Sean Mereditha Putra

Aprilia Putri Cantika.
*****
April Pov.
Aku tersenyum ketika melihat adit berjalan kearahku dengan senyum penuh bahagianya. Aku rasa sean kini memiliki perasaan yang aangat bahagia sampai sampai ia duduk didepanku tanpa menghilangkan senyuman bahagianya.
"Ada berita bagus ceritanya ini?"
Aku mengatakan hal itu sambil meminum jus buah yang memang sudah kupesan sejak 15 menitan menunggu adit yang membuat janji denganku.
"Karena lo sahabat gue selain Dean. Jadi lo harus tau beritanya duluan. Gue diterima sama ajeng"
Senyumku yang sedari tadi merekah untuk menunggu berita baik apa yang dibawa adit hilang seketika. Rasanya seperti jutaan jarum yang menusuk tepat diulu hatiku. Bahkan untuk menunjukan senyuman hangat kembali rasanya aku gk sanggup. Tapi,melihat wajah bahagia yang terpancar sedari tadi diwajah adit. Membuat nyaliku ciut untuk merusak kebahagiannya dengan wajah muramku.
"Wih.. congarts... Kapan lo nembaknya. Lo gk ngasih tau gue sih. Kan gue bisa bantu" boong aku tak seberani itu untuk membantu adit mempersiapkan acara yang bahkan akan merusak hatiku sendiri.
"Gue nembaknya ditaman depan kampus. Ya mumpung agak sepi dan dia lagi kerja kelompok sama gue tadi. Beh deg degan gue. Rasanya kaya gue terbang tinggi banget. Serius. Kalau dean tau fiks gue dikatain lebay"
Aku ikut tertawa kecil saat mendengar adit yang sebahagia itu merasakan cintanya terbalaskan. Masalah dean? Dia tau perasaanku pada adit. Bahkan dean selalu memaksaku untuk menggungkapkannya. Dia berjanji bahwa akan selalu mendukungku. Tapi,rasanya semua percuma. Toh adit memang tak memiliki perasaan sama sekali dengan ku selain sahabatnya.
"Adit april. Sorry gue ada kumpul ukm panahan tadi. Gimana lo mau cerita apa?"
Aku menatap dean yang kini menatapku dengan pandangan binggung. Mungkin wajahku ketara sekali bahwa aku menahan tangis. Rasanya begitu meyakitkan mendengar orang yang aku cintai mencintai orang lain.
"Gue pacaran sama ajeng"
Adit mengulangi ucapannya kembali dengan nada yang sungguh bahagia. Hingga membuat senyum tipis dean luntur seketika. Bukannya menyelamati adit. Dean kini malah menatapku dengan pandangan ibanya. Sedangkan aku tersenyum dsn mengganguk pertanda dia harus mengucapkan selamat pads adit.
"Oh..hahah.. selamat dit. Semoga langgeng ya"
"Amin amin"
****
3 hari kemudian.
Aku yang masih berduka karena patah hati terdalamku kini hanya bisa melamun diapartemen dan tentu saja hsri ini adalah hari liburan semeseter yang akan kunikmati full 1 bulan dengan meratapi nasib sialku.
Aku tertawa kecil saat menginggat bagaimana perasaanku yang tak terbalas. Dan yang lebih menyakitkannya lagi. Laki laki itu tidak tau perasaanku sesungguhnya.
Menyedihkan bukan,emang paling sussh kalau udah kena sahabat jadi cinta. Bukannya terbalas malah menjadi luka terdalam.
Namun,tiba tiba suara sandi kunci yang ditekan mengalihkan perhatianku kearah lorong pendek yang menghubungan antara ruang tamu dengan pintu masuk. Setelah sepersekian detik. Masuklah laki laki yang membuatku hanya menghela nafas kecil.
"Lo kira siapa?"
"Gue kira kurir pengantar makanan"
"Gue disuruh dean nganterin makanan buat cewek menye menye kaya lo ini"
Aku menatap jengah sean yang merupakan kembaran dean yang selalu tiap hari datang kerumahku dengan makanan makanan yang dibuat oleh dean. Sean yang emang dasarnya gak ada kerjaan selain kuliah lebih memilih sering mengungsi keapartemenku karena malas meladeni mamanya yang mencacinya karena gak ngapa ngapain dirumah.
