Hara, seorang gadis kecil yang periang. Saat ini, ia duduk di bangku kelas 4 SD. Hara sangat pintar dalam pembelajaran agama. Beberapa waktu yang lalu, Hara mengikuti lomba pidato tingkat kecamatan. Sudah bagus sih, meski belum dapat juara. Karena mental Hara masih pemalu dan suara Hara kecil.
Pagi ini, Hara berangkat sekolah bersama ibunya. Seperti biasa, Hara pergi ke sekolah menaiki bus. Ibu Hara bekerja sebagai pekebun. Kebun itu milik kakek Hara yang sudah meninggal, kemudian di wariskan kepada anak-anaknya.
Hara mencium tangan ibunya sebelum turun dari bus. Setelah itu, Hara turun dari bus dan berjalan beberapa meter menuju ke sekolahnya.
Seperti biasa, Hara dan teman-temannya berbaris di depan kelas, kemudian masuk kelas untuk mengaji, baru pembelajaran dimulai. Pada jam istirahat, semua siswa pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat Dhuha, kemudian memakan snack yang disediakan sekolah.
Pembelajaran kembali di mulai hingga jam istirahat kedua. Jam istirahat kedua, para siswa diwajibkan pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat Dhuhur, kemudian makan siang bersama. Jam pelajaran terakhir, para siswa mengaji hingga jam empat sore.
Pukul empat sore, Hara dan teman-temannya pergi ke masjid. Setelah selesai sholat Ashar, Hara dan teman-temannya pulang. Hara bersama temannya, berjalan bersama untuk pulang. Sejak kelas dua, Hara sudah terbiasa naik bus sendirian untuk pulang ke rumah.
Setelah sampai di rumah, Hara mencium tangan ibunya, kemudian segera pergi mandi.
Setelah selesai mandi, ibu Hara menunjukkan sebuah sarang burung. Di sana terlihat empat anak burung yang baru saja menetas. Meski terlihat mengerikan karena anak burung itu belum memiliki bulu, tapi Hara sangat menyukai burung. Hara dan ibunya kemudian merawat burung itu.
Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Hara dan ibunya memberi makan kepada anak burung itu. Suara kicauan anak burung itu membuat keadaan rumah Hara yang sunyi menjadi sedikit berisik. Tapi tak masalah, karena setelah anak burung itu kenyang, biasanya mereka akan tertidur.
Hingga satu bulan, Hara menjalani rutinitas sehari-hari dengan anak burungnya. Anak burung peliharaan Hara sekarang sudah tumbuh besar. Mereka sudah bisa terbang. Mereka tidak takut pada Hara dan ibunya.
Setiap sore pulang dari sekolah, Hara pasti menyempatkan waktu untuk bermain dengan anak burung peliharaannya. Setelah malam, peliharaan Hara pasti sudah tertidur.
Pagi ini, Hara tidak masuk sekolah karena libur. Kakak dan adik sepupu Hara datang ke rumah Hara untuk bersilaturahmi. Hara juga memperbolehkan dua saudara sepupunya itu untuk bermain dengan burung peliharaannya.
Saat siang hari, Hara dan adik sepupunya kemudian tidur siang bersama hingga pukul empat sore.
Pukul empat, Hara terbangun kemudian sholat Ashar. Saat Hara kembali, Hara melihat empat burung peliharaannya sudah mati. Dua diantaranya kepalanya menghilang. Sedangkan dua lainnya berlumuran darah.
Hara langsung menangis karena hewan peliharaannya mati. Adik sepupu Hara kemudian bertanya kepada Hara mengapa ia menangis. Hara menjawab jika hewan peliharaannya mati.
Rupanya, ketika Hara tidur siang, kakak sepupu Hara keluar rumah dan lupa menutup pintu. Seekor kucing memasuki rumah Hara kemudian memakan burung peliharaan Hara.
Ibu Hara kemudian menenangkan Hara. Beliau mengatakan;
'Apa yang kita miliki, sebenarnya bukanlah milik kita. Tuhan hanya menitipkannya kepada kita sebagai amanah. Jika kita bisa menjaga amanah itu, maka kita akan mendapatkan pahala. Apa yang kita miliki saat ini, Tuhan akan mengambilnya suatu saat. oleh karena itu, kita harus meng-ikhlaskannya.'
Termasuk juga burung peliharaan Hara. Hara pun berhenti menangis dan meng-ikhlaskan kematian burung peliharaannya.