Seorang putri dengan kulit seputih salju, mata sebiru sapphire, dan rambut panjangnya yang berwarna keemasan tengah melihat seorang bocah laki-laki seumurannya di tengah perjalanan.
‘’Hentikan keretanya!’’ perintah sang putri kecil.
‘’Eh? Tuan Putri? Anda mau ke mana?’’ cemas Yui, pengasuh wanita ikut menuruni kereta.
Putri kecil itu mengangkat gaunnya sambil menghampiri bocah laki-laki yang terkapar di rerumputan.
Dilihatnya bocah laki-laki itu menggigil, pakaiannya bahkan tidak bisa dikondisikan. Banyak luka cambuk yang membekas di seluruh tubuhnya. Bahkan sudut bibir bocah laki-laki itu sedikit berdarah.
‘’Hei? Apakah kau baik-baik saja?’’ tanya putri kecil itu.
‘’Tuan Putri!? Jangan mendekatinya!’’
Melihat tuan putri berjongkok di samping bocah laki-laki itu, membuat Yui memanggil beberapa prajurit untuk menghadang.
‘’Apa yang kalian lakukan? Menyingkirlah!’’ perintah sang putri.
Beberapa prajurit itu menurut dan memberi jalan.
‘’Tapi, Tuan Putri? Bagaimana kalau dia menyerang Anda?’’ cemas Yui.
‘’Dia seumuranku, apakah ada seorang bocah umur 5 tahun bisa menyerang?’’ tanya sang putri.
Yui dengan terpaksa menurut meskipun ia cemas. Sang putri kembali berjongkok dan meraih tangan bocah laki-laki itu.
‘’Tubuhnya sangat lemah, cepat bawa dia ke kereta!’’
‘’Eh? Maksud tuan Putri, Anda ingin membawanya ke istana?’’ tanya Yui.
‘’Cepat laksanakan perintahku! Aku akan mengurusnya nanti,’’
Bocah laki-laki yang sekarat itu pun diangkat ke kereta dan ikut ke istana. Setelah sampai di istana, Yui hanya mondar mandir sambil menunggu tuan putri yang sedang menghadap kepada Sang Raja.
CEKLEK!
Pintu terbuka dengan keluarnya sang putri. Yui menatap sang putri yang hanya diam hingga akhirnya tersenyum.
‘’Ayahanda mengizinkannya tinggal di sini,’’ beritahu sang putri.
‘’Bagaimana bisa? Tuan putri mengatakan apa kepada Yang Mulia?’’ tanya Yui.
‘’Aku ingin menemuinya,’’
Sang putri berlalu pergi dengan senyuman di wajahnya membuat Yui terbingung dan ikut menyusul.
•Kamar Pelayan•
‘’Hei! Bocah kotor! Beraninya kau berpura-pura di depan tuan putri agar dibawa ke sini,’’
Langkah sang putri terhenti saat mendengar seorang pelayan sedikit meninggikan suara. Ia menatap Yui yang juga sama penasarannya.
CEKLEK!
Sang putri dan Yui mengintip di balik pintu yang terbuka sedikit. Mata sang putri membulat besar melihat pelayan wanita dan pelayan pria itu memukuli bocah laki-laki tersebut dan menyiraminya air panas.
BUGH!
Kedua pelayan itu berbalik dan kaget melihat sang putri membuka pintu dengan kasar.
‘’Beraninya kalian!’’
Spontan kedua pelayan itu bersujud.
‘’T-Tuan Putri?’’
Sang putri meringis melihat bocah laki-laki itu gemetar yang terkapar di lantai. Tangannya mengepal.
‘’Prajurit! Pegang tangan kedua pelayan ini!’’
Kedua pelayan itu hanya bingung sambil dipegangi kedua tangannya.
‘’Tuan Putri?’’ tatap kedua pelayan itu minta penjelasan.
Mata sang putri menyipit.
‘’Cambuk kedua tangan mereka lalu sirami air panas!’’
Kedua mata pelayan itu membulat besar. Keduanya memohon ampun disertai tangisan histeris.
‘’Tuan putri! Kami mohon ampun! Kami tidak akan mengulanginya lagi!’’