Berbeda dengan dean yang bisa segalanya. Sean lebih cenderung hobby berleha leha. Atau nongkrong dicafe bareng temen temen segengnya. Dean yang setia dengan 1 perempuan berbeda dengan sean yang tiap hari gonta ganti cewek udah kaya pake baju. Dean yang selalu juara dalam bidang panahan. Berbeda dengan sean yang juara mematahkan hati cewek yang dia putusin.
Jika dilihat pun wajah dean dan sean pun berbeda. Sean lebih mirip papanya yang keturunan eropa sedangakan dean lebih kearah china eropa karena mamanya seorang china indo yang sangat cantik.
"Lo kalau patah hati nyusahin juga ya!. Males gue denger dean ngomel karena gue bangun kesiangan"
Aku hanya diam sambil menonton televisi yang menayangkan doraemon dijam 8 pagi ini. Aku hanya menoleh sebentar saat merasakan sofa yang kududuki bergerak kecil. Sean duduk disampingku dengan wajah mengejeknya seakan aku adalah orang aneh yang baru ia temui.
"Pantes sih adit milih ajeng. Orang lo menye banget gini. Udah gitu lo jelek gk ada apa apanya sama ajeng yang most wented dijurusan ilmu komunikasi. April april. "
Aku yang sedari 3 hari yang lalu berusaha menahan airmataku kini hancur sudah karena perkataan menusuk sean yang semua nya benar.
Aku memang harus tau diri. Ajeng memang sangat cocok dengan adit. Mereka sama sama pintar dan juga baik. Gak ada apa apanya dengan aku yang bodoh ini.
"Gue bercanda kali. Ngapain lo nangis"
"Lo bener kok an. Gue emang gk pantes sama adit"
****
Author pov.
Sean merasa bersalah karena membuat perempuan yang selalu disayangi oleh keluarganya itu kini mengurung dirinya dikamar hingga jam 7 malam ini. Bahkan sean tak mendengarkan suara apapun dari kamar perempuan itu.
"Apa gue tinggal pulang aja ya. Tapi,kalau cewek ini kenapa napa. Bisa bisa dean sama mama ngamuk besar sama gue"
Sean yang hendak mengetuk pintu kamar april berhenti karena telfon yang ia genggam berbunyi. Disana tertulis nama dean yang seakan tau bahwa sean membatin namanya tadi.
"Halo de.. "
"Lo kok belum pulang?. April kenapa napa ?"
"Bisa biasa aja gak sih de. April gk papa kok. Tapi,bilangin mama gue nginep disini"
"Lo ngapain april hah!"
"Gue gak ngapa ngapain april anjir! Udah lah... Gue males pulang. Sekalian gue nginep disini besok gue ada matkul pagi. Jadi biar gak bolak balik aja"
"Serah lo sih. Tapi awas lo sampe ngapa ngapain april"
Sean hanya mengejek saat telfon dari dean tertutup. Saat hendam berbaluk untuk tidur disofa. Pintu kamar april terbuka dan menampakan wajah mengenaskan perempuan itu. Bahkan sean harus menatap ngeri april karena bekas air matanya masih terlihat jelas dikedua pipi perempuan itu.
"Lo frustasi banget ditinggal adit?."
"Menurut lo?"
Dengan langkah pasti april melangkahkan kakinya menuju pantry untuk mengisi perutnya dengan masakan dean yang pasti sangat enak. Emang dean cocok menjadi bapakable. Beda sama kembarannya ini. Susahable.
"Menurut gue sih lo emang frustasi"
April hanya menatap pasrah sean yang sudah duduk dikursi pantry sambil menatapnya yang berdiri terhalang meja dengan sean. April tak bisa berharap lebih untuk dimotivasi dengan manusia setengah salmon yang gak ada motivasi bagi hidupnya sendiri. Prinsip sean adalah satu yaitu mengalir kaya air.
April tak menyalahkan sean yang memiliki pemikiran seperti itu. Keluarga sean memang sangat kaya raya. Bahkan sean dan dean sudah memiliki perusahaannya masing masing. Dean yang memang cerdas dan berbakat bisa mengelola perusahaan yang menjadi bagiannya dengan baik. Sedangkan sean? Jangan tanya tiap minggu ayah laki laki itu akan memberikan pidato layaknya pidato kepresidenan bagi sean yang tiap hari hanya pacaran dengan beda beda perempuan.
