Jelas ada sesuatu yang tersembunyi di balik kotak itu, telah genap sekian ratus tahun, dijaga dalam penjagaan yang cukup ketat, silih berganti orang, tanpa ada jeda waktu yang lowong, tak pelak membuat satu orang pun tak bisa menyentuh, jangan kata menyentuh, mendekat saja adalah sesuatu yang mustahil-- Benarkah bisik orang-orang, kalau apa yang tersembunyi dalam kotak itu adalah... biji buah dari pohon keabadian yang dicuri iblis dari taman surgawi?
Katanya, buah dari pohon itu hendak diberikan iblis kepada makhluk pertama dan pasangannya, sesaat setelah makhluk pertama itu memakan buah pohon pengetahuan.
Pemberian itu sesungguhnya bukanlah pemberian yang cuma-cuma, ada syarat yang harus mereka penuhi, sesuatu yang mudah untuk dipenuhi, sesungguhnya. Berupa ikrar setia, penundukkan diri kepada iblis, menjadikan iblis sebagai tuan mereka, hingga ke anak keturunan sampai selama-lamanya, itulah syarat yang harus dipenuhi oleh makhluk pertama dan pasangannya.
Kotak itu terbuat dari kayu jati, tanpa ukiran, simpel, seperti kotak pembungkus biasa saja, berukuran tiga puluh kali tiga puluh senti meter. Di simpan dalam sebuah lemari pajang yang memiliki tinggi kurang lebih satu meter beserta kaki-kaki. Dinding kanan dan kiri lemari pajang tersebut terbuat dari lempengan baja, begitupun bagian bawah dan atasnya. Sementara dinding di sisi depan dan belakang dari lemari pajang tersebut terbuat dari kaca itu berukuran tebal.
Lemari pajang itu diletakkan di lobby depan istana, tepat di bawah bundaran, atap kubah bagian luar dari bundaran tersebut diselimuti oleh lapisan emas dua puluh empat karat, sekeliling bagian dalamnya terdapat berbagai macam ornamen lukisan sepasukan malaikat yang tampak berperang dengan sesosok makhluk yang bertubuh raksasa dengan tanduk kambing di kepalanya, tubuh raksasa itu berwarna merah menyala, sambil mengacungkan tombak trisula ke arah pasukan malaikat, si makhluk raksasa duduk di atas kuda yang tubuhnya sama merahnya dengan dirinya.
Sepintas lemari itu tidak memiliki pintu, tapi sesungguhnya, ah, tidak satu orang pun yang tahu, kecuali...
Gileal,
Dia adalah orang kesekian yang bisa membuka lemari pajang itu, bukan dengan kunci, melainkan dengan mantra. Mantra tersebut diwariskan kepadanya, oleh Habakuk, ayahnya, yang meninggal karena penyakit yang tiba-tiba saja membuat tubuhnya lumpuh dari ujung kepala hingga ujung kaki, itu penyakit yang aneh, sebelumnya tak satu orangpun dari keluarganya yang pernah menderita penyakit tersebut. Hanya sepekan ayahnya menderita penyakit aneh tersebut.
Gileal, adalah pemuda yang rupawan, selain itu tentulah ia pintar, pun ia memiliki perilaku yang menawan, jadi tak heran banyaklah wanita yang menaruh hati padanya, tak terkecuali Amelia, putri sang Baginda raja, junjungannya.
Rasa yang dimiliki oleh putri Amelia ternyata tak bertepuk sebelah tangan. Gileal menyukai putri Amelia, bahkan semenjak lama, kurang lebih sedari kanak-kanak, cinta monyet, kata orang-orang dulu. Bersamaan dengan bertumbuhnya mereka rasa itu ikut bertumbuh. Gayung bersambut, Baginda raja pun merestui hubungan tersebut.
Seharusnya rasa kasih itu akan dipersatukan dalam ikatan suci, namun apa daya, untung tak dapat diraih malang pun tak dapat ditolak, sehari menjelang hari ikatan suci tersebut, sang Baginda raja, tiba-tiba saja... apa yang dialami sang Baginda raja persis sama seperti apa yang diderita oleh ayahdanya Gileal, lumpuh dari ujung kepala sampai ujung kaki-- sepertinya ikatan suci itu akan tertunda untuk kali kedua, setelah sebelumnya sempat tertunda oleh kematian ayahandanya Gileal.
Duka melanda seluruh pelosok negri, sang raja yang baik itu, sepertinya, bakal senasib dengan sahabat kecilnya, yang tak ada lain adalah Habakuk, ayahandanya Gileal. Tinggal menunggu hari, demikianlah kabar yang merebak di seantero negri--sampai terbetiklah satu gagasan, gagasan yang cukup gila sesungguhnya, entah dari siapa ide ini bermula, gagasan ini benar-benar berbahaya-- sang Baginda raja hanya bisa dipulihkan dengan buah dari pohon keabadian itu!
Gileal menolak. Begitupun sang permaisuri, istri dari sang Baginda raja, ibunda dari putri Amelia. Tapi tidak dengan sang putri, dalam kesedihannya ia mencoba kembali merayu Gileal.
Gileal tetap teguh pada pendiriannya, hingga pada suatu pagi, sang permaisuri, tiba-tiba saja tidak bisa bangkit dari tidurnya, ia mengalami apa yang persis dialami oleh sang Baginda raja. Begitupun Gileal masih teguh. Hingga tak kurang dari seminggu giliran Putri Amelia yang mengalami nasib serupa.