Title: One Day Before He's Gone
***
Waktu terus berlalu, kepingan memori tahun demi tahun kian menumpuk dalam ingatanmu. Tak masalah jika memori tersebut adalah memori yang indah. Lalu, bagaimana jika sebaliknya?
Menyimpan memori yang menyakitkan tentu tidak akan membuat hidupmu tenang, bukan? Karena memori menyakitkan itu terus saja menghantui hidupmu hingga detik ini.
Kamu sudah mencoba untuk melupakannya, namun sialnya tetap tidak bisa. Jujur, kamu tidak bisa melupakannya begitu saja.
Kenangan indah lima tahun yang lalu masih membekas dalam ingatanmu. Kenangan indah bersamanya, bersama seseorang yang kamu kira akan menjadi pendamping hidupmu, namun nyatanya malah sebaliknya.
Seseorang yang pernah datang dan membahagiakan hidupmu waktu itu, tiba-tiba saja pergi dari hidupmu dan membatalkan pernikahan kalian yang tinggal beberapa hari lagi dengan alasan sudah bosan denganmu. Sungguh alasan yang tidak masuk akal, bukan?
Tiga tahun menjalin cinta dengannya rupanya tidak membuatmu tahu bagaimana sifat asli pasanganmu itu yang sebenarnya. Kamu bahkan sudah percaya padanya hingga menyetujui lamarannya untuk menikahimu dan hidup berdua dengannya. Namun sayangnya, pernikahan kalian batal karena mendadak ia pergi meninggalkanmu.
Calon suamimu yang bernama Han Seungwoo itu meninggalkanmu seorang diri. Tanpa penjelasan, tanpa alasan yang logis. Hanya bosan, itu saja kata-kata terakhirnya yang hingga kini masih belum kamu temukan alasannya.
Kamu sudah mencari lelaki itu kemana-mana, tetapi ia menghilang tanpa jejak, seperti ditelan oleh bumi. Kepergiannya jelas membuatmu harus hidup sengsara selama bertahun-tahun. Dan juga membuatmu tidak bisa lagi memercayai cinta dan bahkan lelaki.
Semua lelaki sama saja, begitu pikirmu. Jika ia memang bosan, setidaknya beri satu alasan agar kamu bisa memercayai perkataannya. Agar kamu juga bisa cepat-cepat move on darinya. Sungguh, hingga detik ini kamu masih tak paham mengapa seseorang yang amat kamu cintai itu pergi begitu saja. Dan bahkan tidak pernah kembali lagi hingga detik ini.
***
Seperti kehidupan orang normal pada umumnya, hari ini kamu bangun pagi sekali dan bersiap untuk berangkat ke kantor tempatmu bekerja. Kebetulan kamu bekerja di sebuah bank yang mengharuskanmu untuk berangkat lebih awal. Sehingga, bangun pagi adalah rutinitas biasa yang sudah kamu jalani selama ini.
Tidak seperti biasanya, pagi ini kamu terlambat bangun karena semalam kamu memimpikan calon suamimu itu. Siapa lagi kalau bukan Han Seungwoo. Aneh, setelah sekian lama kamu tidak pernah memimpikannya, tiba-tiba saja lelaki itu hadir kembali dalam mimpimu, padahal kamu hampir saja sudah melupakannya.
Apakah Tuhan memang sengaja ingin mengujimu? Apakah kamu memang tidak diperbolehkan untuk melupakan lelaki itu? Sungguh, kamu tidak paham lagi dengan takdir kehidupanmu.
Karena sosoknya yang tiba-tiba saja muncul sambil tersenyum manis dalam mimpimu, membuatmu tidak bisa fokus ketika berangkat menuju kantormu. Akibatnya, kamu tertabrak mobil sedan yang tiba-tiba saja menerobos lampu merah yang bertepatan dengan dirimu yang sedang menyeberang jalan.
Tubuhmu terpental jauh, lalu kamu berguling-guling di tengah jalan dengan rasa sakit di sekujur tubuhmu. Rasanya sakit sekali, dan kamu pikir hari ini adalah hari kematianmu.
