Di deras rasa rindu yang menghujam, di atas alas langit, senyum manis, hangat pelukan, kasih sayang, canda tawa, waktu yang tertinggal ... memeluk punggung sepi.
Kini rindu mulai mengelitik dengan hembusan angin yang tersayup-sayup, menjatuhkan dedaunan pohon.
Dan di sinilah ... di taman ini, sebuah kenang itu terjadi. Dia sering kali melampiaskan rasa rindu di sini. Meski dada terasa begitu menyesakkan.
Seorang gadis cantik dengan rambut hitam legam sebahu duduk di antara bangku taman.
Namanya Clara, tapi seringkali Lara menjadi panggilannya.
Lara memandangi langit, nyaris gelap. Seketika pikirannya melayang pada pertemuan hari itu.
“Lara, setelah kita berhasil menggapai cita-cita. Aku harap kita akan bertemu lagi disini, tidak, kita harus bertemu di sini. Bisakah kamu berjanji, Lara?"
"Apa kamu juga bisa berjanji begitu, Ken?" Lara bertanya ragu, juga ... takut.
Kenzo terdiam sejenak, lalu senyum tulus terulas di bibirnya. "Pasti!"
Lara mengingat dengan jelas setiap kata yang dia ucapkan. Yang kadang kala tanpa sadar membuatnya terus datang ke taman ini. Dan anehnya, kaki Lara sama sekali enggan bergerak hanya untuk melangkah pergi.
Bodoh!
Lara sadar benar itu. Bagaimana tidak, sebanyak apapun ia menghabiskan waktu di taman ini, pria itu tidak pernah datang. Seakan hilang ditelan bumi bersama janji-janjinya.
Setelah bertanya-tanya dalam hati tanpa ada jawaban. Lara bangkit berdiri. Menghela napas panjang, lalu meninggalkan taman.
•
Jam 08.20 Lara berangkat berkerja, menjadi seorang dokter di sebuah rumah sakit ternama memang membuat jadwalnya benar-benar padat. Tapi masih sempat mendatangi taman itu alih-alih menggunakan waktunya untuk beristirahat.
"Dokter Clara!" Seseorang mengetuk pintu ruangan Lara. Angga ... membuka pintu dengan senyum khasnya.
"Ya?" sahut Lara.
"Kamu dipanggil direktur."
"Kenapa?"
Angga mengangkat bahu, "Kenapa nanya sama aku? Apa aku direkturnya?"
"Angga," sungut Lara kesal. "Aku kan cuman nanya siapa tau kamu tau."
"Udahlah, pergi sana!"
"Ini ruangan aku!"
Angga mengerling malas, meski dikenal ramah kepada Lara, pria itu senantiasa mengajak Lara berdebat.
"Banyak omong! Bisa pergi sekarang?"
Lara bangkit berdiri, lalu keluar menuju ruangan direktur.
Tok! Tok!
Pintu ruangan diketuk pelan, Lara lalu membuka pintunya saat terdengar sahutan dari dalam.
"Permisi, Pak. Anda memanggil saya?" tanya Lara.
"Iya, silahkan duduk, Dokter Lara. Saya mau bicara dengan Anda," ujar pak Direktur.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Anda akan saya pindah tugaskan sebagai dokter relawan di negara Yaman. Saya akan mengutus beberapa dokter untuk menemani Anda di sana." Pak Gunawan–Direktur rumah sakit tempat Lara berkerja itu kembali melanjutkan. "Tidak perlu mengkhawatirkan apapun, fokus saja dengan tugas Anda sebagai seorang dokter."
Lara terdiam, sedikit ragu.
"Anda tahu bukan tugas dokter apa?" tanya Pak Gunawan setengah menggoda, mencairkan suasana setelah melihat wajah tegang Lara.
"Tentu."
"Jangan terlalu khawatir, Lara. Di sana ada Kalandra, dokter yang sudah lama menjadi relawan di Yaman. Dia akan membimbing kamu jika kamu butuh bantuan."
"Kalandra?"
"Kamu siap bukan, Lara?"
"Saya dokter, Pak. Bagaimana mungkin seorang dokter takut dalam menjalankan tugas?"
