanya tidak pernah menekan bell dan langsung masuk rumah. Lalu siapa yang menekan bel? Pertanyaan itu terjawab begitu Chiyeko membukakan pintu.
“Tidak ada siapa - siapa.” Chiyeko menoleh ke luar pintu. Tetapi tidak menunjukkan keberadaan siapapun. Chiyeko tidak mengendus bau manusia ataupun siluman kucing.
Pintu kembali tertutup. Dia merebahkan tubuhnya di sofa. Berharap kedua Orang Tuanya segera pulang dan merayakan ulang tahunnya bersama - sama. Padahal sudah tengah malam, tapi mereka tak kunjung pulang. Itu membuatnya resah. Semilir angin seperti menerbangkan hatinya dengan mudah.
Tanpa sadar, ia tertidur lelap di sofa bergaya eropa. Tidak memperdulikan jam yang masih bergerak menunggu kedatangan sang Tuan rumah.
Chiyeko tiba - tiba terbangun. Dia mengusap mukanya dan melihat jam dinding di belakangnya. Hari sudah berganti, matahari mulai terbit dari ufuk timur. Dia berdiri dari sofa dan berjalan ke arah jendela. Dibukanya jendela, mempersilahkan cahaya matahari menyinari ruang tamu.
“Belum ada kabar apapun dari Ayah dan Ibu. Mereka kemana? Mereka sudah lupa dengan ulang tahunku, kah?”
Beribu - ribu pertanyaan menghujani kepala Chiyeko. Pernah melintas pertanyaan apakah mereka dalam bahaya atau tidak, tapi pikiran itu sirna. Dia tidak ingin berpikir yang buruk - buruk.
Chiyeko pergi menuju dapur. Dia mulai memanggang empat lembar roti. Memakan dua lembar roti tidak akan cukup memenuhi perutnya.
Seragam sudah lengkap, sepatu sudah siap. Sudah waktunya berangkat ke sekolah. Dengan tas Koukou dipundaknya, dia berjalan menuju sekolah.
Sesaat sebelum sampai di gerbang sekolah, dia teringat belum membuka ruangan turun - temurun keluarganya. Tapi dia belum mengetahui dimana letak kunci ruangannya. Rencananya, setelah les dia akan mencari kunci itu.
“Chiyeko! Selamat pagi.”
Teriak seseorang gadis berlari dari belakang Chiyeko. Chiyeko menoleh kepadanya. Itu adalah teman sebangkunya, Hana Endo.
“Selamat pagi juga, Hana.”
Tidak berselang lama, mereka sudah sampai di kelas. Pelajaran akan dimulai sebentar lagi. Chiyeko masih saja kepikiran dengan Orang Tuanya. Menatap jendela tanpa sadar dirinya sedang diabsen Pak Ogawa.
“Chiyeko Miura!”
Pak Ogawa mengeraskan suaranya, membuat lamunan Chiyeko sirna. Dia langsung berkata hadir.
Sekolah tidak bisa dia jalani dengan benar. Entah itu terlupa memakan bento, lupa menulis cerita untuk kegiatan ekstrakulikuler, lupa mengganti sepatu dan ketika berjalan sering kali tersandung.
“Chiyeko, kamu sedang sakit? Hari ini kamu melakukan banyak kecerobohan.”
Hana langsung memposisikan dirinya sejajar dengan Chiyeko yang sedang berjalan keluar gerbang. Chiyeko mengangguk. Tidak mengeluarkan kalimat apapun setelahnya.
Dia pulang ke rumah. Sepi. Kedua Orang Tuanya belum pulang. Dia menaruh tas Koukounya di lemari. Chiyeko berganti baju sebentar lalu pergi ke ruang dapur.
Ada sesuatu yang janggal di meja dapur.
“Bukankah di meja tadi tidak ada kotak apapun? Apa ini?”
Chiyeko membuka kotak berwarna biru itu. Dia melihat sebuah kunci berwarna emas. Ada gantungan seperti permata merah yang sangat indah di kunci itu. Dia yakin betul permata itu asli dan memiliki aura yang misterius.
Dia menatapi lamat - lamat gantungan kunci itu. Chiyeko mencoba mengetuk permata itu, memastikan apakah ada sesuatu di dalam permata tersebut.