Kamu terbaring lemas di tengah jalan, dengan tubuh yang bersimbah darah. Samar-samar kamu masih bisa mendengar suara orang-orang yang sedang panik sambil menelepon ambulans, dan ada satu sosok yang tiba-tiba saja menepuk pipimu, berharap agar kamu tidak kehilangan kesadaran.
"Nana! Jung Nana! Sadarlah! Jangan tutup matamu dulu! Bertahanlah, ambulans akan segera tiba. Kumohon, jangan tutup matamu dulu."
"Seung... Seungwoo?"
Sayang sekali, kamu tidak kuat menahan rasa sakit di sekujur tubuhmu, hingga pada akhirnya kamu tak sadarkan diri sebelum mendengarkan jawaban dari sesosok lelaki yang kamu panggil Seungwoo itu.
***
"Nana, sedang apa kamu di sini? Cepat kembali, banyak orang yang sedang menunggumu saat ini."
"Seungwoo? Han Seungwoo? Apakah kamu benar-benar Seungwoo? Ya!!! Kemana saja kamu selama ini, hah? Alasanmu untuk pergi meninggalkanku sebelum pernikahan kita itu sungguh tidak masuk akal, Woo! Kamu benar-benar brengsek!"
"Nana, kita bicarakan hal itu nanti saja. Lebih baik kamu kembali sekarang juga. Semua orang sudah menunggumu."
"Kembali ke mana? Memangnya aku sedang berada di maㅡ"
Lelaki yang bernama Seungwoo itu mendorongmu menjauh dari tempat di mana kamu kini berada. Beriringan dengan suara dokter dan beberapa suster yang terlihat seperti menghela napas lega. Kamu membuka mata perlahan, lalu mengedipkan matamu beberapa kali untuk melihat di mana kamu sekarang berada.
Sebuah ruangan khas berwarna putih, dengan bau obat-obatan yang mengganggu indera penciumanmu membuatmu tersadar jika kamu sedang berada di rumah sakit. Bahkan tubuhmu juga tertempel alat-alat medis yang tak kamu pahami, membuatmu mengingat kembali kejadian saat kecelakaan yang sempat menimpamu.
Jelas sekali seseorang yang menepuk pipimu tadi adalah Seungwoo. Lalu ke mana ia sekarang? Mengapa ia malah menyuruhmu pergi ketika ia berada dalam mimpimu tadi? Padahal kamu benar-benar merindukannya.
Airmatamu turun begitu saja, dadamu terasa sesak ketika kamu mencoba mengingat kembali mimpimu yang terasa begitu nyata tadi. Salah satu rekan kerjamu yang datang menjengukmu, tentu langsung panik ketika kamu menangis seperti itu.
"Kamu kenapa menangis seperti ini, Nana? Apa ada yang sakit?"
"Entahlah. Aku merasakan kehadiran Seungwoo ketika aku kecelakaan dan tak sadarkan diri tadi, dan sepertinya semua itu hanya mimpi. Tetapi rasanya juga sangat nyata, Byungchan. Aku tidak tahu mengapa aku memikirkan Seungwoo kembali, meskipun rasanya sungguh menyakitkan. Padahal aku sudah berusaha untuk melupakannya selama ini."
Rekan kerja sekaligus sahabatmu, Choi Byungchan, hanya bisa memelukmu dan berusaha menenangkanmu. Byungchan mengira jika kamu mungkin berhalusinasi karena terlalu lama memendam rasa rindu terhadap Seungwoo yang telah lama pergi entah kemana, dan Byungchan benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk membuatmu melupakannya.
Haruskah ia menyatakan perasaan terpendamnya kepadamu selama ini? Tetapi ia juga takut jika perasaannya membuat hubungan persahabatan kalian rusak, dan Byungchan tidak mau hal itu terjadi. Namun, tidak ada salahnya ia mencoba. Mungkin akan ia bicarakan nanti saja jika keadaanmu sudah lebih membaik.
"Chan, apa kamu izin tidak masuk kerja hari ini? Mengapa kamu malah berada di sini?"
