Title: Hostaged
***
Dor!!!
"Keluar dari persembunyianmu, dan menyerahlah!"
Suara tembakan yang berasal dari sebuah pistol milik seorang polisi tengah mengejutkanmu yang ketika itu sedang disekap di ruang bawah tanah.
Netramu menangkap seorang lelaki di sudut ruangan yang tengah bergerak gusar sambil menggigiti ujung kukunya. Kedua kaki lelaki tersebut bahkan tidak bisa diam. Sejak suara pistol itu terdengar jelas di telinganya, ia berjalan mondar mandir sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Alasannya sangat sederhana. Ia takut jika polisi mengetahui keberadaan dirinya dan kemudian menangkapnya.
"Seungwoo..."
"Diam! Suaramu bisa terdengar oleh mereka!"
Suara lelaki bernama Seungwoo itu terdengar tidak begitu keras dan setengah berbisik, namun ada ketegasan di dalamnya. Membuatmu hanya bisa mengangguk untuk menuruti perintahnya.
Kamu bahkan tidak diikat seperti korban penculikan pada umumnya, karena Seungwoo tahu kamu tidak akan kabur sebelum Seungwoo sendiri yang melepaskanmu.
"Aku akan membantumu menjelaskan semuanya kepada para polisi itu. Aku tahu kalau bukan kamu pelakunya. Jadi mohon, bebaskan aku sekarang, Han Seungwoo."
Kamu berjalan mendekat dan menyentuh pundak lelaki itu dengan lembut, berharap kali ini Seungwoo mau mendengarkanmu.
"Tidak! Tidak bisa! Aku tidak mau berpisah denganmu, Nana! Aku takut jika aku masuk penjara dan berpisah denganmu dalam waktu yang lama. Intinya, aku tidak mau polisi menemukan keberadaan kita."
Kamu kehabisan akal. Sudah berkali-kali kamu mencoba untuk berbicara dan bernegosiasi dengan Seungwoo, namun lelaki itu tetap tidak memercayai perkataanmu.
Pasalnya kamu sudah terlalu lelah dengan semua ini. Bayangkan saja, sudah hampir kurang lebih tiga bulan ㅡatau mungkin lebihㅡ kamu disekap oleh seseorang yang bernama Han Seungwoo itu, hanya karena sebuah kesalahpahaman.
Namun, ada satu hal aneh yang terjadi diantara kalian berdua. Selama kamu disekap dan tinggal berdua dengan Seungwoo, benih-benih cinta ternyata telah hadir di antara kalian berdua. Kalau dalam dunia psikologi, kalian berdua sama-sama mengalami sindrom yang cukup langka.
Sindrom Stockholm dan Sindrom Lima.
Sindrom Stockholm sendiri merupakan respons psikologis, di mana dalam kasus-kasus tertentu para sandera penculikan menunjukkan tanda-tanda kesetiaan kepada penyanderanya tanpa memedulikan bahaya atau resikonya. Mereka secara emosional menjadi menyayangi penyandera, bahkan membela mereka.
Sedangkan sindrom Lima adalah kebalikan dari sindrom Stockholm, di mana justru penyandera yang memiliki ketertarikan emosional terhadap sanderanya. Penyandera menjadi lebih simpatik, dan bahkan merasa membutuhkan sanderanya.
Seperti yang sedang dialami oleh Seungwoo sebagai sang penyandera dan kamu sebagai korban dalam kasus penculikan ini. Entah siapa duluan yang mulai jatuh cinta. Intinya, kalian berdua kini bahkan sudah meresmikan hubungan aneh kalian dalam sebuah hubungan yang sering disebut oleh anak muda sebagai 'pacaran'.
"Sial! Pasti dia yang sudah membocorkan keberadaanku kepada polisi."
"Dia? Dia siapa? Apa kamu mencurigai adikku?"
"Bukan. Bukan Song Yuvin. Tapi saudara kembarku."
"Han Seunghwa?"