“Tidak ada apapun. Aneh. Kenapa beraura ya?”
Chiyeko meletakkan gantungan kunci itu di sakunya. Dia hendak membuka ruangan turun temurun keluarganya.
Krieet
“Uwakh!”
Bruk
Chiyeko tergelincir di depan pintu. Debu di ruangan itu sangat licin.
“Kurasa aku harus membersihkan ruangan ini. Debunya sangat banyak. Uhuk uhuk.”
Chiyeko megibas - ngibaskan tangannya menghalau debu yang berterbangan karena badannya yang terjatuh.
Membersihkan debu dengan kemuceng lalu menyapu dan mengepel. Hari itu benar - benar melelahkan. Tapi dia cukup bahagia melihat ruangan itu bersih dan terlihat nyaman. Dia bisa duduk bersantai membaca buku di ruangan itu.
Dibukanya laci meja tua. Walau sudah terlihat tua, meja itu tidak lapuk. Meja yang sangat kokoh. Di dalamnya ada pena dan secarik kertas. Kertas kuning yang kosong, itu tidak menarik. Dia segera meletakkan secarik kertas itu kembali dengan hati - hati.
Setelah dirasa tidak ada yang menarik, Chiyeko mencoba membuka lemari antik di dekat meja. Benar - benar kosong.
“Apa - apaan ini? Kosong. Kukira ada sesuatu yang menarik.”
Chiyeko mengehela napas. Dia langsung meninggalkan ruangan itu dan mengunci rapat pintunya.
Perutnya lapar. Tidak ada apapun di rumah yang bisa dimakan. Apakah dia harus pergi berbelanja? Tapi uangnya darimana? Sudahlah, dia adalah Bakeneko yang menyamar, tidak perlu terlalu mirip dengan manusia juga tidak apa - apa. Toh, dia sedang di rumah sendiri.
Daripada bosan, dia membaca buku di kamarnya. Dia duduk di dekat jendela seperti biasa. Banyak novel tebal yang belum dia baca. Sambil menunggu orang tuanya yang tidak tahu kapan pulangnya.
Ting Tong
Bel rumah berbunyi. Dia langsung berdiri dan berlari ke arah pintu rumah. Tapi karena kecerobohannya dia terjatuh tertatap rak di lorong bertikungan.
Vas bunga yang sedari tadi di atas rak terjatuh dan pecah.
Urusan vas dia lakukan nanti, sekarang dia akan membuka pintu terlebih dahulu.
“Ayah, Ibu. Kenapa la--”
Chiyeko tersungkur. Dia tidak melihat siapapun di depan pintu. Siapa yang berani menghancurkan ekspetasinya itu, benar - benar ingin mati ditangannya.
Chiyeko menutup pintu dan masuk ke rumah. Dia duduk di belakang pintu dan menangis sesenggukan. Ayah dan Ibunya tidak pulang. Kemana saja mereka berdua? Chiyeko juga tidak tahu. Mereka tidak mengirim kabar sedikitpun.
Dia adalah Tuan Putri yang malang. Menunggu orang tuanya yang tak kunjung datang. Padahal sudah gelap langit di bumi.
“Beraninya orang sepertimu membangunkanku dengan cara tidak layak seperti ini! Tidak sopan!” ucap seseorang dari balik lorong dekat rak.
Chiyeko menatap lorong itu. Dia tidak melihat siapapun di sana. Dia muak, tidak mau menghiraukan lagi. Dia benar - benar sudah dijahili banyak akhir - akhir ini.
“Balas perkataanku!” ucap seseorang itu dengan keras.
Chiyeko langsung berdiri dan ancang - ancang. Dia merasakan aura yang agak faimiliar tapi lupa ia temui dimana. Yang pasti itu bukan aura Bakeneko biasa ataupun aura Orang Tua Chiyeko.
“Ini aura Nekomata!” ucap Chiyeko dalam hatinya.
Tiba - tiba Chiyeko langsung terpental dan jatuh membentur pintu. Lehernya dicekik. Napasnya amburadul seketika. Dia berusaha menyerang balik Nekomata dari balik lorong itu.
“Tu-- n juk-- kan, wu-- judmu! Da-- sar peng-- ecut!” Chiyeko terbata - bata.
