“Ibu, ini dimana?” Anak kecil itu bertanya kepada ibunya. Si ibu hanya diam dan hanya menyuruh anaknya untuk melanjutkan perjalanan.
“Ibu, dimana Ayah?” Anak kecil itu kembali bertanya. Bukannya menjawab, si ibu justru meneteskan air mata dan tetap melanjutkan perjalanannya.
“Ibu, disini hanyalah ada padang rumput, dimana rumah kita?” Anak kecil itu kembali bertanya, namun kali ini dengan sedikit penekanan. Si ibu hanya bisa tersenyum.
“Sabar ya, Nak. Ibu akan membawamu ke rumah.” Kali ini si ibu menjawabnya diiringi dengan tetesan air mata yang keluar dari mata indahnya.
Ibu dan anak kecil itu melintasi padang rumput yang sangat luas dan sepi. Hanya ada mereka berdua disana. Tiba-tiba muncullah sesosok yang berjubah hitam. Sosok ini berniat mengambil anak kecil itu. Si ibu yang melihat hal itu tidak tinggal diam. Ia mencoba melawan sosok itu dengan segala tenaga yang ia punya. Sosok berjubah hitam itu sungguh kuat. Namun, kekuatan dari sosok itu dikalahkan dengan keberanian dan tekad si ibu untuk menjaga anaknya. Sosok hitam itu akhirnya pergi tanpa membawa anak kecil itu.
Sambil ketakutan, si anak bertanya,
“Makhluk apa itu, Bu? Mengapa ia berniat untuk mengambilku?”
Seperti biasa, si ibu hanya membalas dengan senyumannya. Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya. Si anak akhirnya diam dan tetap mengikuti ibunya. Sampai akhirnya mereka bertemu dengan ujung dari padang rumput tersebut. Anak kecil itu sangat kegirangan karena ia melihat rumah kecil berada di ujung padang rumput itu.
“Ibu, apakah itu rumah kita?” Si ibu hanya menggeleng dan meneruskan perjalanan.
“Tapi, Bu, aku sudah sangat lelah dan tidak bisa berjalan lagi. Bolehkah kita menetap di sana sebentar saja?” Si ibu berpikir sebentar dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti keinginan si anak.
“Tok tok tok, apakah ada orang di dalam?” Anak kecil itu bertanya.
Seorang nenek membuka pintu dan menjawab pertanyaan anak tersebut.
“Ya, silahkan masuk anak kecil yang manis.” Anak kecil dan ibunya itu masuk ke dalam rumah seorang nenek. Nenek itu kemudian menyuruhnya untuk duduk dan memberinya minum.
“Mengapa kau ada di sini, Nak? Ini tempat yang jauh dari kota. Apakah kau tersesat.” Si Nenek mencoba bertanya dengan ramah kepada si anak.
“Tidak, Nek. Aku dan ibuku sedang dalam perjalanan menuju rumah kami. Aku merasa lelah sehingga aku meminta ibuku untuk beristirahat di sini. Ya kan, Bu?" Anak kecil itu bertanya kepada ibunya.
Si nenek sedikit bingung, tapi ia mencoba mengerti dengan kondisi anak tersebut. Akhirnya, si nenek menawarkan mereka untuk bermalam di rumahnya dan berjanji membantu mereka untuk sampai di kota esok hari. Si anak menerima tawaran itu dan si ibu kembali mengikuti kemauan anaknya.
Keesokan harinya, si nenek memenuhi janjinya untuk membantu mereka mencapai kota. Di sepanjang jalan, nenek itu melihat sang anak sedang asik berbicara dengan ibunya, jadi ia tidak mau mengganggunya. Dan tidak beberapa lama, mereka sudah sampai di perkotaan.
"Nah, Nak kita sudah sampai di kota."
“Terima kasih, Nek. Sudah membantu kami. Kami janji suatu saat akan bermain ke rumah nenek bersama ayahku juga.” Mendengar hal ini, Si Nenek tersenyum sambil meneteskan air mata. Setelah mengucapkan salam perpisahan, nenek tersebut kembali ke rumahnya.
Si anak dan ibunya kembali melanjutkan perjalanan mereka.
“Bu, ayo cepat kita harus bertemu dengan ayah. Kasihan ayah, pasti ia merasa khawatir dengan kondisi kita." Si ibu mengangguk dan si anak sangat senang dengan kenyataan ia sebentar lagi akan kembali bertemu ayahnya.
“Iya sayang, sebentar lagi kita akan bertemu ayahmu, Nak." Jawab ibunya.
Si anak bersorak kegirangan sambil tetap melanjutkan perjalanan. Matanya menuju ke satu rumah bercat biru di ujung jalan itu. Yang ia ingat terakhir kali adalah mereka sedang dalam perjalanan wisata. Namun, entah apa yang membuat mereka terpisah. Dan si anak sekarang sudah membayangkan wajah cemas ayahnya yang kehilangan dia dan ibunya.
Ketika mendekati rumah itu, langkahnya terhenti karena melihat banyak orang berada di rumahnya. Ia bertanya-tanya apa yang terjadi. Apakah terjadi sesuatu pada ayahnya? Lalu ia segera masuk ke dalam rumahnya dan menemukan ayahnya sedang menangisi seseorang yang sudah dibalut kain putih di sana. Si anak mencoba mendekat masuk. Dan Si ayah melihatnya kemudian memeluk erat dirinya sambil tetap menangis.
"Kemana saja kamu, Bia? Siapa yang mengantarkanmu kesini?"
Si anak dengan sedikit bingung menjawab, "Bia kesini dengan ibu, Yah." Lalu ia melihat ke arah belakang mencari ibunya. Tapi, ia tidak melihat ibunya dimana pun.
Lalu ayahnya membuka kain yang menutupi wajah sosok yang sedang terbaring kaku. Si anak tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Ibuuu…..” Si anak berteriak memanggil ibunya yang kini hanya terbujur kaku dengan senyuman di bibirnya.
“Ini tidak mungkin, Ayah. Ibu tadi mengantarkan Bia sampai ke rumah untuk bertemu ayah. Bahkan, ibu berjanji kita akan pergi bersama-sama lagi.” Ucap si anak sambil terisak.
“Bia, Bia harus bisa ikhlaskan ibu ya, biar ibu tenang di alam sana. Ibu sudah mengantarkan Bia pada ayah. Pasti ibu sangat bahagia bila melihat Bia tersenyum. Bia pasti tidak mau melihat ibu bersedih kan? Ibu sangat sayang kepada Bia. Jadi Bia harus bisa merelakan ibu.” Kata si ayah sambil mengusap air mata anak kecil itu.
Sekilas anak kecil itu melihat ke arah pintu dan dia bisa melihat bayangan ibunya yang sedang melambaikan tangan kepadanya.
“Selamat tinggal Ibu,” sambil melambaikan tangannya.
“Bia doakan ibu tenang di alam sana dan terima kasih sudah menjaga Bia selama ini.”