"Ya. Aku tahu dia adalah orang yang sangat licik. Dia pasti menyuruh suruhannya untuk memberikan alamat tempat ini kepada polisi. Sialan!"
Kamu tahu mengapa Seungwoo berkata seperti itu tentang Han Seunghwa. Karena penculikanmu pun pada awalnya juga karena kesalahpahaman dirimu yang mengira bahwa Han Seungwoo adalah Han Seunghwa, si pembunuh berantai berdarah dingin.
Kebetulan memang profesimu adalah sebagai seorang reporter. Dan kebetulan selanjutnya, atasanmu memang menyuruhmu untuk mencari tahu tentang Han Seunghwa yang sedang menjadi buronan sekaligus selalu menghiasi topik utama di berbagai stasiun televisi.
Setiap stasiun televisi menjadi berlomba-lomba untuk memberitakan tentang Seunghwa, menjadikan mereka mati-matian untuk mencari info tentang si pembunuh yang bahkan selama bertahun-tahun ini tidak terendus oleh polisi karena kelihaiannya dalam menghilangkan jejak.
Dan karena kamu adalah seorang reporter baru di sebuah stasiun televisi swasta, membuatmu hanya bisa menuruti perintah atasan agar kamu tidak dipecat dari kantor karena ketidakbecusanmu itu. Membuatmu pada akhirnya bertemu dengan Han Seungwoo secara tidak sengaja.
Dan bodohnya, kamu mengira jika Han Seungwoo yang saat itu baru bekerja di kafe langgananmu adalah sang buronan. Padahal Han Seungwoo hanyalah saudara kembar dari Han Seunghwa.
Karena Seungwoo takut kamu tidak memercayai ucapannya dan malah melaporkannya kepada polisi, pada akhirnya kamu pun disekap olehnya.
Kamu yang memang kelewat polos itu tetap kekeuh jika Seungwoo adalah si pembunuh, sampai akhirnya sosok yang sebenarnya itu muncul tepat di hadapanmu beberapa hari setelah kamu diculik oleh Seungwoo.
Han Seunghwa muncul di hadapanmu, dan yang masih kamu ingat dengan jelas dari si pembunuh itu adalah tatapannya yang dingin dan menusuk, serta seringaiannya yang tajam.
Dan dari situlah kamu baru bisa membedakan jika memang bukan Seungwoo yang sedang dicari oleh polisi karena kasus pembunuhan, melainkan Seunghwa.
"Nana, sepertinya kita harus pergi dari sini diam-diam. Aku tidak mau tertangkap karena aku tahu mereka pasti tidak akan percaya padaku jika aku bukan Seunghwa."
"Seungwoo, kali ini saja, tolong percaya padaku. Biarkan aku menelepon Yuvin, dan aku akan membantumu untuk menangkap pelaku yang sesungguhnya. Sudah saatnya saudara kembarmu itu ditangkap, agar kamu bisa hidup tenang tanpa bayang-bayangnya."
***
"Argh! Lepaskan aku!"
Kamu terus meronta-ronta dan berusaha melepaskan diri dari lelaki yang saat ini tengah menarik rambutmu dengan keras. Kepalamu terasa berdenyut, mungkin saja sebentar lagi kamu akan pingsan karena tidak kuat menahan rasa sakitnya. Matamu mulai berair, namun kamu masih bisa melihat dengan jelas jika ada sosok Yuvin, adikmu, tengah berada di tempat yang sama denganmu saat ini.
Awalnya kamu tadi memang menelepon Yuvin setelah Seungwoo menyetujui usulmu untuk meminta bantuan adikmu, dan kalian berhasil kabur dari polisi dengan bantuan Yuvin yang berdalih jika dirinya mengetahui lokasi Han Seunghwa yang sebenarnya.
Namun nyatanya kalian hanya mampu kabur beberapa menit saja, karena Han Seunghwa menangkap kalian dan ia kini membawa kalian berdua ke tempat persembunyiannya. Dan Yuvin hanya diam mematung, diam menyaksikan kalian berdua yang disiksa oleh Seunghwa.
