Marten hanya berdiri terdiam tanpa kata didepan makam ayahnya, makam yang baru saja selesai ditimbun. Tak ada yang bisa menerka pasti apa yang dirasakan Marten saat ini, garis mukanya terlihat datar tidak menunjukkan kesedihan atau apapun bahkan orang yang hanya melihat sekilas akan menganggap Marten anak yang tidak punya perasaan.
Hanya Marten yang tau apa yang berkecamuk didalam hatinya, ia tahu ia sudah kehilangan rasa simpati terhadap sosok yang baru saja dimakamkan, sosok yang secara biologis adalah ayahnya. Setelah hampir 15 tahun berpisah baru menjelang kematian ayahnya itu dia mulai membuka kembali hati untuk bertaut dengan ayahnya itu.
Berawal dari sebuah surat yang menginfokan bahwa ayahnya sakit keras, surat yang dibawa oleh pihak keluarga sang ayah buat Marten seperti sebuah kapal yang membuatnya harus terdampar kembali di sebuah dermaga yang telah lama ia lupakan.
Pertama kali ia bertemu ayahnya setelah sekian lama berpisah, ia menemukan sosok kurus terbaring lemah tak berdaya, sosok yang dulu begitu kejam mengusir dirinya dari rumah, sosok yang begitu keras memukulinya dengan kayu saat ia melakukan kesalahan, sosok yang suka pulang ke rumah dalam keadaan mabuk.
"Ayah…" Suara Marten terdengar lirih sehingga tidak bisa terdengar jelas oleh sosok lemah itu.
"Ayah…!" Kali ini suara Marten agak keras dan membuat ayahnya mulai menggeliat lemah.
Semenjak ibunya meninggal karena kanker, Marten dan ayahnya tinggal berdua namun hubungan mereka tidak bisa dibilang baik-baik saja. Sang ayah yang suka mabuk-mabukan ditambah perilaku kasar yang sering ia tunjukkan membuat Marten seringkali bersitegang dengan sang ayah, bahkan kekerasan fisik kerap menimpa Marten, puncaknya menjelang tamat SMA Marten diusir dari rumah setelah Marten menolak ide ayahnya untuk berhenti sekolah dan ikut bekerja sebagai keamanan di sebuah klub malam. Sejak itu Marten berjuang sendiri mencari biaya untuk menamatkan sekolahnya lalu kuliah dengan bantuan beasiswa dan bekerja paruh waktu, kini Marten telah memiliki kehidupan yang lebih baik dari yang ia rasakan sebelumnya.
"Kau...siapa?" Tanya ayahnya dengan lemah, daya ingat yang mulai lemah serta suasana kamar yang remang membuatnya susah mengenali sosok Marten.
Perlahan Marten mendekati ayahnya, lalu menyentuh tangan keriput kurus ayahnya.
"Saya Marten, saya Marten anak ayah..."
"Marten..." Suara lemah ayahnya terdengar berat, perlahan dari sudut matanya mulai terlihat cairan bening yang mengalir turun di pipi secara perlahan.
"Sudah lama sekali ayah...seharusnya kita bisa bersama-sama lagi"
"Maafkan aku nak..." Genggaman ayah begitu erat ke tangan Marten seakan dia tak mau lagi melepaskan, sesaat itu pula amarah dan rasa kecewa yang dipendam Marten mulai lirih bersama linangan air mata sang ayah. Tanpa bisa menahan rasanya ia lalu memeluk tubuh renta nan lemah sang ayah, sekian lama waktu berlalu sekian lama itu pula rasa rindu dendam membuncah dan kini semuanya terlepaskan.