Devilla, gadis manis terduduk diam di ranjang lusuh punya nya. Dia sambil mengusap air matanya dan mencoba menenangkan hatinya saat ini.
Waktu sudah jam 23.44wib.dia menanti Kim. Lelaki yang baru saja menikahinya sebulan ini. Seharusnya ia bahagia menyandang sebagai pengantin baru. Namun tidak yang di rasakan oleh Devilla.
Tiap malam ia ditinggalkan oleh suaminya entah urusan apa, suaminya hanya bilang soal kerjaan. Itu saja.
Devilla merasa tidak betah dirumah kecil bertembok kan bambu itu. Mirip seperti gubuk di tengah sawah. Mereka memang hidup dalam kemiskinan. Dan kini Devilla merasakan keduanya. Miskin harta dan miskin kasih sayang.
Hiks..
Tangis Devilla makin menjadi. Semilir angin masuk ke dalam rumah kecil yang sudah reot tersebut. Ada perasaan takut di dalam hatinya. Namun Devilla tidak memperdulikan nya. Rasa hatinya lebih men dominan saat ini.
Devilla ingin memejamkan matanya. Namun ia tidak bisa. Ia tidak bisa tertidur jika Kim belum pulang.
Kriiiiieeetttt.....
Suara pintu kayu yang nampak di buka. Kim akhirnya pulang dengan baunya yang khas. Bau tubuh yang sangat Devilla sukai.Ia selalu pulang dengan bau perfum tersebut.
Kim terlihat masuk kedalam kamar dan melihat Devilla yang meringkuk tanpa selimut. Padahal malam itu cukup dingin.
Kim sudah mengira kalau istrinya sudah tertidur dan ia tidak ingin mengganggunya. Kim pun langsung tidur di samping istrinya tanpa menyelimuti nya terlebih dahulu.
Selang beberapa menit sudah terdengar dengkuran dari mulut Kim. Dia sudah terlelap. Sementara Devilla masih tidak dapat memejamkan matanya sedikitpun. Ia semakin resah di buatnya.
Devilla terbangun dan memandangi raut wajah suaminya. Ia memang mencintai lelaki itu namun lelaki itu tidak mengerti dan terkesan cuek.
Devilla berjalan keluar dari kamar. Ia membuka pintu rumah kecil itu. Terasa sangat sepi karena ini sudah lewat tengah malam. Apalagi desa ini tidak banyak penghuninya. Karena letaknya sangat terpencil dan jauh dari kota.
Devilla memandangi jalan yang nampak sepi. Entah kenapa Devilla ingin mengikuti arah jalan itu. Jalan kecil yang menanjak yang selama ini tidak begitu di perhatikan oleh Devilla.
Angin malam terasa sangat menusuk, namun langkah Devilla tidak terhenti. Dan dia melihat sebuah mata air dan di sampingnya terdapat pohon yang sangat besar dan rimbun.
Devilla membasuh tangannya dengan mata air tersebut. Namun ia seolah merasakan sesuatu yang datang dan mendekatinya dari belakang.
Bulu kuduk nya merinding dan Devilla mencoba menoleh untuk melihat siapa yang datang. Alangkah terkejutnya ia melihat sosok serba hitam yang berdiri tepat di belakangnya itu.
"Si.. Si.. Siapa kau? " Tanya Devilla terbata
"Aku penghuni tempat ini. Siapa kamu manusia?? Malam malam datang mengganggu waktu tidurku? " Tanya makhluk itu menggema
"Aku tidak bermaksud mengganggumu.. " Kata Devilla membela diri
"Kamu disini dan mencuci tanganmu dengan mata airku. Suara gemericik itu membangunkanku.. " Kata makhuk itu
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu. Maafkan aku... " Pinta Devilla tertahan
Makhluk itu semakin mendekati Devilla terpaksa gadis itu mundur dan basah bajunya terkena mata air itu. Dan makhluk itu semakin mendekatinya.
"Apa maumu? " Tanya Devilla
"Mauku? kamu ingin tahu mauku? " Tanya makhluk itu semakin mendekat kepada Devilla
Devilla merasa takut melihat makhluk itu namun ia tetap berusaha tenang menghadapi nya.
