"Jika kau bisa membebaskan ku dengan mantra itu, maka aku bisa mengabulkan satu permintaan mu."
..........
Di suatu kerajaan yang amat jauh, hiduplah seorang putri yang bernama Aarethya. Dia tinggal di suatu kastil yang megah, bersama dengan ayah dan ibu tirinya, serta puluhan pelayan kerajaan.
Meskipun begitu, Putri Aarethya tidak hidup dengan bahagia. Dikarenakan, hampir separuh wajahnya terdapat bekas luka yang cukup parah, bahkan tabib kerajaan tidak bisa mengatasi nys. Dikarenakan dia dulu pernah disiram dengan air panas oleh ibu tirinya sendiri. Dia sangat membenci putri Aarethya. Sehingga, dia banyak mendapatkan bully-an dari teman-teman seusianya dari kerajaan lain. Kini, di usianya yang beranjak dua puluh satu tahun, belum pernah ada satu pun pangeran yang bersedia untuk meminangnya.
"Hiks.. hiks.. kenapa mereka membenciku? Aku hanya ingin bahagia.." ucap Putri Aarethya sambil menangis. Saat ini, dia berada di perpustakaan kerajaan yang sangat sepi, tidak ada orang di situ selain dirinya. Tiba-tiba..
Bruk!
Ada sebuah buku tebal yang terjatuh dengan sendirinya. Padahal sebelumnya buku itu di letakkan dengan benar. Putri Aarethya segera menoleh ke arah sumber suara, kemudian berjalan ke arah buku itu. Dia melihat-lihat isi buku itu, hingga pada akhirnya dia menemukan sebuah peta dan juga mantra.
"Hah? Apa ini? Kolam cermin yang dapat mengabulkan permintaan.. Siapa yang membaca mantera ini saat bulan purnama di kolam itu, maka permintaan mu akan terkabul? Apa ini benar? Cara untuk mengetahui kebenaran nya adalah dengan mencoba! Baiklah, nanti malam bulan purnama, aku akan kesana sendiri." ucapnya dengan bertekad.
.....................................................................................
Malam harinya, Putri Aarethya menyelinap ke luar kastil untuk mencari kolam cermin. Dia terus berjalan mengikuti petunjuk di peta. Lumayan jauh, dari kastil berjarak sekitar lima kilometer. Hingga setelah berjalan sekitar dua jam tanpa henti, Putri Aarethya akhirnya menemukan kolam cermin yang dimaksud. Kolamnya cukup indah, jernih, dan terdapat beberapa bunga teratai yang terapung di permukaan nya.
"Jadi.. ini adalah kolam cermin?" tanya nya. Kemudian, dia berjalan mendekati kolam itu. Dia melihat pantulan wajahnya di. Jika melihat di pantulan nya, wajahnya sangat cantik. Tidak ada bekas luka di wajahnya.
"Hah, apa.. ini benar-benar aku?" tanya putri Aarethya. Dia duduk di pinggir kolam itu, kemudian menyentuh air kolam itu. Dan di wajahnya, kembali terdapat bekas luka.
"Kau ingin wajah cantik mu kembali? Jika kau bisa membebaskan ku dengan mantra itu, maka aku akan mengabulkan satu permintaan mu." suara itu terdengar sayup-sayup. Putri Aarethya memandang ke tengah-tengah kolam.
Di sana, ada seseorang yang berdiri di tengah-tengah kolam itu. Dia menggunakan jubah berwarna hitam polos, wajahnya tertutup oleh tudung jubah itu. Orang itu kemudian berjalan ke arah putri Aarethya.
"Siapa kau?" tanya putri Aarethya. Orang itu berada tepat di depan putri Aarethya, kemudian dia membuka tudung nya.
"Nanti aku akan memberi tau mu. Baca dulu mantra mu itu, kemudian aku akan mengabulkan permintaan mu. Nanti, baru aku beritahu siapa aku sebenarnya." ucapnya pada putri Aarethya.
"B.. Baiklah.." kemudian, putri Aarethya segera membaca kan mantra yang terdapat di peta. Setelah putri Aarethya membacakan mantra, orang itu sudah berdiri di daratan di pinggiran kolam.
"Terima kasih, sekarang apa permintaan mu?"
"Aku ingin luka di wajahku ini bisa menghilang."
"Baiklah, permintaan mu sudah terkabul."
"Apa? Benarkah?"
"Ya, kalau tidak percaya, silahkan bercermin di kolam."
Setelah itu, putri Aarethya kembali melihat pantulan wajahnya di permukaan air kolam. Luka-luka di wajahnya benar-benar menghilang! Saat dia menyentuh air di kolam itu, tidak ada yang berubah. Dia masih belum percaya. Dia pun memegang kulit wajahnya, benar-benar mulus.
"Bagaimana, kau sudah percaya?" tanya orang itu. Putri Aarethya mengangguk, kemudian bertanya.
"Tapi, siapa kau sebenarnya?" tanya putri Aarethya setelah berdiri kembali.
"Aku, aku adalah..." ucapnya menggantung, sambil membuka tudung jubah nya dan menampakkan wajahnya. Kulit dan bola matanya berwarna merah, terdapat tanduk di kepalanya.