‘’Beraninya kalian melukai pengawal pribadiku tanpa izinku,’’
Yui meringis melihat kedua tangan pelayan itu dicambuki dan disiram air panas. Ia tidak menyangka putri mungil yang dianggapnya lucu memiliki sifat kejam seperti ini.
Setelah kedua pelayan itu dihukum, prajurit membawa mereka pergi.
Sang putri menghampiri bocah laki-laki yang masih gemetar itu. Tangannya terulur untuk memeriksa lukanya.
‘’Bla ya haya kaka!” seru bocah laki-laki itu melindungi wajahnya.
‘’Aku tidak akan menyakitimu,’’ kata sang putri.
‘’Kekakah?’’ tanya sang bocah laki-laki memastikan.
Sang putri tersenyum lembut sambil mengulurkan tangannya, membuat bocah laki-laki tersebut menurunkan kedua tangannya. Dengan ragu, ia mencoba menyentuh uluran tangan sang putri.
‘’Tuan Putri!’’
Karena teriakan Yui, membuat bocah laki-laki itu kembali menarik tangannya dengan ketakutan.
‘’Yui? Kau membuatnya ketakutan lagi,’’
‘’Mohon maaf, saya hanya tidak bisa membiarkan tangan kotor itu menyentuh tangan Tuan Putri,’’
Sang putri tidak mempedulikannya dan kembali tersenyum kepada bocah laki-laki itu.
‘’Tidak apa-apa,’’
Bocah laki-laki itu kembali mengulurkan tangannya dengan pelan. Begitu ia menyentuh tangan sang putri, matanya terbelalak. Sang putri tersenyum.
‘’Mulai sekarang kau akan menjadi pengawal pribadiku,’’ senyumnya.
‘’Gyah ka?’’ tanya sang bocah laki-laki.
Dahi putri berkerut.
‘’Dari tadi aku tidak mengerti dengan ucapanmu, itu bahasa apa?’’ tanya sang putri.
Namun, bocah laki-laki itu tetap berbicara aneh.
‘’Mohon maaf tuan putri, dia bukannya menggunakan bahasa yang aneh, tetapi sepertinya dia tidak bisa bicara,’’ beritahu Yui.
Sang putri tertegun, ia menatap bocah laki-laki itu tidak percaya.
‘’Pakaiannya sudah tidak layak, begitu banyak bekas cambuk di tubuhnya, sudut bibirnya bahkan berdarah dan dia tidak bisa bicara? Sangat keterlaluan, siapa yang tega menyiksa bocah dengan kejam seperti ini?’’ marah sang putri dalam hati.
Bocah laki-laki itu mendongakkan kepala melihat sang putri berdiri.
‘’Sudah kuputuskan, aku akan memberimu nama Kanato!’’
Sang putri kembali berjongkok.
‘’Ayo ikuti aku! Ka..na..to..’’ kata sang putri perlahan-lahan.
‘’K..’’
Bocah laki-laki itu tampak kaku saat ingin menyebut kalimat tersebut.
‘’Ka..na..to..’’ ulang sang putri.
‘’K..a..na..t..o..’’ kata bocah laki-laki itu akhirnya.
‘’Iya! Lakukan dengan pelan-pelan, Ka..na..to..’’ kata sang putri.
‘’Ka..na..to..’’ kata bocah laki-laki.
Sang putri senang karena bocah itu bisa menyebut namanya secara perlahan.
‘’Yui! Mulai sekarang, Kanato-kun akan tinggal di kamarku! Jangan sampai ada yang tahu hal ini,’’
‘’Tapi Tuan Putri? Seorang rakyat tidak boleh tinggal satu ruang dengan keluarga bangsawan,’’
‘’Tenanglah, Kanato-kun hanya tinggal di kamarku sampai dia bisa berbicara dan mengetahui semua hal disekitar.’’
‘’Baiklah, Tuan Putri,’’
Sang putri tersenyum dan kembali mengulurkan tangannya. Bocah laki-laki itu pun membalasnya.
‘’Perkenalkan, namaku Anha De Gabrielle Demilo,’’ kata Putri Anha.
Bocah laki-laki itu terdiam sesaat hingga akhirnya mulutnya terbuka.
‘’Ka..na..to..’’ kata Kanato membalas.
