Aroma Lemon
Mai membuka matanya. Langit muram, tangisan pun jatuh dari langit. Suara gemuruh langit mulai terdengar. Mai membiarkan tubuhnya terguyur oleh tangisan yang semakin deras. Menatap langit dengan tatapan kosong, seakan tak ada jiwa di dalam tubuhnya. Air mata jatuh ke pipi.
Jalan pulang yang tak dapat terlupakan mendadak hilang dari ingatan. Tak mau mengingat apapun yang terjadi di sana. Tangan kanan Mai menggenggam tangan kirinya seraya bersimpuh di atas jalan itu. Kalimat penyesalan dan permintaan maaf terus ia lontarkan. Teriakkan rasa bersalah dan penyesalan terus terlontar dari bibir kaku Mai.
Aroma pahit dan asam lemon tercium, aroma yang khas ketika ‘seseorang’ itu datang. Aroma yang selalu diingat oleh Mai dan tak akan pernah ia lupakan. Hujan yang semakin deras membuat aroma tersebut semakin tercium dan terus merasuki pikiran Mai. Kebenaran dibalik itu semua yang membuat Mai semakin membencinya.
Mai berdiri kemudian berlari menuju rumahnya. Derasnya hujan diterjang oleh tubuh yang ringkih itu. Rambutnya basah dan seragam musim panas itu tak lagi rapih. Sepatu yang terus menerus menginjak genangan air. Langit tampak semakin muram disertai gemuruhnya. Mai terus berlari dan sampai di depan gerbang rumahnya.
Gerbang kayu yang tertutup rapat, dibuka Mai dengan kasar. Merogoh saku roknya yang basah kuyup untuk menemukan sebuah kunci. Mai terus menerus menoleh ke belakang dan nampak tergesa gesa. Kunci itu harapan Mai, dibukanya pintu tersebut. Mai menerobos ke dalam rumah yang sepi tanpa seorang pun dan kembali mengunci pintu itu rapat-rapat. Ia menghela nafas dan berusaha menenangkan dirinya, seraya melepaskan sepatu yang kotor. Ia beralari menuju ruang keluarga dan menjatuhkan dirinya langsung ke lantai kayu yang dingin dan keras.
Kaca jendela yang besar dengan tirai berwarna jingga yang langsung menghadap ke pekarangan rumah semakin membuat Mai ketakutan. Pohon lemon yang berbunga dan tampak beberapa buah lemon yang berwarna kuning cerah memberikan pemandangan yang tak enak untuknya. Mai segera menutup tirai jingga itu rapat. Aroma lemon yang tak bisa disembumyikan tetap ada dan terus ada disana. Mai menangis sejadi jadinya.
“ .... Dia di sini?! Atau aku yang selalu berpikiran dia memang ada urusan dengan ku? Mengapa? “, keluh Mai dengan suara bergetar.
Mai memeluk kakinya dan menutup matanya. Aroma itu semakin tercium. Pahitnya lemon yang selalu ia cium setahun yang lalu. Semua kenangan yang ia alami setahun yang lalu dengan ‘seseorang’ itu. Mai terus masuk ke pikirannya dan berusaha mencari tahu siapa ‘seseorang’ itu.
“Aroma lemon yang pernah ku kenal tak pernah sepahit ini....”, gumam Mai.
Mai tertidur di ruang sepi itu. Ia akan terserang flu dan demam karena tidak mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian,
“ .... Mai...Mai.... Mai.. Apakah kau mendengar suara ku? “.
“ Siapa kau? Apa yang kau inginkan dari ku? “, Mai menjawab dengan berani.
“Hey... Kau lupa siapa aku ya? Jahat sekali kau Mai... Kau bahkan tak pernah mendatangiku lagi semenjak hari itu bukan? Apa kau tak mau mengucapkan salam untukku? Kau selalu melakukannya untukku saat kita selalu bersama..."
“Aku tak ingat dirimu, tolong beri tahu aku agar aku tahu kesalahanku “, ujar Mai.
