Saat itu usiaku baru tujuh tahun ketika keluarga ku pindah ke sebuah rumah di kampung. Rumah itu bekas bibi ku yang sudah lama meninggal. Almarhumah memiliki dua orang anak, tetapi semua anaknya tidak bersedia untuk tinggal di rumah itu. Hingga akhirnya, keluarga ku memutuskan untuk tinggal di sana sambil berjualan sembako.
Waktu pertama kali masuk ke dalam rumah, yang aku rasakan adalah hawa dingin yang tidak biasa. Rumah itu terlihat gelap karena memang tidak ada yang berani masuk ke sana dan merawatnya setelah kematian bibi. Hanya ada beberapa tetangga yang terkadang memeriksa rumah dan membersihkan terasnya.
Ibuku terlihat lelah ketika sampai, ia kemudian merebahkan tubuhnya di atas kursi kayu berhias sarang laba-laba. Beberapa laba-laba terlihat berhamburan ke belakang kursi.
"Aduh ... lelah sekali. Nak, tolong ambilkan tas ibu di luar yang ada rotinya," suruh ibu kepadaku.
Aku langsung bergegas ke luar. Saat aku akan mengambil tas ibu, tiba-tiba sudut mata kiri ku menangkap bayangan hitam berkelebat di jendela. Aku sontak membalikan badan untuk melihatnya lebih jelas. Namun, tidak ada apa-apa di sana. Aku akhirnya masuk ke dalam rumah sambil membawa tas yang diminta oleh ibu.
"Bu, apa ada orang lain di sini?" tanyaku.
"Setahu ibu tidak ada. Atau mungkin ada beberapa tetangga yang suka datang kemari untuk sekedar membersihkan teras rumah," jelas ibu.
"Tapi, bu, tadi aku ..." Belum selesai aku berbicara tiba-tiba ayah masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.
"Aduh, cape sekali. Piuh ... " Ayah datang kemudian duduk di samping ibu. Nafasnya ngos-ngosan seperti habis di kejar sesuatu.
"Kenapa, yah?" tanya ibu heran.
"Hujan, bu. Besar sekali," jawab ayah sambil meneguk air mineral.
"Oh ... tapi kok aku gak lihat ada air hujan, yah." Aku celingukan melihat ke luar pintu. Memang tidak ada setetes air hujan pun yang aku lihat. Aku semakin bingung.
"Ngawur kamu, itu hujannya deras sekali," balas ibu sambil mengerutkan dahi.
"Udah jangan banyak bercanda, kita beres-beres dulu sebelum malam."
Akhirnya kami bertiga membereskan kamar dan ruang tamu.
Ruang tamu di rumah ini bentuknya seperti persegi panjang, di pinggirnya terdapat dua buah kamar tidur, di ujung ruang tamu ada satu ruangan lagi. Di dalamnya ada dapur dan kamar mandi. Anehnya, di tengah dapur ada sumur dengan lubang berdiameter seratus sentimeter. Di atasnya menggantung tali dan ember untuk mengambil air. Entah apa maksudnya, dari segi keamanan pun sudah tidak memadai. Sumur itu hanya ditutup dengan triplek berbentuk persegi.
"Bu, kok ada sumur di sini, ya?" tanyaku heran.
"Ibu juga kurang tahu. Ibu akan coba lihat, apakah ada air di dalamnya. Atau hanya sumur kering."
Ibu kemudian membuka triplek penghalang lubang secara perlahan. Saat triplek itu sedikit bergeser tiba-tiba, JEBURRR!!!
Suara keras dari dalam sumur terdengar seperti ada sesuatu yang jatuh ke dalam air.
Aku dan ibu terperanjat. Lalu kami berdua berlari menghampiri ayah yang tengah menyapu kamar.
"Kalian kenapa?" tanya ayah heran melihat kami ketakutan.
"Ada .. ada itu yah di dapur ..." jawab ibu gemetaran.
Aku memeluk ibu dengan kuat. Takut ada sesuatu yang berbahaya di rumah ini.
"Ada apa sih?" tanya ayah lagi semakin bingung.
"Di sumur , di dapur , ada ... "
Tok, tok ,tok.
"Assalamu'alaikum.."
Belum selesai ibu berbicara tiba-tiba ada yang mengetuk pintu disusul suara salam dari seorang laki-laki.
