Tokoh-tokoh lain dalam cerita ini:
1. Yoon Doojoon 'Highlight'; ㅡSunbae-mu di kampus.
2. Lee Junyoung (Jun) 'U-Kiss'; ㅡSahabat karibmu yang baru kembali dari Jepang.
3. Ji Hansol 'Newkidd'; ㅡCinta pertamamu semasa sekolah.
4. Heo Chan 'Victon'; ㅡSeorang chef sekaligus teman kecilmu.
Title: Sweet Psycho
***
"Terima kasih Sunbae, seharusnya Sunbae tidak perlu repot-repot mengantarkan saya pulang."
"Tidak perlu berbicara seperti itu, aku merasa senang karena bisa mengantarmu pulang. Lagi pula hari juga sudah malam, tidak baik wanita pulang sendirian malam-malam seperti ini."
Sunbae-mu yang bernama Yoon Doojoon itu tersenyum sambil mengusak pelan rambutmu, membuatmu tiba-tiba terkejut dengan perilakunya dan langsung mengarahkan pandanganmu ke arah kanan atas, takut-takut jika 'dia' memergoki dirimu sedang dibelai oleh lelaki lain.
Napasmu tercekat, dan kamu pun hanya bisa menggigit bibir bawahmu karena apa yang kamu takutkan benar-benar terjadi. Dari jendela apartemenmu, kamu bisa melihat seseorang sedang tersenyum miring, dan setelah itu lelaki tersebut menutup tirai dan menjauh dari jendela.
Kamu bergegas berlari masuk ke dalam apartemenmu setelah berpamitan dengan Doojoon, dan suara rendah seseorang langsung membuat bulu kudukmu meremang ketika kamu baru saja menapakkan kakimu masuk ke dalam apartemen.
"Siapa dia?"
Kamu menunduk dalam-dalam sambil menggeleng pelan, takut jika lelaki itu akan marah meskipun kamu sudah berusaha menjelaskannya dengan jujur. Kamu pejamkan kedua matamu ketika lelaki tersebut semakin mendekat kepadamu, dan kamu terkejut ketika tangan kekarnya merengkuhmu ke dalam pelukannya.
"Kenapa diam? Apa sesulit itu untuk mengatakan dia siapa, hmm?"
"Buㅡbukan begitu, aku hanya takut kamu tidak akan memercayai ucapanku. Dia hanya seniorku di kampus. Aku sudah menolaknya ketika dia menawariku tumpangan, tetapi dia terus memaksa. Maafkan aku."
Lelaki tersebut melepaskan pelukannya, lalu menatapmu dalam-dalam sambil tersenyum tipis. Kamu heran, tumben sekali lelaki yang notabene-nya adalah calon suamimu sendiri ini tidak marah seperti biasanya.
Kamu pun memilih ikut tersenyum, merasa ada kelegaan di dalam hatimu karena sepertinya calon suamimu ini benar-benar sudah berubah.
"Seungwoo..."
"Hm?"
"Kamu... tidak marah?"
"Mengapa aku harus marah? Aku sudah berjanji untuk berubah, bukan? Tetapi memang ada satu hal yang harus kamu lakukan agar aku tidak benar-benar marah denganmu. Sekarang pergilah mandi, buang baju yang kamu kenakan ini, dan keramaslah... agar sentuhan lelaki itu tidak menempel pada rambutmu. Aku tidak suka melihat lelaki itu mengusak rambut tunanganku seperti tadi."
Senyummu mendadak luntur. Sudah seharusnya kamu tidak perlu merasa sesenang ini karena perubahannya. Seungwoo tetaplah seperti ini, sejak kamu mengenalnya dulu hingga sekarang.
Hanya saja, ia tidak seaneh dahulu ketika kamu baru berpacaran dengannya. Seungwoo memang tidak suka melihatmu dekat dengan lelaki lain, meskipun lelaki itu adalah sepupumu sendiri.
Sepertinya memang ada yang salah dengan kesehatan mental dan psikologisnya, namun kamu berusaha membuang jauh-jauh pemikiran tersebut karena pekerjaan Seungwoo terbilang sangat mulia.
Dan juga setelah kejadian kelam satu tahun yang lalu, Seungwoo memang sudah berjanji untuk berubah. Dan kamu pun dengan mudahnya memaafkan dia, karena kamu akui kamu sudah benar-benar mencintainya terlalu dalam. Lebih tepatnya sudah dibutakan oleh cinta.
