siang ini, ingin kuceritakan surifi seorang anak dari pulau kecil sebelah selatan dari Sulawesi Tenggara terbangun dari tidur siangnya. ia melihat jam baru setengah tiga.
surifi adalah seorang anak yang tak terlalu cerdas disekolah tapi tidak bodoh-bodoh amat juga. hanya saja ia tidak terlalu suka dalam hal menulis sebuah cerita katanya ia sering terbengkalai oleh sebuah ide. ia selalu mendapat nilai merah saat membuat sebuah karya tulis karna memang ia tak menyukai tulis menulis.
hingga saat ia sudah berada di bangku sekolah menengah atas saat itu ia kelas 10 masuk dalam kelas yang cukup menarik 10b. teman-teman sekelasnya kebanyakan saat mereka masih menengah pertama sangat cerdas tak jauh beda dengan mereka yang berada di 10a, surifi pun masuk dalam lingkaran itu.
banyak ia dapat kawan baru saat itu, tapi yang membuat ia sangat begitu bersemangat adalah Linda. seorang gadis imut nan cantik berwajah Filipina itu berhasil mencuri hatinya.
walaupun Linda berada dikelas 10a, dan dikelas itu lingkaran yang mampu mengalahkan kejamnya lingkaran kelasnya, pemain sepak bola sering memberi julukan untuk situasi seperti itu group neraka.
duhh aku yang nilai nda terlalu bagus kenapa harus berada dikelas ini sih??
tapi ia sekarang memiliki tekad bahwa harus bisa mendapatkan kembali hatinya yang telah dicuri oleh gadis berwajah Filipina itu, yah Linda namanya.
ia tak berani mendekatinya karna setiap hendak mengajaknya untuk ngobrol berdua ia selalu didatangi oleh berbagai pikiran negatif, jangan sampai dia nda suka, jangan sampai dia nda senang sama aku, pokoknya jangan-jangan itu banyak sekali sampai ia tak pernah untuk ngobrol bersama sang pujaan nya itu.
surifi yang kebingungan saat pulang sekolah singgah di sebuah warung makan, saat itu banyak pengunjung jadi dia sibuk nonton TV yang disediakan oleh pemilik warung.
tak sengaja ia melihat acara TV saat itu menayangkan kisah cinta seorang lelaki kumuh namun bisa membuat pujaan hatinya itu untuk hidup bersamanya, yah dengan cara mengirimnya sebuah tulisan sebuah kisah tentang bagaimana perjuangannya dalam mencintainya.
ia pun terpikir laki-laki itu saja bisa kenapa aku nggak bisa, walaupun kenangan lamanya tentang menulis begitu sangat buruk tapi ia tetap akan melakukannya.
selama empat bulan lebih ia sibuk menulis, yang ia tahu hanya menulis berani melepaskan semua kegiatan sehari harinya, dari main takraw ngumpul sama teman teman. ia tetap fokus sama menulisnya.
hingga suatu waktu ia mulai menulis kisah cintanya terhadap sang pujaan hatinya Linda yang bermata indah berwajah Filipina itu.
ia menulis dalam rumusan sebuah surat, tak ada rayuan dalam surat-suratnya,, justru isi suratnya kumpulan kumpulan perjuangannya melawan diri sendiri untuk menaklukannya agar bisa berani berbicara terhadap Linda.
tiap malam ia akan kirim suratnya kerumah Linda tak pernah berhenti.
surifi yang tidak sadar bahwa ia semakin mahir dalam menulis apa lagi tentang kisah kisah perjuangan kini mulai lebih lihai dalam memilih kata, ia tak tahu bahwa surat suratnya telah terbaca habis, Linda pun ternyata menyukai surat surat darinya, dan itu selalu menjadi pengantar tidur buatnya.
tak terasa hari pelulusan tiba, bagi anak-anak sekolah pada waktu itu merupakan hari yang bahagia, tapi tidak bagi surifi dan Linda.
surifi yang merasa takkan bisa lagi menyelinap ke pekarangan rumah Linda untuk mengirimkan surat, sementara Linda yang merasa sedih karna takkan lagi mendapatkan cerita pengantar tidur yang diam-diam telah ia cintai sejak surat-surat itu hadir di kehidupannya.
namun karna surifi yang di tiap suratnya tak pernah beri nama aslinya hanya menggunakan nama pena yaitu Bung-Juang dan Linda yang tak tahu siapa bung juang itu akhirnya begitu merasa sangat sedih.
Linda lulus sebagai siswi terbaik satu sekolah menangis, bukan karna menangis bahagia tapi dia menangis karna akan segera berpisah dengan sang pengirim surat misterius. satu sekolah mengira karna kelulusannya sebagai siswi terbaik membuatnya begitu sangat terharu.
disisi lain surifi yang telah pergi ke pekarangan sekolah justru menangis sampai ia begitu sangat lesuh karna sampai akhir ia tak berani mengungkapkan perasaannya kepada Linda, apa lagi Linda yang akan lanjut kuliah di kota mungkin takkan ada lagi kesempatan.
seminggu setelah pelulusan surifi kembali menulis, bukan untuk Linda tapi untuk dirinya sendiri.
"Biarlah kisah yang tak pernah terungkap ini ku ikat bersama tulisanku yang akan selalu abadi"