"Iya, aku langsung kemari setelah mendapat kabar dari bos. Jelas aku panik, apalagi tadi dokter sempat frustasi sewaktu kamu mendadak henti jantung."
"Hah? Akuㅡ"
"Sudah, tidak perlu dibahas. Lebih baik kamu istirahat di sini dulu sampai beberapa hari ke depan. Masalah izin kantor biar menjadi urusanku. Kamu pulihkan saja dulu kondisimu. Nanti kalau kamu sudah sehat, bilang padaku jika kamu membutuhkan sesuatu. Aku aku turuti semua keinginanmu."
***
Kamu merasa bosan di kamar rawat inapmu malam ini. Byungchan sudah pergi sejak sore tadi karena ia harus menjemput adiknya di sekolah. Orangtuamu memang sengaja tidak kamu hubungi agar mereka tidak panik, meskipun kamu sendiri merasa bersalah akan hal itu.
"Hah, lebih baik cari angin saja di atap. Biasanya pemandangan dari atap kalau malam begini pasti bagus."
Tanpa menunggu lama, kamu segera turun dari ranjang sambil mendorong infusmu dan berjalan keluar kamar inapmu untuk menuju ke arah lift. Kamu berjalan menyusuri koridor rumah sakit sambil sesekali tersenyum ramah kepada pengunjung yang sedang menunggu di luar ruangan, lalu segera memencet tombol begitu kamu sudah sampai di depan pintu lift.
Setibanya di lantai paling atas, kamu segera berjalan menuju atap untuk melihat pemandangan malam dari atas gedung. Senyummu yang awalnya mengembang tatkala merasakan sejuknya angin malam, harus kamu urungkan ketika kamu melihat seorang laki-laki yang sepertinya hendak menjatuhkan dirinya dari atap gedung.
Kamu melepas infusmu dengan paksa, lalu berlari sambil memegangi kepalamu yang mulai berdenyut ke arah lelaki yang sudah mengambil ancang-ancang untuk terjun dari atap.
"Jangan!!!"
Kamu berteriak sambil menarik ujung baju khas pasien yang dikenakannya, membuat lelaki itu terjatuh ke belakang hingga menindih tubuhmu.
Kamu terkejut. Benar-benar terkejut melihat rupa lelaki yang tengah menatapmu dengan lekat, dan jantungmu tiba-tiba saja berdebar dengan cepat ketika lelaki itu tersenyum manis kepadamu.
Plak!
Kamu menampar lelaki itu, lalu mendorongnya menjauh agar kamu bisa terbebas darinya. Bukannya marah, lelaki itu tetap terus tersenyum meskipun sebelah tangannya harus ia gunakan untuk mengusap pipinya yang sudah kamu tampar tadi.
"Ternyata yang tadi memang bukan mimpi. Ternyata itu benar-benar kamu."
"Maㅡmaksud kamu? Kenapa kamu bisaㅡ"
"Han Seungwoo!!! Lima tahun ini kamu kemana saja, hah! Kenapa kamu menghilang tanpa jejak? Kenapa kamu berkata bosan denganku tepat sebelum pernikahan kita? Kamu jahat sekali, Woo! Kamu jahat! Aku tidak habis pikir aku bisa bertemu denganmu lagi di sini setelah bertahun-tahun aku selalu gagal menemukan keberadaanmu. Apa kamu tadi ikut kecelakaan bersamaku? Mengapa kamu juga memakai baju pasien sepertiku? Lalu, kenapa pula sekarang kamu ingin bunuh diri di sini? Jawab!"
Lelaki yang bernama Seungwoo itu mengurungkan niatnya untuk berbicara lebih lanjut. Ia hanya mengangguk, terlihat seperti ingin meng-iya-kan saja omonganmu itu. Padahal ia tadi tidak berniat untuk terjun, karena ia hanya ingin menikmati semilir angin malam di malam hari. Tanpa aba-aba, Seungwoo mendekat ke arahmu dan langsung memelukmu dengan erat.