"Hah?! Jangan-jangan kau adalah ras Demon!" ucap putri Aarethya terkejut setelah melihat makhluk di hadapannya.
"Ya, aku adalah keturunan terakhir dari ras Demon. Mereka telah menyegel ku selama delapan abad. Dengan ini, aku telah bebas! Terima kasih wahai tuan putri b**oh!" ucap Demon itu, kemudian segera menghilang entah kemana.
...................................................................................
Pagi harinya, putri Aarethya sudah berada di kastil, tepatnya dia berada di kamarnya. Dia sedang berbaring di atas tempat tidurnya.
"Hah.. apa kejadian semalam itu hanya mimpi?" ucapnya lirih setelah terbangun.
"Tuan Putri! Tuan Putri!" ada salah satu pelayan kerajaan yang memanggil putri Aarethya sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar putri Aarethya. Dia pun membukakan pintu.
"Ada apa?" tanya putri Aarethya dengan nada biasa.
"Itu tuan putri, ada yang mencarimu. Pangeran tertampan di negeri ini, dia datang untuk meminang mu."
"Sungguh?! Yang benar saja!" ucap putri Aarethya tidak percaya.
"Saya tidak bohong tuan, saat ini pangeran sedang bersama raja."
.......................................................................................
"Ah! Aarethya, akhirnya kau datang juga." ucap sang raja senang, ketika melihat kedatangan putrinya.
"Maaf membuat anda menunggu." ucap putri Aarethya sambil menunduk.
"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan untuk menunggu mu." ucap sang pangeran sambil tersenyum ramah.
"Jadi, anda adalah putri Aarethya?" tanya pangeran.
"I.. iya." jawab putri Aarethya sedikit gugup.
"Namaku Giorge, dari kerajaan sebelah. Kau cantik sekali. Bersedia kah kau menjadi istri ku?" tanya sang pangeran sambil mengulurkan tangannya ke arah putri Aarethya. Putri Aarethya menatap ayahnya.
"Keputusan ada di tanganmu, Aarethya." jawab sang raja mengerti dengan tatapan putrinya.
"Iya, saya bersedia."
....................................................................................
Sudah sebulan sejak pangeran Giorge meminang putri Aarethya. Kini, mereka telah hidup bersama. Sudah satu bulan sejak ada perubahan di wajah putri Aarethya, kini kejadian yang tak terduga pun di mulai.
Malam hari saat bulan purnama, ada yang aneh dengan pangeran Giorge. Wajahnya yang tadinya tampan, berubah menjadi menyeramkan, seperti orang yang sedang marah.
"A.. ada apa dengan mu?" tanya putri Aarethya khawatir.
"Menyingkirlah!" teriak pangeran Giorge. Putri Aarethya terpaksa mundur beberapa langkah.
Ada yang aneh lagi, suara pangeran Giorge berubah menjadi lebih berat dan menyeramkan. Dia memegangi kepalanya dengan tangan kanannya. Tampak, dia juga sedang menahan rasa sakit. Bola matanya yang sebelumnya berwarna coklat, berubah menjadi warna merah.
"AAAAAAAAAAAAHHH!" teriak pangeran Giorge yang membuat putri Aarethya semakin khawatir dan juga bingung. Dia pun mencoba untuk memeluk sang pangeran supaya lebih tenang, tapi..
PLAK! Pangeran Giorge telah menepis, tidak.. bahkan setengah memukul tangan putri Aarethya.
"Hahahaha! Kau.. masih ingat dengan ku?" tanya pangeran Giorge, bukan! Bukan pangeran, tapi..
"Hah?! Jangan-jangan kau adalah.."
"Ya, aku adalah iblis yang telah kau bebaskan sebulan yang lalu." jawabnya. Dalam hati, putri Aarethya takut, bingung, dan juga terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
"A.. a.. apa yang telah kau lakukan pada pangeran?!"
"Pangeran? Hah, aku telah membinasakannya."
"Apa?"
"Haha! Terima kasih karena telah membebaskan aku dari segel si***n itu. Aku telah menipu mu dengan menggunakan tubuh si pangeran lemah itu. Sekarang, aku akan menghancurkan kerajaan ini!"
"Tidak boleh! Kau tidak boleh melakukan itu! Akulah yang telah membebaskan mu, maka biar aku saja yang kau hancurkan, jangan mereka!" putri Aarethya berusaha tegar, dia mengepalkan tangannya.
"Hah, baiklah. Hiyaa!" si iblis pun mencekik leher putri Aarethya sambil menampakkan senyum liciknya.
"Ugh! Kenapa.. kenapa aku begitu egois? Aku hanya memikirkan diriku sendiri dan membahayakan banyak orang. Ayah.. jangan maafkan putrimu yang egois ini!" batin putri Aarethya, dia merasa sangat menyesal telah melakukan hal itu sebulan yang lalu.
Lama-kelamaan, cengkram si iblis menjadi lebih kuat, putri Aarethya semakin tidak bisa bernapas. Dan pada akhirnya, putri Aarethya meninggal di tangan si iblis licik.
~Tamat~
...................................................................................
Note :
- Cerita ini hanya fiksi. Ambil baiknya, buang buruknya.
- Maaf kalo ada kesamaan nama tokoh.
Semoga terhibur^^