Di dalam sebuah bus wisata,
"Kalian inget gak waktu kita ngerayain ultah Reihan? " tanya ku kepada teman-temanya.
" Apa? ngerayain yakin?..." tanya Reihan. Aku dan Deandra saling bertatapan.
"yakin lah orang seru banget " kata Deandra .
"besok - besok ultah gue jangan dirayain lagi ogah gue". Reihan marah dan memalingkan wajahnya ke jendela samping , Wira yang duduk di samping Reihan langsung merangkulnya lalu tersenyum sambil berkata
"ye..jagoan kita ngembek ni ye..".
Bus yang tadinya penuh dengan canda ria berubah menjadi jeritan ketakutan semua orang. Bus yang mereka tumpangi menabrak pembatas jembatan dan terjatuh ke sungai dengan arus yang deras. semua orang ketakutan dan berusaha menyelamatkan diri mereka sekuat tenaga. Hanya sedikit orang yang selamat dan banyak yang menjadi korban hilang, termasuk Wira.
" Wira.." desis ku .
"Ahhh..." pekik ku ,aku melihat jam, ternyata sudah jam 6 pagi." kenapa gue mimpi kaya gitu ya?" gumamku, sambil berjalan ke kamar mandi.
.
.
.
" lu kok tumben datengnya agak siang" tanya Deandra disertai anggukan Reihan
" tadi gue bangun kesiangan" jawab ku sambil berjalan menuju tempat duduk ku di baris ke dua paling belakang.
Aku pun duduk di tempat duduk ku, saat ku lihat ke depan ternyata...
" lo kok masih disini" tanyaku sambil melihat kearah Reihan.
" emang kenapa, gue gak boleh ada di kelas kalian? lagi pula gua juga bakalan sering dateng ke sini ya gak De?" jawabnya dilanjut anggukan Deandra.
Aku pun mengerutkan dahi, tak mengerti karena biasanya Reihan tuh paling males kalo di suruh ke kelas ku dan deandra alasanya karena kelas ku dan dia berjauhan, jadi kalau mau ketemu paling di kantin.
Aku pun bertanya kenapa Reihan akan sering kesini? namun sebelum dijawab bel masuk berbunyi, jadi Reihan harus kembali ke kelasnya sedangkan Deandra harus kembali ke tempat duduk nya.
.
.
.
" Kring..kring..kring" bunyi bel istirahat. Aku pun pergi ke ruang guru dan meletakkan buku tugas di atas meja bu Tika.
Setelah itu aku pun langsung bergegas menuju kantin, Deandra dan Reihan sudah menunggu dikantin. Sesampainya di kantin, aku menghampiri Deandra dan Reihan, lalu aku duduk disamping Deandra.
Setelah kami memesan minuman kami melanjutkan percakapan tadi pagi.
" Meisya" panggil Deandra.
" apa?" jawab ku.
" gue sama Reihan jadian" lanjut deandra. Aku pun terkejut dan hampir tersedak minuman. Lalu mereka menceritakan saat Reihan menembak Deandra.
" Nanti pulang sekolah jalan yuk" ajak ku kepada mereka.
"tumben lu mau jalan, biasanya juga langsung pulang" jawab Reihan.
"gue pengen cerita" beritahu ku.
"kenapa gak sekarang aja?" tanya Deandra.
"bentar lagi bel masuk, nanti kita ketemu di tempat biasa ya" jawabku sambil berdiri dan berjalan meninggalkan mereka.
.
.
.
Jam pulang sekolah sudah lewat satu setengah jam yang lalu. aku sudah duduk didalam kafe dekat jendela sendirian.
Kemana sih mereka? apa mereka pergi ketempat lain dulu ya? pikir ku. Aku segera melihat jam yang melingkar ditangan kananku yang benar saja sekarang sudah jam 14:00 itu berarti sudah tiga puluh menit aku menunggu.
Dengan segera aku mengambil handhpone yang kuletakkan di atas meja dan segera menelepon Deandra, setelah tersambung Deandra langsung bilang...
"Sebentar lagi gue sampe. Lu tunggu aja udah deket ni" dan dia langsung menutup teleponnya.
Tidak lama kemudian Deandra dan Reihan sampai, kami pun memesan minuman dan makanan.