Bodohnya, seharusnya kamu menolak pelukan tersebut. Tetapi apa daya, perasaanmu berkata sebaliknya. Bohong jika kamu tidak merindukan sosoknya, karena demi apapun, kamu sampai saat ini memang masih sangat mencintainya.
"Maafkan aku, Nana. Aku memang brengsek. Aku memang lelaki yang tidak bertanggungjawab. Maaf karena aku meninggalkanmu sebelum hari pernikahan kita."
"Aku merindukanmu, Seungwoo."
"Aku juga, sayang."
Airmatamu tumpah begitu saja. Kamu menangis dengan histeris, membuat Seungwoo hanya bisa terus memelukmu sambil menepuk-nepuk punggungmu untuk menenangkanmu. Ia sebenarnya merasa sangat bersalah karena telah menyakitimu di masa lalu, dan sepertinya ini adalah waktunya untuk memperbaiki semuanya, mumpung ia bisa bertemu denganmu.
"Nana?"
"Hmm?"
"Aku tahu kamu pasti penasaran ke mana perginya aku selama ini, kan? Aku akan memberitahumu semuanya. Jadi, beri waktu aku satu hari untuk menebus semuanya. Tapi kamu harus berjanji untuk satu hal, kamu harus bahagia."
"Seungwoo..."
Seungwoo tersenyum sambil mengusap airmatamu dengan ibu jarinya. Ia lalu menutup kedua matanya, dan mendaratkan sebuah ciuman kecil sebagai tanda perasaan rindunya kepadamu selama ini.
Kamu pun tak menolak dan membalas ciuman tersebut. Sudah lama sekali kamu tidak merasakan kebahagiaan ini, meskipun ia masih tidak mengerti dengan perkataan yang Seungwoo lontarkan tadi kepadanya.
'Aku harus bahagia? Apa maksudnya?'
***
Kamu terus saja tersenyum ketika mengingat kembali pertemuanmu di atap dengan Seungwoo semalam. Perasaan sesakmu selama ini sedikit terobati, meskipun rasa kesal masih mendominasi karena lelaki itu belum menjelaskan semuanya kepadamu. Untung saja Seungwoo hari ini mengajakmu bertemu kembali di atap, dan kamu sudah tidak sabar untuk menemuinya.
Kamu sudah berganti pakaian biasa, berkat temanmu Byungchan yang memang sudah membawakanmu baju ganti kemarin, dan kamu langsung berlari menuju atap, tidak peduli jika nanti dokter atau suster akan mencarimu karena kamu malah kabur dari ruang rawat inapmu.
Jantungmu semakin berdebar ketika kamu sudah sampai di atap. Kamu menoleh ke arah kiri dan kanan, dan kamu melihat Seungwoo sudah berdiri di pinggir atap dengan pakaian biasa, sama sepertimu.
Seungwoo menoleh ke arahmu, dan langsung menarik tanganmu untuk melihat pemandangan pagi dari atas atap rumah sakit. Senyuman lelaki itu bahkan tak pernah luntur ketika memandangmu, membuatmu merasakan kembali rasanya jatuh cinta.
"Nana, mari kita bersenang-senang seharian ini nanti. Setelah itu, aku akan menjelaskan semuanya. Apa kondisimu sudah membaik? Aku tidak mau memaksamu jika kamu masih merasa sakit."
Kamu hanya menggeleng, menandakan bahwa kamu baik-baik saja. Tanpa menunggu lama, Seungwoo segera menarik tanganmu kembali, dan membawamu turun dari atap, lalu berlari keluar dari rumah sakit.
Kalian berdua menghabiskan waktu dengan makan bersama, lalu berjalan-jalan sembari memakan eskrim berdua, dan bahkan pergi ke taman hiburan untuk menikmati waktu bersama setelah selama ini terpisah.
Kamu merasa begitu bahagia karena bisa menggenggam dan bahkan mencium aroma khas dari tubuh calon suamimu itu, dan kamu hanya berharap jika Seungwoo tidak akan meninggalkanmu lagi nanti.
