Kerajaan Uytheranz adalah kerajaan kecil yang berada di daerah padang rumput yang dikelilingi hutan lebat. Bisa dibilang kerajaan itu berada di tempat yang sangat terpencil. Kerajaan yang tengah berada di ambang kehancurannya ini, menyimpan banyak rahasia dan misteri dari dunia luar. Ada banyak cerita mengerikan yang tersebar mengenai Kerajaan itu yang tidak pernah terbukti kebenarannya. Tidak ada yang tahu kenapa kerajaan yang dulunya sangat megah, makmur, dan rakyatnya sejahtera itu, menjadi seperti sekarang, hancur berantakan. Bahkan rakyatnya dikatakan sampai pergi meninggalkan Kerajaan itu satu per satu. Kini Istana itu benar-benar terlihat seperti tempat yang sudah terkena kutukan dahsyat. Satu-satunya yang menjadi rahasia umum adalah, Kerajaan itu ternyata memiliki satu-satunya keturunan yang tersisa, karena yang sebelumnya sudah meninggal dengan sangat misterius. Keturunan terakhir itu pun hanya seorang Tuan Putri yang tidak tahu bagaimana rupanya. Banyak rumor mulai bermunculan di luar Istana, mengatakan bahwa Tuan Putri yang disembunyikan itu adalah aib, menyeramkan, dan pembawa sial bagi Kerajaan.
Tok Tok Tok ...
"Rivera, Bunda masuk ya..."
Terdengar suara lembut seorang wanita paruh baya, dengan gemerincing kunci miliknya di depan pintu kamar gadis berusia 16 tahun itu. Gadis bernama Rivera itu tampak tak bersemangat sedikit pun mendengar suara itu. Tidak ada yang lebih menarik dari pemandangan luar kastil yang tengah dilihatnya saat ini. Gadis itu hanya menatap kosong ke arah luar jendela kamarnya, menanti kesempatan yang tak pernah kunjung datang.
"Rivera, kau sedang apa sayang?" Tanya wanita itu sambil mengelus lembut rambut putrinya.
Rivera hanya diam membisu, ia sudah lelah dengan semua kasih sayang yang tidak jelas dari orang-orang di sekitarnya. Mereka selalu bilang mencintainya, menyayanginya, melakukan ini itu hanya demi dirinya, tetapi hanya untuk mengabulkan satu keinginan kecilnya saja sangat sulit. Jangankan itu, hanya menjawab satu pertanyaan kecilnya saja tak ada yang bisa menjawab sampai saat ini.
"Kenapa saya tidak pernah diizinkan untuk keluar kastil Bunda? Aku lelah terus-terusan dikurung di balik tembok yang besar ini." Ucap Rivera dengan tatapan kosong melihat ke arah Bundanya. Ini adalah kesekian kalinya ia melontarkan pertanyaan itu.
"Maafkan Bunda sayang, Bunda dan Ayahanda juga tidak ingin melakukan ini. Tapi, tapi kami tidak ingin hal lampau itu terjadi lagi." Ucap wanita paruh baya itu dengan lirih.
"Aku tidak mengerti." Gumam Rivera pelan.
"Lupakan, lupakan hal itu sayang. Besok adalah hari ulang tahunmu yang ke-17. Ayahanda memanggilmu untuk membicarakan sesuatu, bersiaplah." Kata wanita itu, lalu pergi meninggalkan putrinya bersama seorang pelayan yang ditunjuk untuk membantunya bersiap.
Setelah cukup lama bersiap, Rivera pun dituntun menemui Sang Raja di ruang makan untuk makan malam sekaligus membicarakan suatu hal. Sesampainya di ruang makan, Rivera melihat kedua figur yang tengah duduk menatap ke arahnya.
"Kau sangat cantik putriku. Mari, duduklah..." Ucap Raja sambil mempersilahkan putrinya duduk. Wajah sang Raja dan Ratu tampak sangat bahagia, namun tidak dengan Rivera putri mereka. Perjamuan malam itu berlangsung dengan baik, namun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan Raja dan Ratu. Mereka berharap setidaknya sekali dalam ulang tahun putrinya, mereka bisa melihat senyuman dan tawa di wajah putrinya itu. Dengan tatapan yang sedih, Raja menatap wajah putrinya yang terus terlihat sedang menatap kosong pada meja makan.
"Putriku, karena besok adalah hari ulang tahunmu, kau boleh meminta apa pun saat ini juga." Ucap Sang Raja yang sepertinya sangat merindukan Rivera yang ceria seperti dulu.