"Baiklah..."
"Setelah itu tidurlah denganku. Maaf karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, sampai aku tidak bisa meluangkan banyak waktu untukmu. Besok juga aku harus pergi pagi-pagi sekali karena jadwalku sangat padat. Maafkan aku, sayang."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti dengan tuntutan pekerjaanmu itu. Kalau begitu aku mandi dulu."
Seungwoo mengangguk dan membiarkanmu pergi setelah ia memberikan kecupan singkat pada keningmu, dan setelah itu ekspresi di wajahnya berubah menjadi dingin. Seungwoo bergegas masuk ke kamar, dan mengambil sesuatu di dalam brangkas rahasianya miliknya.
Apartemen mewah yang kamu tempati bersama Seungwoo saat ini memang sepenuhnya milik Seungwoo, dan ia memang memaksamu untuk tinggal bersamanya setelah kalian resmi bertunangan 6 bulan yang lalu. Itupun setelah kamu benar-benar memastikan bahwa Seungwoo memang sudah sepenuhnya berubah.
Sebenarnya Seungwoo ingin segera menikahimu, tetapi ia paham jika kamu ingin menyelesaikan kuliahmu terlebih dahulu, sehingga Seungwoo harus bersabar sebentar lagi agar ia bisa segera memilikimu seutuhnya.
Seungwoo hanya takut kamu akan berpaling darinya, dan hal tersebut yang membuatnya selalu marah ketika kamu berdekatan dengan pria lain selain dirinya.
Seungwoo memang terobsesi denganmu, dan kamu pun sudah terbiasa dengan hal itu. Kalian berdua sebenarnya sudah berpacaran selama empat tahun, tepat ketika saat itu kamu baru berstatus sebagai mahasiswa baru.
Kamu bertemu pertama kali dengannya di rumah sakit, tempat di mana Seungwoo bekerja. Saat itu kamu sedang menjenguk temanmu yang sedang sakit, dan kebetulan dokter yang menangani temanmu itu adalah Seungwoo.
Kamu jatuh cinta pada pandangan pertama pada dokter tersebut, karena kamu terpukau dengan wajah Seungwoo yang sangat tampan. Dan dengan kelembutan sikap sekaligus tutur katanya kepada para pasiennya, membuatmu memilih untuk mendekati Seungwoo sampai akhirnya kalian resmi berpacaran.
"Sudah lama aku tidak melakukan hal ini. Dan sepertinya aku harus melakukannya lagi. Maaf Nana, aku melakukan ini semua semata-mata karena aku sangat mencintaimu."
***
Kamu saat ini tengah berada di restoran khas Jepang milik Chan, temanmu semasa kecil yang sudah sukses sekarang. Chan adalah seorang chef yang memiliki lisensi sebagai chef handal dari Jepang, dan restoran miliknya ini memang khusus menyediakan menu-menu makanan yang berasal dari negeri sakura tersebut.
Jika kamu sedang senggang dan suntuk dengan skripsimu yang tidak kunjung selesai itu, kamu pasti akan menghabiskan waktu di tempat ini. Tanpa sepengetahuan Seungwoo tentunya.
Lagi pula jika siang hari seperti ini kamu yakin Seungwoo juga tidak akan tahu kegiatanmu, dan untungnya saja Chan juga bisa diajak bekerja sama karena Chan sendiri tahu jika sang dokter bernama Han Seungwoo itu sangat terobsesi dengan teman semasa kecilnya ini.
Terlebih Chan juga sudah tahu segalanya tentang dirimu, jadi kamu pun sudah kelewat nyaman dan dengan mudahnya berbagi cerita tentang Han Seungwoo kepadanya.
"Mau makan apa nona? Sepertinya nona kelihatan sedang stress akhir-akhir ini."
"Biasalah Chan, revisiku banyak, membuatku rasanya ingin menyerah saja. Oh ya, kebetulan sekali aku belum makan pagi tadi. Aku sejak dulu penasaran ingin mencoba menu makanan termahal yang ada di sini. Apa itu namanya? Ehm, hirazake. Boleh aku mencobanya?"
"Apa kamu yakin bisa membayar makananmu itu? Harga satu porsi *hirazake setara dengan 1,7 juta, Nana. Aku tahu kamu tidak sekaya itu. Kecuali kalau Seungwoo yang membayarnya, baru aku percaya."
