Fauzan dan Maura sudah 1 tahun ini menikah. ya mereka sudah menikah di usia mereka yang menginjak 18 tahun. lebih tepatnya mereka menikah waktu kelas 11 dan sekarang mereka sudah naik kelas 12 SMA
Mereka berdua menikah atas perjodohan konyol dari kedua orang tuanya. Dan selama ini Maura tinggal di rumah Fauzan beserta keluarganya. soal sekolah tidak ada yang tahu kecuali teman dekat Maura dan Fauzan saja
Fauzan Aditama dia seorang ketua OSIS di sekolahnya perawakannya tinggi,kulit putih mata tajam, dan senyum manis hanya ditunjukkan untuk keluarganya dan teman-temannya saja dan jangan lupakan dia juga cucu dari seorang kyai salah satu pemimpin pesantren terbesar di kotanya. ya meskipun dia dan Maura dijodohkan tetapi mereka damai-damai saja tidak ada perdebatan apapun. Bahkan,Meraka sudah berkomitmen untuk mempertahankan pernikahannya.
saat mulut Fauzan yang bergetar mengucapkan...
"Saya terima nikahnya dan kawinya Maura delima binti Abdul Alif dengan mas kawin tersebut tunai"
Dilanjut dengan kata SAH di ucapkan para saksi
Maura delima kini sudah menjadi Maura Aditama. Dia gadis yang sangat manis dengan hijab lebar yang senantiasa di pakainya kemanapun dan kapanpun ya, kecuali saat bersama Fauzan tentunya.
Awalnya Maura merasa malu jika tidak memakai hijab lebarnya bersama Fauzan tetapi, lama kelamaan dia menjadi terbiasa. Karna mereka sudah sekamar tak jarang Fauzan tak sengaja melihat paha mulus Maura saat habis mandi dan hanya memakai handuk saja. Dan itu sangat mengganggu pikiran kotornya yang tiba-tiba keluar.
Seperti saat ini dia melihat pantulan diri Maura yang sedang ber rias tengah memakai pelembap bibir dengan sangat lembut. Gerakan tersebut justru terlihat sangat lama baginya dan sekarang Maura hanya memkai piayama malam nya eitsss!! Jangan aneh aneh ya maksud piyama malam di sini adalah baju tidur biasa dengan celana panjang dan lenga di atas siku. Tentu saja itu terlihat seksi jika sedang di kenakan oleh wanita yang sangat menutupi tubuhnya atau lebih tepatnya berjilbab lebar sepertinya.
Dengan santainya Maura berdiri dari duduknya kemudian mencepol rambut panjang nya sehingga menampakan leher jenjang yang bersih belum terjamah sama sekali. Fauzan dengan mata memerah akibat pikirannya yang kotor hanya menatapnya dengan sesekali meneguk halus air ludahnya sendiri.
Biarpun dia cucu dari seorang kyai dan dia juga pria alim yang selalu mengikuti ajaran agamannya. Tetapi dia juga pria yang sangat sangat normal jika di suguhi pemandangan ini apalagi sekarang dia sudah dalam mode on. Tak jarang ketika tengah malam fauzan selalu mandi membersihkan otaknya dan sekaligus bermain untuk melepaskannya hanya karna tak sengaja melihat bukit putih milik Maura yang menyembul akibat kancing bajunya yang terbuka ketika tidur atau karna kaki Maura tidak sengaja menyentuh miliknya. Dan masih banyak lagi hingga menyebabkan dirinya harus bermain di dalam kamar mandi.
Kenapa Fauzan tidak meminta haknya?
Yang perlu kalian tau Fauzan tidak ingin menyentuh Maura sebelum waktunya atau paling cepat setelah dirinya dan Maura lulus sekolah. Karna dulu Maura pernah bilang sebelum mereka menikah dia belum siap untuk melayaninya sebagai istri sesungguhnya untuk Fauzan. Fauzan yang mengerti pun menyetujui nya tanpa berpikir kalau itu sangatlah berat untuknya.
"Emmm.. Maura " kata Fauzan dengan suara serak
"Iya. Ada apa kak" jawab Maura. Maura memang memanggilanya 'kak' meskipun usianya sama tetapi rasanya tidak sopan jika memanggil suami dengan sebutan nama
"Sini duduk dulu" Fauzan menepuk tepat di sebelahnya yang terduduk di atas ranjang
Maura yang sifatnya penurut pun langsung mendudukan diri di sebelah Fauzan.
Fauzan menatap mata Maura dengan ragu. Dia ingin menyampaikan sesuatu tetapi sangat sulit dia ucapkan.
"Sebaiknya.....sebaiknya..kita..."Fauzan tidakelanjutkan ucapannya. Dia seperti ragu apa yang dia ingin bicarakan
"Sebaiknya..apa?" Tanya Maura dengan kening mengkerut
"Sebaiknya....kita..... pisah kamar untuk sementara" akhirnya kalimat yang selama ini tertinggal di ujung lidah bisa keluar juga.
Kening Maura semakin mengkerut mendengarnya " kenapa?" Tanya Maura
"Tidak papa hanya saja...." Fauzan tidak bisa melanjutkan ucapannya, dia sangat malu.
"Kitakan sudah hampir satu tahun tinggal sekamar. kenapa sekarang tiba-tiba kak Fauzan minta untuk pisah kamar? Itu kan sangat di larang bagi agama kakak juga tau kan?." Maura kau tidak tau kalua Fauzan selama satu tahun ini sangat tersiksa
"Begini Maura..." Ucapnya terhenti kembali
"Begini apanya?" Tanyanya heran
"Aku takut. Jika kita berduaan di dalam kamar, kepalaku tidak bisa berfikiran positif. Selalu kotor. Aku takut tidak bisa mengendalikan diri sendiri. Kau pasti mengerti apa yang aku ucapkan ini" fauzan lebih memilih jujur pada Maura sekarang.
Maura yang mendengarnya hanya bisa menunduk. Maura juga tidak tau harus berbuat apa memang fauzan memiliki hak atas dirinya walaupun mereka masih sekolah. Maura juga sudah memberi tahu Fauzan kalau dia belum siap melayani nya sebagai istri dan itu sudah di setujui oleh Fauzan.
Tapi sekarang bagaimana?. Jika pisah kamar. apa yang ada akan di pikirkan mertuannya nanti. Mereka tidak tinggal berdua melainkan dengan keluarga Fauzan.
Maura menghela nafas sejenak. Kemudian tersenyum ke arah Fauzan yang tengah menatapnya dalam.
"Yaudah... Kalau kakak mau tinggal minta saja insyaallah nanti Maura sanggupi" ucap Maura dengan senyum nya yang lebar.
Apa katanya tadi? Sanggupi?. Yasudah gas sekarang saja lah!!
"Yakin?" Tanya Fauzan. Ada sedikit keraguan dihatinya saat mendengar perkataan Maura tadi
Dengan yakin Maura menganggukan kepalanya. Seketika senyum lebar terpampang jelas di di bibir laki-laki itu.
"Yasudah sekarang saja" kata Fauzan tidak sabaran.
Maura yang mendengarnya pun hanya menganga dengan kepala menggeleng.
"Shalat dulu kak"ucapnya dengan tersenyum manis.
Tidak membuang waktu Fauzan lekas pergi mengambil wudhu. Sungguh dia sangat bersemangat dengan kegiatan mereka setelah shalat.
Habis!
kisah ini hanya semata-mata kehaluan ku saja.
pecinta novel perjodohan💪.
Terimakasih yang sudah mampir🙏
satu hati❤️ darimu sangat berarti bagiku