“Aku menemukanmu …”
Pria yang mengenakan jas panjang itu terpaku sesaat melihat gadis yang berdiri di hadapannya saat ini. Wajahnya langsung berubah pucat pasi. Perlahan kedua kakinya melangkah mundur dan ia langsung berbalik dan mempercepat langkahnya menembus kegelapan malam menuju sebuah gang kecil di hadapannya.
“Sial! Mengapa dia bisa menemukanku?” umpat Shawn dalam hati sambil terus mengabaikan panggilan yang terus terngiang di telinganya dari gadis yang selama ini ia hindari. Satu-satunya gadis yang ia cintai, tetapi tidak boleh ia miliki. Lebih tepatnya tidak boleh ia inginkan.
Alsava Tulsa.
“Shawn! Tunggu!”
Lagi-lagi Shawn mengabaikan panggilan itu. Panggilan yang ingin ia sambut dengan sebuah pelukan yang bisa melepaskan seluruh kerinduannya selama dua abad ini.
“Shawn!”
Langkah Shawn langsung terhenti ketika tiba-tiba saja Alsava muncul begitu saja di hadapannya.
“Ternyata selama kami berpisah dia sudah bisa menguasai kekuatannya,” gumam Shawn dalam hati.
“Berhentilah menghindariku, Shawn.”
Alsava sudah hampir saja meraih tangan Shawn, tetapi dengan segera Shawn menarik tangannya dan melangkah mundur menjauh.
Shawn bisa melihat tatap kekecewaan di manik hazel milik gadis yang selama ini begitu ingin ia dekap di pelukannya.
Tangan Shawn mengepal kuat menahan keinginan dirinya yang mendesak untuk segera berlari meraih tubuh Alsava. Melupakan semua halangan yang membunuh harapan mereka untuk bersama.
“Harus berapa lama lagi kamu lari dariku, Shawn? Harus berapa lama lagi kamu menyiksaku?”
Rahang kokoh Shawn terlihat mengeras. Ia sangat membenci dirinya sendiri karena membuat Alsava menderita selama ini, tetapi bukan hanya Alsava, Shawn sendiri pun merasakan penderitaan yang sama. Menjalani hari-harinya selama dua ratus tahun tanpa bisa melihat atau pun menyentuh Alsava.
“Sudah kukatakan, berhentilah mencariku.”
Kata-kata itu begitu bertentangan dengan apa yang Shawn inginkan, tetapi ia harus melupakan semua keinginannya untuk menjaga Alsava tetap hidup.
Sudah cukup bagi Shawn menyaksikan bagaimana Alsava harus pergi di dalam pelukannya berulang kali. Iblis di dalam dirinya dapat muncul kapan saja tanpa bisa ia cegah.
“Kamu takut kejadian itu terus berulang?” tanya Alsava sambil melangkah mendekati Shawn.
“Kamu tidak tahu bagaimana rasanya melihatmu tidak bernyawa di dalam pelukanku.”
Suara Shawn terdengar bergetar dan matanya mulai mengabut. Semua ingatan tentang bagaimana Alsava berulang kali harus merelakan nyawanya pergi dari raganya hanya untuk bisa merasakan kebahagiaan bersama Shawn beberapa saat, muncul bergantian di benak Shawn.
“Aku rela, Shawn. Berapa kali pun aku harus merasakan sakit itu, demi bisa sesaat bersamamu, aku tidak pernah menyesal.” Kali ini tangan Alsava sudah menyentuh wajah Shawn yang tidak lagi mampu menolaknya.
Hanya sentuhan Alsava yang bisa membuat Shawn mengerti apa artinya kehangatan. Selain Alsava, Shawn tidak dapat merasakan sentuhan apa pun. Ia tidak pernah mengerti mengapa orang lain bisa begitu menikmati arti sebuah sentuhan, sampai Alsava datang dalam kehidupannya.
“Aaarrggghhh!!!” Tiba-tiba rasa menyakitkan datang dari dalam tubuhnya. Sebuah gejolak yang seakan merobek dirinya dari dalam terus terasa semakin menjadi. “Pergi!!!” bentak Shawn yang kini membungkuk dan akhirnya bersujud di hadapan Alsava sambil memegang dadanya.
Alsava tahu apa yang sedang terjadi. Semuanya sudah dimulai. Inilah awal iblis itu akan keluar dari diri Shawn.
Dengan ia menyentuh Shawn dan menyalurkan kekuatannya ke dalam diri Shawn, iblis itu akan menyadari kehadirannya lebih cepat. Alsava sengaja melakukan hal itu. Ia perlu memancing iblis itu untuk keluar agar ia bisa membinasakannya.