Semenjak hari itu, Kanato tinggal di kamar Putri Anha di bawah pengawasan Yui. Pernah sekali, Kanato tidak tahu menggunakan kamar mandi sehingga Putri Anha yang memandikannya dan memakaikannya pakaian. Tapi karena ketahuan oleh Yui, membuat Yui menegur Kanato dan mengajarinya.
Setiap pagi, Putri Anha akan sarapan di kamarnya bersama Kanato, lalu mengajari Kanato menulis dan membaca. Saat sore tiba, Putri Anha mengajaknya ke taman bunga sambil berkeliling di istana. Kadang Kanato tercebur ke dalam kolam dan dihinggapi burung-burung. Hal itu membuat Putri Anha terkekeh.
Lalu di malam hari, Putri Anha akan membacakan dongeng untuk Kanato yang kasur tidurnya terletak di sudut kamar. Saat keduanya tertidur pulas, Yui masuk dan menyelimuti putri Anha.
Hal itu berulang hingga 18 tahun kemudian…
‘’Hyah!’’ seru seorang gadis yang menunggangi kuda.
Rambut panjang emasnya terurai dengan di belakangnya tampak sosok lelaki muda yang juga menunggangi kuda mengejarnya. Keduanya begitu menikmati hal tersebut hingga sang gadis yang tiba lebih dulu.
‘’Yeah! Aku menang!’’ sorak sang gadis.
Sosok lelaki muda juga telah tiba dengan raut wajah datar.
‘’Kau sudah kalah kesekian kalinya, kau ini laki-laki, setidaknya tunjukan harga dirimu!’’ kata sang gadis.
‘’Sebenarnya aku hanya mengalah,’’ kata lelaki muda.
‘’Eii, tidak usah ambil alasan,’’ kata sang gadis.
‘’Kalau begitu, ayo tanding ulang!’’ tantang si lelaki muda.
‘’Siapa takut?’’
Keduanya kembali bertanding, berbeda dengan durasi waktu yang tadi, hanya butuh 15 menit si lelaki muda tiba di istana. Hal itu membuat sang gadis melongo.
‘’Aku bilang juga apa?’’
‘’Kalau begitu, 18 tahun ini kau mengalah dan membiarkanku menang, beraninya kau! Kenapa kau melakukannya!?’’ kesal sang gadis.
Lelaki muda itu meliriknya dan membuang muka. Melihat hal itu sang gadis semakin kesal.
‘’Kanato-kun! Aku sedang bertanya padamu!’’
Kanato menyeka bibirnya sambil melirik gadis berambut panjang emas di depannya.
‘’Itu karena aku ingin melihat Anha-chan terus,’’ kata Kanato.
Putri Anha terbelalak, mendengar jawaban Kanato membuat wajahnya merah merona.
‘’Tuan Putri!’’
Saat itu juga, keduanya menoleh saat melihat Yui menghampiri.
‘’Yui?’’ tatap Putri Anha.
Putri Anha dan Kanato menuruni kuda, bersamaan tibanya Yui.
‘’Ada apa?’’ tanya Putri Anha.
‘’Sepertinya ada urusan penting sampai Yang Mulia ingin bertemu dengan Anda sekarang juga,’’ beritahu Yui.
Putri Anha dan Kanato hanya saling memandang bingung.
‘’Baiklah kalau begitu, Kanato-kun? Kau tunggu aku di kamar saja, setelah menghadap kepada Ayahanda, aku akan kembali,’’ kata Putri Anha.
Kanato mengangguk. Begitu Putri Anha pergi, Yui memandangnya tidak suka.
‘’Bisakah kau tidak menjadi beban untuk tuan putri?’’
‘’Apa maksud Anda?’’ tanya Kanato.
‘’Berhentilah menempel terus kepada Tuan Putri! Kau juga tidak sopan karena menyebut namanya secara langsung meskipun itu permintaan Tuan Putri sendiri, kau sudah bisa berbicara dan tahu semua hal, kenapa masih tidur di kamar Tuan Putri? Saat itu, Tuan Putri hanya mengizinkanmu tidur di kamarnya karena ingin mengajarimu, tapi ini sudah 18 tahun, kenapa kau masih tidur di sana? Kau ini hanya orang asing yang dipungut,’’
Kanato tertegun melihat kepergian Yui. Mendengar semua ucapan pengasuh wanita tadi, entah kenapa dadanya merasa sakit.
