(Sebelumnya, Miku mau ngasih tau nih. Yang mau gabung ngobrol ke GC Miku, pencet aja profilku. Disana ada GC, masuk aja ehe :> Butuh banyak member). Arigatou ~
---
"Terkadang, rasa cemburu dapat membuat seseorang menjadi lepas kendali."
=•=•=
Irene, Irene Greyrat namanya. Namanya berdengung di setiap telinga warga kerajaan Eleanor. Putri kedua keturunan Raja Greyrat ini memiki wajah yang rupawan dan hati yang baik. Walaupun dia adalah seorang putri, akan tetapi dia tak pernah menyombongkan kedudukannya. Maka dari itu, semua penduduk kerajaan sangat menyukainya.
Berbanding terbalik dengan Irene, Charlotte Greyrat–kakak Irene–memiliki sifat yang buruk. Ia selalu memerintah semua orang dan memberi kebijakan tanpa adanya persetujuan dari ayahandanya. Tentu saja, semua orang membencinya, kecuali Irene.
=•=•=
Siang hari di Kerajaan Eleanor, matahari berada tepat di atas. Sinarnya memancar terang, menimbulkan terik panas.
Tap! Tap! Tap!
Seorang putri mengenakan baju berenda dan sepatu hak berwarna kristal, berjalan anggun menuju ke hadapan Raja Greyrat. Tatapan kagum dan pujian dari para pelayan kerajaan mengiringi setiap langkah gadis itu. Ya, dia adalah Irene.
"Irene ... ayah sangat bangga kepadamu. Kamu telah membantu banyak penduduk hari ini ....
... Ah iya, ... apakah kamu sudah memutuskan tentang pilihan kemarin? Kamu tahu kan? ... ini adalah hidupmu, semua keputusan ada di tanganmu ...
... Ayah hanya bisa mendukungnya ...." Sembari mengelus-elus kepala putrinya ini, Raja Greyrat mulai menanyakan tentang keputusan Irene.
Keputusan yang ia maksud adalah tentang tawaran dari pangeran Lawrence. Tempo hari, pangeran Lawrence datang bersama para pengawalnya untuk meminang Putri Irene. Namun, Raja Greyrat meminta Lawrence untuk memberikan sedikit waktu kepada Irene agar dia bisa memutuskan apa yang dia mau.
Irene mendongak, menatap sang ayahanda dengan senyuman manisnya. Dia kemudian berdiri dan mengatakan, "Maaf, Ayah ... tapi Irene belum siap dalam hal percintaan seperti ini .... Irene pikir ... Irene bisa tetap bahagia tanpa harus menikah dengan Pangeran Lawrence .... Jadi ... maaf, Irene tidak bisa ...." Gadis itu menunduk karena merasa bersalah. Dia merasa bahwa dia mengkhianati ayahnya sendiri.
"HaHa ... haissh ...." Namun, reaksi yang ditunjukkan oleh sang ayah jauh berbeda dari apa yang ia bayangkan. Raja Greyrat malah tertawa kecil sambil mengelus-elus rambut pirangnya. "Irene ... Irene ... kau ini mirip ibumu, ya. Selalu mengikuti kata hatinya .... Ekhem, baiklah kalau Irene tidak mau. Ayah akan memberitahu Pangeran Lawrence ...," ucapnya.
Pada waktu yang bersamaan, senyuman lebar mulai tampak di bibir Irene. "Ahh ... terimakasih, Ayah!" Irene spontan merangkul ayahnya karena saking senangnya. Gadis itu tertawa bahagia, begitu juga dengan Raja Greyrat.
Sementara itu, dari kejauhan, Charlotte tampak sangat kesal. Tangannya mengepal sangat kuat. Ia cemburu dengan sang adik yang bisa membuat ayahnya tersenyum kepadanya.
"Grhh ...." Gadis itu menghentakkan kakinya ke tanah dua kali silih berganti, lalu berjalan pergi menuju pintu keluar.
Ketika ia tiba di halaman istana, Charlotte berpapasan dengan seorang wanita yang sedang menyiram bunga. Wanita itu bernama Elena, salah satu pelayan setia Putri Charlotte. Namun, Charlotte tak mempedulikannya, dia sama sekali tidak menyapa orang yang telah mengurus segala urusannya itu. Jangankan menyapa, bahkan Charlotte tidak melirik Elena sedikitpun, meski mereka berdua berada di posisi yang tidak begitu jauh.
