Cerita ini diambil dari kisah nyata. Nama tokohnya real, hanya ada beberapa momen yang tidak sama persis.
.
Karena kecintaannya dengan K-POP, gadis bernama Fla, 16 tahun itu jadi ingin mempelajari bahasa Korea dan memiliki teman dari Korea.
"Coba kamu download aplikasi Hellotalk deh!" saran Vina sahabat Fla.
"Aku bukan nyari jodoh Vin! aku cuma ingin belajar bahasa Korea gratis dan bonusnya dapet temen orang sana," sahut Fla.
"Iya disana kamu akan dapet semuanya Fla. English kamu udah lumayan fasih, disana kamu bisa tukeran bahasa. Banyak anak-anak Korea yang pengen belajar bahasa Inggris. Dan kamu bisa manfaatin itu buat tukeran," jelas Vina.
"Oke, aku install nih Hellotalk."
Akhirnya Fla menuruti saran dari sahabatnya itu. Ia mulai mengunduh aplikasi tersebut di play store ponselnya. Meski awalnya ragu, tapi lama-kelamaan Fla mulai menyukai aplikasi tersebut.
Benar saja, disana ia bisa berkenalan dengan banyak orang-orang yang seusianya dari berbagai negara, termasuk dari Korea.
Fla memang orang yang mudah akrab dengan siapa saja. Hanya melalu ketikan jemari diponselnya, Fla banyak disukai orang-orang didalam aplikasi tersebut. Banyak yang meminta pertemanan dengannya.
Ada satu nama yang selalu mengiriminya pesan. Dia bernama Humoyun Mamatkarimov. Awalnya Fla tidak begitu meladeninya. Mungkin karena kata hatinya ia hanya tertarik dengan kawan yang berasal dari Korea. Sementara laki-laki bernama Humoyun itu berasal dari Uzbekistan.
Fla merasa tidak tega karena tidak pernah membalas pesan-pesan dari Humoyun. Akhirnya ia pun mencoba membalasnya satu kali dari sekian banyak pesan yang Humoyun kirim padanya.
"Senang berkenalan dengan mu, Humoyun" balas pesan Fla dalam bahasa Inggris.
"Bolehkah aku menjadi temanmu?" jawab Humoyun membalasnya.
"Oh, ya tentu saja." ketik Fla sambil diakhiri emot senyum.
Dari sanalah semua berawal. Semakin kesini Fla merasa nyaman mengobrol dengan Humoyun ketimang dengan teman-teman Korea-nya. Bahkan Fla lupa kalau tujuannya dia mengunduh aplikasi Hellotalk itu untuk belajar bahasa Korea.
"Usiamu berapa tahun Fla?" tanya Humoyun.
"16, kamu?"
"18, saya kuliah di universitas Nasional Uzbekistan. Kamu?" jawabnya.
Fla mengerutkan dahinya sejenak setelah membaca text message dari Humoyun. 'Jadi dia anak kuliahan??' gumamnya. Ia lalu membalas pesan Humoyun.
"Saya masih SMA" jawab Fla.
"Ya, saya tau" balas Humoyun.
**
Hari-hari pun berlalu, setiap hari mereka saling mengirimkan pesan. Fla dan Humoyun nampak sangat nyaman, dan bahkan hampir setiap saat mereka saling mengobrol melalui aplikasi tersebut.
Suatu hari Humoyun meminta ijin untuk melakukan panggilan langsung kepada Fla. Entah kenapa Fla langsung gugup saat tiba-tiba ponselnya berdering dari nomor asing yang sudah dipastikan itu dari Humoyun.
"Angkat jangan ya?!" gumam Fla masih menatap layar ponselnya. Jujur saja Fla masih belum percaya diri untuk berbicara bahasa Inggris secara langsung. Apalagi lawan bicaranya kali ini berasal dari negara yang menurut Fla masih terdengar asing, tidak seterkenal Korea, Jepang, Inggris, Amerika sesuai ekspektasinya.
"Hallo," akhirnya Fla mengangkat telponnya juga.
"Hallo Fla, kamu sedang apa? kenapa mengangkat telponnya lama sekali? apa aku mengganggumu?" cerca Humoyun dalam bahasa Inggris tapi dengan aksen Uzbek yang sangat kental.