Tak terasa hari sudah sore, dan saat ini kalian berdua sedang duduk di taman sambil menggenggam tangan satu sama lain. Kamu memilih untuk meletakkan kepalamu di pundaknya, dan memaksa Seungwoo untuk segera menjelaskan semuanya.
"Sebenarnya aku tidak bosan denganmu, dan bahkan sampai sekarang aku masih mencintaimu, Nana. Bodohnya saat itu aku mengatakan kata-kata itu hanya untuk mengerjaimu yang akan berulang tahun, tetapi setelah mengatakan hal menyakitkan tersebut, aku malah pergi. Maafkan aku."
"Aku masih tidak paham. Jadi waktu itu kamu hanya mengerjaiku?"
"Iya, dan sekarang aku benar-benar merasa bahagia karena bisa bertemu denganmu dan menghabiskan satu hari ini bersamamu."
"Lalu, ke mana saja kamu selama ini? Kenapa aku tidak bisa menemukanmu di mana pun, Woo?"
"Kita lanjutkan besok saja, ya? Hari sudah mulai malam, dan aku tidak mau kamu kedinginan di sini. Sisanya akan kujelaskan besok. Aku janji."
Seungwoo tersenyum tipis sambil mencium keningmu dengan lembut. Tatapan Seungwoo yang begitu teduh dan hangat, membuatmu seakan terhipnotis. Kamu hanya mengangguk, dan kalian berdua pun kembali ke rumah sakit.
***
Pagi datang kembali, dan kamu pun bergegas kembali bersiap-siap untuk menemui Seungwoo di atap. Hari ini kamu sudah bisa keluar dari rumah sakit, dan kamu ingin Seungwoo menjadi orang pertama yang tahu.
"Ah, apa Seungwoo juga dirawat di sini karena terlibat kecelakaan denganku waktu itu? Sejak kemarin aku lupa menanyakan ini kepadanya. Dasar bodoh."
Kamu menertawakan kebodohanmu yang bahkan tidak tahu menahu mengapa Seungwoo juga ikut dirawat di sini. Namun yang pasti, kamu sudah merasa begitu bahagia karena bisa menemukan sosoknya kembali.
Kamu melangkah dengan ringan ke atap, namun kamu tidak menemukan Seungwoo di sana. Sudah hampir tiga jam kamu menunggu, tetapi batang hidungnya tetap tidak muncul. Kamu gusar, dan kamu memutuskan untuk bertanya kepada receptionist karena kamu sendiri bahkan tidak tahu Seungwoo dirawat di ruang mana.
"Pasien bernama Han Seungwoo? Sebentar ya nona, saya cari datanya dahulu."
Kamu hanya mengangguk sambil jarimu kamu ketukkan di atas meja karena merasa gusar. Jujur, kamu takut jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Seungwoo, karena memang sejak kemarin Seungwoo terlihat pucat.
"Nona, apa anda tidak salah bertanya?"
"Memangnya ada apa?"
"Han Seungwoo yang nona maksud, adalah korban tabrak lari lima tahun lalu yang sudah meninggal. Apakah nona yakin tidak salah menyebutkan nama?"
Duniamu seakan berhenti berputar. Lututmu melemas, dan kamu bahkan hendak kehilangan keseimbangan. Untungnya, Byungchan yang sudah datang sejak kapan itu membantu membopong tubuhmu, dan ia ikut terkejut setelah mendengar jika ternyata Han Seungwoo telah tiada lima tahun silam.
Kamu yang mendadak terkulai lemas itu kembali teringat dengan secarik kertas yang sempat diberikan Seungwoo kepadamu. Dengan cepat kamu merogoh saku bajumu, dan membaca tulisan yang ada di dalamnya.
Ternyata isinya adalah sebuah alamat yang kamu sendiri masih tidak paham apa maksudnya. Segera kamu memaksa Byungchan untuk mengantarkanmu ke sana, dan Byungchan hanya menurut saja.
***
Shock. Ternyata alamat yang diberikan Seungwoo kepadamu adalah alamat dari rumah abu, dan airmatamu pun sudah tidak bisa dibendung lagi.