“..... Aku adalah Remonia, Apakah kau lupa? Hari itu turun hujan, kita pulang bersama sesudah latihan biola. Melewati jembatan penyebrangan. Dan kau bertanya padaku, Aroma fresh apa yang aku kenakan, dan aku menjawab itu adalah aroma lemon. Kau bilang, kau selalu ingat aroma ini saat kita berkenalan dulu. Tapi, bukankah aneh Musim panas yang terik tiba tiba hujan deras, Mai? Mengapa kau tak ikut dengan ku? Aku kesepian tanpa dirimu lagi....”. Remonia menggenggam tangan Mai erat-erat.
“Remonia? Aku tak mengingatmu dengan jelas dan aku tak akan mau mengikuti mu kemana pun! “. Jawab Mai tegas.
“Kau harus tahu dan bagaimana rasanya menjadi aku! “. Teriak seorang gadis itu dan menggenggam tangan Mai erat-erat. Lokasi pun berubah, Lokasi yang sama setahun lalu, dua orang siswi berjalan di jembatan penyebrangan dan tertawa, kemudian mereka berhenti. Salah seorang siswi tersebut menarik tas siswi yang lainnya, dengan keadaan bercanda. Salah seorang siswi itu tak sengaja mendorong temannya, kemudian temannya terjungkal kebelakang dan jatuh ke bawah, jalan raya. Siswi yang mendorongnya segera berlari munuju arah temannya yang sudah penuh noda merah. Siswi yang terkapar di jalan itu sekarat, siswi yang mendorongnya menelpon ambulans degan panik. Kejadian itu disaksikan oleh banyak orang, mereka membantu mengevakuasi.
Mai tersontak dan menatap dengan tatapan penuh penyesalan. Tangisnya pun pecah, rasa bersalah menghantuinya. Pahitnya aroma lemon itu berasal dari aroma darah yang tercampur dengan air hujan, air mata penyesalan serta botol parfum yang pecah. Membuat Mai semakin tertekan.
“Ingatlah Mai jika kau tak pernah meminta maaf padaku dan tak pernah mendatangi tempat peristirahatan terakhirku, aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi dan aku akan membunuhmu suatu hari nanti. Kembalilah Mai.... Jangan lupakan aku. Remonia “. Remonia menatap Mai dengan tegas dan mendorong Mai ke ruangan hitam.
“Tidakkkkk..... Maaf kan aku! “. Teriak Mai.
Mai membuka matanya dan melompat dari tempat tidurnya. Dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh. Mai menghela nafas. Dan merapikan tempat tidurnya. Mai segera bergegas mandi dan mengenakan baju setelan berwarna hitam. Sepuluh tahun semenjak kejadian itu, ia masih memimpikan hal yang sama. Ia segera meninggalkan rumahnya dan menutup pagar kayu.
Diperjalanan Mai membeli bunga dan sebotol parfum yang memiliki aroma persis yang tak pernah ia lupakan. Aroma lemon dan jeruk segar lainnya. Mai pergi ke pemakaman di mana gadis itu disemayamkan. Ia bersihkan nisan batu itu kemudian, meletakkan buket bunga dan membuka tutup botol parfum itu. Kemudian berdoa.
“Maafkan aku yang terlambat selama empat hari dari hari peringatanmu. Kau tak perlu datang mengingatkan aku, Remonia. Aku selalu mengingatmu semenjak aku mengakuinya dan tak pernah aku mengabaikanmu. Tahun ini usiaku 26 tahun. Aku akan menikah besok. Andaikan waktu itu aku tak berbuat demikian, kau pasti yang menjadi orang yang mendapatkan buket bunga yang kulemparkan..... Maafkan aku.”, ujar Mai yang menangis kemudian tersenyum. Mai pun kembali berdoa dan segera membuka payungnya karena hujan akan segera turun.
“Semoga kau bahagia Mai dan teruslah hidup untukku....”
Hujan turun, aroma lemon yang asam dan segar tercium dan bercampur dengan aroma hujan. Mai mulai meninggalkan tempat pemakaman kemudian tersenyum singkat.
—; SELESAI