Mendengar ucapan ayahnya, Rivera tersenyum. Namun bukanlah senyum kebahagiaan yang ditunjukkannya, melainkan senyuman kecil tak percaya. "Apa pun?" Ucap Rivera untuk meyakinkan ayahnya akan apa yang diucapkannya barusan. Raja kemudian mengangguk, ada perasaan keraguan yang cukup besar dalam hatinya. Namun dia lebih ingin menyenangkan putrinya.
"Maka izinkanlah aku untuk keluar kastil besok." Pinta Rivera.
"Apa? Tapi sayang, sepertinya yang satu itu ... Yang satu itu tidak mungkin." Ucap Raja Markt dengan nada suara yang lembut seperti sedang membujuk.
Rivera tampak menggeram, tangannya mengepal kuat menggenggam alas meja makan yang terjuntai. Dengan melayangkan pukulan lumayan keras ke meja makan, Rivera meninggikan suaranya. "Kalau tidak bisa, setidaknya jelaskan alasannya! Kali ini jelaskan yang sebenarnya! Aku bukan anak kecil lagi yang selalu bisa dibodohi oleh kalian!"
"Rivera! Jaga sikapmu!" Bentak Ibu Ratu sambil menunjuk kasar putrinya.
"Sudahlah Carla, kurasa memang ini saatnya dia untuk tahu." Bujuk Raja Markt berusaha menenangkan amarah istrinya. Ratu Carla kemudian menghela napasnya kasar dan membiarkan suaminya untuk menjelaskan semuanya.
"Kau mungkin tidak pernah mendengar, selama 20 tahun belakangan ini banyak anak perempuan di wilayah kita yang menghilang dan tidak pernah bisa di temukan kembali. Termasuk kakak kandung yang sangat mirip denganmu, dia juga menghilang. Ayah telah melakukan segalanya untuk mencari, namun semuanya sia-sia." Jelas Markt.
"Kakak? Aku bahkan tidak tahu aku pernah mempunyai seorang Kakak. Menyedihkan sekali." Rivera menatap Ayah dan Ibunya dengan tatapan sedih sekaligus marah.
"Maafkan kami, kami hanya tak ingin siapa pun mengingat tentang kejadian buruk itu, makanya kami merahasiakannya darimu." Tambah Markt lagi.
Dengan lembut Carla meraih tangan putrinya lalu berkata, "Bunda mohon Rivera, mintalah yang lain. Kami tak bisa jika harus kehilangan lagi. Kerajaan kita dikelilingi oleh hutan berbahaya, di luar sana hanya ada makhluk-makhluk mengerikan yang bersembunyi dalam gelap. Tidak ada yang menarik." Ucap Bundanya sambil menitikkan air mata.
"Omong kosong. Tidak perlu sampai menangis jika hanya menceritakan omong kosong padaku. Aku tidak percaya lagi, aku tidak percaya apa pun yang kalian ucapkan. Bahkan aku baru tahu kalau aku punya Kakak setelah berusia 16 tahun! Kebenaran apa lagi yang kalian sembunyikan?" Rivera menghempas kasar genggaman bundanya, lalu sambil meneteskan air mata berlari menuju kamarnya. Beberapa pelayan mengikuti Rivera dari jauh untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.
"Bagaimana ini Yang Mulia..?" Carla menangis di pelukan Markt. Mereka berdua sangat sedih akan segala hal buruk yang menimpa mereka.
Sementara itu Rivera mengunci diri dalam kamarnya sambil meringkuk menangis tersendu-sendu. Beberapa pelayan Istana tampak heboh berusaha mengetuk pintu dan memohon agar sang Putri mau membukakan pintu kamarnya. Namun usaha itu tidak membuahkan hasil. Sang Putri tidak ingin mendengar apa pun lagi, ia hanya ingin keluar dari tempat yang terasa seperti penjara itu. Dengan tekad yang sudah bulat, malam itu juga Rivera berencana untuk kabur dari kastil melalui jendela berukuran besar yang ada di kamarnya.
Dilepasnya kain gorden berukuran yang sangat panjang, yang ada di kamarnya itu. Setelah dilepas, lalu diikatnya ujung gorden pada pilar di kamarnya dengan sangat kuat. Gorden dilempar ke luar jendela, beruntung gorden itu masih bisa terjuntai cukup dekat dengan tanah. Dengan hati-hati Rivera turun dari kamarnya menggunakan gorden hitam yang terjuntai itu. Setelah sampai di dasar, lebih tepatnya di luar kastil, Rivera langsung berlari ke arah halaman belakang Istana untuk mencari jalan keluar dari area Istana. Namun halaman belakang berbatasan langsung dengan hutan belantara, sehingga membuatnya sempat merasa ragu. Tetapi dari pada berdiam diri sampai ketahuan penjaga, Rivera langsung bergerak tanpa pikir panjang.
