Aroma sisa-sisa pertempuran masih terasa, bau mesiu serta kepingan peluru bertebaran dimana-mana, mayat-mayat pun bergeletakan tak beraturan, sementara raungan prajurit yang terluka membuat suasana semakin mencekam.
Sudah hampir dua jam sejak sepasukan tentara Belanda gagal menembus jalur menuju kota Magelang, sejak itu pula barisan pejuang serta rakyat sekitar semakin waspada.
Yono yang bertugas sebagai tukang keker (juru pantau) di bagian depan jalan masuk menuju desa terakhir sebelum kota Magelang, ia tak bisa memicingkan mata barang sejenak karena ia tahu sedikit saja ia lengah maka bisa jadi tentara Belanda sudah masuk tanpa bisa ia deteksi.
"Piye Yon, londone sudah datang?" Gino teman satu regu Yono menyapa, Gino bersama empat orang lainnya diberikan tugas menjadi kelompok pertama yang menyambut kedatangan tentara Belanda dengan tembakan, mereka dibekali senapan sederhana hasil rampasan dari tentara Jepang beberapa bulan sebelumnya.
"Kayaknya mereka sudah takut kesini" jawab Yono disertai tawa kecil.
"Wah kalau gitu saya bisa tidur dengan tenang" Gino menimpali dengan riang.
Mentari sudah mulai redup, langit pun perlahan mulai gelap pertanda sebentar lagi waktu Maghrib tiba, sayup-sayup telinga Yono menangkap suara riuh dari jauh yang semakin lama semakin mendekat dan menderu, dia segera tersadar karena dia sudah bisa menebak apa yang sedang menuju ke arah mereka.
"Waspadaaa...pesawaaattt!!!" Teriak Yono, yang kemudian membuat warga dan barisan pejuang mulai bergerak membentuk formasi, dan tak lama kemudian terlihat di atas langit dua buah pesawat yang segera memuntahkan peluru. Untung saja Yono sudah meninggalkan pos tempatnya tadi menuju ke tempat aman, ia melihat dua dari lima teman kelompok Gino sudah gugur terkena tembakan.
Beberapa kali kedua pesawat itu berputar dan terus menembak, korban kembali berjatuhan sementara beberapa pejuang berusaha membalas tembakan kedua pesawat tersebut. Kapten Noer yang diberikan tanggung jawab sebagai komandan barisan pejuang di wilayah tersebut berusaha mengatur posisi anak buahnya sambil berlindung diantara desingan peluru. Sekitar lima belas menit kedua pesawat Belanda itu menyerang lalu kemudian mundur, namun belum sempat para pejuang menghela nafas lega tiba-tiba terdengar suara berat ban tank menyusuri tanah lalu menembak ke arah jantung pertahanan para pejuang.
Gino menarik Yono ke gundukan karung berisi pasir, disitu terlihat beberapa pejuang mengatur posisi menyambut datangnya kendaraan lapis baja itu. Mulai tampak pasukan Belanda yang dikawal tiga tank mendekat kearah mereka, Kapten Noer menenangkan anak buahnya agar tidak terburu-buru membalas tembakan pasukan tentara Belanda untuk menghemat amunisi. Tepat ketika pasukan tentara Belanda itu masuk ke dalam jarak tembak, Kapten Noer langsung berteriak.
"Tembaakkk!!!"
Yang disambut dengan tembakan dari para pejuang, meskipun hanya dari senapan sederhana hasil rampasan dari tentara Jepang namun mampu menumbangkan beberapa orang tentara Belanda. Pasukan tentara Belanda terus maju dengan perlindungan dari kendaraan lapis baja di depan yang beberapa kali menembak dan merusak formasi tempur para pejuang, sementara di barisan pejuang berusaha menahan gerak laju tentara Belanda, sayangnya karena perbedaan kualitas senjata serta kurangnya amunisi membuat mereka tidak bisa maksimal menahan laju tentara Belanda.
"Waduh...peluruku habis!" Gino terlihat panik karena sudah tak bisa lagi menembak, Yono yang disampingnya lalu memberikan senjatanya.
"Pake punyaku!" Yono berseru sambil melemparkan senjatanya ia lalu bergegas merayap menghampiri salah satu pejuang yang gugur dan mengambil senjatanya, ia periksa senjata itu dan ternyata pelurunya masih cukup banyak, ia kembali ke posisi semula namun sesampainya di sana ia melihat Gino sudah tersungkur.
"Gin...Ginoo...banguunn!" Sambil merayap ia berusaha mengguncang-guncangkan tubuh Gino namun tak ada respon, saat itu ia tersadar ia kehilangan lagi salah satu temannya.
Melihat keadaan semakin tidak memungkinkan untuk bertahan Kapten Noer lalu memerintahkan pasukannya untuk mundur menuju ke lokasi pasukan pejuang terdekat, ia tahu amunisi pasukannya semakin menipis dan kondisi pasukannya juga mulai kelelahan. Yono mengikuti arus mundur teman-temannya yang tersisa sambil terus menembak, hatinya masih begitu masygul karena Gino salah satu teman baiknya telah gugur.