Di sebuah kastil megah di tengah hutan kering nan tandus. Hiduplah seorang putri cantik jelita, bermata unik, berambut panjang dan berwarna silver. Gaun sutra panjang dan indah selalu dikenakannya. Seorang putri malang yang harus tinggal terpisah dari keluarganya, terpisah karena kekuasaan.
Soleia de Sofia Forasting, begitulah nama Putri malang itu. Semua orang membencinya, tatapannya yang terlihat seakan-akan kosong itu, banyak yang mengira ia sedang mengutuk orang-orang yang melihat kearahnya. Warna matanya berwarna merah sangat mencolok. Kulitnya putih pucat dengan bibir kemerahan. Banyak rumor jelek tentangnya.
Suatu ketika di malam ketika ia mencapai kedewasaannya, ia menemukan ruang tersembunyi di bawah tanah kastil megah itu. Ruangannya terkunci dengan kuat. Tuan putri Soleia menemukan ruangan itu saat ia sedang berpetualang menjelajahi kastil untuk menghibur dirinya. Tak satupun pelayan istana yang peduli dengannya, meskipun malam itu adalah hari ulang tahunnya ke delapan belas. Meskipun begitu, Soleia memiliki pelayan yang sangat setia dan sabar kepadanya, namanya Annie yang merawatnya sejak kecil.
Soleia membuka paksa ruangan rahasia itu dengan menarik gagang pintu yang keras dan berkarat tersebut. Nampaknya pintu tersebut juga sudah terlihat rapuh dan kemudian gagang pintu itu terlepas, Soleia mendorong pintu itu sekuat tenaga. Tubuh rampingnya itu terhempas ke dalam ruangan rahasia itu, Soleia tersentak kaget dan segera menutup sedikit pintunya.
Di dalamnya tampak banyak debu dan sarang laba-laba. Banyak barang-barang yang tertutup kain putih maupun hitam. Cahaya bulan memasuki ruangan tersebut melewati jendela kecil di sisi atas temboknya.
"Sepertinya ini gudang?" Ucap pelan Soleia yang kemudian menutup hidungnya dengan lengannya.
Ia kemudian berjalan perlahan, semakin masuk kedalam ruangan tersebut. Ruangan lembap dan gelap itu terasa menyeramkan. Sang putri hanya merasa penasaran dan terus bergerak, lalu membuka kain satu persatu yang menutupi barang-barang yang ada pada ruangan itu.
Sebuah lukisan berbingkai emas dibalik kain hitam menunjukkan lukisan potret. Dua orang pria tergambar di sana. Salah satu seorang pria berambut silver, bermata hitam tampak duduk dan mengenakan pakaian resminya. Dan pria lainnya mengenakan pakaian setelan serba hitam, rambutnya hitam bergelombang dan matanya berwarna biru tua, bak lautan dengan pantulan cahaya bulan. Pria yang duduk itu tampak memegang sebuah pedang ditangannya.
"Apa mungkin ini pendahuluku? Kenapa lukisan ini berada disini?" Tanya Tuan Putri sambil terus memandangi lukisan potret itu.
Hawa dingin menyelimuti seluruh ruangan tersebut. Perasaan aneh bercampur panik serta waspada menyelimuti Soleia. Ia kemudian bergegas untuk segera keluar dari ruangan tersebut. Ia berlari kecil dan kemudian tersandung sebuah benda.
"Aduh! ah... sakit sekali. Apa ini yang menyandung kakiku?" Kata Soleia yang meringis kesakitan kemudian ia melihat suatu benda yang tergeletak di lantai. Benda itulah yang menyandung kakinya.
"Huh? apa ini? Sebuah pedang?" ucapnya lagi seraya mengambil pedang beserta sarungnya yang cukup berat itu.
Tanpa basa-basi lagi, Soleia tidak mempedulikan asal-usulnya dan membawa pedang itu pergi bersamanya keluar dari ruangan lembap tersebut. Ia berjalan cepat sambil menyembunyikan pedang ditangannya. Seluruh pelayan sudah tidak ada yang berlalu-lalang, menyisakan beberapa penjaga yang menjaga kastil. Soleia berjalan dan berhati-hati, ia mengendap-endap. Saat sampai di kamarnya ia segera menutup pintu rapat-rapat. Terdengar suara berdeham.
"ekhemm.." deham seorang wanita yang mengenakan pakaian pelayan. Itu adalah Annie.
Soleia yang melihatnya hanya bisa tersenyum dan meletakkan telunjuknya di bibir sebagai arti diam.
"Tuan Putri! Anda kemana saja! Sudah saatnya Anda tidur, hari sudah larut. Saya khawatir, saya sudah menyiapkan air hangat untuk membasuh wajah Anda" Ucap Annie kepada Tuan Putri dihadapannya dengan nada khawatir.
"Terimakasih Annie, hanya kau yang baik padaku" Peluk Soleia ke Annie.
Annie hanya tersenyum dan memeluk kembali Tuan Putri nya itu. Ia kemudian menyadari sebuah pedang yang dibawa oleh Tuan Putri.
"Apa yang Anda bawa, Tuan Putri? Kenapa anda membawa pedang? atau Jangan-jangan Tuan Putri ingin membero-" belum selesai Annie berbicara mulutnya sudah di tutupi oleh telapak Tuan Putri Soleia.
"shhhh... Annie diamlah! Apa yang bisa Putri malang dengan kutukan ini lakukan sendirian untuk itu..." Lanjut Sang Putri.