"Tinggallah disini bersamaku.. Temanilah hidupku yang sepi ini. Jadilah ratu ku.. " Ucap makhuk tersebut
Devilla tersentak kaget mendengar permintaan makhluk besar itu. Mana mungkin ia hidup dengan penghuni pohon besar itu.
"Kenapa? Kamu lebih memilih hidup dengan lelaki yang tidak menyayangimu itu! Kamu akan tersiksa sepanjang hidupmu. Tinggallah disini di istana ku kamu akan bahagia, berkecukupan dan tidak akan kurang kasih sayang.. " Ucapnya lagi
Devilla termenung mendengar ucapan makhluk itu. Ia tertarik namun ia teringat suaminya. Ia tidak ingin meninggalkan suaminya sendiri. Ia amat mencintanya.
Dalam hatinya memanggil manggil nama suaminya. Devilla berharap suaminya akan datang menolongnya saat ini. Devilla terus menerus memanggil nama itu. Dan tiba tiba Kim benar benar datang. Dia datang tepat di belakang makhluk besar dan hitam tersebut.
"Jangan ambil istriku.. Dia milikku! Kamu tidak berhak mengambilnya dariku!! " Kata Kim keras dan tegas
Makhluk besar itu menoleh dan menyerigai ke arah Kim lalu seperti mengejek.
"Untuk apa? Relakan saja dia pergi. Bukankah kamu juga tidak mencintainya. Dia datang disini karena kamu selalu mengabaikannya. Kamu mengacuhkannya. Biarlah dia disini menjadi permaisuri ku.. " Kata Makhluk tersebut
Kim tersadar mendengar perkataan makhluk itu. Ia baru sadar kalau selama ini ia tidak begitu memperhatikan istrinya. Ia tersadar.
Kim memandangi istrinya yang terjatuh ke mata air tersebut. Iba rasa hatinya. Wajah istrinya pucat, biasanya ia selalu berseri sering melayani setiap keperluannya. Ia tidak sanggup kalau harus kehilangan Devilla saat ini.
"Bertahanlah disitu sayang. Aku akan mengalahkan makhluk ini.. " Ucap Kim mantab
Devilla mengangguk. Sementara Kim sebenarnya tidak tahu akan berbuat apa. Adu kekuatan pun tidak mungkin. Kim pasti akan kalah. Sementara makhluk itu tersenyum sinis menunggu Kim melancarkan aksinya.
Tiba tiba terdengar lah suara adzan subuh yang menggema. Makhluk itu nampak gelisah dan menutup kupingnya dengan kedua tangannya.
"Acchh...! Sialann...! Panas...! " Jerit makhluk itu dan melemah lalu perlahan menghilang dari pandangan kedua manusia itu
"Tunggu pembalasanku manusia.. Aku belum kalah! Aku akan datang lagi untuk menuntut balas... " Terdengar suara menggema itu di awang awang
Suara makhuk besar dan mengerikan tersebut. Kim tidak memperdulikan. Ia terus menghampiri istrinya dan menariknya untuk keluar dari mata air itu dan Kim mendapatkannya.
Kim memeluk dengan erat istrinya dan sangat erat meskipun Devilla dalam keadaan basah.
"Maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu. Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya. Aku mencintaimu.. " Ucap Kim sambil mencium kening istrinya.
Devilla tersenyum dan membenamkan kembali kepalanya di dada suami yang sangat ia sayangi itu. Ia merasakan kenyamanan yang selama ini ia dambakan.
"Ayo kita pulang. Kita langsung pindah ke rumah baru kita. Aku sudah membeli rumah di kota sana. Kamu tidak akan lagi kesepian dan aku tidak akan lagi meninggalkanmu terlalu lama. Nanti aku malah kangen.. " Kata Kim
"Benarkah?? Kita pindah?? " Tanya Devilla tak percaya
"Iya sayang. Selama ini aku bekerja sampai malam agar bisa segera membeli rumah yang layak untuk kita dan calon anak anak kita nanti.. " Kata Kim
Devilla mengangguk. Ia sangat bahagia.
"Kita pulang. Biarkan aku gendong kamu.. " Kata Kim lalu menggendong istrinya
Tawa bahagia itu tercipta diantara keduanya. Semoga ini selamanya...
End
-