Pak Gunawan tersenyum bangga.
"Kalau begitu saya permisi, Pak."
___________________
Arloji di tangan Lara menunjukkan pukul 12 siang saat ia tiba di Yaman. Padang pasir terbentang luas saat ia berjalan menuju pos kesehatan. Tembok-tembok beton setinggi dada berdiri kokoh di sepanjang bangunan. Lara menghela napas, menyemangati diri sendiri.
"Dokter Lara?"
Lara memutar kepala, "Ya?"
Seorang tentara menunduk hormat kepada Lara, tersenyum ramah. "Mari ikut saya."
Lara mengangguk, mengkoordinir rekan-rekannya untuk mengikuti tentara itu. Tanpa suara, merasa terpana dengan angin kencang yang menyibak rambutnya.
"Sakit, Dokter." Seorang anak kecil berwajah kumuh merengek sambil memegangi perutnya menggunakan bahasa Yaman. Di sisinya, nampak beberapa anak lain ikut terbaring lemah.
"Bisa bantu saya?" tanya seorang dokter pria menggunakan bahasa Yaman.
Ini pasti Kalandra, Lara mengangguk cepat. Segera membawa kakinya menuju rak berisi obat-obatan.
"Mereka mengalami gangguan pencernaan, apa mereka memakan makanan basi?" Lara bertanya cemas.
Kalandra nampak diam sejenak, lalu menjawab. "Bukan, tapi mereka keracunan makanan."
_________________
Setelah sibuk mengobati anak-anak yang terluka, Lara pergi menemani Kalandra untuk memeriksa beberapa tentara dari Indonesia. Untuk menuju pos keamanan, mereka hanya perlu berjalan beberapa langkah.
"Maaf, membuat kamu sibuk saat pertama menginjakkan kaki di sini," kata Kalandra sungkan.
Lara tersenyum samar, "Sudah tugasku sebagai dokter. Lagian aku datang kemari bukan untuk liburan."
"Namamu?" tanya Kalandra.
"Clara."
"Nama yang bagus." Kalandra tersenyum. "Aku Kalandra, panggil saja Andra."
Lara mengangguk ragu, setelah beberapa saat, mereka sampai di pos keamanan. Kalandra langsung memisahkan diri untuk memeriksa perlengkapan yang dibutuhkan.
"Permisi." Lara memasuki ruangan, seluruh pandangan mata para tentara seketika menuju ke arahnya. Gadis itu membungkukkan badan hormat. "Selamat sore, saya Dokter Clara yang akan memeriksa keadaan kalian. Mohon kerja samanya."
"Siap, Ya!" jawab para tentara dengan serentak.
"Hallo, namaku Gery, tentara angkatan darat," ujar Gery mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
"Silahkan kalian duduk dulu, saya akan memeriksa kalian satu persatu," kata Lara acuh tak acuh, berusaha fokus pada tugasnya.
"Siap!"
Beberapa saat kemudian, Lara membereskan alat medisnya setelah memeriksa semua tentara dan beranjak pergi keluar. Saat tiba-tiba seorang tentara menghentikan langkahnya.
"Masih ada satu orang lagi yang harus Anda periksa."
"Siapa?" tanya Lara, pandangan matanya langsung tertuju kepada pria yang baru saja memasuki ruangan. Para tentara seketika riuh. Bersorak-sorak menggoda.
Kenzo ....
Lara termangu beberapa saat, sebelum akhirnya pria itu ikut menatapnya. Mereka bersitatap beberapa saat.
Desir itu masih terasa, bahkan setelah sekian lama tak saling bertegur sapa. Nyatanya, nama Kenzo masih begitu rapi tertulis di hatinya.
"Hai, apa kabar?" tanya Kenzo dalam bahasa Yaman.
Lara bergeming, menatap sendu tanpa sedikitpun menjawab.
"Dia orang Indonesia, Kenzo," teriak Gery.
Kenzo memberi tatapan nanar kepada Gery.
" ... kapten," lanjut Gery lirih.
"Sudah lama, Lara. Apa kabar?" tanya Kenzo lagi. "Kamu sudah berhasil ternyata. Aku bangga."
