Hallo semua ini fanfiction keduaku tentang karakter komik Naruto. Semoga kalian suka☕
-------------
Ino mendekat saat mendengar keributan di depan toko Ten Ten. Betapa terkejutnya dia saat mendapati Ten Ten kewalahan menghadapi Neji yang sangat rewel.
"Neji-san, apa yang anda lakukan?" ujar Ino ketika sampai di depan toko Ten Ten.
Neji dan Ten Ten menoleh mendapati Ino yang menatap mereka bergantian. Neji tampak kesal dan Ten Ten tampak memelas.
Belum sempat Neji menjawab, Ten Ten buru-buru mendorong Neji dan menutup rolling door tokonya. Neji yang kehilangan keseimbangan jatuh menimpa dada Ino.
Plakkk!!!!! Ino menampar pipi Neji keras.
Benar-benar hari yang buruk.
Keesokan harinya Ino mendapati Ten Ten mengendap-endap meninggalkan tokonya saat makan siang.
"Apa yang terjadi?" pikir Ino penasaran.
Ino ingin sekali melakukan mindlink pada Ten Ten, namun mengurungkan niatnya mengingat kini dirinya adalah ketua divisi inteligen, kemampuan yang dia miliki tidak bisa sembarang dia gunakan.
Jam menunjukan pukul setengah sembilan malam. Ino telah menyelesaikan tugasnya dan bersiap untuk pulang.
Sepanjang perjalanan pulang Ino melewati kompleks pertokoan sambil menikmati angin malam. Pulang malam ternyata tidak buruk.
brukkk!!! Ino menambrak Neji yang tampak mematung di depan tokoh Ten Ten.
"Neji-san, untuk kali ini saja kau kumaafkan" ujar Ino yang memegang dahinya karena menabrak pria Hyuga di hadapannya.
"Hari ini dia tutup lagi" ujar Neji dengan tatapan kosong.
Ino melihat ke arah tatapan Neji. Pria itu memandangi papan nama yang berada persis di pintu toko itu.
"Mungkin Ten Ten sedang sibuk. Jika ada peralatan ninja yang kau butuhkan kau bisa menghubungi Iruka Sensei" Ino memberi saran pada Neji.
"Sepertinya Ten Ten menghindariku" Neji tampak memelas.
"Kenapa? Apa kalian bertengkar?" tanya Ino penasaran.
Neji mengalihkan pandangannya dari toko Ten Ten.
"Bukankah saat datang ke rumahku, kau bilang Ten Ten menyukai pria ceria seperti Rock Lee?"
Ingatan Ino kembali ke beberapa hari lalu saat dia mendatangi rumah Neji untuk menanyakan sejak kapan Kazekage-sama suka padanya.
"Tentu saja! memangnya kenapa kau......" Ino menutup mulutnya saat menyadari pertanyaan Neji.
"Aku menyukai Ten Ten" ujar Neji cepat dengan nafas memburu. Wajah pucatnya, merah padam.
"Tunggu sebentar! jadi kau bersikap menyebalkan beberapa waktu yang lalu karena perkataanku?"
Neji mengangguk.
"Dasar bodoh! sikapmu itu tidak seperti pria ceria, melainkan pria cerewet yang menyebalkan. Kau membuat Ten Ten ketakutan" ujar Ino marah.
Wajah Neji mengeras. Urat-urat di dahinya bermunculan. Neji dan Ino berjalan beriringan dalam diam. Tanpa aba-aba dan rencana, mereka berdua menuju bukit Hokage dan duduk di kepala Hokage ketiga.
"Bukankah kau membenci wanita?" tanya Ino saat mereka duduk bersebelahan sambil memandang pemukiman Konoha.
Ya, Neji memebenci wanita. Saat pertama kali dia tahu Ten Ten bergabung bersama dia dan Rock Lee, Neji memilih mengabaikan mereka berdua terutama Ten Ten.
Selama misi, Neji memperingati anggota timnya bahwa dirinya tidak akan menunda misi hanya untuk mentolerir hal sepele. Neji menolak berbicara dengan Ten Ten selama mereka bergabung di tim 9 kecuali untuk urusan yang sangat mendesak.
Ten Ten tampaknya menyadari hal tersebut dan lebih banyak berinteraksi dengan Rock Lee. Menganggu ketenangan Neji sama saja dengan menguburnya dalam misi.
Neji membenarkan ucapan Ino.
"Akhir-akhir ini aku menyadari sesuatu. Sebelum terlambat aku ingin mengatakannya" ujar Neji.
"Apa itu?" jiwa kepo Ino bergejolak ingin tahu hal yang baru disadari Neji.
