Nafasnya menderu, seiring langkah kakinya. Terlihat banyak orang mengejar dirinya dengan wajah menyeramkan, mata semerah darah dan bentuk wajah yang tidak beraturan.
Aku masuk kedalam sebuah ruangan yang terlihat seperti kelas, lumayan luas. Ku berlari dan berhenti tepat didepan seorang wanita cantik berambut pendek yang duduk diatas kursi paling depan, terlihat seperti kursi guru. Aku menatapnya keheranan.
"Kenapa kau memegang pisau?" tanyaku bingung.
Dia tidak hanya diam, lalu tiba-tiba kami diserang oleh seorang pria aneh menyeramkan. Aku terkejut saat hendak di terkam oleh orang itu, tapi wanita didepanku begitu santai, dan...
"Jleb, Jleb, Jlebb, "
Tiga tusukan mendarat di dada pria itu, ternyata wanita barusan yang menusuknya.
Tapi herannya, pria tersebut berubah menjadi abu dan menghilang.
"Apa itu tadi?! kenapa dia menyerang kita?! " tanyaku panik.
Wanita itu menatapku dengan wajah datar.
"Membunuh, atau dibunuh? tentukan pilihanmu" ucapnya samar terdengar.
Saat hendak menjawab, dia menghilang.
Tidak lama kemudian, datang dua orang wanita, yang satu berbadan gemuk dan satunya kurus.
Entah apa yang terjadi, Tiba-tiba saja aku sudah memegang sebuah tongkat.
"Berikan tongkat itu! " ucap wanita berbadan gemuk.
Bukannya menjawab, aku malah mendorong dirinya mengunakan tongkat itu . Wanita itu hampir terjatuh. Dia terlihat marah besar, dan mengamuk. Tapi aku tidak dapat mendengar apa yang dia katakan. Aku merasa seperti ada seseorang yang mengendalikanku.
Tiba-tiba, kami bertiga diserang oleh orang aneh lagi. Aku memukul orang itu dengan keras hingga berubah menjadi abu dan menghilang.
Terlihat, ada sebilah pisau didekat abu orang aneh itu. Dengan cepat, aku mengambilnya.
Kedua wanita tadi mendekatiku dan hendak mengambil paksa pisau itu, aku mendorong mereka lalu menusuk mereka berdua hingga meninggal. Darah menyucur deras kesegala arah. Terlihat sangat menyeramkan tapi aku bahkan tidak merasa takut.
Aku berbalik dan pergi, namun terdengar suara yang memanggilku dengan keras.
"CHELA!! BANGUN!! " teriak orang itu, terdengar suaranya tidak asing.
Aku tersentak dan terbangun diatas kasur.
'Ternyata itu hanya mimpi' batinku.
"Chela? " panggil seseorang yang tak lain adalah kakaku, aku menoleh.
"Iya kenapa? " tanyaku bingung karena melihat raut wajahnya yang aneh. Seperti ketakutan bercampur bingung.
"Kenapa kamu tidur sambil memegang pisau? Dan pisau siapa itu? Kakak baru pernah melihatnya, lalu apa itu merah-merah? " tanyanya hati-hati
Aku terkejut dan melihat tanganku yang sedang memegang pisau bergagang hitam dengan corak kuning yang penuh dengan darah.
"Hah? "