*Hirazake merupakan menu makanan Jepang yang biasa tersedia di restoran kelas atas. Terdiri dari olahan ikan Torafugu (jenis ikan buntal yang sangat beracun), kemudian diolah menjadi sashimi yang diiris sangat tipis, dan disajikan bersama tempura dan sake panas.
Kamu hanya mencibir perkataan Chan yang terlihat sedang mengejekmu itu. Kamu memang tidak kaya, tetapi sejak dulu kamu selalu penasaran dengan makanan yang diolah dari ikan paling beracun itu.
Sudah tahu beracun, namun kamu tetap penasaran ingin mencobanya. Lagi pula Chan terkenal sangat handal karena memang hanya chef khusus saja yang bisa mengolah ikan beracun yang bernama fugu itu.
Dan proses belajarnya pun butuh waktu dua sampai tiga tahun hanya untuk bisa mengolah ikan tersebut dengan benar. Tetapi Chan pasti tetap tidak akan mau menyajikan makanan itu kepadamu meskipun kamu bisa membayarnya. Chan sudah menganggapmu sebagai adiknya sendiri, jadi kamu sangat paham dengan tingkahnya yang terkadang sangat protektif itu.
Usia kalian kebetulan terpaut 6 tahun ㅡChan seumuran dengan Seungwooㅡ, meskipun demikian kamu tetap saja menganggapnya seperti teman seusiamu karena kalian memang sudah akrab sejak kecil.
"Aku buatkan sushi dan ramen saja, ya? Kamu tahu bukan kalau hidangan itu dari ikanㅡ"
"Beracun. Iya aku tahu, sudah seribu kali kamu mengatakan hal itu kepadaku. Tetapi tetap saja aku penasaran dengan rasanya."
"Apa kamu pernah mendengar desas-desus pembunuhan dengan menggunakan racun dari ikan fugu yang disuntikkan pada badan korban?"
"Kenapa tiba-tiba membahas pembunuhan? Cepat sajikan makananku, aku lapar!"
"Untung aku sabar menghadapimu. Jika tidak, mungkin kamu sudah kuracuni dengan racun ikan fugu!"
Chan terlihat hanya mengomel sambil berlalu ke dapur untuk mempersiapkan makan siang untukmu. Untung saja kamu adalah teman dekatnya, jika tidak, mungkin saja Chan akan memberikan hidangan dari ikan torafugu itu tanpa diolah kepadamu, seperti yang ia katakan tadi.
Tahu sendiri apa akibatnya bukan? Jika tidak diolah dengan benar, orang yang memakan ikan tersebut akan langsung meninggal karena racunnya yang bahkan lebih mengerikan 200 kali dibandingkan racun sianida.
***
"Seungwoo? Kamu sudah pulang?"
Kamu terkejut ketika mendapati tunanganmu itu tengah sibuk dengan masakannya di dapur. Padahal hari masih sore, tidak biasanya Seungwoo sudah pulang. Apalagi ia adalah seorang dokter, seharusnya saat ini ia masih berada di rumah sakit untuk merawat pasiennya.
"Kenapa, sayang? Apa kamu tidak suka jika aku pulang lebih awal?"
"Buㅡbukan begitu."
Lagi-lagi kamu merasa seperti mati kutu ketika berhadapan dengan Seungwoo. Meskipun kalian sudah bertunangan, tetap saja kamu masih merasa canggung dan takut dengannya. Takut jika sewaktu-waktu sikap Seungwoo kembali berubah.
Seungwoo menghela napas perlahan sambil mematikan kompornya. Kemudian lelaki itu berjalan mendekat ke arahmu, dan langsung memeluk erat dirimu dari belakang.
"Sayang, kenapa aku merasa akhir-akhir ini kamu seperti takut denganku? Apa aku berbuat salah? Apa kamu masih meragukanku?"
"Hㅡhah?"
"Yoon Doojoon menghilang. Katanya semalam ia sempat terlihat meminta tolong sambil menggedor-gedor pintu apartemen tetangganya."
"Dengar-dengar juga Sunbae kita itu sempat berteriak jika ada seseorang yang mau membunuhnya."
"Lelaki yang membawa Doojoon Sunbae sangat susah teridentifikasi lewat CCTV karena ia memakai jubah hitam dan topeng. Namun di tangannya ada jarum suntik. Entah jarum suntik itu berisi racun atau bukan, yang pasti polisi berkata jika kasus ini sama dengan kasus satu tahun yang lalu."