"Haha, berani-beraninya kalian berdua kabur. Meskipun kalian berhasil lolos dari kejaran polisi, kalian tidak akan pernah bisa lolos dari tanganku. Dan kamu, cantik... kamu harus mengikuti keinginanku jika kamu masih ingin kekasihmu itu hidup. Bagaimana, hmm?"
Seunghwa tersenyum miring sambil membisikkan kalimat tersebut tepat di samping telingamu. Wajahnya benar-benar identik dengan Seungwoo, hanya saja tatapannya lebih mengerikan daripada kekasihmu. Sedangkan Seungwoo, lelaki itu memiliki tatapan yang teduh dan menenangkan, meskipun kamu baru menyadarinya saat ini.
Kamu merasa menyesal karena tidak memercayai ucapan Seungwoo selama lelaki itu terus berusaha menjelaskan semuanya kepadamu. Dan akibatnya, kamu sekarang harus berurusan dengan pelaku yang sebenarnya, pelaku yang membuatmu hampir saja dipecat dari kantor karena kamu tidak bisa menemukan jejaknya.
"Cepatlah jawab, sayangku! Kalau kamu mau mengikuti kemauanku, aku tidak akan membunuh saudara kembarku sendiri."
Seunghwa merasa kehilangan kesabaran karena kamu tak kunjung menjawab pertanyaannya. Ia lalu menarikmu dengan kasar, dan membenturkan kepalamu ke dinding beberapa kali. Seungwoo ingin menolongmu, namun dirinya saja diikat oleh saudara kembarnya sendiri. Bahkan untuk bersuara saja tidak bisa, karena mulutnya disumpal menggunakan kain olehnya.
Yuvin, ia tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya diam sambil menonton. Entah, kamu tidak paham mengapa tiba-tiba adikmu, sekaligus saudara kembarmu itu hanya diam saja seperti itu. Apa mungkin Yuvin merupakan anak buah Seunghwa? Namun kamu menyangkalnya, tidak mungkin saudara kembarmu menjadi anak buah dari seorang pembunuh.
"Apa maumu?!"
Suaramu terasa serak, dan kepalamu juga semakin berdenyut setelah dibenturkan ke dinding dengan cukup keras. Kamu tetap berusaha untuk menjaga kesadaranmu, meskipun sebenarnya kamu sudah tidak kuat lagi.
"Berkencanlah denganku. Jika kamu mau menuruti keinginanku, aku akan mengabulkan keinginanmu."
Kamu melirik Seungwoo yang menatapmu dengan tatapan yang nanar, dan kekasihmu itu hanya mengangguk dengan pelan. Pengecut memang, namun ia juga tidak tahu harus bagaimana lagi untuk melawan saudara kembarnya itu.
Seunghwa hanya tersenyum sinis melihat kalian berdua yang saling berpandangan, dan setelah kamu mengangguk secara terpaksa, kamu pun dibopong oleh Seunghwa, meninggalkan Seungwoo yang masih disekap dan juga Yuvin yang masih diam mematung.
***
Kamu dibawa ke kediaman Seunghwa, di sebuah apartemen mewah yang menurutmu pasti harganya sangat fantastis. Kamu pun mengedarkan pandanganmu ke seluruh ruangan setelah lelaki itu menurunkanmu. Mulutmu menganga lebar, sangat yakin jika kekayaannya ini ia dapatkan dari memeras harta korban-korbannya.
"Aku sudah menyiapkan pakaian dan segala aksesoris yang bisa kamu gunakan di kamar atas. Cepat ganti, karena aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
Kamu hanya menurut, lalu bergegas untuk naik ke lantai atas. Seunghwa hanya tersenyum tipis melihatmu, lalu ia juga ikut mempersiapkan diri di kamar selagi menunggumu siap. Setengah jam berlalu, kamu akhirnya keluar dari kamar dengan malu-malu.
