“Nenekku bilang aku diasingkan di dunia manusia karena satu hal. Pertemuan kita pasti takdir. Setelah nenek meninggal aku baru tau Ayahku dulunya seorang Raja didunia ini, dunia immortal. Ibuku yang dulunya seorang Ratu meninggal setelah melahirkanku dan aku diasingkan. Aku tidak tau apa alasannya tapi nenekku selalu menjauhkanku dari semua ini. Tapi kini aku putuskan.. aku akan menikah dan menjadi penghuni tetap di dunia ini.”
“Kau nyakin?”
Cilea tak pernah senyakin ini. Gadis berparas cantik itu sudah membulatkan tekadnya ia akan menikahi Mark meski awalnya ia terkejut Mark adalah manusia setengah elf. Dan ia tak pernah seterkejut ini lagi saat tau darahnya juga bukan darah murni manusia.
Ia anak dari Lord yang pada masanya sangat terkenal karena kekuasaannya. Bahkan Cilea sendiri tidak bisa memastikan sudah berapa banyak jenis darah dari klan yang berbeda yang mengalir di tubuhnya.
Ibunya aja seorang peri. Beruntung Mark menerimanya apa adanya. Hanya dia yang tau Cilea adalah adalah putri dari Lord terdahulu. Kini kerajaan sudah berganti dengan Raja yang baru. Tidak ada yang tau pasti tentang kejadian itu tak terkeculi Cilea.
Mark hanya bercerita Ratu yaitu ibunya Cilea meninggal saat ia dilahirkan. Raja sangat sedih karenanya. Putri satu-satunya ia asingkan didunia manusia lalu ia menghilang tanpa kabar, hingga sekarang.
Langkah kaki mereka melangkah beriringan. Cilea terus memeluk lengan Mark meski ia merasa Mark terlihat berbeda belakangan ini. Pesta pernikahan mereka seminggu lagi namun tiba-tiba Mark mengajak Cilea pergi ke pohon suci tempat leluhur klannya di makamkan. Mau tak mau Cilea menurut.
Mereka berdua memasuki lubang putih yang menjadi gerbang penghubung pohon suci itu. Lalu terdamparlah lapangan luas dengan rumput hijau sejauh mata memandang. Di tengah-tengahnya ada batu lonjong yang melekat di tanah.
Disana tertancap pisau yang siapapun melihatnya sudah tau pisau itu sudah lama disana. Gagangnya sudah lumutan. Sangat mustahil untuk dicabut.
“Ayo.”
“Tapi Mark, dimana pohonnya?” tanya Cilea. Tidak ada pohon disana hanya lapangan luas dan batu. Mark tak bergeming malah terus menarik lengan Cilea untuk mengikutinya.
Mereka berdiri di tengah-tengah batu itu. Berdiam sesaat lalu mulut Mark mulai komat-kamit. Cilea terkesiap. Dia tidak ingat ada pemujaan seperti ini!
Dan.. Kretak!!!
Tanah di pijakannya bergetar. Cilea mulai kalang kabut, meneriaki nama Mark tapi Mark masih dalam kelakuannya. Mulutnya terus komat kamit membaca sebuah mantra. Mungkin mantra pemaanggil? Cile tercengang. Tapi siapa yang akan di panggil Mark?!
“Mark! Kita harus pergi dari sini! Tempat ini mau hancur.. apa yang kau lakukan Mark?!” teriak Cilea frustasi. Mark tak mengubrisnya. Di ujung lapangan sana tanahnya mulai mengembung lalu seperti ada sesuatu di dalamnya, tanahnya mulai bergelombang. Bergerak, bergerak, melesat cepat. Dan, BYUR!!!
Hujan tanah langsung menyapu pandang Cilea. Tanahnya terbelah lalu keluarlah sesuatu yang melesat cepat ke langit. Terbang meliuk-liuk di atas sana. Mata Cilea membulat besar.
“Na, naga, itu naga!!!” teriaknya ketakutan. Saat mata Mark membuka kembali, naga bersisik merah yang terbang di atas langit itu berhenti menggeliat. Meluncur ke hadapan Mark dan Cilea. Tak cukup disitu, mendadak perut si naga membesar seperti wanita hamil lalu dengan cepat ia memuntahkan isi dalam perutnya.
Dan keluarlah peti mati yang langsung di dekati Mark. Cilea yang masih shok, gemetar mengikuti Mark. Mark membuka peti matinya lalu terpampanglah wanita cantik yang terlihat mirip seperti Cilea. Saat Mark ingin menyentuhnya, ekor dari naga itu menampar tangan Mark hingga tergores cukup dalam lalu sang naga menggeram sangat kencang.
“Tenang saja, aku sudah membawa apa yang kau mau. Tinggal lakukan saja pertukarannya!” pintah Mark skeptis.
“Mark.. Mark, apa arti dari semua ini.. kenapa.. kenapa ini,” Cile mundur beberapa langkah. Kini Mark bukan lagi Mark. Rupanya sudah berubah menjadi sesuatu yang mengerikan.