"Pril. Lo beneran frustasi?"
April yang sedang menuangkan air putih kedalam gelas. Menatap sean sejenak sebelum meletakan teko air putih itu kembali. Dari banyaknya pertanyaan yang bisa dilontarkan untuk manusia patah hati seperti dirinya ini. Kenapa sean harus menggunakan perkataa. Yang bahkan didengar manusia lain pun,sangat memilukan.
"Gue frustasi? Jelas lah bego. Gue suka sama adit berapa tahun? 3 tahun. Andai perasaan gue bisa buat nyicil motor nih. Mungkin bulan ini udah lunas"
"Bego sih lo. Suka sama orang kok tiga taun. Mana ujung ujungnya doi sama yang lain lagi."
April hanya menghela nafas lelah dikatai sean bodoh,bego dan lain sebagainya. Karena kadang perkataan sean ada benarnya. Dirinya terlalu bodoh mencintai orang yang tidak mencintainya.
"Lo gak pulang?"
Mata april yang tak sengaja melihat jam dinding yang berada didapur. Kini menatap manusia salmon ini yang masih betah dikursi pantry sambil memainkan hpnya.
"Enggak,gue numpang nginep disini. Gue gak mau besok pagi ada berita lo bunuh diri"
"Gue frustasi. Tapi gk pernah kepikiran bunuh diri bangsat"
April meletakan masakan dean yang sudah ia panaskan dimeja samping sean. Kalau ditanya ia marah atau tidak dengan sikap sean padanya. Tentu saja jawabannya adalah tidak. Dulu waktu bertemu sean pertama kali,sungguh ia sering sakit hati mendengarkan perkataan asal laki laki itu. Tapi kini,bahkan merasakan sakit hati akibat perkataan sean pun tak pernah ia pikirkan. Anggap saja perkataan buruk sean adalah angin lalu.
"Baju gue gak lo buang kan?"
"Gue jual. Lumayan kan dapet uang"
"Serius lo?"
"Ya enggak bego! Dilemari samping baju gue."
Selain suka mengeluarkan kata menusuk namun jujur. Sean juga termasuk dalam kategori cowok aneh. Walau sering menjadi buaya darat. Saat bersama dirinya dan keluarga besarnya,sean cocok menjadi manusia yang gampang dijaili. Entahlah,sean terlalu ajaib jika dijelaskan.
"Lo masih sama miranda?"
"Enggak,gue baru tau dia gak virgin dua hari yang lalu. Ya udah gue putusin"
"Gila lo ya! Dean tau lo masih main begituan. Diamuk abis lo sama dia"
April masih tak habis pikir dengan sean. Bisa bisanya dia melakukan sex sebebas itu. Oke memang perempuan yang dia ajak mau mau aja. Tapi,gak harus gonta ganti gini. Mana rata rata temen sejurusannya lagi. Dan jangan lupakan sean gak suka jika perempuan yang ia ajak melakukan hal laknat tersebut tidak jujur dengan keadaannya. Maksudnya sean mau perempuan itu jujur dia masih virgin atau tidak. Emang gila sean itu.
"Mangkanya gue gak cerita. Eh lo tau cewek ini kan. Gimana menurut lo?"
Mata april yang menoleh untuk menatap layar hp sean terkejut bukan main saat menatap perempuan yang ia kenal sejak sma terpampang disana.
"Gila loh. Gak jangan alexa! Masa depannya cerah benderang. Jangan lo rusak anak orang lagi sean!"
"Dih.. ya udah gue ganti. Yang ini?"
Jujur sebenarnya april sakit hati saat sean memperlihatkan perempuan yang akan menjadi targetnya selanjutnya. Bukan karena april suka dengan sean melainkan,dirinya juga tau rasanya dicampakan bahkan sean melakukan yang lebih parah. Mencampakan setelah memakai perempuan itu.
"Jujur an.. gue cewek. Lo tanya gini kegue. Lama lama gue ikutan sakit hati tau! Lo make perempuan itu setelah itu lo campakin. Sakit bego!"