Seunghwa menyiapkan sebuah dress selutut yang sangat cantik, dengan balutan kardigan berwarna soft yang menambah kesan kalem ketika kamu memakainya. Tak lupa heels berwarna pink dan juga beberapa perhiasan yang kamu pakai benar-benar membuatmu terlihat sangat cantik.
Seunghwa terkejut melihatmu, sampai-sampai ia tidak berkedip dalam waktu yang cukup lama. Kamu pun tak kalah terkejutnya dengan penampilan lelaki itu. Sangat tampan, dan lebih terlihat seperti Seungwoo ketika lelaki tersebut tersenyum manis ke padamu. Namun kamu cepat-cepat menepuk pipimu sendiri agar kamu tersadar jika lelaki di hadapanmu ini bukan Seungwoo. Seungwoo dan Seunghwa jelas berbeda, begitu pikirmu.
"Kamu cantik sekali, Song Nana."
'Darimana dia tahu marga dan namaku? Apa Yuvin yang memberitahunya? Yuvin! Aku tidak akan tinggal diam jika ternyata kamu juga terlibat di sini.'
"Ayo, kita pergi sekarang. Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu, karena kamu berharga untukku."
Kamu hanya bisa bengong, karena kamu bahkan tidak mengenal Seunghwa sebelumnya. Bagaimana bisa lelaki itu bilang jika dirinya berharga untuknya? Sudah gila! Tetapi kamu tidak ambil pusing, lebih baik berpura-pura saja di depannya, yang terpenting nyawamu dan Seungwoo selamat.
Kamu dipersilakan masuk ke dalam mobil alphard milik Seunghwa, dan kamu pun hanya menurutinya. Selama diperjalanan kamu hanya diam, karena Seunghwa pun hanya fokus mengemudi tanpa menoleh ke arahmu. Padahal kamu benar-benar penasaran ke mana ia akan membawamu, namun kamu tidak berani bertanya, takut jika Seunghwa akan marah.
"Kita makan dulu."
Lamunanmu buyar ketika kamu tersadar jika kini kalian sudah berada di sebuah restoran mewah, yang kamu yakini pasti hanya pelanggan vvip yang bisa makan di sini. Seunghwa membukakan pintu dan menyodorkan tangannya, namun kamu enggan dan hanya diam saja.
Lelaki tersebut lantas tersulut emosi dan segera menarik lenganmu dengan kasar. Para pelayan hanya menunduk dan membiarkanmu masuk ke dalam ruangan khusus dengan cara Seunghwa yang menarik rambutmu dengan kuat. Entah mereka tahu kalau Seunghwa adalah seorang buronan atau tidak, yang pasti mereka hanya bungkam meskipun mereka melihatmu dibawa dengan cara yang kasar.
Seunghwa mendorongmu hingga tubuhmu ambruk pada sofa, lalu lelaki itu hanya duduk santai di sampingmu sambil mulai mengambil makanan yang sudah tersedia sebelum kalian datang.
"Makan! Makanlah sebanyak yang kamu mau kalau kamu tidak ingin melihatku menyiksamu disini."
Kamu menurut. Dengan tangan yang bergetar kamu mulai mengambil makanan, lalu mulai makan dalam diam. Sunyi, hening, sungguh acara makan yang tidak romantis sama sekali. Acara makan dalam diam ini terasa sangat lama untukmu, dan rasanya seperti di neraka. Dan setelah satu jam kalian makan dalam diam, Seunghwa kembali menarikmu dan membawamu ke sebuah tempat.
***
Kamu bingung, karena saat ini Seunghwa membawamu untuk naik ke sebuah kapal yang sudah karam di dekat pelabuhan. Kamu diajak untuk naik ke atas kapal karam tersebut sambil tanganmu terus dicengkeram dengan kuat olehnya, dan kamu hanya bisa meringis kesakitan karenanya.
"Ada alasan mengapa aku membawamu kesini. Apa kamu ingat tentang orangtuamu yang hilang 10 tahun yang lalu? Ya, aku yang membunuh mereka. Dan mayat mereka berdua tidak pernah ditemukan hingga saat ini, karena jasad mereka sudah berbentuk abu."