Krekk
"Siapa disana?!" Beberapa penjaga mendengar suara potongan kayu yang patah karena diinjak oleh seseorang.
'Sialan!' Batin Rivera yang sudah ketahuan. Namun ia tetap berlari menuju halaman belakang Istana.
"Yang Mulia Rivera!! Yang Mulia berhenti! ... Tolong berhenti Yang Mulia!" Teriak beberapa penjaga yang mengejarnya. Rivera terus berlari dan tidak memedulikan para penjaga itu. Tiba-tiba Rivera melihat sekilas sosok bayangan hitam yang seperti memanggil dirinya menggunakan isyarat tangan yang melambai-lambai. Rivera berlari ke arah bayangan itu.
"Tidak Yang Mulia! Jangan ke hutan!!" Teriak penjaga yang masih mengejar Rivera.
Rivera terus berlari, ia sedikit lega karena tidak lagi mendengar suara para penjaga yang mengejarnya. Tetapi sebenarnya para penjaga masih mengejarnya dari belakang, namun mereka berhenti saat melihat Putri Rivera sudah melewati pebatasan Istana dan memasuki hutan belantara. Cepat-cepat salah satu penjaga melaporkan kejadian kaburnya sang Putri pada Raja Markt dan Ratu Carla. Ratu Carla menangis sejadi-jadinya, sementara Raja Markt marah besar dan mengerahkan seluruh penjaga untuk mencari Putri malam itu juga.
Sementara di hutan yang gelap itu, Rivera ngos-ngosan berusaha menstabilkan napasnya yang tidak karuan. Matanya sibuk mencari sosok bayangan manusia yang dilihatnya tadi, namun sosok itu tak lagi dilihatnya. Tiba-tiba seorang wanita cantik layaknya seorang peri, muncul dari belakang Rivera, dan tangannya menyentuh lembut pundak Rivera. Rivera tersentak, lalu berbalik melihat ke belakangnya. Betapa terkejut dan kagum saat dirinya melihat ada seorang wanita yang sangat cantik bersamanya. Untuk pertama kalinya Rivera menunjukkan senyumannya pada orang yang sama sekali tidak dikenalnya.
"Mari ikut aku." Ajak wanita itu sambil tersenyum lembut.
'Bahkan senyumannya terlihat lebih tulus dari punya Bunda' Batin Putri itu.
"Jangan khawatir,ikuti saja langkahku. Meski ke puncak gunung yang tinggi atau lembah yang dalam sekali pun, akan kuberi segala yang kau impikan. Bukankah ini saat yang kau tunggu-tunggu?" Ucap wanita cantik itu lagi pada Rivera. Rivera kemudian tersenyum haru lalu menerima ajakan itu tanpa pikir panjang. Cukup lama mereka berjalan menyusuri hutan gelap itu, akhirnya mereka berhenti di suatu tempat.
‘Reruntuhan kastil? Untuk apa dia membawaku kemari?’ Batin Rivera bertanya pada dirinya sendiri.
“I-ini tempat tinggalmu?” Tanya Putri Rivera sedikit ragu.
“Bukan, aku tinggal di belakang runtuhan kastil ini. Mari… “ Jawab wanita itu, lalu ia kembali menuntun Rivera. Dan benar saja, ternyata ada rumah batu di balik runtuhan kastil tua itu. Rivera mengikuti langkah wanita misterius itu memasuki rumah batu yang cukup besar itu.
“Kau mau kemana?” Tanya Rivera saat melihat wanita itu hendak pergi ke ruangan lain.
“Duduk saja di sana, jangan khawatir.” Kata wanita itu menenangkannya. Suasana ruangan itu benar-benar terasa dingin dan mencekam, hanya ada beberapa lilin yang digunakan sebagai penerang di ruangan itu. Untuk menghilangkan ketakutannya, Rivera membuang jauh-jauh pemikiran buruknya dan memutuskan untuk melihat-lihat seisi rumah itu.