"Oh, kasus menghilangnya seorang mahasiswa bernama Ji Hansol setelah ia menghadiri acara reuni sekolahnya, bukan? Yang bahkan sampai sekarang polisi saja belum menemukan dimana keberadaannya? Menyeramkan sekali. Kita bahkan tidak tahu sekarang ia masih hidup atau sudah meninggal."
"Kalau benar ini kasus yang sama, kasihan Doojoon Sunbae. Lelaki berjubah hitam dengan topeng itu saja sampai saat ini belum berhasil ditangkap, bahkan motif penculikan dan mungkin pembunuhan yang dilakukannya juga belum jelas."
"Nana... Song Nana? Hey!? Kamu melamun, hmm?"
Kamu tersentak kaget ketika Seungwoo menggigit pipimu untuk menyadarkanmu dari lamunan. Kamu hanya menjawab seadanya, dan berkata jika kamu sedang lelah akibat revisi yang tak kunjung selesai.
Padahal ada banyak pertanyaan yang menggantung dalam pikiranmu. Pasalnya kamu tadi tidak sengaja mendengarkan obrolan kakak tingkatmu ketika kamu sedang menunggu dosen pembimbingmu.
Awalnya kamu tidak peduli dengan obrolan mereka, namun ketika nama Yoon Doojoon dan Ji Hansol disebut-sebut, mau tak mau kamu jadi ikut menguping pembicaraan mereka.
Ji Hansol, merupakan cinta pertamamu yang setahun lalu datang ke reuni sekolahmu. Kalian menghabiskan waktu bersama dengan mengobrol santai, tetapi Seungwoo salah sangka dan mengira jika cinta lama kalian bersemi kembali.
Dan di malam setelah acara reuni kalian selesai, kamu melihat Hansol dibawa pergi oleh seorang lelaki berjubah hitam dan bertopeng. Kamu tahu benar orang yang cemburu itu adalah Seungwoo, namun kamu hanya mengira jika Seungwoo menyuruh orang lain untuk menculik Hansol.
Ya, malam itu Seungwoo memang menjemputmu dan sempat melihatmu sedang asyik mengobrol dengan Hansol, lalu tiba-tiba ia harus izin dan menyuruhmu untuk pulang dengan taksi karena Seungwoo berdalih ada pasien gawat darurat yang harus segera ia tangani.
Kejadian satu tahun yang lalu itulah yang membuatmu takut untuk melanjutkan hubunganmu dengan Seungwoo. Lelaki tersebut memang bak malaikat bagi orang lain, namun seringaiannya yang kamu lihat malam itu benar-benar tidak seperti Han Seungwoo yang kamu kenal.
Setelah kamu paksa untuk jujur, Seungwoo hanya mengaku jika ia menyuruh orang lain untuk memberi pelajaran kepada Hansol, dan berjanji untuk membebaskan Hansol.
Kamu mengira Seungwoo sudah membebaskan Hansol ketika itu dan tidak membicarakan mantanmu lagi agar Seungwoo tidak marah, namun obrolan dari kakak tingkatmu tadi membuatmu kembali mencurigai Seungwoo. Tetapi kamu juga belum bisa memastikan apakah Doojoon memang diculik oleh orang yang menculik Hansol satu tahun lalu atau tidak.
'Semoga saja orang dibalik jubah hitam dan topeng itu bukan Seungwoo. Aku percaya Seungwoo-ku bukan orang sejahat itu. Pasti orang lain, pasti.'
"Seungwoo, boleh aku istirahat sekarang? Kepalaku benar-benar pusing."
"Baiklah. Ayo, aku temani tidur."
'Aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku, Nana.'
***
"Hai Nana? Akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi setelah beberapa tahun berpisah. Tidak sia-sia aku menunggumu di depan gerbang kampus fakultasmu pagi ini. Apa kabar? Ku lihat kamu semakin cantik saja, hehe."
Lee Junyoung, atau yang biasa kamu panggil Jun, tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba muncul di hadapanmu. Jika kamu sedang tidak bersama Seungwoo, mungkin kamu akan langsung memeluk sahabat karibmu yang baru pulang dari Jepang itu.