Menyadari bahwa sang Putri sedang kesal, tentu saja Elena tak bisa diam saja. Ia menaruh gambornya kemudian berlari mendekati Charlotte.
"Nona Charlotte, Nona mau kemana?" tanya Elena terburu-buru.
Charlotte seketika berhenti tatkala dia mendengar perkataan pelayannya itu. Gadis itu lalu berbalik, menatap Elena dengan tatapan dingin. "Terserah aku mau kemana, lagipula itu bukan urusanmu."
"Ekhem ... sebelumnya maaf karena hamba lancang, Tuan Putri. Tapi, Yang Mulia Greyrat memerintahkan hamba untuk menjaga Putri Charlotte agar tetap di istana," ucap Elena dengan kedua tangan menyatu di depan pinggang.
"Jangan halangi aku! Ayah sama sekali tidak menyayangiku, dia hanya menyayangi Si Irene itu .... Tch, membuatku kesal saja," bantahnya dengan ekspresi wajah yang masih kesal.
"Tapi, Putri bukankah–"
"Sudahlah diam saja! Aku tak butuh pendapatmu! Lebih baik kau selesaikan saja pekerjaanmu itu dan cepat bereskan kamarku!" Charlotte memotong perkataan Elena karena dia tahu bahwa Elena pasti akan berusaha membujuknya.
Setelah mengucapkan perintah terakhir tersebut, Charlotte kembali ke posisi semua kemudian berjalan keluar dari istana. Tak peduli walaupun orang-orang di sekitarnya sedang membicarakan dia.
"Baik ... Tuan Putri ...." Elena tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya terdiam dan mematuhi apa yang diperintahkan oleh Putri Charlotte. Meski begitu, sebenarnya Elena sangat khawatir dengan keadaan Putri Charlotte.
Apakah dia bisa menahan semua kalimat menyakitkan itu?
Apa dia bisa melewati semua ini?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini selalu menghantui pikirannya ketika melihat Charlotte sedang kesal. Namun, kembali lagi, Elena tak bisa berbuat apa-apa selain mematuhi apa yang Charlotte katakan.
=•=•=
"Huhhh ... kenapa ayah begitu menyayanginya, padahal dia hanya seorang gadis biasa! ... tck, aku tak percaya kalau aku memiliki hubungan saudara kandung dengannya." Seraya berjalan menyusuri jalan, Charlotte menggerutu. "Grhhhh ...."
Berjalan di tengah-tengah pemukiman warga dengan gaun berkilau serta mahkota kecil di kepala tentu saja membuat seluruh mata tertuju kepadanya. Apalagi ditambah wajah Charlotte yang tak kalah cantik dari Irene. Jelas, pesonanya memancar seperti sebuah matahari yang menyinari ruang gelap.
Namun, kekaguman itu hanya berlangsung sementara.
"Ah Putri Charlotte benar-benar cantik. Tapi ... sayangnya dia memiliki tingkah laku yang buruk," sindir seorang wanita penjual roti dengan suara berbisik.
"Iyaa ... sangat disayangkan. Dia tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Putri Irene," balas wanita tua yang ada di sampingnya.
Kalimat-kalimat yang dibisikkan oleh para wanita tua itu masih dapat didengar Charlotte. Telinganya baru saja menangkap suara yang seharusnya tidak ia dengar di saat-saat seperti ini. Hati Charlotte semakin panas, emosinya sudah memuncak.
Tak mau membuat masalah, Charlotte memutuskan untuk berjalan menjauh. Namun, ketika ia mempercepat laju jalannya, tiba-tiba seseorang tak dikenal menabrak gadis yang kerap disapa Nona Charlotte itu.
"Awhhh ...." Keduanya bertabrakan cukup keras, meskipun lukanya tidak parah, akan tetapi Charlotte tetap merasa kesakitan. "Kau ... kau bisa melihat tidak, sih? Kau tahu kan, kalau aku sedang berjalan di depanmu? Kenapa kau malah menabrakku, ha?!" tegur Charlotte dengan amarah yang sudah nyaris melewati batasnya.
Akan tetapi, orang yang menabraknya tidak menunjukkan reaksi apapun. Charlotte juga tidak dapat melihat wajahnya karena orang ini mengenakan jubah hitam dan penutup kepala.
"Heiii ... jawab kau dasar–"
"Namamu Charlotte, benar kan?" Bukannya menanggapi teguran Charlotte, ia malah bertanya nama kepadanya.