BUGH!
‘’Ayahanda? Apa maksudnya ini?’’ tanya Putri Anha setelah memukul meja.
Sang Raja memandangnya tidak suka setelah perilakunya tadi.
‘’Putri Anha, mohon jaga sikap Anda,’’ kata Sang Raja.
‘’Tapi Ayahanda belum membicarakannya denganku kalau lusa nanti aku akan dinikahkan dengan seorang pangeran dari negeri seberang! Ayahanda? Umurku masih muda, aku belum siap menikah, kenapa Ayahanda seenaknya memutuskan?’’ protes Putri Anha.
‘’Di sini aku bukan sebagai Ayahmu! Tetapi sebagai Raja Demilo!’’ marah Raja Demilo.
‘’Aku sudah memutuskannya dan aku tidak menarik ucapanku, lusa nanti kau akan menikahi Pangeran Ke-4 Kerajaan Shamen! Ini perintahku dan itu mutlak!’’
Putri Anha mengepalkan tangan sambil menggigit bibir bawahnya.
‘’Kerahkan sebagian prajurit untuk berjaga di sekitar kamar Tuan Putri, jika ada sesuatu yang mencurigakan segera laporkan padaku!’’
‘’Baik! Yang Mulia!’’
BUGH!
Putri Anha melampiaskan kekesalannya dengan membanting pintu kamarnya setelah ia tiba. Namun, kekesalannya terhenti saat melihat Kanato mengemas barang-barangnya.
‘’Kanato? Apa yang kau lakukan?’’ tanya Putri Anha.
‘’Anha-chan? Ah, maksudku Tuan Putri, terima kasih atas apa yang Tuan Putri lakukan untuk orang asing sepertiku, maaf kalau saya membebani Tuan Putri selama 18 tahun terakhir,’’
Putri Anha bingung mengapa tingkah dan cara bicara Kanato menjadi lebih sopan.
‘’Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba? Aku sudah bilang panggil namaku saja,’’ kata Putri Anha.
Kanato hanya diam membuat Putri Anha semakin kesal. Tangannya terulur membingkai wajah Kanato membuat lelaki itu terkaget.
‘’Katakan padaku! Kenapa kau tiba-tiba bertingkah seperti ini?’’ tanya Putri Anha.
Ini pertama kalinya kedua wajah mereka sedikit dekat, hal itu membuat jantung Kanato semakin berdetak. Putri Anha masih menunggu disela kekesalannya.
‘’Yui-san yang memberitahuku untuk tidak menempel terus pada Tuan Putri, seharusnya aku sudah tidak tidur di kamar ini saat aku sudah bisa berbicara dan mengetahui semua hal,’’ kata Kanato.
‘’Kau tidak akan pergi dan tetap di sini! Juga cara bicaramu tidak perlu seperti tadi, ubah itu! Ini perintahku!’’
‘’Baiklah, tapi kenapa kau terlihat begitu kesal?’’ tanya Kanato.
‘’Ayahanda seenaknya ingin menikahkanku dengan seorang Pangeran dari negeri seberang dan pernikahan itu akan diadakan lu-.’’
Mata Kanato membulat besar.
‘’Tidak boleh!’’ kata Kanato mencengkeram bahu Putri Anha.
‘’Tidak boleh! Kau tidak boleh menikah!’’
Putri Anha hanya bingung melihat raut wajah Kanato yang langsung berubah.
‘’O-Oh, aku juga tidak ingin menikah,’’ kata Putri Anha.
Kanato menggigit bibir bawahnya.
‘’Kalau begitu, ayo kita kabur dari sini!’’
Putri Anha terdiam sejenak hingga akhirnya terkaget.
‘’Apa? Kabur? Kau gila? Jika kita kabur, Ayahanda akan menghukum kita berdua,’’ kata Putri Anha.
‘’Tapi aku tidak ingin melihatmu menikah! Kau juga tidak ingin menikah! Jadi ayo kabur!’’ tegas Kanato.