Jun memang memilih untuk melanjutkan kuliahnya di Jepang, namun selama ini kamu tidak pernah putus komunikasi dengannya. Hanya saja kamu akan menghubunginya ketika diluar jangkauan Seungwoo, karena jika ketahuan, Seungwoo pasti akan marah besar.
Namun kini kondisinya berbeda, kamu pagi ini kebetulan diantar oleh Seungwoo ke kampus, dan tentunya Seungwoo langsung terdiam sambil menatap tajam lelaki jangkung itu ketika ia ikut turun dari mobil. Kebiasaan Seungwoo ketika mengantarmu ke kampus adalah ikut masuk dan akan mengantarmu sampai ke dalam, seperti pagi ini.
"Eh, aㅡaku baik, hehe. Kamu kapan kembali dari Jepang?"
"Baru semalam. Karena aku ingin memberikan kejutan untukmu, jadi aku muncul tiba-tiba seperti ini. Oh, yang mengantarmu ini pasti tunanganmu itu, bukan? Hai, aku Jun. Sahabat dari tunanganmu. Maaf karena saat kalian bertunangan aku tidak bisa datang karena kuliahku yang padat. Senang berkenalan denganmu."
Jun mengulurkan tangannya pada Seungwoo sambil terus berbicara. Tipikal sahabatmu itu memang agak sedikit cerewet, tetapi kamu betah berteman dengannya karena sifatnya yang mudah berbaur itu. Seungwoo hanya membalas uluran tangan Jun seadanya, lalu langsung menarik tanganmu untuk menjauh dari lelaki itu.
"Cepat temui dosen pembimbingmu. Setelah selesai bimbingan langsung kabari aku."
Kamu melirik sekilas pada Jun yang hanya bengong, dan kini tatapanmu beralih pada Seungwoo yang sudah terlihat berbeda. Sorot matanya sangat dingin, wajahnya yang tadi berseri kini terlihat suram, dan kamu takut jika Seungwoo akan melukai sahabatmu yang tidak tahu apa-apa itu.
"Seungwoo, kamu tidak akan melukaiㅡ"
"Masuk, Song Nana! Ibu dosen pembimbingmu sepertinya sudah menunggumu. Perlu aku menarikmu sampai ke ruangan dosen, hmm?"
Suara rendah Seungwoo membuatmu benar-benar takut. Kamu hanya mengangguk dan langsung berlari ke ruangan dosenmu, padahal sebenarnya saat ini kamu sedang mencari tempat persembunyian karena kamu ingin melihat apa yang akan Seungwoo perbuat kepada sahabatmu.
Keadaan kampus yang masih sepi membuatmu bisa dengan jelas melihat jika Seungwoo mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Kamu menutup mulutmu dengan kedua tangan ketika Seungwoo menyuntikkan sesuatu di tubuh Jun dengan cepat, bahkan satu dua orang yang lewat sama sekali tidak menyadari apa yang sedang terjadi.
Seungwoo dengan senyuman manisnya menawarkan Jun tumpangan karena kamu bisa melihat sahabatmu itu mulai menunjukkan reaksi yang aneh. Setelah mobil Seungwoo pergi, kamu segera mencari taksi dan mengikuti mereka dari belakang.
Saat ini kamu tengah berada di hutan, mengikuti kemana Seungwoo membawa Jun yang sudah tak sadarkan diri sambil berjalan terengah-engah. Entahlah, kamu tidak tahu Jun masih hidup atau tidak. Pikiranmu kelewat kacau, dan untungnya saja tadi sopir taksi yang kamu tumpangi tidak bertanya lebih jauh alasan kamu mengikuti seseorang hingga masuk ke dalam hutan.
Kamu bersembunyi di semak-semak ketika Seungwoo merebahkan Jun di dekat sebuah pohon yang besar. Kamu nyaris hilang akal ketika kamu melihat apa yang dilakukan Seungwoo kepada sahabatmu itu. Tunanganmu itu mengais tanah untuk mengambil pisau yang ia simpan di hutan, lalu mulai memutilasi tubuh sahabatmu.
Airmatamu turun dengan deras, kamu menutup mulutmu rapat-rapat dan menangis dalam diam, sulit rasanya bagimu untuk memercayai apa yang kamu lihat sekarang. Tunanganmu yang kamu pikir adalah seorang dokter berhati malaikat, ternyata adalah seorang pembunuh. Bahkan kamu bisa melihat ada jubah hitam dan topeng yang berada di satu tempat bersama dengan pisau yang ia kubur.