Seunghwa masuk ke dalam geladak kapal yang telah karam tersebut, lalu mengambil dua buah guci yang sepertinya kamu paham apa maksudnya. Kamu masih terdiam, tidak tahu harus bereaksi bagaimana ketika lelaki itu memberikan dua buah guci kepadamu.
"Ini abu kedua orangtuamu yang berhasil kusimpan selama bertahun-tahun di sini. Polisi bodoh itu bahkan tidak bisa menemukannya. Payah sekali."
"Apa alasanmu membunuh kedua orangtuaku?"
Kedua tanganmu bergetar ketika Seunghwa memaksamu untuk mengambil kedua guci tersebut. Cairan bening mulai menumpuk di pelupuk matamu, lalu jatuh begitu saja ketika kamu memeluk kedua guci tersebut.
"Karena aku tahu kamu pernah disiksa oleh orangtuamu dulu. Apa kamu lupa dengan seorang anak kecil yang pernah kamu selamatkan waktu itu? Anak kecil yang sedang kelaparan dan kehujanan di pinggir jalan. Lalu kamu tiba-tiba saja menyerahkan payung kecilmu dan juga memberikan sebuah roti sisa bekalmu di sekolah kepadaku. Apa kamu lupa? Kalau kamu bertanya-tanya siapa anak kecil itu. Itu aku, Han Seunghwa. Anak kecil yang selalu dibanding-bandingkan oleh ayahnya sendiri karena aku berbeda dengan Seungwoo. Aku dianggap anak pembawa sial karena ibuku tidak sengaja meninggal karena menyelamatkanku yang hampir tertabrak dulu. Lucu, bukan? Setelah kamu menolongku waktu itu, aku langsung membunuh ayahku dengan tanganku sendiri. Lalu aku semakin termotivasi untuk membantu orang-orang yang tersiksa sepertiku, dan aku menghukum mereka dengan cara membunuh."
Kamu terkejut karena kamu teringat dengan seorang anak kecil yang waktu itu menangis sambil meringkuk di pinggir jalan karena kehujanan. Wajahnya babak belur, dan kamu yang memang tidak tega itu akhirnya menolongnya dengan memberikannya makanan dan juga payungmu.
Kamu bahkan tidak menyangka jika pertolongan yang kamu berikan akan membuat seorang anak lelaki itu tumbuh menjadi seorang pembunuh. Kamu merasa bersalah, dan airmatamu pun turun semakin deras.
"Sejak saat itu aku terus memerhatikanmu dari jauh. Aku jatuh cinta kepadamu karena hanya kamu satu-satunya orang yang mau membantuku. Dan suatu hari aku melihatmu disiksa oleh ayah dan ibumu karena mereka lebih membela adikmu yang jelas-jelas salah karena sudah berani menghamili teman wanitanya di usia muda. Aku tidak bisa tinggal diam setelah itu. Dan aku putuskan untuk melenyapkan orangtuamu, bahkan teman wanita adikmu juga, agar kamu bisa hidup tenang. Dan setelah itu, aku hanya bisa memerhatikanmu dari jauh sembari menolong orang-orang sepertimu, hingga pada akhirnya kamu bertemu dengan Seungwoo dan jatuh cinta dengannya."
Seunghwa tertawa dengan keras. Kemudian lelaki itu menatapmu dengan tatapan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Entah mengapa jantungmu tiba-tiba saja berdebar karena ditatap seperti itu.
Tapi tetap saja, tatapan itu menurutmu terus mengingatkanmu akan Seungwoo, bukan Seunghwa yang selama ini ternyata terus menjagamu dari jauh. Dan Seunghwa sepertinya menyadari jika bukan dirinya yang ada di dalam hatimu saat ini. Lelaki itu merasa kalah, dan merasa jika usahanya selama ini sia-sia.