"Meskipun Ten Ten tahu aku membencinya, tapi dia tetap menunjukan sikap respek dan profesional saat bertugas. Ten Ten tidak pernah mengeluh atau marah, bahkan saat aku membentaknya untuk tidak bertindak sembarangan"
"Suatu waktu tim 9 menjalankan misi menuju Kirigakure. Ten Ten terluka saat menjalani misi pertama sementara kami harus menyelesaikan satu misi lagi. Pergerakan kami lebih lambat dari sebelumnya, namun Ten Ten menolak untuk menunda misi dan kembali ke Konoha dalam keadaan pergelangan kaki yang terluka" Kenang Neji menceritakan salah satu misi mereka.
"bukk, buk, buk, buk" Ino memukul kepala, punggung, dan lengan Neji berulang-ulang.
"Ternyata kau penyebabnya!!! Ten Ten datang dengen pergelangan kaki yang nyaris membusuk karena dibalut selama berhari-hari. Sakura dan Tsunade-Sama hampir menyerah mengobatinya" ujar Ino dengan dada naik turun, dia berusaha menormalkan nafasnya sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Kau tahu? dia kehilangan mimpi besarnya untuk menjadi Kunoichi dan Anbu. Di saat semua murid angkatannya memiliki posisi yang bagus di Konoha, Ten Ten berakhir menjadi penjual peralatan ninja. Bahkan...bahkan.." Ino menitikan air mata sebelum melanjutkan ucapannya.
"Setelah melewati beberapa kali terapi, kakinya tidak bisa kembali normal. Jalannya tidak lagi seimbang. Yang paling menyakitkan adalah senyum di wajah Ten Ten seolah mengikhlaskan apa yang terjadi pada dirinya"
Neji tertunduk lesu. Ucapan Ino barusan menambah rasa bersalahnya. Akhirnya Neji mengerti kenapa Ten Ten mengakhiri mimpinya, kenapa Rock Lee menanggis dipundak Ten Ten di hari pelantikannya sebagai Sensei di akademi. Karena Ten Ten mengorbankan mimpinya untuk kesuksesan orang lain.
"Temui Ten Ten dan katakan sejujurnya. Memang sulit untuk pria egois sepertimu. Tapi kau tidak bisa terus-terusan membuat Ten Ten binggung. Dia gadis yang baik, jangan kecewakan dia" ujar Ino sambil menepuk pundak Neji.
Keesokan harinya.....
"Apa kau sibuk, aku ingin bicara" ujar Neji yang tiba-tiba muncul di belakang Ten Ten yang berniat kabur setelah menutup tokonya.
"Oh, Neji-san tokoku sudah tutup. Kembalilah besok" ujar Ten Ten gugup.
"Tidak. Ada hal pribadi yang ingin aku bicarakan" ujar Neji dengan wajah kakunya.
Ten Ten menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya menjadi kering melihat wajah Neji. Ten Ten menyetujui dan mengikuti langkah Neji. Pria itu bilang sebaiknya dibicarakan di rumahnya.
Ten Ten duduk di teras rumah Neji. Dia menolak masuk karena sungkan. Ini pertama kalinya Neji mengundang Ten Ten secara pribadi. Ten Ten sadar Neji pria yang tidak suka di usik, apalagi sampai ke ranah pribadi.
"Masuklah, aku menyiapkan teh dan camilan" ujar Neji mempersilahkan Ten Ten masuk.
"Tidak perlu repot, aku duduk di sini saja. Bunga sakuranya bagus" ujar Ten Ten mengalihkan pembicaraan.
Pria dihadapannya membenci wanita. Mengundangnya masuk cuma basa-basi. Batin Ten Ten gelisah.
"Jadi Neji-san apa yang ingin anda bicarakan" tanya Ten Ten. Dia ingin segera pergi dari tempat itu. Ten Ten tidak ingin pandangan Neji terhadap wanita menjadi semakin buruk, kalau dia terlalu banyak bicara.
Neji gelisah. Dia membaca raut wajah Ten Ten yang tampak ketakutan. Bukan itu yang Neji harapkan, tidak bisakah Ten Ten sedikit lebih perhatian kepadanya? atau memuji gaya pakaiannya dan rambutnya yang di tata berbeda hari ini?
"Apa ada hal yang ingin kau lakukan mungkin aku bisa membantumu" ujar Neji sambil terus memperhatikan wajah Ten Ten.
"Tidak ada. Bicaralah"
"Aku menyukaimu" ujar Neji tanpa ragu.