"Maafkan aku, Nana. Maafkan aku! Aku memang berdosa karena telah membunuh semua lelaki yang pernah dekat denganmu. Aku cemburu, aku terobsesi denganmu. Dan aku benci ketika orang lain menyentuhmu ataupun tersenyum manis kepadamu. Aku takut kamu akan pergi meninggalkanku karena aku tidak seperti mereka. Aku mencintaimu, Nana. Rasa cintaku sangat besar sampai-sampai aku tidak bisa mengendalikan perbuatan kejiku ini."
Kamu terkejut setengah mati. Seungwoo berdiri dan berjalan menuju tempat persembunyianmu, dan ia hanya tersenyum pilu sambil memegang pisau yang masih bersimbah darah. Kamu melirik sekilas tubuh sahabatmu yang sudah hancur dan terpisah-pisah itu, dan kamu pun berjalan mundur ke belakang karena ternyata Seungwoo mengetahui jika kamu sedari tadi melihat aksinya.
"Seungㅡseungwoo..."
"Apa sekarang kamu takut denganku? Kalau kamu bertanya apa aku membunuh mereka, ya... aku membunuh mereka. Ji Hansol, Yoon Doojoon, dan Jun. Aku membunuh mereka karena aku cemburu, dan aku menyuntik mereka dengan menggunakan racun dari ikan buntal. Berkat temanmu yang bernama Chan itu, aku jadi memiliki ide untuk menggunakan racun mematikan tersebut dan menyuntikkannya di tubuh mereka. Setelah itu aku membawa mereka kemari dan memutilasi mereka, lalu mengubur potongan bagian tubuh mereka di tempat yang berbeda-beda. Ya, aku lah lelaki berjubah hitam dengan topeng yang selama ini dicari oleh polisi. Aku orangnya. Aku seorang pembunuh, dan aku hanya berlindung di balik snelli putihku untuk menutupi jiwa psikopat dalam diriku. Aku jahat Nana, aku orang jahat. Kalau kamu ingin melaporkanku kepada polisi, lapor lah sekarang juga. Sebelum aku membunuhmu."
***
"Ikan ini mengandung racun neurotoksin bernama tetrodotoksin yang mengganggu sel saraf. Efek tetrodotoksin dari ikan buntal bisa dirasakan penderitanya dalam 10 hingga 45 menit atau tiga hingga enam jam usai terpapar. Paparan tetrodotoksin juga bisa menyebabkan kematian dalam 20 menit hingga 24 jam usai terpapar."
"Efek tetrodotoksin pada tubuh manusia sendiri terjadi dalam dua tahap. Tahap pertama biasanya terjadi dalam waktu kurang dari delapan jam. Sementara itu, tahap kedua biasanya terjadi dalam hitungan hari. Pada tahap pertama, paparan tetrodotoksin dapat menyebabkan mati rasa dan munculnya sensasi kesemutan atau tertusuk pada bibir dan lidah."
"Sensasi kesemutan akan menjalar di bagian wajah dan berkembang menjadi sakit kepala, sensasi ringan atau mengambang. Penderita juga mengalami pengeluaran keringat yang banyak, salivasi atau keluarnya air liur, mual, dan muntah. Bahkan, paparan tetrodotoksin bisa menyebabkan diare, sakit perut, kesulitan bergerak atau disfungsi motorik, tubuh terasa lemas dan pegal-pegal serta kesulitan bicara."
"Pada tahap kedua, jika tidak segera ditangani, efek tetrodotoksin bisa menyebabkan penderita mengalami kelumpuhan yang menjalar di seluruh tubuh hingga otot-otot pernapasan. Penderita juga bisa mengalami kesulitan bernafas atau sesak nafas yang dalam istilah medis disebut dengan *dyspnea."
"Tetrodotoksin juga bisa menyebabkan *disritmia atau *aritmia, tekanan darah abnormal, melebarnya pupil atau *midriasis. Bahkan, paparan tetrodotoksin bisa membuat penderita mengalami koma, kejang, henti pernapasan hingga kematian."
Seungwoo menarik napas panjang setelah menjelaskan mengenai racun dari ikan buntal kepada para polisi yang saat ini tengah menginterogasinya sebagai dokter yang memiliki hubungan denganmu dan juga Chan.