Dari kepala Mark mencuat dua tanduk yang melengkung. Matanya melotot dengan pupil semerah darah lalu dari mulutnya keluar gigi-gigi runcing yang Cilea nyakinin setajam pisau. Pakaiannya berubah serba hitam dengan bau busuk yang menyengat. Air mata Cilea menetes.
Mark berubah jadi Iblis.
“Kau bukan Mark..”
“Tentu saja. Sekarang kau sudah tau.. kau yang membangunkanku.. sang Iblis telah bangkit!!! Wahai Raja Iblis yang terkutuk!!! Aku sudah membawa tumbalmu!! Datanglah!!” seperti perintah, langit mulai berubah hitam menutupi semua cahaya yang ada. Kaki Cilea gemetar hendak berlari kabur. Mark adalah Iblis atau Iblis yang menyamar jadi Mark. Ia tau tau, ia harus kabur lebih dulu!
Tapi sudah terlambat. Si Iblis langsung menarik pisau dari batu lalu menusuk perut Cilea hingga jatuh terkapar.
Si Iblis menyeringai senang. Ia menarik pisaunya kembali lalu manaruhnya di atas batu terkutuk itu lagi. Darah segar dari pisaunya menetes-netes lalu terbentuklah permata berwarna merah terang. Dari permata itulah muncul asap tipis yang mulai menarik jiwa Cilea dan menggantikannya ke jiwa yang ada di dalam peti mati itu.
Dan tadaa.. si wanita peti mati hidup kembali.
Dari portal putih seorang pria berteriak kencang meneriaki nama Cilea. Mark yang asli datang lalu memeluk Cilea yang sudah dilapisi asap putih di seluruh tubuhnya. Mark menangis histeris. “Biadab! Kau Iblis terkutuk! Bagaimana bisa kau melakukan ini pada putrimu!!!”
Wanita yang hidup kembali itu terperangah. Memandang Cilea lamat. “Putri..?”
“Jangan dengarkan itu sayang! Kau hidup kembali! Aku berhasil! Akhirnya setelah sekian lama..”
“Kau.. siapa?”
Si Iblis itu tertegun. “Aku, aku.. suamimu. Aku Raja dan kau Ratuku!”
“Bukan.. kau iblis.”
“Sa, sayang.. aku, aku adalah suamimu. Aku menukar jiwaku menjadi iblis demi dirimu. Aku bahkan tertidur lama dan akhirnya aku terbangun kembali untukmu.”
“Tidak, kau Iblis.” Si Iblis yang notabenya mantan Raja itu tercekat. “Kau menumbalkan putri kita demi diriku. Aku sudah mati tapi kenapa kau tak bisa mengikhlaskan diriku? Kau sangat mencintaiku bukan. Aku.. aku sangat senang saat Dewa mendatangkan putri kita untuk membangunkanmu tapi ternyata aku salah. Putri kita.. malah membangunkan seorang Iblis yang tak punya hati sepertimu!!”
“TIDAK!!! INI SEMUA AKU LAKUKAN HANYA UNTUKMU!! Aku mecintaimu! Kau Ratuku! Kau tidak boleh mati!! Karena melahirkan anak sialan itu kau matii!! Kau tidak boleh mati!! Kau tidak boleh mati!!”
Ssssrrrttttt.... teriakan ayah Cilea berhenti. Ia menatap istrinya gemetar. Perlahan tubuh istrinya sekaligus ibunya Cilea itu berubah tembus pandang. Mulai menghilang.
“Kenapa..” si Iblis kembali bertukar wajah. Aura kebengisannya menguar kental. Tatapan membunuhnya mulai terpancar di sorot matanya. Mengincar Mark yang tengah menghancurkan permata merah itu dengan pisau. Ia terus memukul-mukulnya hingga retak. Suara pisau dan permata yang berdentang semakin nyaring bunyinya saat si Iblis semakin mendekat. Dan..
TRANGGGG!!!!!
.....
Sudah hampir seminggu kerajaan di dunia immortal itu berduka. Mengenang sosok pemimpin mereka yang mati setragis itu. Di depan makam, Mark terkatung dengan wajah redupnya. Masih tak percaya dengan semua yang terjadi.
“Dewa sengaja menidurkannya agar ia tak mengincarmu karena hanya darah dari keturunannya yang bisa di jadikan tumbal. Tanpa saat kau datang kembali kedunia ini dia terbangun. Sang Iblis terbangun karena putrinya.”
“Itu juga alasan mengapa nenekku selalu menjauhkanku dari dunia ini.”
“Tapi semua sudah selesai,”
“Ya. Semua sudah selesai.” Cile tersenyum tipis dengan pandangan masih mengarah ke dua makam orang tuanya. Ibunya yang sudah dimakamkan dengan layak dengan ayahnya yang membunuh dirinya sendiri saat kejadian itu.
....