“Alsava, pergi sekarang! Aku sudah tidak sanggup menahannya!” hardik Shawn yang terus mencoba merangkak menjauh dari Alsava. Rasanya terlalu menyakitkan. Shawn benar-benar sudah tidak sanggup lagi untuk mencegah iblis itu keluar dari dalam dirinya.
“Biarkan dia keluar, Shawn,” pinta Alsava yang sempat membuat Shawn tidak percaya dengan apa yang Alsava ucapkan, tetapi setelah itu Shawn tidak sempat lagi bertanya. Iblis itu sudah melepaskan dirinya dan membiarkan Shawn terkapar di jalan tanpa bisa menggerakkan tubuhnya dengan bebas.
Bayangan hitam pekat itu pun muncul di atas tubuh Shawn dan waktu langsung terhenti saat itu juga, tetapi tidak untuk mereka bertiga. Sebuah bayangan menyerupai tubuh manusia dengan wajah tersenyum ke arah Alsava.
“Kamu tampak berbeda.” Suara menggelegar itu keluar memekakkan telinga. “Kamu tampak semakin lezat dan aku sudah tidak sabar untuk menghisap seluruh kekuatanmu sampai tidak ada lagi yang tersisa darimu.”
Alsava tersenyum. Kali ini ia memiliki sesuatu yang bisa melenyapkan iblis itu selamanya. Selama dua abad ini Alsava belajar untuk menguasai kekuatannya sampai level tertinggi dan menemukan senjata tersembunyi yang akhirnya bisa mengakhiri kutukannya dengan Shawn.
“Aku memang berbeda. Kali ini aku memiliki ini ...”
Sebuah pedang yang begitu terang keluar dari tangan Alsava, dengan warna emas di bagian pegangannya dengan ukiran naga mengelilinginya.
“Pedang itu? Ba—bagaimana kamu bisa mendapatkannya?”
“Maaf, tetapi aku sudah bosan harus berperan sebagai seseorang yang harus musnah di tanganmu. Hari ini adalah giliranmu yang menggantikan aku.” Senyum puas merekah di wajah Alsava.
Sebuah tawa menggelegar sampai ke atas langit. Iblis itu tertawa. Menertawakan Alsava yang terlalu percaya diri hanya karena memiliki Pedang Naga Emas yang memang diciptakan untuk membunuhnya, tetapi tentunya Alsava harus mampu mendekatinya dan menancapkan pedang itu tepat di dadanya. Tentu saja sang iblis tidak akan membiarkan Alsava bisa menyentuhnya.
“Tertawalah sepuasmu karena setelah ini, akulah yang akan tertawa keras.”
“Bagaimanapun aku akan menang Alsava,” ucap iblis itu tanpa keraguan sedikit pun.
Alsava tidak memedulikan lagi perkataan iblis itu. Tanpa menunggu lagi Alsava langsung menyerang iblis itu.
Ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk terus membuat iblis itu terpojok. Alsava terus menyerang iblis itu. Mengurungnya dalam lingkaran air, membekukannya dengan serpihan es yang melumpuhkan gerakannya dan Alsava membiarkan iblis itu membeku hanya sampai batas lehernya karena Alsava masih ingin tahu apakah tawa iblis itu masih bisa terukir.
“Aku tidak menyangka kamu menguasai kekuatanmu sampai sejauh ini. Sayang sekali, kalau saja aku bisa mengalahkanmu, pastinya aku akan membuat Shawn makhluk terkuat di muka bumi ini.” Iblis itu masih mampu tertawa.
“Tertawalah karena itu adalah tawamu yang terakhir,” ucap Alsava sambil langsung menancapkan Pedang Naga Emas itu ke dada sang iblis.
Alsava melihat iblis itu masih terus tertawa, walaupun terlihat ia sudah mulai berubah menjadi abu sedikit demi sedikit.
“Aku tetap menang Alsava ... Aku tetap menang. Aku bagian dari diri Shawn. Aku musnah, demikian juga dengan kekasihmu.” Setelah iblis itu selesai berbicara sambil tertawa, ia dalam sekejab berubah menjadi debu dan menghilang terbawa angin.
Alsava yang baru menyadari apa yang iblis itu katakan langsung berlari ke arah Shawn yang masih terkapar.
Darah keluar dari dada Shawn dan menggenangi jalan di sekitar tubuh Shawn. Wajah Shawn sudah terlihat begitu pucat dan Alsava terlihat begitu panik.
“Shawn ...” panggil Alsava yang sudah duduk bersimpuh di samping Shawn dan berusaha untuk menekan dada Shawn dengan harapan darah yang keluar akan berkurang.