"Ya kan gue gak maksa mereka. Kalau mereka mau ya ayok. Kalau enggak juga gak papa. Gue mah gak maksa. Lo kenapa jadi sok dramatis gini sih!"
April hanya menghela nafas setelah meminum air putihnya. Umur sean memang masih muda. Tapi,april rasa sean sudah cukup untuk bermain main diusianya yang ke22 tahun tahun ini. Maksud april bermain sex yang sudah dilakukan sean sejak sma kelas 1.
"Mending lo cari cewek satu. Nah itu gak papa deh lo sama dia terus. Jangan gonta ganti lagi."
"Kalau gue bosen?"
"Pertahanin bego! Ini gue yang awalnya frustasi mikirin kisah cinta tragis gue. Jadi makin frustasi mikirin cara lo bisa berhenti sex gonta ganti cewek."
"Kenapa lo jadi peduli sama cerita sex gue sih!. Biasanya lo cuma biasa aja"
"Ya gimana ya. Gue kadang mikir sakitnya jadi cewek yang lo tinggalin setelah ngelakuin hal itu bareng. Pasti sakit banget."
April dan sean menjadi diam tanpa suara. April hanya tertawa kecil dalam hatinya. Gak mungkin cowok disampingnya ini mau mendengarkan perkataan panjang lebarnya. Orang kayak sean gini kalau pun dia ngerti dan mau menerima nasehat. Fiks yang nasehatin harus buka talkshow.
"Oke gue berhenti"
April yang awalnya meminum air putih dengan santai,menyemburkan air tersebut dengan sangat kencang. Bahkan jantungnya kini berdetak sangat cepat. Bukan karena dia suka dengan sean. Tapi,lebih tepatnya ia tak menyangka sean akan mengatakan hal itu.
"Lo boong an?. Gak mungkin seorang sean bisa dinasehati"
"Enggak kali ini gue serius. Gue berhenti dari kegiatan sex bebas gue."
April merasa bahwa dirinya memang seharusnya mendaftar kuliah psikologi waktu itu. Buktinya kini ia bisa menyadarkan sean yang bebal walau tak secepat kilat menyadarkannya. April rasanya ingin merayakannya karena bisa membuat sean berubah.
"Kalau setau gue ya an. Kalau lo pengen sungguh sungguh bisa lepas. Lo harus cari perempuan yang bisa bikin lo selalu ingin ngelindungi dia. Intinya kaya dia the most one diotak lo"
"Gue ada "
"Cepet amat. Baru juga tadi tobat udah nemu aja yang cocok buat jadi the most one nya"
April hanya tertawa kecil sambil membawa piring kotor dan gelas minumnya kearah westafel. Berkat sean yang mau menerima nasehatnya. Rasanya hati april cukup membaik karena hal itu. Sungguh menyenangkan bisa membuat orang berhenti dari rutinitas buruknya walau mungkin akan sulit juga.
"Siapa emang an?."
April yang mencuci piringnya dengan senyum yang mengartikan bahwa dirinya ikut senang mengetahui berita langkah dari sean ini. Kapan lagi lihat sean serius.
"Elo"
"Maksud gue cewe yang bisa buat lo ingin berubah. Bukan yang bisa kasih nasehat doang kaya gue."
"Iya,cewek itu elo"
*****
Sejak hari dimana sean mengatakan hal yang cukup aneh bagi april. Perempuan itu merasa seakan sean menghindarinya . Jujur,ia masih terlalu syok saat sean mengatakan bahwa dirinya lah alasan sean berubah. April masih tidak percaya dengan perkataan sean. Apalagi sean mengatakan hal itu dengan ekpresi biasa yang tidak serius sekali pun.
Terhitung sejam hari itu. Berarti sudah 1 bulan Sean tidak pernah datang keapartemennya lagi. Bahkan saat dirinya berkunjung kerumah keluarga besar sean. Laki laki itu seakan tidaj pernah ia temui. Ada saja alasan dia pulang telat.
"April. Lo kok ngelamun sih?"
Berliana yang merupakan pacar dean sekaligus teman dekat april kini menatap perempuan itu dengan pandangan binggung.