Mata Charlotte seketika membelalak. "Tunggu ... bagaimana bisa kau tahu namaku?"
"Hei ... Charlotte, apa kau butuh bantuan? Aku bisa membantumu, lho hihihi ...." Dengan suara yang terdengar seperti suara seorang nenek nenek, orang misterius itu menawarkan bantuan kepada sang putri.
"Bantuan? Apa maksudmu? Aku tak butuh bantuan siapapun," tolak Charlotte angkuh.
Di balik wajah yang tertutup jubah, orang itu tersenyum miring. "Ahh ... bukankah kau ingin menyingkirkan Irene?"
Deg!
Seperti ada petir yang menyambar di dekatnya, Charlotte semakin terkejut saat melihat orang ini bisa menebak semua tentangnya dengan tepat. "Bagaimana bisa ... kau ...?"
"Hihihi ...." Orang berjubah hitam itu tertawa kecil. Ia kemudian merogoh saku kirinya untuk mengambil sesuatu. Setelah mendapatkannya, dia pun memberikannya kepada Charlotte.
Ketika dilihat oleh Charlotte, ternyata benda yang diberikan olehnya adalah sebuah kalung. Kalung dengan liontin kristal merah berkilau.
"Apa ... apa ini?" tanya gadis tersebut bingung.
Orang misterius tadi tersenyum miring sekali lagi. "Ini adalah kalung iblis. Siapapun yang mengenakan kalung ini, pasti akan terbunuh dalam waktu singkat. Karena ... akan ada satu iblis yang akan masuk ke dalam tubuh pemakainya dan akan membunuhnya dalam waktu singkat." Ia menjelaskan semuanya tentang kalung yang ia berikan. "Bagaimana ... apa kau mau kalung ini?" Setelah menjelaskan semua tentang kalungnya, orang itu kembali memberi tawaran kepada Charlotte.
Di sisi lain, Charlotte memandangi sinar liontin kalung ini dengan mata berbinar.
"Baiklah ... aku ... mau ...," ungkapnya yang pada akhirnya mau menerima barang pemberian orang lain.
Tak berselang lama setelah Charlotte menerima kalungnya, orang misterius itu tersenyum miring lagi dan kemudian langsung menghilang dalam sekejap.
Sama halnya dengan dia, Charlotte juga tersenyum puas. Ia tersenyum karena tahu bahwa apa yang ia impikan sebentar lagi akab tercapai. Menyingkirkan Irene ....
=•=•=
Tak terasa hari telah memasuki waktu sore. Langit mulai menjingga begitu juga dengan matahari yang mulai ditelan malam. Charlotte baru saja tiba di istana. Setibanya di sana, dia mendapati banyak sekali pelayan yang sudah menunggu kembalinya dia.
"Putri Charlotte!! Yang Mulia, Tuan Putri telah kembali!!" teriak salah satu pelayan antusias.
Mendengar hal itu, Raja Greyrat dan Irene pun bergegas menemui Charlotte.
"Putriku, kau baik-baik saja, kan? Tak ada yang terluka kan?" tanya Raja Greyrat khawatir.
"Kak Charlotte darimana saja?" Begitu juga dengan Irene, dia pun ikut khawatir karena kakaknya tak kunjung pulang.
Charlotte menatap seluruh orang yang ada di depannya, lalu mengatakan, "Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."
"Hah ... syukurlah .... Ayah sangat khawatir kepadamu. Ya sudah, Elena ... antar Charlotte untuk mandi!" Raja Greyrat memerintahkan Elena.
"Baik, Yang Mulia!"
"Ayah ... aku tak mau mandi sekarang .... Aku ingin bermain bersama Irene dulu," ujarnya sambil tersenyum.
"Haa?!" Semua orang di sana terkejut, tak terkecuali Irene. Pasalnya, Charlotte dan Irene adalah saudari kandung yang tidak akrab sama sekali. Bahkan sejak mereka masih balita. Tapi, hari ini Charlotte secara mendadak ingin bermain bersama Irene, tentu saja itu membuat mereka semua kaget.
"Iya, aku ingin bermain bersama Irene. Dik, ... ayo!" Charlotte menarik tangan Irene ke halaman belakang istana yang adalah tempat mereka biasa bermain, bermain sendiri-sendiri.