Dari balik lorong dekat rak, muncullah seorang Nekomata. Dia laki - laki dengan rambut ungu yang lebat sepanjang leher. Matanya ungu kebiru - biruan. Giginya runcing dan dua ekornya sangat panjang. Dia sungguh memperlihatkan wujud manusia silumannya.
Chiyeko langsung mengambil kesempatan dan menyerang Nekomata itu. Tidak ada kata terkejut lagi dalam kamusnya. Sekali dia lengah, dia mungkin bisa jadi santapan Si Nekomata.
Serangan Chiyeko tidak mempan. Serangan itu lenyap tak menimbulkan luka di tubuh Nekomata itu.
Kali ini Chiyeko bisa berkata tanpa drama terbata - bata. Dia sudah tidak dicekik dan bisa leluasa bergerak. Cukup satu kali dia dipukul mundur.
“Beraninya kau mengganggu kawasanku! Siapa dirimu?!” Chiyeko menunjukkan taringnya. Menunjukkan dia benar - benar marah.
“Justru aku yang seharusnya berkata seperti itu! Aku adalah penguasa di sini!”
Nekomata itu tersenyum seram di depan Chiyeko, membuat nyali Chiyeko sedikit ciut.
“Aku sudah lama tinggal di sini, aku tahu betul tidak ada dirimu sebelumnya. Kenapa kau tiba - tiba mengaku sebagai penguasa?!” ucap Chiyeko.
“Kau sendiri membangunkanku secara tidak layak. Pantaskah memangnya?!”
Nekomata itu langsung menyerang Chiyeko tanpa aba - aba. Lagi - lagi serangan itu berhasil melukai Chiyeko.
“Aku tidak pernah berurusan dengan orang tidak berguna sepertimu! Aku tidak pernah membangunkanmu! Kau kira aku sudi membangunkan orang tidak sopan sepertimu?!” Chiyeko balik menyerang sambil mempertahankan posisi serangnya. Dia mencoba waktu yang tepat agar serangannya tepat sasaran.
“Lalu apa vas bunga itu? Kau ingin permata itu pecah kan?!”
Chiyeko melongo. Nekomata yang melihat Chiyeko seperti itu juga langsung kebingungan.
“Kau yakin vas bunga itu?” Chiyeko bertanya dengan nada yang berbeda seratus delapan puluh derajat. Suaranya langsung lembut seperti bidadari yang baru turun dari surga.
“Perlukah kuulangi perkataanku dua kali?” Nekomata itu menjawab dengan ketus.
“Ahahahahaha. Kukira karena apa!” Chiyeko tertawa terpingkal - pingkal menunjuk - nunjuk Nekomata itu.
Akhirnya dia menjelaskan semuanya dari A sampai Z. Nekomata itu meminta maaf atas ketidak sopanannya. Mereka berdua sama - sama Tuan rumah di sana.
Nekomata itu memperkenalkan dirinya. Dia bernama Takehiko Yamasaki. Laki - laki yang umurnya hampir lebih tua beberapa tahun dari Chiyeko.
Chiyeko membersihkan pecahan vas. Sementara Takehiko, dia sedang membaca novel.
“Jadi Takehiko mau tinggal dimana? Kalau mau di ruangan itu, aku bisa mengambilkan kasur.” Chiyeko menoleh ke arah Takehiko.
“Tidak perlu, aku lebih suka menemanimu di dalam permata gantungan kunci dibanding harus jauh darimu. Takutnya ada apa - apa.”
Chiyeko hanya diam dan menatap Takehiko.
“Kapan kamu akan masuk kembali ke dalam gantungan kunci?” tanya Chiyeko.
“Seingin itu ya aku tidak disampingmu.”
“Tidak baik laki - laki dan perempuan bersama. Apalagi kita tidak ada hubungan keluarga.”
“Padahal siluman, bukannya itu tidak apa - apa ya? Yasudah deh. Aku pergi dulu,” ucap Takehiko menyerah.
Takehiko beranjak dari sofa dan mendekati Chiyeko. Gantungan kunci itu ada di atas rak dekat Chiyeko.
Takehiko memegang permata itu. Dalam beberapa saat tubuhnya hancur berkeping - keping dan serpihan tubuhnya terserap dalam permata.
Chiyeko hanya menatap sebentar permata itu lalu mengalihkan pandangannya ke kegiatannya semula. Dia harus tidur agar besok bisa bangun lebih pagi.