3 hari kemudian…
Istana telah dihiasi begitu megah menyambut pernikahan Putri Anha. Yui beserta puluhan pelayan berjalan menuju ke kamar Putri Anha untuk mendandaninya.
CEKLEK!
‘’Tuan Putri? Ini waktunya A-‘’
Ucapan Yui terhenti saat isi kamar Putri Anha kosong. Tidak ingin berburuk sangka, Yui mencarinya di kamar mandi dan balkon. Menyadari Putri Anha tidak ada, membuatnya mulai panik. Pandangannya kemudian tertuju ke arah kasur di sudut kamar milik Kanato.
‘’Tunggu? Kenapa aku tidak melihatnya 3 hari ini di istana?’’
Saat itu juga, Yui tersadar bahwa Putri Anha dibawa lari oleh Kanato. Rasanya, kematian sudah menunggunya di depan mata jika Raja sampai tahu hal ini.
‘’Ya Tuhan! Ini hari pernikahan Tuan Putri! Bagaimana aku bisa mengatasinya?’’ panik Yui.
Sebelum ia pergi, Yui melihat secarik kertas di atas meja membuatnya segera mengambil secarik kertas itu.
~Yui? Aku marah padamu karena kau mengatakan hal yang buruk kepada Kanato-kun! Tapi aku tidak akan sempat memarahimu karena aku pergi dari istana malam ini, keputusan Ayahanda yang seenaknya menentukan masa depanku, membuatku tidak bisa menerimanya, kau hanya perlu memperlihatkannya kepada Ayahanda agar kau tidak dihukum, dan iya jangan khawatir, Kanato-kun bersamaku, dia akan melindungiku, jadi aku pergi.
Yui mengepalkan tangan. Kekesalan dan kecemasannya bercampur aduk.
‘’Kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal?!’’
•Di tengah Hutan sebelah Utara•
Kanato datang sambil membawa buah-buahan dan rusa buruan. Sudah 3 hari mereka bersembunyi di rumah pohon yang pernah mereka buat saat masih kecil.
‘’Apakah kau memiliki kekuatan? Maksudku bagaimana kau bisa pulang dengan buruan sebanyak ini selama 3 hari tanpa senjata?’’ tanya Putri Anha curiga.
‘’Entahlah, aku hanya melemparnya dengan kayu, dan buruannya sudah tumbang,’’ kata Kanato polos.
‘’Ha? Siapa yang akan percaya dengan alasan seperti itu?’’ tidak percaya Putri Anha.
‘’Tapi aku senang, kau mau kabur denganku,’’ kata Kanato tersenyum.
Putri Anha terdiam melihat wajah Kanato yang tersenyum seperti itu. Entah kenapa jantungnya berdetak kencang.
‘’Anha-chan? Sebenarnya aku me-’’
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tanpa terduga, muncul puluhan prajurit mengepung mereka. 5 prajurit langsung mengunci pergerakan Kanato, sedangkan Putri Anha di hadang.
‘’Kanato-kun!’’ pekik Putri Anha.
Seorang wanita muncul di antara puluhan prajurit membuat Putri Anha dan Kanato menatapnya.
‘’Yui!?’’
‘’Untunglah saya masih mengingat tempat ini, ternyata dugaanku benar, Tuan Putri berada di sini, cepat bawa Tuan Putri sebelum Yang Mulia menyadarinya hilang, Tuan Putri harus segera menghadiri pernikahannya,’’ kata Yui.
‘’Tidak!’’ teriak Kanato mendahului Putri Anha.
Yui menyipitkan matanya dan berjalan menghampiri Kanato.
‘’Dulu kau hanya seorang bocah yang tidak bisa berbicara, jika bukan karena kebaikan Tuan Putri, kau tidak akan menjadi manusia seperti biasanya,’’ kata Yui.
Kanato berusaha memberontak, tapi ia dikalah kuat. Melihat Yui mengeluarkan pistol membuat Putri Anha membulatkan mata.
DOR!
Kanato terpaku saat peluru itu ditembakkan. Mata Yui membulat besar, dengan tangan gemetar ia menjatuhkan pistol dan membengkap mulutnya. Semua prajurit di sana terdiam membisu.
‘’TUAN PUTRI!!’’