"Lu mau cerita apa?" tanya Reihan.
Aku pun menceritakan mimpiku dan memberi tahu kepada mereka bahwa akhir-akhir ini aku melihat bayangan Wira.
"Lo belum bisa memaafkan dirilo sendiri ya?" tanya Reihan dan kujawab dengan anggukan, karena Wira hanyut setelah menyelamatkan ku.
"Meisya lo harus ngemaafin dirilo sendiri, gimanapun itu tu udah takdir jadi lo jangan nyalahin diri sendiri ok" kata deandra yang sama sekali tidak ku respon. Setelah hening agak lama aku pun bersuara.
" Reihan katanya dikelas lo bakalan ada murid baru ya minggu depan?" tanyaku.
" Iya, lo tau dari mana? dia kan belum masuk sekolah" tanya Reihan.
"Gue tadi denger pas diruang guru" jawabku yang derespon dengan kata Oo dan anggukan.
.
.
.
Satu minggu telah berlalu dengan mimpi dan bayangan wira yang selalu menghampiriku. Kejadian itu sudah dua tahun yang lalu, tapi menggapa sekarang kejadian itu menghantui ku,pikirku.
Aku dan deandra sedang berjalan dikoridor sekolah menuju kelas Reihan, Deandra ingin bertemu dengan Reihan sedangkan aku ingin melihat murid baru.
Sampai disana aku langsung melihat sekeliling. Aku pun menyusul Deandra dan duduk didepan meja Reihan aku lalu bertanya...
"mana murid barunya?"
"belom dateng kayaknya" jawab Reihan.
"nanti kalo istirahat bawa ke kantin ya" suruhku pada Reihan.
.
.
.
"Mana sih Reihan, kok belom dateng juga?" gerutuku, 15 menit yang lalu bel istirahat sudah berbunyi.
"Sabar dong, mungkin si murid barunya malu kali" kata Deandra.
Saat aku dan Deandra sedang mengobrol, tiba-tiba Reihan memanggil kami. Saat kami melihat ke arahnya, aku terkejut dan langsung berdiri dari tempat duduk ku.
" Wira" desis ku. Aku langsung berbalik dan pergi meninggalkan kantin dan menuju ke kelas secepat mungkin. Deandra menyusulku dan langsung duduk di sampingku sambil berkata...
"Meisya lo gak papa kan?" aku diam saja.
"Meisya jawab dong jangan bikin gue takut" aku pun melihatnya dan berkata
"gue halisinasi doang kan? iya gue cuma halusinasi" kataku, namun Deandra mengelengkan kepalanya.
"Meisya" panggil Wira. Aku hanya diam dam berpura-pura membaca buku yang ada di atas meja.
"Meisya" panggilnya lagi. Aku tidak melihat kearahnya, namun aku menggelengkan kepala.
Deandra yang melihatnya langsung berjalan kearah pintu dimana Reihan dan Wira berdiri. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan tapi aku yakin bahwa Deandra tau maksud gelengan kepalaku.
.
.
.
Malam ini aku dan Deandra pergi ke Mal untuk makan malam dan melihat-lihat. Setelah berkeliling kami memutuskan untuk makan disebuah Restoran.
Saat kami makan seseorang menghampiri kami,ternyata itu Reihan,dia pun langsung duduk di samping deandra.
"Kalian tumben jalan ngak ngajak gue?" tanyanya, aku hanya tersenyum.
"Meisya, lu kok tadi disekolah kayak gitu sih? seharusnya kan lo seneng"katanya, aku hanya diam dan meminum jus yang kupesan tadi.
"katanya lo kangen sama dia" kata Deandra, aku pun melihat mereka sambil mengeryitkan dahi.
Tiba-tiba ada sebuah suara dari arah belakang.
"Kenapa lo benci sama gue?".Aku pun melihat kebelakang ternyata itu Wira.
"Seharusnya lo tau itu,saat lo nyelametin gue 2 tahun yang lalu dan sekarang muncul tiba-tiba" jawabku,aku berdiri dan meninggalkan mereka. Ternyata semua ini rencana mereka,batinku.
.
.
.
Satu bulan telah berlalu, aku selalu menjauhi Reihan dan Wira terkadang aku juga menjauhi Deandra ketika ia bersama mereka. Aku juga menolah ajakan Deandra untuk pergi.