"Enggak kok"
"Dih. Gue lihat dari depan sana pun lo kelihatan kaya orang ngelamun pril. Ada masalah apa sih? Cerita sama gue"
April tersenyum saat berliana menggengam tangannya yang berasa diatas meja yang menjadi tempat bersantai mahasiswa sambil menunggu pergantian matkul.
"Gue gak kepikiran apa apa sih. Cuma gue heran. Udah 1 bulan sean seakan jadi cowok serius. Bahkan gue tanya dean. Setelah pulang kuliah gini sean pasti kekantor. Kan gue ngerasa aneh"
Berliana yang mendengar pernyataan april mengenai sean. Kini juga ikut berfikir. Jika diteliti lebih lanjut,sean memang berubah. Bahkan berliana kini sering melihatnya diperpustakaan atau bahkan dikantin hanya untuk makan dengan teman temannya. Biasanya laki laki itu akan kemana mana dengan cewek yang ganti tiap minggunya. Dan jangan lupakan drama perebutan sean yang sering menjadi tontonan dikampus.
"Kesambet mungkin"
"Gue takut sean kenapa napa"
"Dih peduli amat lo sama sean. Dean aja bodoh amat"
April yang mendengar perkataan jenaka berliana hanya tertawa kecil mengingat sebagaimana dean yang tak peduli apa aktivitas sean. Asalkan sean tidak pulang dengan babak belur dan masalah saja.
Mata apr yang merasa menangkap sosok sean berjalan dijarak terjauh. Kini mengalihkan pandangannya untuk membenarkan apa benar itu sean. Dan ternyata didepan sana sean sedang berjalan sambil membaca buku yang bukan kebiasaan sean.
"Sean!"
Teriakan april yang kencangnya bukan main. Membuat berliana harus menutup matanya sebentar untuk menetralkan keterkejutannya. Bahkan saat berliana membuka mata april sudah tidak berada ditempat.
April kini berjalan dengan cepat untuk menghampiri sean yang berdiri dengan tampang binggung menatap april yang seakan marah padanya.
"Lo!"
April benar benar kesal dengan sean. Bisa bisanya laki laki itu menciptakan kebiasaan baginya. Dan setelsh itu pergi menjauh. April rasa sean benar benar kesal karena nasehat darinya.
"Kenapa?"
"Hiks.. lo kemana aja sih! Gue minta maaf kalau gue salah. Tapi,jangan tiba tiba lo ngilang. Gue ngerasa gak punya temen cerita lagi. Hiks.."
April menangis tepat dihadapan sean yang melongo menatap perempuan yang mencuri seluruh hati dan pikirannya. Dengan cepat sean menarik april dalam pelukannya. Sean tak berniat menjauhi perempuan ini. Sean hanya berusaha untuk berubah menjadi laki laki yang bertanggung jawab dan layak untuk menjaga perempuannya.
Walau dimasa lalu dirinya begitu rusak dan susah diatur. Tapi,kini berusaha memperbaiki semua itu. Bahkan sean meminta maaf kepada beberapa teman perempuannya yang sempat ia permainkan dalam sebuah hubungan. Walau setelah itu ia kena tampar tapi swtidaknya ia dimaafkan
"Jangan nangis disini. Lo gak malu dilihat satu kampus? Nanti dikira lo mints tanggung jawab gue lagi"
April melepaskan pelukan sean dengan tawa kecil karena bisa mendengarkan perkataan asal sean. Dengan senyuman hangatnya sean mengandeng april untuk mengikutinya menuju parkiran mobil. Jika,sean bisa mengatakannya yang sejujurnya bahwa dirinya sangat merindukan perempuan itu. Tapi,ia cukup malu untuk mengatakannya. Apalagi hal tersebut sangat berbeda dengan kepribadiannya.
Sesampainya dimobil sean. April menatap heran sean yang membukakan pintu penumpang untuknya. Biasanya sean hanya akan berteriak atau menyuruhan membuka sendiri. April hanya menuruti dengan masum kedalam mobil sean. Ia sungguh ingin mendapatkan penjelasan dari laki laki itu.
"Kenapa ngejauhin gue?"
Baru saja sean duduk dikursi pengemudinya. April dengan tidak sabarannya menuntut jawaban dengan menatap sean dengan ekpresi kesal. Sedangkan sean hanya tertawa kecil melihat bagaimana kesalnya gadis itu padanya.