“Ng? Kenapa ruangan itu tidak tertutup rapat?” Tanya Rivera pada dirinya sendiri. Gadis muda itu kemudian berjalan mendekati satu pintu disana, untuk menutupnya. Tetapi saat akan menutup pintu itu, tak sengaja ia melihat sesuatu yang menarik di dalam sana. Sempat sedikit ragu untuk masuk ke ruangan itu, namun rasa penasarannya ternyata jauh lebih besar. Didekatinya pohon berukuran sedang dalam ruangan itu. Pohon itu terlihat sangat aneh karena tidak memiliki daun sedikit pun, namun hanya memiliki satu buah yang tampak bergantung pada rantingnya, buah itu berwarna hitam legam. Menyadari dan mengira kalau itu hanya buah biasa, ia bermaksud untuk memakannya. Apalagi perutnya sedang keroncongan saat ini karena sudah menghabiskan cukup banyak tenaga untuk sampai di tempat itu. Rivera melompat berulang kali untuk menjangkau buah itu, dan pada lompatan terakhirlah akhirnya buah itu didapatnya. Karena sudah lapar sekali, dengan lahap Rivera memakannya sampai tinggal tersisa bijinya saja.
Degg
Tiba-tiba jantung Rivera terasa sakit, dan dadanya sesak. Terdengan suara tawa bariton begitu jelas memenuhi ruangan itu. Dengan mata yang kian kabur, samar-samar Rivera melihat sosok monster besar yang muncul di sudut ruangan. Suasana ruangan itu terasa sangat dingin dan mencekam. Kemudian sosok besar itu mendekati Rivera dan mencekiknya, lalu sosok itu seperti tersedot ke dalam mulut Rivera. Setelah itu, semuanya kembali normal. Rivera terbatuk-batuk dan berusaha memuntahkan sosok yang masuk ke dalam mulutnya tadi, namun seberapa keras pun mencoba itu tidak berhasil. Beberapa saat kemudian, wanita cantik yang bersama Rivera tadi datang dan masuk ke ruangan yang sama. Rivera mencoba meraih tangan wanita itu, namun ia terkejut karena tiba-tiba wanita cantik itu berubah menjadi makhluk hitam, kurus, dan sangat tinggi. Mulutnya sangat lebar ketika tersenyum, dan matanya juga berwarna merah.
“Seharusnya aku tidak membiarkan dia memakan dirimu Tuan.” Ucapnya sambil melihat ke arah Rivera.
Tiba-tiba Rivera tersenyum menyeringai, matanya kini tampak berwarna merah terang. Lalu dengan suara bariton ia berkata, “Tak apa, setidaknya aku memiliki wadah baru sekarang. Ngomong-ngomong dia sangat mirip dengan anak yang terakhir kali datang ke tempat ini.” Ucap sosok yang sekarang merasuki Rivera.
“Apakah kali ini Terais nyaman Tuan?” Tanya makhluk “kutilang” yang menyeramkan itu pada sosok di tubuh Rivera.
“Ya, jauh lebih nyaman dari yang waktu itu.”
Tiba-tiba keadaan fisik Rivera kembali normal seperti semula. Tampaknya kesadaran Rivera sudah kembali. Lalu karena terkejut melihat makhluk aneh di hadapannya, ia segera lari pontang-panting meninggalkan tempat itu. Beruntung ingatannya sangat kuat, sehingga ia dapat menemukan jalan pulang menuju Istana Uytheranz.
“Rivera..!” Teriak Markt melihat putrinya yang berantakan dan sangat kelelahan.
Beberapa pengawal mengikuti Markt dan Carla yang berlari menghampiri Putri Rivera. Rivera tampak sangat kelelahan dan terhuyung di pangkuan sang Ayah. Beberapa pengawal dan dayang istana yang khawatir, terdengar memanggil-manggil nama Rivera.
“Apa? Namaku bukan Lily!” Ucap Rivera meninggikan suaranya.
“Lily? Tidak ada yang memanggilmu seperti itu nak.” Sahut Markt.
“Rivera sadarlah, mari ikut Bunda.” Ucap Carla sambil menitikkan air mata.
“Aku bukan Lily!!” Teriak Rivera lagi.
“Kenapa Putri Rivera selalu menyebutkan nama Putri Lily?” Ucap salah seorang dayang Istana yang juga berada di tempat itu.
“Hush, tidak baik memanggil-manggil nama orang yang sudah meninggal.” Ucap salah seorang dayang lainnya pada temannya tadi.
“Harusnya kau bilang itu pada Putri Rivera.”
“Apakah kalian tidak bisa bekerja dengan baik?!” Bentak Markt yang sudah tidak tahan mendengar nama kedua putrinya dipersoalkan. Kemudian Markt membawa Rivera ke dalam kastil. Saat berada di pangkuan Markt, mata Rivera kembali berwarna merah lagi lalu ia menyeringai. Setelah kejadian itu, Rivera tidak pernah berhenti berteriak mengatakan “Aku bukan Lily!” Tidak ada yang tahu apa penyebab Tuan Putri itu bertingkah aneh setelah kembali dari Hutan kelam itu.