"Wa'alaikumsalam," jawab kami.
Ayah bergegas ke luar kamar hendak membuka pintu. Aku yang masih ketakutan tetap memeluk pinggang ibu dengan kuat. Ternyata yang datang adalah pak Suta, beliau adalah ketua RT di kampung ini. Ibu dan aku akhirnya memberanikan diri keluar kamar.
"Bu, tolong ambilkan air minum untuk pak RT," pinta ayah.
Ibu yang terlihat masih ketakutan pun terpaksa membuat minuman di dapur. Aku yang sejak tadi tidak mau jauh dari ibu akhirnya harus ikut juga ke dapur. Saat ibu membuat teh manis, sudut mata kanan ku menangkap sesuatu yang bergerak perlahan. Kursi kecil berbahan plastik berwarna hijau tua bergeser ke arah selatan. Aku langsung membenamkan mukaku ke punggung ibu.
"Kenapa, nak?" tanya ibu heran.
"Gak apa-apa, bu. Hidungku gatal," jawab ku berbohong. Aku tidak mau membuat ibu semakin takut dengan ucapanku.
Setelah selesai, kami berdua kembali ke ruang tamu.
Ayah dan Pak Suta terlihat asyik mengobrol. Jam tangan Pak Suta sudah menunjukkan pukul 21:00. Akhirnya, beliau pun pamit pulang.
***
Sudah satu bulan kami tinggal di rumah ini. Banyak kejadian aneh yang kami alami, khususnya aku. Ibu dan ayah tidak terlalu percaya pada hal-hal mistis. Mereka memilih untuk mengabaikan apapun yang terjadi selama berada di rumah.
Pada suatu malam , tepat pukul 22:00 aku merasa ingin buang air kecil. Aku memilih untuk memejamkan mata lagi karena takut kalau harus ke kamar mandi sendiri. Tapi, ternyata aku benar-benar tidak bisa menahannya. Akupun akhirnya memberikan diri pergi ke kamar mandi. Awalnya aku ingin membangunkan ibu atau ayah, tapi rasanya sungkan. Sesampainya di depan pintu dapur, dengan hati-hati aku mulai memegang gagang pintu dan membukanya perlahan. Saat memasuki dapur, yang langsung terlihat adalah sumur tua yang sekarang sudah diberi penutup yang lebih kuat dan lebih tebal dari sebelumnya. Tidak ada yang aneh sepertinya, aku pun langsung bergegas menuju kamar mandi.
Setelah selesai buang air kecil, aku membuka pintu kamar mandi dengan hati-hati. Entah mengapa selalu ada perasaan yang berbeda setiap melangkah di ruang dapur. Apalagi di dekat sumur tua itu. Saat pinta terbuka sedikit, mataku melihat seperti ada tangan yang menyeruak keluar dari sumur, mengangkat tutup sumur dengan perlahan. Aku seketika kaget dan menutup pintu kamar mandi dengan keras. Aku menangis dengan kencang karena takut.
"May, Maya! Kamu kenapa?"
Ayah dan ibu kaget melihatku menangis sambil menutup wajahku.
"Ayo kita masuk ke dalam, kamu kenapa ada di luar?" tanya ibu bingung.
Saat aku membuka kedua telapak tangan, entah mengapa aku sekarang tengah berdiri di luar rumah, tepat di depan jendala dapur. Aku langsung memeluk ibu dengan erat. Lalu ibu dan ayah menuntunku ke dalam.
"Bu, tadi aku .. aku habis dari kamar mandi ... bu ... buang air kecil. Tapi a.. aku lihat a.. ada tangan yang keluar dari sumur, aku takut bu...," jelasku terbata-bata.
"Istighfar Maya. Itu karena kamu merasa takut yang berlebihan. Coba kalau kamu mengabaikan semuanya, banyak berdo'a kepada Allah, insya Allah hal seperti itu tidak akan kamu alami lagi," ayah mencoba menenangkan. Tapi aku tetap bingung dengan apa yang aku alami tadi.
Akhirnya, malam itu aku ikut tidur bersama ayah dan ibu.
***
Setelah enam bulan sejak kejadian malam itu, kami pergi berkunjung ke rumah eyang. Seperti biasa, setiap libur sekolah ayah dan ibu pasti mengajakku ke sana. Berlibur dan menginap di sana selama tiga hari. Di hari kedua, ayah mulai menyinggung tentang rumah bibi yang kami tempati.