Memang ketika di hutan itu kamu menelepon polisi, dan dengan airmata yang terus menetes, kamu malah menyebutkan nama Heo Chan sebagai pembunuh, bukannya Seungwoo yang jelas-jelas saat itu sedang berdiri di hadapanmu dengan menggenggam pisau yang berlumuran darah.
Ini semua kamu lakukan setelah kamu membaca pesan Chan sebelum kamu melihat aksi pembunuhan yang dilakukan oleh Seungwoo di hutan.
Setelah kamu mengetahui semuanya, segera telepon polisi, dan katakan bahwa aku adalah dalang di balik ini semua. Ikuti saja perintahku, jika kamu dan Seungwoo ingin selamat. Aku akan menjelaskannya nanti.
"Jadi berdasarkan bukti-bukti yang kami temukan, Heo Chan, anda kami tangkap atas kasus pembunuhan terhadap korban JH, YD dan LJ."
Kamu hanya terdiam sambil mengepalkan tanganmu kuat-kuat ketika para polisi memborgol Chan dan membawanya pergi. Chan hanya melihatmu dan Seungwoo sekilas, lalu ia tersenyum hangat. Lelaki itu bahkan sama sekali tidak membencimu meskipun kamu melaporkannya sebagai pembunuh.
"Sayang, maafkan aku. Maaf karena semua bukti pembunuhan itu ada pada Chan, termasuk juga semua sidik jari yang ditemukan di tubuh korban adalah sidik jari milik Chan. Ini semua murni permintaannya, karena aku selalu melaporkan semuanya pada Chan. Dari mulai rencanaku yang ingin meracuni mereka, sampai ketika aku berhasil membunuh mereka. Maafkan aku, sayang. Maaf karena aku hanyalah seorang pengecut yang hanya bisa bersembunyi di balik topeng."
Kamu hanya terdiam dan terus menatap kepergian Chan. Setelah Chan pergi, kamu pun segera membuka sepucuk kertas yang diberikan oleh Chan padamu ketika para polisi tadi tengah mendengarkan penjelasan Seungwoo, lalu kamu baca isi tulisan Chan dalam surat tersebut sambil berurai airmata.
Jaga Seungwoo baik-baik. Jangan tinggalkan dia, Nana. Aku tahu dia bisa berubah. Biarkan aku yang menebus semua kesalahan Seungwoo karena memang aku yang memberitahunya tentang racun itu. Polisi lebih mudah memercayainya karena disini hanya aku yang mendapatkan izin dan lisensi untuk mengolah ikan beracun tersebut. Aku akui, akulah yang menyuruh Seungwoo untuk menghabisi siapapun yang menghalangi hubungan kalian, kecuali aku. Dia tidak akan bisa membunuhku, karena aku sedarah dengannya. Nana, tolong rawat Seungwoo baik-baik selama aku pergi. Ku harap kamu bisa menyembuhkan mental Seungwoo yang sakit. Ku harap setelah aku bebas nanti, kalian sudah hidup bahagia.
Kamu menghapus bekas airmatamu dan tertawa dengan keras, membuat Seungwoo kebingungan dengan tingkah anehmu ini.
"Seungwoo, bagaimanapun dirimu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku bangga karena kamu telah melenyapkan mereka semua. Lebih baik, sekarang kita fokus dengan masa depan kita. Teruslah berpura-pura jika semua ini hanya mimpi yang tidak pernah nyata."
Kamu tersenyum manis sambil membelai wajah mulus milik Seungwoo, dan Seungwoo hanya mengangguk sambil mengecup bibirmu dengan cepat.
'Dan aku akan merahasiakan hal ini darimu selamanya. Rahasia tentangku yang selalu memasukkan obat khusus pada minumanmu untuk memunculkan jiwa psikopat dalam dirimu, sampai pada akhirnya kamu berani untuk membunuh mereka semua. Jika kamu terobsesi denganku, akupun lebih terobsesi lagi terhadapmu, Han Seungwoo.'
ㅡ FIN ㅡ
Ket.:
Dyspnea = kesulitan bernapas atau napas terasa berat.
Disritmia, Aritmia = gangguan yang terjadi pada irama jantung. Detak jantung menjadi tidak normal, berdetak tidak beraturan, detaknya terlalu cepat atau bahkan terlalu lambat.
Midriasis = keadaan dimana pupil mata membesar.