"Abi mau tau sebelum umi shalat umi kemarin ngapain aja?" Tanya ali
"Sebelum umi pergi ya abi.." tanya asiyah dengan gemoy nya
"Hmm.. iya." Ali menahan air mata yg hampir jatuh, ia juga masih bingung kenapa mereka berdua tidak menanyakan kemana umi mereka dan seakan akan tidak terjadi pada mereka, ia hanya ingin tau apa yg dilakukan istrinya pada anaknya sebelum pergi hingga anaknya tidak sedih dengan kepergian dirinya
"Umi waktu itu bilang.." ucap asiyah
Flash Back
"Sayang.. kalau misalnya umi pergi dan ga pulang lagi kerumah ini kalian sedih ga?" kata Fathimah yg keadaanya agak lemah
"Engga umi, asiyah ga sedih.. kita kan pergi bareng jadinya gapapa.." jawab asiyah dengan polos
"Isa juga.. isa gak sedih, kita kan selalu sama sama, ya kan siya.." ucap isa kemudian memeluk uminya
"Hmm.. tapi, kalo umi perginya sendirian kalian sedih juga gak..?" Tanya fathimah dengan lembut sambil menahan tangisan
"Umi, mau pergi kemana?" Tanya isa
"Ya allah, rasanya berat sekali jika aku meninggalkan mereka, sedangkan mereka masih kecil, tapi aku sudah tidak kuat lagi ya allah.." batin fathimah
"Umi..!" Ucapan asiyah membuyarkan lamunan fathimah
"Umi kenapa melamun.. kata umi kan ga boleh melamun karena itu dari syaithan.." kata isa
"Subhāna allah, kalian emang anak umi yg paling pintar!" Ucap fathimah sambil menyubit pipi isa yg gembul karena gemez
"Ya allah, apakah aku akan meninggalkan mereka, rasanya tidak rela jika aku harus meninggalkan mereka. Ya allah berilah aku kekuatan, ya allah.." batin fathimah
"Umi.. umi mau ninggalin kita?" Tanya asiyah
"Anak umi yg paling pintar, dengar umi ya..!" Mereka berdua langsung menganggukinya
"Kalau misalkan umi udah pulang ke tempat asal umi kalian ga boleh ada yg sedih karena nanti umi sedih juga, dan kalian harus menjadi anak pintar bisa membanggakan abi sama umi, isa wa asiyah juga ga boleh ngerepotin abi kalau umi nanti ga ada yaah.. kalian harus menjadi anak yg mandiri..! meskipun suatu hari nanti umi sudah ga ada tapi umi selalu ada dihati kalian.." kata fathimah dengan lembut dan meneteslah air mata miliknya
Meskipun isa dan asiyah masih kecil namun ia mudah memahami perkataan uminya merekapun langsung mengangguki perkataan uminya
Fathimah yg melihat anak anak nya menganggukinya langsung memeluknya "umi bersyukur memiliki kalian!" Ucap fathimah
"Kita juga bersyukur karena allah memberikan ummi seperti umi" ujar isa masih dipelukan fathimah
"Ya sudah umi mau shalat dulu ya.." fathimah melepaskan pelukannya dan bangun dari duduknya "akhh.." fathimah memegangi perutnya
"Umi.. umi kenapa?" Tanya mereka berdua
"Umi, gpp cuma sakit perut doang.." ucap fathimah tersenyum
"Umi ga usah shalat dulu.. umi kan sakit, kata umi gapapa shalatnya tunda dulu kalai sakit.." kata asiyah
"Namun selama kita masih kuat untuk berdiri dan menggerakan anggota badan yg lainnya maka harus shalat..!" Tegur fathimah
"Ooh.." asiyah mengaggukinya
Fathimah pun memulai shalatnya meskipun merasakan sakit yg sangat pada perutnya namun ia tutupu karena takut anak anaknya khawatir
Dan pada sujud terakhirnya karena sudah tidak kuat akhirnya pingsan
Flash Back of
"Maa syaa allah.." Ali meneteskan air matanya dan memeluk mereka setelah mendengar penuturan cerita dari anak anaknya itu kerabatnyapun banyak yg menangis saat mendengar cerita dua anak itu, mereka bingung antara sedih atau bahagia
Karena sedih ditinggal fathimah dan juga bahagia karena dua anak itu sangat pintar mampu mengingat apa yg telah diucapkan uminya tersebut
"Abi.. abi kenapa nangis, kata umi ga boleh nangis nanti umi disana juga nangis kita ga mau kalau umi nangis" ucap asiyah kemudian mengusap air mata Ali
"Subhāna allah, terimakasih ya allah karena engkau telah memberikan anak yg sangat cerdas, dan aku sangat berterimakasih padamu fathimah karena telah mendidik anak kita sampai menjadi sekarang ini, aku akan selalu mengingatmu, 'sayang' " batin Ali kemudian mengeratkan pelukanya dengan isa dan asiyah
.......
"Umi akan selalu mengingatmu.. sayang, doakan umi selalu agar umi dimudahkan dalam siksa kubur" kata fathimah dialam lain