Esok harinya, dia berhasil bangun pagi. Ia memasak mi instan dengan potongan sayur. Hari ini jadwal pertemuannya dengan Hana di percepat.
Chiyeko mandi dan memakai baju yang sudah ia siapkan. Dia hendak meminta maaf atas kelakuan anehnya kemarin.
Dia berjalan keluar rumahnya. Tidak lupa membawa kunci ruangan keramat miliknya. Dia akhirnya sampai di halte yang kosong lompong. Belum ada orang yang akan naik bus. Beberapa saat kemudian, ada seorang Pria paruh baya yang datang. Pakaiannya serba rapi dengan jas biru dongker bergaris vertikal dan celana hitam pekat.
“Orang Tuamu sudah meninggal,” ucap Pria itu sambil menyalakan rokoknya.
Jelas - jelas terpampang kata dilarang merokok di halte, tapi Pria itu mengabaikannya.
“Apa maksud anda Pak?” Chiyeko melihat pria itu dengan ekspresi bingung.
“Orang tuamu sudah kubunuh. Berikan kunci itu. Kamu sudah tahukan kunci apa yang kumaksud.” Pria itu meniupkan kepulan asap rokok ke atas.
“APA YANG KAMU KATAKAN! Tidak mungkin orang tuaku meninggal!” Chiyeko berteriak.
Takehiko yang melihat dari dalam permata hanya diam tidak melakukan apa - apa. Dia masih menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.
“Kunci itu memiliki gantungan kunci kan? Permata itu berikan kepadaku. Dia adalah Nekomata, bukan Bakeneko. Tidak seharusnya kalian Bakeneko memilikinya. Dia bukanlah sembarang Nekomata.”
Chiyeko langsung menyerang Pria itu sekuat tenaga. Kalau memang Orang Tuanya meninggal, sekarang hanya tinggal Takehiko yang ada di sisinya.
Masalahnya adalah perbedaan kekuatan antara Chiyeko dan Pria tersebut. Chiyeko adalah Bakeneko, sementara Pria itu adalah Nekomata tidak biasa yang jelas kekuatannya lebih unggul.
Chiyeko benar - benar terpojok, mau bagaimanapun dia adalah gadis kecil.
“Aku berbaik hati kepadamu dengan berbicara baik - baik. Tapi karena kamu langsung menyerang, aku juga tidak segan - segan,” jelas Pria itu santai.
Pertarungan benar - benar tidak terkendali. Pertarungan itu memojokkan Chiyeko. Chiyeko sendiri kekuatannya juga sudah mencapai batas maksimal, dia tidak tahu kapan dia akan mati di tangan Pria itu.
Brugg
“Akh!” Chiyeko terdorong hingga tiang halte.
Banyak darah segar mengucur dari badan Chiyeko. Tapi lagi - lagi Chiyeko berdiri. Dia tidak akan menyerah, kemanapun dia pergi, dia tahu Pria itu bisa menemukannya kapan saja.
Takehiko yang melihat itu sudah tidak tahan. Dia akan keluar.
Dari balik punggung Chiyeko, ada tangan yang menepuk punggung Chiyeko dengan keras. Ada kekuatan yang mengalir dalam tubuh Chiyeko, sebuah kontrak telah terjalin.
Chiyeko jatuh dalam kedaaan duduk. Hatinya terkunci oleh rantai. Dia sadar kalau sebuah kontrak diantara Nekomata dan Bakeneko yang memiliki ikatan telah terjadi.
“Aku tahu kamu akan kesepian kalau aku tidak ada di sisimu. Karena itu, aku akan berada di hatimu. Dengan begitu aku akan selalu ada di sisimu.”
“Oh ya, maaf baru memberitahumu. Sebenarnya aku adalah kakakmu. Ketika aku sudah terbangun nanti, tolong panggil aku kakak ya,” ucap kembali Takehiko sambil tersenyum.
Badan Takehiko berubah menjadi serpihan. Serpihan itu masuk ke dalam hati Chiyeko, menyatu dengan rantai kontrak yang terpasang rapat.