Setelah pulang sekolah aku pergi ke sebuah taman, di tengah taman terdapat bunga-bunga yang mermekaran. Aku duduk seorang diri disalah satu bangku yang tersedia di pinggir taman.
Aku menghambil handhpone lalu aku membuka galeri dan melihat foto dua tahun yang lalu ketika aku,Deandra,Wira,dan Reihan selalu bersama. Aku ingat kenangan itu,bersama mereka aku selalu tersenyum dan tertawa melalui masa-masa sulit bersama, aku ingin seperti dulu lagi namun sekarang sudah berbeda,pikirku.
"Meisya" panggil seseorang sambil menepuk bahuku. Aku kaget dan langsung menengok ke samping teryata Deandra.
"Kalo lo mau cerita, cerita aja gue bakalan dengerin kok" tawarnya. Awalnya aku ragu namun aku tetap bercerita bahwa selama Dua tahun ini aku merindukan Wira namun saat dia kembali aku merasa kesal karena sudah dibohongi olehnya selama dua tahun.
Dia itu terlalu egois seharusnya dia bilang ke kita kalau dia itu masih hidup, karena dia aku selalu menyalahkan diri ku sendiri atas kematian palsunya. Deandra mendengarkan dan bertanya...
"Dari mana lo tau kalo sejak kejadian itu dia masih hidup dan tinggal sama orang tuanya?" tanyanya.
"gue waktu itu ngak sengaja ngeliat kalian lagi di kafe, ya gue dengerin apa yang kalian omongin" jawabku, aku merasa malu karena katahuan menguping pembicaraan orang lain.
"Jadi itu alasan lo ngejauhin Wira dan bilang kalo lo itu benci sama Wira?" tanyanya.
"iya" jawabku.
"Gimana kalo kita berempat besok ketemu di tempat biasa?" tanyanya. Belum juga aku menjawab dia langsung berkata...
"Udah lo tenang aja".
"Terserah lo. Bye gue mau pulang" jawabku sambil meninggalkan dia.
.
.
.
Deandra sedang menunggu di ruang tamu rumahku. Tak kusangka dia benar-benar serius dengan perkataannya kemarin.
Setelah aku mengganti pakaian,aku dan Deandra pergi ke sebuah kafe. Sesampainya disana aku melihat Wira dan Reihan sedang duduk di salah satu meja kafe, aku dan Deandra menyapa mereka dan bergabung dengan mereka.
"Meisya" panggil wira, aku pun melihat kearahnya.
"Maafin gue ya" pintanya. Aku hanya menggangkat alis meminta penjelasan.
"Gue udah bohong selama ini. Seharusnya gue muncul lebih awal, gue ngak tau kalo gue muncul sekarang keadaanya jadi kayak gini" lanjutnya.
"Bagus deh kalo lo nyadar" jawabku.
"kata Dea lo denger percakapan gue sama mereka berdua, jadi gue ngak usah jelasin lagi kan. Jadi lo maukan maafin gue?" tanya Wira, aku melihat mereka bergantian dan menjawab...
"Gak tahu ah, gue laper mau makan".Kami pun memesan makanan. Setelah kami selesai makan, mereka melihatku seperti ingin memakanku.
"Jadi apa keputusan lo?" tanya Deandra tak sabar.
" Jadi gue bakal maafin lo, tapi ada satu syarat, lo ngak boleh ngelakuin itu lagi dan lo harus sering-sering traktir kita" lanjutku.
"Nah kalo itu gue setuju" kata Reihan dengan semangat.
"Terserah" jawab Wira. Kami semua pun tertawa.
.
.
.
Sejak hari itu kami selalu bersama. Hari ini aku dan yang lainya pergi ke taman hiburan, kami menaiki Kora-kora,Sky Swinger, Bumper Car,dan Roller Coaster.
Setelah kami selesai menaiki Biang Lala,Wira menarik tanganku dan pergi kesuatu tempat.
"Meisya lo mau ngak jadi pacar gue?"
"Hah, lo ngak bercanda kan?" tanyaku tak percaya
"gue serius, lo mau ngak jadi pacar gue?" ulangnya.
"Ya" jawabku sambil tersenyum.
Lalu ia menarik tanganku dan masuk kedalam rumah hantu.