“Alsava ...” Tangan Shawn berusaha untuk menyentuh pipi Alsava, tetapi terasa begitu berat. Ketika tangan itu hampir terjatuh, Alsava meraihnya dan membiarkan Shawn bisa menyentuh wajahnya.
Shawn terlihat begitu kesakitan. Ia tetap berusaha untuk tersenyum. Memandangi Alsava masih dengan tatapan lembut yang hanya Shawn berikan untuk Alsava.
“Kenapa jadi begini, Shawn?” Air mata membasahi pipi Alsava. Yang ia inginkan adalah melenyapkan iblis itu, dan bisa hidup bersama Shawn. Alsava tidak tahu kalau melenyapkan iblis itu juga berarti Alsava akan kehilangan Shawn juga.
“Maafkan aku, Alsava ...”
“Kamu tahu?” tanya Alsava. “Kamu tahu kalau aku melenyapkan iblis itu, artinya kamu juga akan pergi?”
Alsava merasa dadanya begitu sesak. Bukan ini yang Alsava inginkan.
“Yang aku inginkan kamu tetap hidup, Al ...” Shawn terbatuk dan darah keluar dari mulutnya.
“Yang aku inginkan kamu juga hidup, Shawn!” Tangisan Alsava langsung meledak. “Apa yang bisa aku lakukan? Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu tetap bersamaku?”
Shawn menggeleng perlahan. “Kita memang tidak bisa bersama Alsava. Tidak pernah bisa.” Suara Shawn semakin melemah. Rasanya begitu melelahkan dan Shawn mulai merasa mengantuk.
“Tidak! Aku menolak kenyataan itu. Aku mau kamu ada, Shawn. Aku tidak mau kamu pergi!”
“Aku mencintaimu, Al ...”
Mata Shawn sudah begitu berat. Ia berusaha untuk tetap terjaga, tetapi begitu sulit.
“Tidak! Jangan katakan itu. Jangan katakan seolah itu adalah kata-kata perpisahan! Aku tidak mau!”
Alsava terus menangis sampai akhirnya menyadari kalau genggaman tangan Shawn semakin mengendur.
“Shawn?” Alsava menatap ke arah Shawn yang telah menutup matanya. Rasa takut langsung merayap di hatinya. “Shawn? Shawn, bangun! Siapa yang mengizinkanmu meninggalkanku?” Alsava terus mengguncang tubuh Shawn, tetapi Shawn tetap menutup matanya. Tubuhnya pun terkulai lemah di pelukan Alsava.
“Aku mohon ....”
Malam itu, seakan langit pun ikut bersedih mengiringi tangis pilu Alsava yang memeluk kekasihnya yang pergi di dalam pelukannya. Shawn tidak pernah lagi membuka matanya. Ia benar-benar pergi meninggalkan Alsava.
***
“Itu adalah pilihannya, Sava.”
Suara yang sangat Alsava kenal menyapa pendengarannya.
“Shawn memilih untuk mengorbankan dirinya agar kamu bisa hidup dengan tenang dan mencari kebahagiaanmu sendiri.” Jane memeluk Alsava di depan pusara Shawn yang berada di tengah taman luas milik keluarganya.
Jane adalah kakak Shawn. Satu-satunya anggota keluarga Alder yang menyayangi Alsava dan merestui hubungan mereka, sekalipun ia tahu kalau Shawn dan Alsava tidak dapat bersama.
“Dia adalah kebahagiaanku, Kak.” Alsava terus memandangi tempat di mana Shawn tertidur untuk selamanya.
Jane menarik napas dalam. “Shawn berpesan untuk memberikan ini padamu bila suatu hari nanti dia harus pergi.”
Sebuah kalung berliontin kubus berisi air kini berada di tangan Alsava. Kalung itu pernah Alsava berikan kepada Shawn ketika ia tidak mampu mengontrol emosinya dan menyebabkan kebakaran besar di sekitarnya yang menewaskan banyak orang.
Alsava memberikannya para Shawn dan menjadikan kalung itu sebagai penenang Shawn apabila Alsava tidak berada di dekatnya.
Alsava melingkarkan kalung itu di lehernya, memegang liontin itu mencari kehangatan sentuhan Shawn yang ia harap masih tertinggal di sana.
Alsava bersujud sambil menyentuh rerumputan yang menutup raga Shawn di bawah sana. “Kembalilah padaku, Shawn. Aku akan terus menunggumu untuk kembali padaku.”
Ada sebuah senyuman terukir di sudut bibir Sava dan sebuah keyakinan kalau Shawn sedang berada di suatu tempat, mencari jalan untuk menemukan Alsava.
- The end -