"Oh maaf, tapi ponselnya masih di charge," jawab Fla berbohong.
Humoyun sangat aktif berbicara, Fla akhirnya mulai terpancing dan mereka pun saling berbalas membicarakan banyak hal disertai canda tawa.
Sudah satu jam mereka berbicara di telepon. Ucapan Humoyun mulai terdengar serius. Ia mengakui sangat menyukai Fla dan ingin menjadikannya seorang kekasih.
"Aku memang menyukaimu Humoyun, tapi usia kita masih sangat muda. Aku tidak tahu kedepannya kita akan seperti apa," ucap Fla terdengar begitu ragu.
"Ya, aku tau Fla. Tapi sungguh aku menyukaimu."
"Humoyun, yang saya tau perempuan Uzbekistan itu cantik-cantik. Kenapa kamu malah menyukaiku yang masih kecil dan kekanak-kanakan ini?" tanya Fla masih insecure dengan dirinya sendiri.
"Karena kamu istimewa Dimata ku Fla," jawab Humoyun lirih.
Fla terdiam sejenak. Ia tidak tahu lagi harus menjawab apa lagi.
"Oke, kalau gitu kita jalani saja dulu hubungan jarak jauh ini," jawab Fla akhirnya.
Jujur saja Fla juga memang menaruh hati kepada Humoyun. Tapi ia sadar diri akan jarak yang begitu jauh diantara mereka. Antara Jakarta - Tashkent itu bukan main-main.
**
Dua bulan berlalu, hubungan Fla dan Humoyun nampak seperti biasanya. Mereka dalam sehari bisa sampai berjam-jam saling bertelepon. Kebetulan sudah setahun ini sekolah Fla masih sistem daring mengingat ancaman virus Corona yang tak kunjung menghilang.
Begitu juga dengan Humoyun. Dia tengah liburan panjang dan baru akan kembali ke kampus awal September mendatang.
"Kamu sedang apa?" tanya Fla dalam pesan teksnya ketika seharian ini sang pacar belum menghubunginya.
"Oh maaf Fla. aku sedang banyak urusan," jawab Humoyun.
"Urusan apa?"
TIK TOK TIK TOK TIK TOK!
dan pesan terakhir Fla pun belum dibaca oleh Humoyun.
"Inilah resikonya LDR. Aku harus siap seperti ini. Tapi tak apa, toh aku sama dia tidak begitu serius. Aku nggak tau juga dia disana kaya gimana," gumam Fla seraya menghela napasnya, lalu melempar ponsel ke atas tempat tidurnya.
Fla pun lantas pergi keluar kamar dengan meninggalkan ponselnya.
"Fla, ada Vina tuh diluar!" kata sang Mama.
Fla hanya balas mengangguk, lantas segera menghampiri sabahatnya yang tengah duduk dikursi teras.
"Gimana udah dapet temen Korea-nya? ganteng nggak?" goda Vina tapi dengan nada menyindir.
"Apaan sih? yang ada aku malah terjebak pesona cowok Uzbek."
"What? seriously?" bola mata Vina terbelalak lebar. "Uzbek itu ada dibenua apa by the way?" tanyanya.
"Haish, dasar bodoh!" umpat Fla seraya menoyor pelan kepala sahabatnya itu. "Asia tengah," jawabnya.
"Oh negara pecahannya uni Soviet yang semuanya berakhiran STAN itu kan?" terka Vina yang sebenarnya gadis itu cerdas.
"Pinter," sahut Fla nyengir.
"Kamu serius LDR-an sama dia?" tanya Vina kemudian.
"I don't know," gumam Fla seraya mengangkat bahunya tinggi-tinggi. "Jalanin aja dulu, kedepannya gimana nanti. Bertahan sukur, ending ditengah pun tak masalah. Toh aku masih sekolah, dia juga masih ngampus, kayanya masih jauh banget untuk bisa seserius itu," jelas Fla tanpa beban.
"Hebat ya, baru gabung Hellotalk beberapa Minggu aja udah dapet gebetan aja. Nah apa kabarnya aku yang udah berbulan-bulan nongkrongin Hellotalk," keluh Vina sambil menghela napasnya berat.
3 hari kemudian.
Fla mulai kesepian karena biasa Humoyun menelponnya setiap hari. Ini ada apa? kenapa sudah empat hari ini lelaki itu tidak memberi kabar? Apa dia baik-baik saja? apa dia mulai bosan membuka aplikasi Hellotalk?
