Hari sudah siang sekali, adzan Dzuhur telah berkumandang beberapa menit yang lalu. Rasyid baru terbangun dari tidurnya, tanpa mempedulikan lagi penampilan dan tampangnya ia langsung saja mengambil peralatan mandinya lalu segera menuju ke kamar mandi.
Bagi Rasyid waktu setelah adzan Dzuhur berkumandang adalah waktu pagi baginya, waktu dimana ia bangun dari tidur dan mulai beraktifitas, sebuah siklus waktu yang aneh namun terasa wajar bagi Rasyid yang menjalaninya selama bertahun-tahun. Rasyid saat ini telah ada di sebuah terminal, disini ia bertugas sebagai pengumpul uang keamanan yang ia tarik dari sejumlah kios dan warung yang terbuka disitu, setoran per warung sebesar lima ribu rupiah per hari, meskipun nominalnya kecil namun jumlah kios dan warung di terminal itu cukup banyak sehingga per hari Rasyid bisa mengumpulkan banyak hasil setoran. Setelah menagih setoran uang keamanan ia kemudian beralih ke perempatan lampu merah, disitu ada banyak anak-anak pengamen serta anak-anak pengemis, disini ia bertugas mengontrol anak-anak itu bekerja.
Kedua pekerjaan yang dilakoni Rasyid tidak bisa dikatakan bagus karena berkaitan dengan memaksa dan menindas orang lain, Rasyid tahu itu namun ia merasa tak punya pilihan lain lagi untuk menyambung hidup. Kedua pekerjaan itu ia dapatkan setelah mendapat kepercayaan dari penguasa wilayah tempat Rasyid tinggal.
"Bang...ada yang nyariin lu tuh!!!"
Rasyid melirik sejenak ke arah sumber suara lalu berdiri menemui sosok itu.
"Ada apa??? Lu yang nyariin gue kan?"
Sosok pria berperawakan kekar berwajah gagah tersenyum menatap ke arah Rasyid.
"Maaf bang...nama gue Imran, mungkin Abang sudah lupa Ama gue"
Rasyid menatap lekat ke arah pria tersebut dan berusaha mengumpulkan kembali ingatannya tentang pria yang bernama Imran itu.
"Gue anaknya Haji Bahri yang pernah sama-sama abang di Tanjung Priuk, waktu abang meninggalkan Tanjung Priuk gue masih kelas 2 SMP".
Sedikit demi sedikit di ingatan Rasyid mulai muncul sosok remaja yang sering menemaninya, sering ia dengarkan curhatnya, bahkan beberapa kali ia bela saat remaja itu dibully. Sekarang remaja itu telah berubah menjadi pria gagah.
"Gue ingat sekarang, lu yang dulu suka ngikutin gue kemana aja gue pergi"
"Iya bang itu gue"
Pertemuan itu telah membuat banyak hal perubahan dalam pemikiran Rasyid, tawaran Imran yang meminta Rasyid kembali ke tempat Haji Bahri untuk membantunya mengembangkan usaha membuat Rasyid mulai mempertimbangkan untuk merubah kehidupannya.