Aku dengan semangat menceritakan hal-hal aneh yang aku alami pada eyang dengan rinci. Sejak mulai pindah sampai sekarang. Selama tujuh bulan tinggal di sana , aku mengalami banyak sekali kejadian mengerikan yang tidak masuk akal. Eyang hanya mengangguk-angguk dan tertawa mendengarnya, seakan semua yang aku ceritakan hanya sebuah lelucon.
"Kamu harus tahu, Maya. Rumah itu adalah rumah ke tujuh,"
ucap eyang dengan raut wajah yang mulai serius.
"Maksud eyang?" tanyaku penasaran.
"Rumah itu eyang beli dari keluarga Darma. Rumah itu milik anak mereka yang ke tujuh bernama Rijan. Rumah itu Rijan tempati bersama istri dan anak semata wayangnya bernama Riana," jelas eyang sambil sesekali memakan kacang almond kesukaannya.
"Suatu hari, Rijan sedang benar-benar membutuhkan uang untuk berobat istrinya yang sakit kanker hati. Dia menawarkan rumah itu kepada eyang. Tapi, rumah itu sangat disayangi oleh anaknya. Sampai-sampai, sumur yang ada di dapur itu , yang buat adalah anaknya. Karena tempatnya strategis, dekat dengan jalan umum, dikelilingi sawah, masih bersih udaranya."
"Kok anaknya buat sumur di tengah dapur, buat apa, yang?" tanyaku bingung.
"Eyang juga kurang tahu, saat itu eyang sempat bertanya tentang sumur itu. Dan, jawabannya biar sejuk aja di dalam rumah, katanya. Padahal, cuaca di sana kan memang sejuk."
Aku mengangguk-angguk. Eyang kembali meneruskan ceritanya.
"Sampai rumah itu eyang beli, anaknya tetap tidak ikhlas untuk melepaskan rumah itu kepada eyang. Anaknya pun sakit karena setres memikirkan rumah itu, dan tiga bulan kemudian meninggal."
Eyang menarik nafas panjang.
"Sebelum meninggal, Riana sempat bilang kalau dia tidak mau rumah itu dijual dan akan mengganggu siapapun yang menempati rumah itu. Dan, eyang pun juga sering merasakan keanehan di rumah itu sebelum ditempati bibimu."
"Terus biar Riana pergi dari rumah itu gimana caranya, yang?" tanyaku lagi.
"Hahaha ... Riana memang sudah pergi dari rumah itu. Kan dia sudah meninggal. Tapi, kenangannya akan tetap ada di sana," jawab eyang sambil tertawa.
"Sekarang kamu dan Indah coba sering-sering mengadakan pengajian di rumah. Banyak berdo'a, shalat, baca Al-Qur'an. Agar aura negatifnya hilang," perintah eyang kepada ayah dan ibu.
Ayah dan ibu saling pandang lalu mengangguk tanda setuju.
***
Setelah pulang dari rumah eyang, keluarga ku akhirnya sering mengadakan pengajian di rumah. Setiap dua minggu sekali kami mengundang semua warga untuk pengajian di rumah kami. Sudah tiga bulan kami rutin mengadakan pengajian, selama itu sudah tidak ada lagi kejadian aneh yang aku alami.
Malam ini aku kembali tidur di kamarku sendiri. Dengan tenang aku merebahkan tubuhku. Menatap sekeliling kamar sembari tersenyum. Ku tarik selimut agar sebagian tubuhku tertutupi. Kemudian aku menghadapkan tubuhku ke sebelah kanan, lalu menutup mataku perlahan bersiap untuk tidur dengan nyenyak. Sedetik kemudian tiba-tiba hidungku menghirup aroma yang begitu menyengat, wangi bunga melati. Aku sontak membuka mata. Ternyata tepat di depan mukaku ada wajah seorang perempuan berkulit putih, bermata bulat, dengan bibir merah menyala. Tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang putih dan rapi. Rambutnya tergerai indah berwarna hitam, poninya sebagian menutupi kening. Kemudian dengan lembut ia berkata,
"Aku RIANA."
🏡 #RumahHantu #Horor #Misteri