Annie hanya mengangguk tanda paham dan kemudian Soleia melepaskan tangannya dari wajah pelayanannya itu. Setelah itu, Soleia memerintahkan Annie untuk tidak membicarakan hal ini dan segera kembali ke tempat istirahatnya. Sang Putri telah mengganti pakaiannya dengan gaun tidurnya yang berwarna putih sepanjang lutut.
Setelah Annie pergi, Soleia membuka tirai kamarnya menatap kearah bulan purnama besar dengan mata merahnya lalu memejamkan matanya.
"Aku tak mau menjadi Putri malang lagi, mereka menjauhiku karena penampilan ini. Meskipun hanya putri ke lima dari Raja tirani itu, dia berani membuangku ke kastil pendahuluku. Dan kini, aku hanya menunggu untuk mati di sini? Tentu saja aku tak mau! Aku hanya putri yang terlahir dari selirnya. Meskipun begitu, ibuku sebenarnya dari keluarga hebat sebelum tirani itu menuduhnya sebagai penyihir hanya karena percaya dengan selir favoritnya. Sungguh memuakkan!" Pikir Soleia panjang saat memejamkan matanya.
Setelah hal itu, Soleia mengalihkan perhatiannya ke arah pedang yang dibawanya tadi dari ruangan lembap tersebut. Ia kemudian berjalan mengambil pedang tersebut. Ditariknya pedang itu dari sarungnya, karena tak berhati-hati pedang itu sedikit menggores ibu jari Soleia yang kemudian mengeluarkan darah merah lalu mengalir ke mata pedang. Sebuah cahaya terang menyilaukan mata mengagetkannya dan membuatnya terjatuh dan terduduk diam seraya memejamkan matanya.
"Sudah berapa lama ini sejak dari 'orang' itu memanggilku?" Sebuah suara tiba-tiba terdengar.
Soleia membuka matanya perlahan dan melihat sosok tinggi di hadapannya. Seorang pria dengan rambut hitam, mata biru tua seperti pada lukisan yang dilihatnya tadi. Pria itu menggunakan setelan serba hitam.
"Ah! Siapa kau? Kenapa bisa ada disini?" Seru Tuan Putri ketakutan.
"Aku? Apa 'orang' itu tidak pernah memberitahu keturunannya?" Pria itu kembali bertanya dan terlihat bingung sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Kau yang dikirimkan Putra Mahkota untuk membunuh ku, ya kan?" Tanya Tuan Putri panik.
Pria bermata biru itu memegang pedang dan mengacungkan ujungnya ke arah Soleia sambil berjongkok dan tersenyum licik.
"Aku tak akan membunuhmu sebelum kau memberikan sebuah perintah padaku. Lalu aku bisa ambil jiwamu sebagai pertukaran. Begitulah kontrak yang dibuat moyangmu, Miss Contractor" Ucapnya yang kemudian menyingkirkan ujung mata pedang dari tubuh Soleia.
"Apa maksudmu, kontrak?" Tanya Soleia berhati-hati.
Pria tampan bermata biru itu tertawa kecil dan menjawab pertanyaan dari Tuan Putri tersebut,
"Kau bisa menyuruhku apapun, tidak terbatas sampai kau mati. Kontrak kita akan berakhir saat kau mati dan Jiwa mu akan menjadi milikku. Aku adalah Iblis dari Neraka, saat ini panggil aku Diavolo, Nona kontraktor" Bisik Pria bermata biru itu di telinga kanan Soleia.
Soleia yang diam dan mendengarkan penjelasan dari iblis bernama Diavolo itu kemudian membuka mulutnya dengan berani,
"Kau benar akan mengabulkan permintaan ku?" Tegas Soleia.
"Tentu saja, nona. Lihatlah rambut silver dengan mata merahmu itu. Itulah ciri khas keluargamu, mereka yang membuat perjanjian dengan Iblis. Tunjukkan kebangganmu nona. Mereka hanya iri padamu karena tidak mempunyai hal seistimewa dirimu..." Hasut Diavolo kepada Sang Putri.
Setelah mendengar itu, Soleia mengepalkan tangannya dan bertekad. Ia kemudian tersenyum dengan aura yang berbeda. Ia terlihat lebih kuat dan berani.
"Aku ingin balas dendam, Diavolo" Ucap Sang Putri dengan keyakinan penuh.
Diavolo kemudian tersenyum bahagia dan menarik perlahan tangan kanan Soleia seraya berlutut. Kemudian, Diavolo mencium punggung tangan dekat ibu jari Soleia pelan, lalu setelahnya ia menatap kearah mata merah Soleia dan memandangi wajahnya.
"As you wish my lady" Ucap Diavolo.
"Just obey me! Berapapun harganya, meski itu nyawaku atau jiwaku, aku akan memberikannya untukmu Diavolo! Bantu aku membalaskan dendam keluarga ku yang di hancurkan oleh tirani itu" Kata Tuan Putri Soleia sambil mencium pipi Diavolo singkat.
"Kontrak dan permintaan pertama terlah resmi, segel di punggung tanganmu adalah buktinya. Jiwamu dan tubuhmu adalah milikku, Soleia O Sole Mio Princess..." Ucap Diavolo yang kemudian bersiap menjalankan perintah dari Sang Putrinya dengan aura membunuh disekitarnya. Ia kemudian hilang dalam asap hitam.
Soleia yang melihatnya tidak lagi merasa takut, ia sangat bertekad untuk membalaskan rasa sakitnya selama ini dan memikirkan agar dapat duduk di tahta kerajaan itu. Ia tersenyum licik dan terlihat bahagia.
"Hahahahahahaha" Tawanya di malam hari.
. . .
E N D