Putri Anha terjatuh saat melindungi Kanato dari tembakan pistol di tangan Yui tadi.
‘’Uhuk!’’
Mata Kanato membulat besar melihat Putri Anha memuntahkan darah.
‘’Tidak!! Tuan Putri!!’’ teriak Yui dengan histeris menghampiri Putri Anha.
Puluhan prajurit berlarian menghampiri Putri Anha dan hendak membawanya ke kereta. Kanato terdiam sambil menatap tanah dengan kepala menunduk. Melihat hal itu membuat Yui segera bergegas.
‘’Beraninya...hahuha...beraninya...’’
Urat di lehernya menegang disertai tangan mengepal.
‘’BERANINYA!!!’’
Teriakannya berhasil membuat semua perhatian orang teralihkan. Mereka melihat Kanato terengah-engah. Kanato mendongakkan kepala.
DEG!
Yui terdiam melihat warna mata Kanato berubah menjadi merah menyala. Muncul sebuah sayap hitam di belakang punggungnya menjulang ke atas. Kuku di jarinya sedikit memanjang. Tubuhnya bertambah tinggi dan besar membuat pakaiannya robek, diakhiri 2 tanduk besar muncul di kepalanya.
Meskipun dalam keadaan setengah sadar, Putri Anha sempat menyaksikan wujud Kanato dan itu membuatnya shock.
‘’Ka..na..to-kun..’’
‘’Apa yang kalian tunggu? Cepat habisi Iblis itu!’’ perintah Yui.
Namun, dalam sekejap sayap hitam itu menjalar mengenai semua pasukan di sana. Yui terpaku dengan bercak darah yang terkena di wajah dan di tubuhnya.
Kanato dalam wujud Iblis menghempaskan sayapnya membuat semua yang tertancap tadi terlempar. Kini ia berjalan ke arah Putri Anha yang terkapar di samping Yui.
Yui terpaku, tubuhnya tidak bisa digerakkan melihat wujud Iblis Kanato di depannya. Ia hanya merasakan hembusan nafas dari iblis itu. Melihat pistol yang dijatuhkannya tadi membuatnya segera mengambil pistol itu. Tapi, ia dikalah cepat dengan serangan Kanato.
‘’Hmp uhuk!’’ batuk Yui memuntahkan darah.
Sayap yang menancap di tubuh Yui langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
Putri Anha hanya melihat hal itu dengan lemah. Kesadarannya mulai menurun hingga tidak sadarkan diri.
Di suatu tempat…
Putri Anha membuka matanya perlahan. Dilihatnya sebuah ruangan mewah meskipun bernuansa gelap. Ia melihat sosok Iblis duduk di sampingnya membuatnya bangkit seketika.
‘’Anha-chan?’’
Tanpa diberitahupun, Putri Anha sudah tahu kalau Iblis itu adalah Kanato yang sempat ia saksikan di hutan.
‘’Kanato-kun? K-Kau...’’
Kanato dalam wujud Iblis hanya diam tanpa mendekatinya.
‘’1 pekan kau tidak sadarkan diri, maafkan aku karena telah menyembunyikan hal ini padamu, hari di mana kau memungutku waktu itu, luka cambuk dan memar yang kau lihat, adalah luka yang aku dapatkan saat memperlihatkan wujud asliku kepada orang tua asuhku, aku awalnya menyembunyikan ini dari mereka, tapi aku ketahuan hingga akhirnya mereka memukuliku setiap hari,’’ kata Iblis Kanato.
‘’Kau menipuku?’’ tatap Putri Anha kecewa.
‘’Tidak, aku lari dari duniaku karena aku keturunan Raja Iblis, semenjak itu aku menyegel jiwa iblisku dan bersih keras menjadi manusia, aku terlantar di luar hingga kau memungutku hari itu, jiwa iblisku sebenarnya sudah lama hilang setelah aku menyegelnya, tapi melihat kau tertembak di depan mata kepalaku sendiri, entah kenapa kekuatan itu langsung meledak, kekuatan yang selama ini aku tahan, pada akhirnya tetap keluar,’’ kata Iblis Kanato.
‘’Apakah kau tidak bisa berbicara juga menipuku? Setelah semua yang aku lakukan padamu? Kenapa kau tega melakukannya?!’’
