ini adalah sebuah kisah lama seorang anak berusia 7 tahun
Hidupnya tak semudah yg terlihat.
Ia memang gadis kecil yg begitu cantik dan lucu.
Dia di kenal sebagai putri dari keluarga yang sangat kaya raya.
Tapi dalam kisah ini dia begitu sengsara, tanpa kasih sayang, di lukai, serta di jadikan budak kecil dalam rumahnya sendiri
Laura... nama gadis kecil tersebut.
Dia terlahir menjadi anak yg tak di harapkan keluarganya.
Ayahnya ingin seorang anak laki2. Namun sang ibu melahirkan anak perempuan.
Dan alangkah marahnya si ayah karena seusai melahirkan ibu tersebut dinyatakan tidak akan bisa hamil kembali.
Sejak ia lahir ibunya tidak mau menyusui bahkan menyentuhnya sama sekali.
Ayahnya bahkan tak pernah peduli sedikit pun.
Akhirnya seorang budak wanita janda mengasuh anak tersebut hingga tumbuh besar.
Di usia 3 tahun... ayahnya yg bernama tuan Raga di tuntut untuk memiliki penerus kekuasaannya.
Tuan Raga tak punya pilihan lain selain kembali mengakui Laura sebagai anaknya.
Tuan Raga bisa saja menikah lagi tapi cintanya untuk sang istri terlalu besar untuk ia khianati.
Laura kemudian tumbuh dewasa dengan berbagai kemewahan yang di suguhkan namun di samping hal itu Laura juga di siksa dan dilukai. Setiap hari Laura selalu menjadi pelampiasan sang ayah dan ibunya pun masih saja tak peduli serta pura-pura tidak tau.
Tak jarang Laura pun bekerja layaknya budak.
Setiap malam laura hanya mampu meringkuk di tempat tidur besar di kamar mewah miliknya namun suasana begitu terasa dingin. Tak ada cerita sebelum tidur atau nyanyian merdu lagu pengantar tidur.
Miris sungguh miris. Anak seusia laura harus menanggung beban sebegitu besarnya. Menahan sakitnya di siksa serta tak di anggap oleh keluarganya.
Anak lain masih asik bermain dan bercanda gurau dengan kawan namun laura justru hidup dalam kesendirian.
Wanita janda yang dulu setia menjaganya kini telah tiada.
Ayahnya dengan bejat tega membunuh budak janda itu karena terus menerus melindungi laura.
Ayah laura begitu sadis dan tak segan membunuh. Tentu saja sifat itu melekat pada dirinya. Bagaimana tidak pekerjaannya adalah sebagai pembunuh bayaran. Kekayaan yang ia miliki seluruhnya adalah hasil dari pekerjaan kejam tersebut. perusahaan besar miliknya hanya sebagai kedok belaka untuk menyembunyikan identitas aslinya.
Entah sudah berapa banyak luka di tubuh laura yang terus mengucurkan darah. Namun laura tak bisa berbuat apa-apa selain menerima semua yang di lakukan ayah dan ibunya.
Laura selalu menyanyangi mereka.
Meski selama ini bukan kasih sayang yang ia dapatkan.
Tapi bagi laura masih mampu berkumpul dengan ayah dan ibunya saja dia sudah cukup bahagia.
Hingga tibalah pada hari ini,dimana laura tak sengaja jatuh dari tangga dan seluruh tubuhnya berlumuran darah.
Tuan raga yang melihatnya bergegas membawa laura ke rumah sakit.
Entah angin apa yang datang pada tuan raga hingga wajahnya begitu sarat akan kekhawatiran.
Sesampainya di rumah sakit laura segera dilarikan ke ruang gawat darurat oleh dokter.
Kecemasan terlihat jelas di wajah tuan raga.
Setetes air mata meluncur bebas di pipinya diikuti tetes demi tetesan lainnya.
Tangisan itu penuh akan ketulusan berbanding terbalik dengan sebelumnya yang begitu kejam dan tak kenal ampun.
Kini sosok ayah yang laura impikan hadir dalam diri tuan raga.
Jika saja laura ada di depan tuan raga alangkah bahagianya laura.
Tapi kini laura sedang berjuang antara hidup dan matinya.
Waktu terus berputar dan tak terasa sudah 3 jam laura ada di dalam sana. Di rumah sakit bukan hanya tuan raga namun juga ada seluruh keluarga besarnya. Tuang raga terlihat begitu hancur.
Dalam pancaran matanya tersirat penyesalan yang sangat besar.
Tak lama seorang wanita setengah baya yang menggunakan jas putih keluar dari ruangan dimana laura berada. Dokter itu memanggil tuan raga dan mengatakan kondisi laura.
Kata demi kata yang di sampaikan dokter seakan meruntuhkan dunia tuan raga.
Laura tak dapat di selamatkan lagi.
Seluruh keluarga menangis dan menjerit meneriakkan nama laura.
Ibunya yang tak pernah peduli pada laura kini berlari menemui laura dan memeluknya. Hal yang saat di inginkan laura seumur hidupnya namun ia baru mendapatkannya saat nyawanya telah berpisah dengan raga.
Hari itu juga pemakaman laura di laksanakan.
Banyak orang datang sebagai bentuk bela sungkawa terhadap tuan raga atas meninggalnya putri semata wayangnya.
Tuan raga hanya mampu terdiam melihat gundukan tanah di depannya. Air mata kembali mengalir di pipinya. Ia mengelus batu nisan itu dengan penuh kelembuatan.
Setalah itu tuan raga menghapus air matanya dan tersenyum. Ia bangkit dan melajukan mobil mewahnya ke kantor polisi. Sungguh tak terduga tuan raga menyerahkan dirinya kepada polisi yang selama ini mencari-cari keberadaannya.
Tuan raga sadar selama ini yang ia lakukan salah besar. Ingatan wajah kesakitan laura terpampang nyata dan seketika menyesakkan dadanya.
Tuan raga memutusnya akan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Ia berharap dengan seperti ini ia mampu menebus dosa-dosanya selama ini terhadap laura.
Tuan raga kini mengerti artinya kehilangan. Dulu seumur hidupnya ia telah banyak membuat orang lain menderita karena kehilangan orang yang telah dirinya bunuh.
Penyesalan selalu datang di akhir cerita. Sebagai wujud rasa bersalah yang tak terkira.
_*The end*_
Thanks for reading
*Hidup adalah sebuah perjalanan semu.
Ada kalanya kesedihan datang bertamu.
Kebahagiaan sering pergi menimbulkan rindu.
Masalah datang tiada henti hingga pikiran pun terasa Kelu.
Semuanya memang terasa memberatkan,
Bahkan bergelayut seperti beban.
Bukan salah kita karena mempersulit keadaan,
Namun hati yang terlupa mensyukuri kenikmatan.
Dunia boleh menghakimi semua kesalahanmu,
Mereka berhak untuk membencimu.
Manusia tak pernah luput dari salah dan dosa,
Maka perbaiki selagi masih bisa.
Jika engkau menyerah di titik ini,
Hanya ada penyesalan yang kau dapat di kemudian hari.
Bangkitlah sedikit demi sedikit.
Meski luka-luka yang tergores terasa begitu sakit.
Ikhlaskan yang telah pergi.
Lepaskan dendam yang tersimpan dalam hati.
Berhentilah untuk membenci dirimu sendiri.
Lihatlah kedepan dan engkau akan tau masih banyak orang yang peduli.
Menanti dirimu kembali dan tersenyum lagi.*