Lantas Fla berinisiatif menghubunginya lebih dulu. Panggilan pertama diabaikan, panggilan kedua ditolak, lalu panggilan ketiga,
"Hello Fla, apa kabar?" sapa diseberang sana.
Alangkah senangnya Fla saat kembali mendengar suara Humoyun dengan aksen uniknya. Sungguh Fla merindukan suara Humoyun yang tanpa sadar sudah membuatnya candu.
"Humoyun, kamu kemana saja? kenapa tidak memberiku kabar?" ucap Fla dengan nada sedikit di manja-manjakan supaya lelaki diseberang sana akan merasa bersalah.
"Oh, I'm sorry. Apa kamu marah?" tanya Humoyun.
"Aku tidak marah, hanya saja aku khawatir," jawab Fla.
"Kamu khawatir aku akan melupakan mu?"
Dek! entah kenapa jantung Fla seakan berhenti berdetak. Ada apa dengannya? kenapa seakan kini Fla tidak rela bila harus berpisah dengan lelaki Uzbek itu.
"My Fla," panggil Humoyun begitu lembut diseberang sana. Sukses membuat Fla semakin terbawa perasaan alias baper. "In shaa Allah, aku tidak akan meninggalkanmu," ucapnya begitu yakin.
"Sungguh? apa kamu akan menemuiku suatu hari nanti?" tanya Fla.
"Ya, tentu saja my love. Kamu tidak percaya?" ucap Humoyun malah balik bertanya.
"Bukan aku tidak percaya, tapi aku ragu," sahut Fla.
"Kalau kamu ragu akan aku buktikan padamu," tantang Humoyun.
"Tidak perlu membuktikan apa-apa. Cukup kamu selalu memberiku kabar setiap hari itu sudah cukup untukku saat ini, Humoyun."
"Oke, aku minta maaf."
Akhirnya pembicaraan mereka pun terputus karena katanya Humoyun akan pergi menemui ibunya.
.
Satu Minggu kemudian, Vina mengajak Fla jalan ke mall. Sekedar untuk melepas kejenuhan mereka pergi ke pusat pembelanjaan, tak lupa pula mereka sangat disiplin mengikuti protokol kesehatan.
"Gimana kisah cinta Hellotalk mu itu?" tanya Vina iseng.
Fla mendengus, tak terima jika Vina menyebutnya seperti itu. Meski kata hatinya sadar betul memang semua berawal dari Hellotalk.
"Sejauh ini aku sama dia baik-baik aja kok," sahut Fla enteng.
"Kamu serius sama dia? trus orangtuamu gimana kalau tau anaknya pacaran sama orang luar?" tanya Vina.
"Aku gak tau Vin, Mama Papa belum tau soal ini. Lagi pula ini kalau untuk serius nggak mungkin lah. Aku masih 16," jawab Fla seraya menyeruput minumannya yang baru saja ia beli dengan Vina.
"Kamu sebenernya suka apa nggak sih sama tuh cowok?"
"Ya suka sih, aku emang ngerasa nyaman aja sama dia. Tapi aku harus realistis juga, Aku sama dia itu terpisah ribuan kilometer, beda negara, so meskipun aku suka sama dia tetap aja aku jangan terlalu berharap banyak. Separuh hatiku sudah ku siapkan jika suatu hari aku akan kecewa," ucap Fla.
Vina menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Fla. "Gila ya, kamu udah benar-benar menyiapkan semua kemungkinan terburuknya."
"Oh harus dong, LDR itu gak mudah. Meski jaman sekarang teknologi udah maju, tapi tetep aja gak semudah membalikkan telapak tangan," timpal Fla yang tingkat pemikirannya melebihi usianya.
Saat mereka sedang asik mengobrol sambil menikmati makan siangnya disebuah kafe, tiba-tiba ponsel Fla berbunyi. Nama Humoyun beserta gambar wajah tampan yang memiliki belahan ditengah dagu itu memenuhi layar ponsel milik Fla.
"Dia telepon," gumam Fla sambil menunjukkan ponselnya kehadapan Vina.
"Buruan angkat!" saran Vina begitu antusias.
Fla pun segera menggeser icon hijau dilayar ponselnya.