‘’Itu karena aku menyukaimu!’’
Putri Anha tertegun.
‘’Aku menyukaimu karena kau satu-satunya orang melihat keberadaanku! Banyak orang yang lalu lalang tetapi tidak mempedulikanku, padahal tubuhku sudah begitu lemah bukan main, aku tidak pernah makan, terik panas dan hujan selalu mengenaiku tetapi tidak ada satu orang pun yang berbelas kasih untuk memungutku kecuali dirimu. Saat di istana, pelayan yang melukaiku, aku berniat membalas mereka tetapi kau datang memberinya pelajaran, melihat hal itu aku semakin menyukaimu, tapi! Aku sadar kalau aku ini Iblis! Suatu saat kau akan mengetahuinya dan meninggalkanku, aku tidak mau hal i-‘’
Belum sempat Iblis Kanato menyelesaikan kalimatnya, Putri Anha memeluknya.
‘’Maaf, aku hanya kaget melihat kebenaran dirimu, aku tidak akan meninggalkanmu karena aku juga menyukaimu,’’
Iblis Kanato tertegun, tiba-tiba butiran air mengalir di sudut matanya. Ia membalas pelukan Putri Anha dan memeluk gadis itu dengan erat.
‘’Kupikir kau akan membenci wujudku ini,’’ isak Iblis Kanato.
Putri Anha menarik pelukannya dan menatap wajah Iblis Kanato.
‘’Kenapa iblis bisa menangis? Hentikan itu! Kau merusak citramu sebagai Iblis,’’
Iblis Kanato terkekeh, sudut matanya langsung berubah membuat Putri Anha terdiam. Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat. Iblis Kanato memajukan wajahnya sambil memberi tatapan dingin namun terlihat memikat.
CUP!
Keduanya berciuman cukup lama hingga mereka melepaskannya. Mereka saling menempelkan dahi sambil bertatapan.
"Ada satu hal lagi," kata Iblis Kanato.
"Apa?" tanya Putri Anha.
"Yui-san mengenai jantungmu dan aku memberimu separuh batu jiwa gelap milikku, apakah kau akan meninggalkanku? Kumohon jangan bunuh dirimu meskipun kau jijik!" kata Iblis Kanato mengeratkan pelukannya.
Namun, ia tidak menyangka kalau Putri Anha malah membalas pelukannya.
"Kenapa aku akan jijik kalau jiwamu menjadi satu denganku?" kata Putri Anha mengecup kening iblis Kanato.
Semenjak hari itu, Kanato tidak menahan wujud manusianya lagi dan memakai wujud aslinya sebagai Iblis.
Setelah lama meninggalkan dunianya, hari dimana ia pulang, hari dimana ia dinobatkan menjadi Raja Iblis. Hal itu tidak mengganggu Putri Anha. Malahan Putri Anha merasa Kanato lebih tampan dengan wujud iblisnya yang penuh pesona.
Kanato yang seharusnya adalah Raja Iblis dan dihormati, malah berbalik menjadi budak cinta Putri Anha. Ia akan memenuhi semua keinginan dari gadis itu bahkan hanya keinginan kecil seperti memetikkannya bunga secara langsung.
Jika Putri Anha tersandung karena pohon, Iblis Kanato langsung menghanguskan pohon itu. Menghancurkan lantai jika ada sedikit noda yang akan dilewati Putri Anha dan menghukum berat pelayannya jika tidak bisa menghibur Putri Anha.
SREET!
Baru saja sebuah helaian dauh hinggap di pucuk rambut Putri Anha membuat Iblis Kanato membakar semua daun-daun pohon lebat di sampingnya.
‘’Tidak ada yang boleh menyentuh tubuh Ratuku selain diriku,’’ kata Iblis Kanato menarik Putri Anha dan menciumnya.
Keduanya saling menatap tanpa melepaskan ciuman.
‘’Aku ingin memeluknya erat, mencintainya, memanjakannya, biarkan dia menunjukkan pandangan yang hanya bisa kulihat, kau akan kupenjara di dunia ini selama-lamanya, hanya akan menjadi milikku sendiri,’’ kata iblis Kanato dalam hati.