"Seungwoo, Yuvin, dan polisi akan segera datang. Jadi, biarkan aku melakukan hal ini kepadamu untuk yang terakhir kalinya."
Seunghwa merapikan rambutmu yang berantakan akibat angin yang cukup kencang, lalu tanpa aba-aba, Seunghwa memberikan sebuah kecupan lembut pada keningmu. Hatimu terasa sesak karena ia tahu jika sebenarnya Seunghwa adalah orang yang baik, hanya saja trauma yang membuatnya menjadi berubah seperti itu. Kamu menangis tersedu-sedu di hadapannya, namun lelaki itu malah mengusap airmatamu dengan menggunakan ibu jarinya.
"Jangan bergerak! Anda sudah dikepung!"
Beberapa polisi bergerak mendekat sambil membawa pistol mereka, dan beberapa lainnya datang menyusul di belakang sambil membunyikan sirine mobil. Tak lupa ada Seungwoo dan juga Yuvin yang ternyata ikut datang dan berdiri di belakang barisan polisi yang sudah mengepung Seunghwa.
"Aku tidak berbohong kepadamu, bukan? Mereka semua telah datang. Dan kini saatnya aku ucapkan selamat tinggal untukmu. Tapi tolong, jangan lupakan semua pengorbananku selama ini kepadamu, dan maaf jika aku sempat berlaku kasar kepadamu. Aku mencintaimu, Nana."
Seunghwa memelukmu dengan erat, namun polisi mengira jika lelaki itu ingin membunuhmu dan mengajakmu untuk terjun bersamanya. Sebuah tembakan dari belakang membuatmu terkejut. Pasalnya peluru dari polisi itu tepat mengenai jantung Seunghwa. Kamu berteriak histeris ketika tubuh Seunghwa limbung ke samping dan terjun bebas ke dalam lautan.
Tubuhmu bergetar hebat, dan tiba-tiba saja Seungwoo datang lalu memelukmu dengan erat untuk menenangkanmu. Kamu terlalu shock, sampai-sampai tidak tahu harus berbuat bagaimana. Harusnya kamu senang karena Seungwoo datang, namun hatimu terasa sesak karena melihat Seunghwa tewas tepat di hadapanmu.
"Tenanglah Nana, semua sudah berakhir. Aku berjanji akan selalu melindungimu mulai detik ini dan seterusnya. Maaf karena aku terlambat datang."
Kamu mendongak untuk menatap Seungwoo, namun entah mengapa malah bayang-bayang Seunghwa yang muncul ketika kamu menatap wajah kekasihmu itu. Namun kamu tersadar jika apa yang kamu pikirkan adalah hal yang salah. Seunghwa hanyalah masa lalumu, dan kini ada Seungwoo yang akan menjadi masa depanmu.
"Seungwoo, jangan tinggalkan aku."
"Tidak akan, sayang."
***
Breaking News. Telah ditemukan mayat seorang laki-laki berumur sekitar empat puluh tahunan yang sudah membusuk. Diketahui leher sang korban dijerat oleh tali hingga tewas, lalu pada bagian lengan korban terukir sebuah tato api yang mirip dengan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Han Seunghwa selama ini. Namun, seperti yang kita ketahui bahwa Han Seunghwa telah tewas satu bulan yang lalu, membuat polisi masih harus mendalami kasus ini. Kemungkinan terbesar saat ini adalah ada seseorang yang meniru atau bahkan ingin menjadi Han Seunghwa berikutnya. Demikian breaking news hari ini.
"Akhirnya, pembunuhan yang ku lakukan masuk ke dalam topik utama berita. Hahaha, Han Seunghwa, tidak sia-sia jika selama ini aku terus menguntitmu dan melihat bagaimana caramu dalam membunuh para korban. Kini aku yang akan menggantikan tugasmu itu. Aku, Song Yuvin, akan menjadi the next Han Seunghwa, si pembunuh berdarah dingin yang ditakuti oleh semua orang."
ㅡ FIN ㅡ