"Hallo," sapa Fla.
"Hai, kamu lagi dimana? kok ramai sekali?" tanya Humoyun jauh di negeri seberang sana.
"Aku sedang diluar bersama temanku," jawab Fla.
"Apa temanmu laki-laki?"
"No!! dia perempuan. Namanya Vina, mau aku kenalkan?"
"Tidak perlu, aku akan coba mempercayai mu Fla," ucap Humoyun.
"Berarti selama ini kamu tidak percaya padaku?" tanya Fla yang kecewa dengan kata-kata Humoyun saat mengatakan dia akan mencoba mempercayai dirinya.
"Ya aku tidak percaya sebelum aku benar-benar melihatmu secara langsung."
"Apa??" bola mata Fla terbelalak lebar. Apa maksud si Humoyun itu?
"Besok lusa aku akan menemukanmu Fla," ucap Humoyun terdengar samar dan nyaris tak terdengar karena memang suasana disekitar tempat makan itu sedang ramai.
"Hallo! Humoyun, apa yang kamu bicarakan? saya tidak mendengarmu dengan jelas," ujar Fla sedikit mengeraskan volume suaranya. "Hallo!"
"Saya akan ke Indonesia. Jadi tunggu saya, Fla!" ucap Humoyun dan sukses membuat Fla terkejut bukan main. "Saya tutup teleponnya, kamu cepat kembali ke rumah bila sudah tidak ada hal penting lain diluar."
Dan Humoyun pun seperti biasanya menutup panggilan telepon secara sepihak. Meninggalkan Fla yang kini tengah dikelilingi rasa penasaran dan ketidak percayaan.
"Ada apa? keliatan shok banget. Dia mutusin kamu?" terka Vina saat menyadari wajah pias sahabatnya yang baru saja habis menerima telepon dari sang pacar.
"Ini mimpi bukan sih?" tanya Fla konyol. Ia lalu mencubit pipinya sendiri sekeras mungkin. "Aaww!" ringisnya.
"Heyy! kenapa?" tanya Vina.
"Barusan dia bilang mau kemari, Vin."
"Apa??" bola mata Vita melotot. "Kapan?"
"Kata besok lusa," sahut Fla masih tak percaya. "Seriously Vin? dia mau ke Indonesia buat nemuin aku?"
Vina dan Fla menjerit histeris mengekspresikan perasaannya saat ini. Kelakuan mereka bahkan sempat menjadi pusat perhatian orang-orang disekitarnya.
"Dia anak orang kaya ya?" tanya Vina setelah keduanya kembali tenang.
"Hah? maksudnya?" Fla tidak paham.
"Kamu pikir ongkos dari Uzbekistan ke Indonesia itu murah? Mahal kali Fla... kamu mikir lah. Apa jangan-jangan dia bukan mahasiswa berumur 18 tahun, melainkan Om-om tajir yang suka gadis belia," ucap Vina.
"Hush! amit-amit, nggak mungkin lah. Aku udah sering video callan kok. Dia masih muda, nggak beda jauh sama kita," ujar Fla yakin.
"Oke, katakanlah jika itu benar. Trus gimana kamu jelasin sama kedua orangtuamu mengenai dia? bukannya mereka nggak pernah tau tentang Humoyun mu itu?" tanya Vina serius.
"Oo my God, kamu bener Vin," gumam Fla tersadar.
"Hah, berarti kamu harus jujur sama mereka dulu. kalau emang benar cowok itu akan kemari, nggak mungkin kan kamu nggak ngajak dia kerumah," ucap Vina.
"Ya aku tau itu," jawab Fla sambil berpikir keras.
"Eh tapi kondisi pandemi gini emang udah boleh ya?" tanya Vina tersadar.
"Aku nggak tau Vin, mungkin tetap saja turis yang datang kemari harus dikarantina terlebih dulu," sahut Fla.
"Gila ya, aku nggak nyangka hari gini ada cowok model kaya dia. Fix dia bukan orang sembarangan," gumam Vina seraya menggeleng-gelengkan kepalanya masih tak percaya.
.
.
.
Semua akan baik-baik saja pada akhirnya. Jika tidak, maka ini bukanlah akhir.
Part II
(menunggu kisah selanjutnya apakah dia benar-benar akan datang atau tidak)