Kamu berlari dan segera mencari letak abu milik Seungwoo yang sudah tertera di dalam alamat, dan kamu menangis sejadi-jadinya ketika melihat foto Seungwoo yang sedang tersenyum di balik kaca. Namun netramu tidak sengaja menangkap sepucuk surat yang terselip di balik foto, dan dengan cepat kamu langsung mengambilnya, dan membaca isi surat yang ternyata berasal dari Seungwoo.
Teruntuk seseorang yang sangat aku cintai.
Hai Jung Nana...
Kamu pasti terkejut ketika membaca surat ini, kan? Maaf karena aku tidak bisa mengatakannya langsung kepadamu, karena aku takut semakin membuatmu terluka setelah ini.
Sebenarnya lima tahun lalu, aku tidak benar-benar bosan denganmu, karena bahkan sampai detik ini pun aku masih sangat mencintaimu. Waktu itu aku sengaja ingin mengerjaimu karena kamu akan berulang tahun sehari sebelum pernikahan kita. Aku memang sengaja ingin membuatmu kesal, lalu setelah itu kekesalanmu pasti akan sirna ketika tahu aku memberikanmu hadiah sebuah rumah untuk kita tempati nanti. Tapi sayangnya, malam itu aku terlibat kecelakaan, dan nyawaku tidak tertolong.
Sungguh lucu, bukan? Karena kamu mendapatkan surat dari seseorang yang sudah meninggal seperti ini? Nana, selama ini aku tersiksa. Aku tidak bisa pergi dengan tenang karena terus memikirkanmu dan menjagamu. Aku tidak tega melihatmu terus terpuruk selama ini karena diriku. Dan setelah kejadian kecelakaan yang menimpamu waktu itu, aku merasa seperti memiliki kesempatan, karena entah mengapa kamu tiba-tiba saja bisa melihatku.
Nana, aku bahagia karena bisa menghabiskan waktu berdua bersamamu, meski hanya satu hari. Satu hari itu ternyata sungguh berarti bagiku, karena aku bisa menyentuhmu, dan bahkan menciummu. Maafkan aku Nana. Aku harus pergi sekarang. Semoga kamu bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik dariku. Ah, sepertinya Byungchan cocok denganmu. Setelah pengamatanku selama ini, aku melihat jika Byungchan memang sangat tulus denganmu.
Jangan terlalu larut dalam kesedihan karena menangisiku. Aku mencintamu, Nana. Dari dulu, sekarang, dan selamanya. Maaf karena aku pergi tanpa kata-kata. Aku tidak mau membuatmu sakit terlalu lama.
Dariku yang akan selalu mencintaimu,
Han Seungwoo
Byungchan bergegas menghampirimu ketika melihatmu menangis dengan kencang sambil mendekap sepucuk surat yang ia sendiri tidak tahu berasal darimana. Byungchan tidak mengatakan apapun, lelaki itu hanya memelukmu dengan erat sambil mengusap punggungmu, berharap agar kamu merasa tenang.
Bukannya tangisanmu semakin reda, kamu malah terus berteriak sambil memanggil nama Seungwoo, membuat si pemilik nama yang kamu panggil itu hanya terdiam mematung sambil menangis. Seungwoo tidak bisa berbuat apa-apa, karena ia juga harus pergi setelah ini. Sayangnya, Seungwoo sudah tidak bisa menyentuhmu seperti waktu itu, dan ia akhirnya memilih untuk menghilang setelah dirasa cukup melihatmu untuk yang terakhir kalinya.
"Nana, kamu harus kuat. Seungwoo sudah tenang di sana. Kamu harus ikhlas."
"Chan..."
"Hmm?"
"Terima kasih, untuk segalanya."
'Han Seungwoo, terima kasih karena kamu sudah hadir dan menjelaskan semuanya. Selamat jalan, Seungwoo. Semoga kita bertemu lagi suatu saat nanti. Aku pasti akan menyusulmu ke sana. Jadi, tunggu aku.'
ㅡ F I N ㅡ