Sinar matahari pagi yang masuk melewati celah jendela besar membangunkan seorang putri yang sedang tertidur. Ia menggulingkan badannya menghadap arah sebaliknya dan mencoba melanjutkan tidur. Namun, ketukan pintu berhasil membuatnya bangun dengan perasaan yang buruk. Ingin rasanya ia memaki siapa saja yang telah menganggu tidurnya yang nyenyak. Bangun dengan sangat terpaksa dengan amarah yang memuncak.
"Selamat pagi Putri Amrylis sarapan sudah siap-"
"Berisik! jangan ganggu tidur aku! Bilang aja sama Ayah Ibu buat sarapan duluan."
"Tapi Putri,"
"Jangan kau perintahkan aku! Seorang pelayan sepertimu harusnya hanya bisa menurut pada majikannya, heh tak lebih seperti hewan peliharaan." Setelah mengucapkan itu pintu besar dengan kayu kualitas tinggi tertutup sangat keras hingga membuat pelayan itu terdiam. Dengan ekspresi tidak terbaca ia berjalan melewati kamar sang putri.
Panas matahari yang menyengat sekali lagi membuat sang putri terbangun dari tidurnya. Namun, kali ini dengan perasaan yang lebih baik. Ia mulai membersihkan dan merapikan dirinya. Lalu keluar dari kamar besarnya untuk menuju ruang makan.
"Kau baru bangun huh, seorang putri seharusnya bisa bersikap lebih baik lagi. Tidak meningkatkan suaranya dan berpenampilan anggun." Mendengar itu membuat Putri Amrylis menghentikan langkahnya. Ia memasang senyum palsu manisnya pada sang ayah. Ia langsung saja berjalan melewati ayahnya tanpa memedulikan apapun nasihatnya.
"Ah, aku baru ingat," Ia berbalik menyatukan tangannya di depan dan menegakkan badannya sebelum berbicara, "Ayah besok adalah hari spesial untukku, akhirnya setelah lama menunggu aku bisa mencapai umur ke 17. Tolong Ayah siapkan pesta yang meriah untukku ya."
Senyum manis mengembang di wajahnya, Ia membungkukkan tubuhnya sedikit sebelum berbalik dan pergi.
Langit sudah berubah warna menjadi jingga namun, belum ada tanda-tanda untuk mempersiapkan sebuah pesta. Hal itu membuat sang putri marah. Dengan tangan terkepal dan gigi bergemeletak mencoba menahan amarahnya, Ia berjalan menuju ruang utama di mana sang raja berada.
"Ayah! Bukankah aku sudah bilang untuk menyiapkan pesta yang meriah! Mengapa sampai sekarang belum ada persiapan apapun?!" Tanyanya dengan suara yang dinaikkan. Wajahnya telah memerah marah.
"Putri Amrylis turunkan suaramu! Bersikaplah seperti seorang putri teladan!" Dengan suara mengintimidasi sang raja mengingatkan. Namun, hanya menambah amarah di wajah sang putri. "Tidak ada pesta untuk besok, kau akan pergi ke suatu tempat. Ayah dan Ibu sudah merencanakan ini sebelumnya. Tidak ada pembatahan! Seorang putri harus menuruti perintah Ayah dan rajanya."
Tangan yang terkepal menjadi semakin erat, Ia hanya bisa pergi menuju ke kamarnya. Tidak peduli dengan makan malam, Ia hanya ingin mengurung diri di dalam kamar. Malam sudah larut dan waktunya untuk beristirahat. Tetapi Ia tidak bisa tidur karena perut yang kelaparan. Tiba-tiba saja pintu kamarnya terketuk, tanpa pikir panjang Ia langsung membuka pintu dan menampakkan sang pelayan sambil membawakan makanan.
"Hah! Kupikir tidak ada yang peduli jika aku makan atau tidak," Ia langsung saja menarik nampan makanan untuk dibawanya masuk. Tetapi pegangan pelayan itu terlalu kuat.
"Bolehkah saya masuk? Ada yang ingin saya bicarakan kepada tuan putri."
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanyanya, Ia duduk dengan nyaman di kasurnya dan dipangkuannya terdapat nampan makanan.
"Saya ingin pergi bersama tuan putri. Saya dengar jika Raja ingin mengirim tuan putri ke suatu tempat. Jadi saya-"
"Hah! Sebegitu mengabdikannya dirimu padaku sampai seperti itu. Bagus sekali memang seharusnya peliharaan sepertimu itu selalu tetap bersama majikannya." Ia berdiri lalu berjalan menuju pelayan yang sedang berlutut. Air mengalir dari rambut hitam sang pelayan, kaki kanan sang putri berada di bawah dagunya dengan senyum manis berkembang dan mata yang bersinar senang.
Pertengahan malam telah lewat, bulan purnama jelas terlihat tanpa ada awan yang menutupi. Suara kegaduhan dan teriakan membangunkan sang putri dari tidurnya. Dengan rasa penasaran Ia pergi mencari sumber suara itu. Betapa terkejutnya Ia setelah sampai di ruang utama. Ayahnya telah tergeletak tak berdaya dengan darah yang mengenang, begitu pula dengan para penjaga. Sepercik darah mengenai wajah cantiknya saat sang ibu berlari ke arahnya dan terbunuh di depan matanya.
"Pergi," lirih sang ibu sebelum ajal menjemputnya. Di depannya terdapat sesosok manusia dengan aura hitam sangat pekat. Ekspresi takut terlihat di wajahnya, secepat mungkin Ia segera berlari keluar istana. Namun, tanpa Ia sangka sosok itu sudah berada di depannya. Aura hitam mulai menguar dari tubuhnya. Sosoknya bagaikan malaikat pencabut nyawa di bawah sinar rembulan dengan mata yang menyala merah. Sosok itu mendekatinya, tiba-tiba saja sang putri tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.
"Tuan putri? Mengapa anda memasang wajah takut seperti itu? Ah, apakah anda berpikir bahwa saya akan membunuh Anda sama seperti orang-orang di dalam istana?" Sosok itu semakin mendekat dan aura hitam semakin pekat.
"Kenapa anda diam? Apa anda terlalu takut? Heh, tuan putri waktunya telah tiba takku sangka jika orang tua anda akan membawa anda pergi dariku. Keputusanku tepat untuk berpura-pura menjadi pelayan keluarga anda. Aku memang tidak bisa mempercayai manusia, mereka memang serakah. Aku telah menghidupkan anaknya dan jangan harap aku akan melepaskannya begitu saja." Ucapnya dengan suara mengejek yang mengintimidasi.
"Kau tau tuan putri aku menanggung perbuatan yang kau lakukan padaku agar aku bisa membalasnya dengan berpuluh kali lipat." Ditancapkannya sebuah benda tajam tepat di jantung sang putri. Teriakan keras mengisi kesunyian malam, dan sosok itu tersenyum sadis pada sang putri saat darah meninggalkan tubuhnya dan berpindah pada benda tajam di jantungnya.
"Hih, sudah kuduga bunga spider lily ini memang cocok untukmu tuan putri. Anda tidak perlu khawatir akan masuk neraka karena dosa yang anda perbuat. Karena jiwa anda akan tetap selalu bersamaku dan akan selamanya menjadi budakku." Ucapnya lalu mengambil bunga di jantung sang putri dan pergi menghilang di kegelapan malam.