Tanpa disadari, Takehiko mengendalikan kekuatan Chiyeko. Ada tiga ekor dan telinga yang panjang di badan Chiyeko. Sementara matanya berubah menjadi ungu lilac. Kekuatan Chiyeko langsung memberikan perbedaan yang sangat besar untuk Pria itu. Pria itu bisa dikalahkan dengan mudah.
Sesampainya di rumah, dia menghubungi Hana. Dia minta maaf tidak bisa datang karena ada urusan. Hana memaklumi Chiyeko, dia pun tidak keberatan dan memundurkan jadwal pertemuan menjadi dua hari lagi.
Chiyeko tahu kalau Takehiko menyayanginya, tapi tetap saja hatinya masih hancur melihat Kakaknya yang hilang tak tahu kapan akan kembali. Persis di belakang pintu rumahnya, dia meringkuk menangis.
Sudah berhari - hari berlalu. Tidak ada kabar apapun tentang Kakaknya. Tali merah di antara mereka seperti putus. Chiyeko benar - benar berubah. Di lain sisi ia sedih kehilangan orang tuanya, tapi dia juga sedih kehilangan Takehiko. Lalu apa posisi Hana? Jika tidak ada perlu, mereka tidak saling berhubungan. Hubungan di antara Chiyeko dan Hana adalah hubungan yang saling menguntungkan, bukan hubungan seperti teman sesungguhnya.
Sebatang kara adalah kalimat yang cocok dengan Chiyeko. Tidak ada teman, tidak ada kerabat. Hampa melanda hari - harinya. Karena itu ia lebih baik menghilang. Tidak akan ada yang sadar kalau dia menghilang dari dunia manusia. Besok, dia akan pergi ke pegunungan. Hidup sebagai Bakeneko, wujud aslinya.
Kembali meringkuk di belakang pintu dengan air mata mengalir deras. Matanya sembab. Menangis tapi raut bermuka datar. Entah apa yang ia tangisi, pikirnya.
Dari balik lorong, muncul sebuah bayangan. Bayangan itu berkata, “Beraninya kau membangunkanku!”
Chiyeko menatap ke lorong itu. Dia terkejut dan tidak percaya. Benar ia berharap masih ada Takehiko di sampingnya.
Chiyeko berdiri. Berjalan kecil menuju lorong. Ketika berjarak satu meter dengan lorong. Dia melihat seseorang. Itu ... Takehiko. Dia melompat dan memeluk Takehiko sekencang - kencangnya. Takehiko hanya kebingungan dan selalu berkata, “Eh?” atau “Apa yang kamu lakukan?!”
Chiyeko tetap memeluk erat Kakaknya. Dia menangis di pundak Kakak satu - satunya yang ia miliki. Biarlah kalau itu halusinasinya, tidak apa - apa dia jatuh ke dalam halusinasinya, asalkan ia bersama dengan Takehiko selamanya.
“Kakak,” ucap Chiyeko.
Takehiko yang mendengarnya, membuat ingatannya mulai kembali.
“Kau berpikir aku akan meninggalkanmu selamanya ya? Ya, ampun. Jahat sekali.” Takehiko tersenyum menatap ke Chiyeko.
Chiyeko mengangguk.
“Aku tidak bilang akan pergi meninggalkanmu selamanya. Karena aku bisa melakukan penyembuhan sekecil apapun badanku atau jiwaku.” Takehiko memeluk erat Adiknya. Dia berjanji akan merawat Adiknya baik - baik.
Chiyeko hanya menangis sejadi - jadinya. Tak mengerti harus berterimakasih seperti apa kepada yang maha kuasa. Walaupun dia siluman, tapi dia tahu masih ada Tuhan di atas sana.
Seolah benih benang merah telah tumbuh. Hubungan mereka semakin erat. Mereka mulai menjalani kehidupan mereka seperti biasa. Tapi kehidupan itu tidak seperti kehidupan yang sebelumnya. Mereka merasa kehidupan baru mereka itu sangatlah istimewa.
Soal Chiyeko yang sebelumnya ingin pindah ke gunung, seketika sirnah. Dia akan tinggal bersama Kakaknya dimanapun tempat yang Kakaknya inginkan.
Seperti itulah kehidupan Kakak adik yang saling menyayangi itu. Saling menjaga satu sama lain, saling membantu, saling menyayangi, saling menghargai. Benar - benar indah.
🦊⚜️🦊