Ten Ten terkejut. Pria seperti Neji menyukai wanita? Maksud Ten Ten dia tidak pernah sekalipun meragukan maskulinitas pria itu, namun sikapnya yang menghindari wanita membuat Ten Ten tidak yakin akan perasaan pria itu terhadap dirinya.
"Terima kasih, aku ingin pulang ada hal yang harus aku lakukan" Ten Ten pamit dan segera meninggalkan tempat itu.
Neji menarik nafasnya dalam sambil memperhatikan langkah gontai gadis itu meninggalkan kediamannya.
Lidahnya kelu, bahkan berdiri saja rasanya tak mampu. "Apa gadis itu baru saja menolaknya?"
"Tuk" Ino mendegar bunyi kecil di jendelanya. Dia menyingkap gorden dan mengintip ke arah jalan. Tampak Ten Ten melambaikan tangannya.
Ino turun ke bawah dia membuka pintunya dan mempersilahkan Ten Ten masuk. Mereka berbaring di ranjang Ino sambil Ten Ten menceritakan pertemuannya dengan Neji.
Ino mendengar cerita Ten Ten tanpa sekalipun membocorkan pertemuannya dengan Neji. Ino cukup pintar untuk tidak mencampuri kisah Ten Ten dan Neji.
"Apa pendapatmu" Tanya Ten Ten
"Bagaimana mungkin kau menanyai pendapatku? pacaran saja tidak pernah" ujar Ino dengan ekspresi cemberut.
"Hah! kau berlagak seperti dewi cinta dan mengejek Sakura sepanjang waktu, ku kira pengalamanmu lebih banyak" ujar Ten Ten
"Well itu cuma omong kosong, buktinya kau lihat sekarang. Hidupku tidak kalah menyedihkan darimu" ujar Ino meyakinkan Ten Ten.
"Kau tidak mendapatkan Sasuke, tapi Kazekage-sama memyukaimu"
"Lupakan" ujar Ino menghindari pembahasan tentang Gaara yang membuat heboh di angkatannya.
"Kau meninggalkan Neji tanpa mendengar penjelasannya? benar-benar tidak sopan" cibir Ino.
"Bagaimana mungkin aku tidak bersikap seperti itu? kau tahu sendiri Neji seperti apa."
Malam itu mereka berdua terlelap setelah yakin tidak menemukan jalan keluar untuk masalah Ten Ten.
Ten Ten membuka rolling door tokonya dan menemukan sebuah amplop biru langit yang diselipkan di bawah rolling doornya. Dia membuka amplop tersebut dan menemukan sepucuk surat.
Untuk Ten Ten
Saat kau membaca surat ini, aku sedang dalam perjalanan ke suatu tempat. Aku tidak bermaksud membuatmu takut dengan sikapku beberapa hari yang lalu dan ucapanku kemarin. Mungkin itu terlalu mendadak untukmu, tapi aku sudah lama memendamnya. Kau wanita pertama yang membuatku yakin tidak semua wanita itu lemah. Keteguhan, semangat dan ambisimu semakin menarik perhatianku. Aku memikirkanmu di waktu luangku. Aku berusaha menjadi Jonin pertama di angkatan kita agar suatu saat aku bisa melamarmu dengan kepala tegak. Karena itu, jangan menghindariku saat aku pulang nanti. Cita-citaku melindungi Konoha sudah tercapai, selanjutnya aku akan melindungi hati seorang gadis. Aku tidak menerima penolakan. Tunggu aku pulang dan persiapkan dirimu.
Cinta Pertamamu,
Hyuga Neji.
Ten Ten terharu membaca surat tersebut. Neji yang kaku itu, ternyata punya sisi romantis yang tidak diketahuinya.
Sementara itu wajah Neji tampak seperti kepiting rebus dibalik topeng Anbu yang dikenakannya. Dia membayangkan wajah mengemaskan Ten Ten saat membaca suratnya.
Sepanjang malam Neji sibuk menulis surat itu. Awalnya di akhir surat, Neji bermaksud menulis calon suami namun membayangkan wajah Ten Ten yang ketakutan membuat Neji mengganti tulisannya dengan cinta pertamamu, jauh lebih baik Ten Ten marah padanya dibanding Ten Ten yang ketakutan dan meninggalkannya.
Neji merasa staminanya meningkat berkali-kali lipat, dia tidak sabar bertemu Ten Ten setelah urusanya selesai.
------------------------------------------------
Terima kasih readers, telah meluangkan waktu berharga kalian untuk membaca tulisanku. Jangan lupa kunjungi profilku untuk membaca cerita lainnya. Selamat membaca!🧃👩💻
ps : aku penulis pemula yang sedang belajar. Tinggalkan jejak kalian agar karyaku lebih baik lagi.