Mereka berdua mulai bermain bersama, walau masih mengenakan gaun, akan tetapi hal itu tak membuat mereka berhenti bermain. Irene dan Charlotte tertawa bersama, tetapi tawa mereka berbeda. Tawa Irene adalah tawa bahagia karena akhirnya setelah sekian lama ia bisa dekat dengan kakaknya. Sedangkan tawa Charlotte adalah tawa kepuasan, karena sebentar lagi dia bisa menyingkirkan Irene dari hidupnya untuk selama-lamanya.
Waktu berlalu dengan cepat, ternyata hari sudah gelap. Irene dan Charlotte berbaring di tengah-tengah rerumputan halaman belakang mereka sambil tertawa bersama. Merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat, Charlotte mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk.
"Irene Irene ... ada yang ingin kuberikan untukmu tahu ...," ucap Charlotte antusias.
Irene reflek bangun. "Eh, apa itu, Kak?" tanyanya penasaran.
Charlotte tersenyum. "Sebentar ya ... aku ambil dulu." Gadis itu lalu mengambil kalung yang diberikan oleh orang itu. "Ini." Seraya memberikannya kepada Irene, Charlotte masih tetap tersenyum.
Saat pertama melihatnya, Irene langsung terpesona dengan kemilau liontin kalungnya. "Wwoooaaah ... kalungnya bagus sekalii .... Kak Charlotte serius ingin memberikannya kepadaku? Bukankah kakak juga ingin tampil cantik? Kalau kakak menggunakan kalung ini, maka pasti kalungnya akan cocok."
"Ehh? ... ngg ... aku sudah punya satu. Ini sengaja kuberikan untukmu karena aku sadar ... aku bukanlah kakak yang baik. Makanya, terima kalung ini sebagai bentuk permintaan maafku .... Ya ... meskipun ini tak sebanding ...," ungkap Charlotte.
Perlahan, senyuman mulai terlukis di bibir Irene. "Terima kasih, Kak .... Emmm ... aku pakai, ya?" Irene berniat memakainya, tapi dia ragu-ragu.
Charlotte menganggukkan kepalanya dua kali untuk mengiyakan dan memastikan.
Irene menata rambutnya agar tidak menghalangi lehernya, lalu dia pun memasang kalung liontin merah itu di lehernya.
Jika dilihat dari penampilannya saat ini, Irene terlihat sangat elegan dan cantik. Aura putri kerajaannya semakin terasa.
"Bagaimana pendapatmu, Kak?" Sambil memainkan liontin kalungnya, Irene bertanya kepada sang kakak.
"Hm? Ooh ... baik. Kau terlihat sangat cantik," puji Charlotte dengan suara lirih.
'Hahaha ... sebentar lagi kau akan lenyap, Irene," batin gadis muda itu.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian, ekspresi wajah Irene berubah. "Aduh ... awwhhh ... perutku ... Kak ... perutku sakit ...." Ia terus mengeluhkan perutnya yang sakit.
Namun, Charlotte tampak tidak menunjukkan belas kasihan sedikitpun.
Krieett ...
Pada waktu yang bersamaan, sepasang tangan merobek perut dan dada Irene layaknya anak kecil merobek kertas.
"ARGHHHHH!!!" Irene berteriak kesakitan. Matanya membelalak.
Belum berakhir, dari dalam lubang telinga Irene, muncul berbagai serangga menjijikan. Serangga-serangga itu keluar masuk melalui berbagai lubang di tubuh Irene. Bahkan, salah satu serangga memecah mata gadis malang itu untuk menciptakan lubang baru.
Lagi, tangan yang keluar dari perut Irene memutus kepala Irene hingga benar-benar terpisah. Tak berhenti sampai di situ, tangan iblis ini memutus kedua kaki putri kedua Raja Greyrat ini.
Charlotte ada di sampingnya saat ini, dia melihat semuanya. Dia melihat bagaimana tubuh adiknya itu hancur tak berbentuk. Namun, dia tidak sedih, melainkan senang. Putri pertama Raja Greyrat tersebut akhirnya berdiri kemudian menghampiri tubuh Irene yang masih dirusak oleh iblis dan serangga-serangga menjijikan.
Namun, dia datang bukan untuk menghentikan semuanya, ia justru duduk di dekatnya kemudian memasukkan salah satu tangannya di perut Irene. Gadis itu dengan sengaja mengeluarkan daging dan organ-organ tubuh Irene sambil mengatakan, "Hidupmu sangat malang, Irene. Tapi, aku tak peduli hahaha .... Lihatlah, mulai besok tak akan ada orang yang memujimu lagi. Byeee~"
- Tamat -