"Gue gak ngejauhin lo april. Gue sibuk sama tugas baru gue"
"Kenapa lo gak pernah dateng keapartemen?"
"Ya karena gue sibuk."
"Gue tanya serius sean!"
"Gue jawabnya serius april"
April menyenderkan punggungnya kesal. Ia paling benci jika harus berkesal kesalan dengan sean. Karena sungguh yang kesal cuman dirinya. Sean bukannya mereda malah membuatnya semakin kesal.
"Sibuk ngapain?"
"Sibuk ngampus,bantu papa dikantor. Sama sibuk bersihin kandang gumy"
"Gak mungkin lo ngelakuin hal itu!"
"Astaga,gue jujur sayangku. Setelah pulang kampus gue ngantor buat belajar dan bantu papa. Sampe rumah belajar bentar terus tidur. Untuk weekend biasanya gue part time di cafe sama bersihin kandang gumy"
Seakan melupakan kata sayangku,april masih menatap tak percaya dengan laki laki yang tersenyum menatapnya. Dari semua perkataan sean. Rasanya tak mungkin laki laki itu melakukan segala hal yang bahka. Tak pernah ia lakukan.
Sean setiap hari memang kekampus. Weekend juga april tau laki laki itu biasanya akan membersihkan kandang gumy,anjing kesayangan keluarga sean. Tapi untuk ngantor,part time dan belajar? Sungguh bukan sikap sean.
"Sean.. kenapa lo berubah gini? Lo ada masalah ? "
"Enggak. Gue berubah buat elo. Buat masa depan gue juga. Gue harus bisa buat elo yakin. Kalau gue layak jadi pasangan hidup yang tepat. Walau masa lalu gue kelam. Tapi,gue berusaha untum membuat masa depan gue layak untuk membawa lo dalam kisahnya"
April tertegun beberapa saat, april tak mengira sean akan mengatakan hal itu. Laki laki yang biasanya membuatnya kesal setengah mati karena selalu seperti paus terdampar diapartemennya. Kini mengatakan hal yang dapat april pastikan hal tersebut serius.
" Kalau lo udah milih kaya gitu. Tunjukin kegue kalau lo serius sama ucapan lo"
******
April pov.
Aku tersenyum saat menatap laki laki yang berdiri didepan rumah sakit dengan senyum hangatnya.
"Kamu lama banget heem?"
Laki laki itu menatapku dengan pandangan hangatnya. Yang tentu saja membuatku yang awalnya lelah kini merasa terisi penuh dengan energi yang ia bawa. Laki laki itu adalah sean,suamiku.
"Tadi ada pasien baru masuk. Jadi aku bantuin diIGD "
Sean tersenyum menatapku dan mengelus puncak kepalaku pelan. Kami menikah setelab lulus kuliah S1. Tentu saja aku melanjutkan kuliah S2 untuk mendapatkan gelar spesalis penyakit dalam. Sedangkan sean,dirinya lebih memilih untuk memimpin perusahaan besar ayahnya sama seperti dean.
Jika dihitung sampe saat ini. Usia pernikahan kami sudah menginjak 8 tahun. Waktu berjalan sangat cepat sampai aku tidak menyangka sampai dititik ini. Bersama laki laki terunik yang aku cintai.
"Ayo buruan pulang. Anak anak pasti marah marah lagi"
Aku tertawa kecil saat sean mengandengku untuk menuju parkiran mobilnya. Aku dan sean dikaruniai anak kembar yang berjenis kelamin berbeda. Tentu saja hal itu membuatku sangat sangat bahagia. Mengingat wajah mereka sama persis dengan sean. Mengemaskan.
Aku tak pernah menyangka sean yang menjadi sahabatku sejak sma. Kini telah menjabat menjadi suami dan ayah dari anak anakku. Sean yang sangat bandel dan susah dinasehati. Kini menjadi orang yang sangat bijaksana dan penyayang. Walau sifat manjanya tidak pernah kelewatan padaku.
"I love you"
"Me too sean. Me too"
Aku tersenyum dan mengeratkan genggaman tanganku pada sean. Dia rumahku. Dia cintaku dan dia adalah takdirku.