"Silahkan duduk, saya akan memeriksa Anda." Lara kembali membuka kopernya, mengabaikan ucapan Kenzo.
Kenzo duduk berhadapan dengan Lara, menelisik setiap inci wajahnya, tatapan matanya, gerakannya, juga caranya bicara yang sama sekali tidak berubah. Kenzo merasa aneh.
"Lara ...."
"Tolong diam! Jika terus bersuara akan menghambat pengobatan," kata Lara, jelas terdapat kebohongan dari nada bicaranya. Dan itu Kenzo sadari dengan jelas.
"Apa kamu pikir aku tidak tahu soal kesehatan karena masuk sekolah militer, Lara? Aku jauh lebih cerdas. Kamu tau, kan?"
"Apa Anda pikir saya tahu itu?"
"Kamu sudah berubah ternyata .... "
"Semua orang pasti berubah, lagian waktu terus berjalan, bukan?"
Kenzo hanya tersenyum ragu, membenarkan ucapan Lara.
"Sudah selesai, Anda bisa pergi," kata lara, kembali memasukkan beberapa obat-obatan yang ia bawa ke dalam koper.
"Semuanya sudah beres, Dokter?" Kalandra tiba-tiba datang menepuk pundak Lara. Pria itu tersenyum. "Mari kembali ke pos kesehatan."
"Dia akan saya antar," kata Kenzo cepat, tersenyum manis.
"Tidak perlu!" desis Lara menolak tegas, merasa muak.
"Lara .... "
Kalandra mengerjapkan mata, lalu melangkah keluar tanpa Lara. Wanita itu masih sibuk membereskan alat-alat kesehatannya. Kalandra merasa harus meninggalkan mereka berdua.
"Apa kamu sakit, Lara? Aku tanya apa kamu baik-baik saja selama ini?" tanya Kenzo, setengah menuntut jawaban dari Lara.
"Kenapa nanya? Penting kah?"
"Lara–"
"Banyak hal yang sudah terjadi."
"Kabarmu, apa–"
"Yang kamu lihat sekarang bagaimana?"
"Ba–"
"Apa kamu pikir aku baik-baik saja selama ini?" ucap Lara tertahan, tenggorokannya tercekat. "Saya permisi."
"Lara, maaf."
Lara membalikkan tubuhnya, menatap Kenzo lekat.
"Aku tidak lupa janji itu–"
"Tapi kamu berusaha melupakannya."
Kenzo terdiam, lidahnya kelu.
"Tidak perlu minta maaf, ini salahku, karena terlalu percaya kepada manusia."
"Clara!"
"Kamu tau apa penyesalan terhebatku?" tanya Lara, Kenzo tak menjawab. "Aku menyesal karena rela terluka hanya demi menunggu kamu. Saat hujan aku tetap di sana. Saat kamu tidak datang, aku akan kembali datang. Setiap hari, aku ke sana hanya karena sebuah harapan besar."
" ... sampai di sini, apa kamu sadar sudah seberapa jauh menyakiti aku?" Lara bertanya lirih, memberi jarak saat Kenzo hendak meraih tangannya, lalu benar-benar keluar dari ruangan.
"Aku hanya takut, Lara. Bahwa pada akhirnya, aku akan benar-benar membuat kamu terluka."
___________
Lara meregangkan otot-ototnya, merasa lelah semalaman mempersiapkan alat-alat kesehatan untuk para tentara yang akan bertugas. Lalu kembali pura-pura sibuk saat melihat Kenzo menghampirinya.
"Lara ...," panggil Kenzo.
Lara tak menjawab.
"Aku mau pamit," kata Kenzo, seketika Lara menoleh dengan tatapan ... entah. "Sepertinya ini misi terakhir aku."
"Kamu mau pensiun?"
Kenzo tertawa, entah karena apa.
"Aku bangga sama kamu, Lara. Maaf karena aku tidak bisa menepati janjiku padamu. Membuatmu menunggu. Dan dengan tak tahu dirinya merasa beruntung bertemu dan berteman denganmu. Bahkan dengan tak tahu malu, aku masih berharap kita bisa dekat seperti dulu."
Lara tertegun, tiba-tiba sesak memenuhi rongga dadanya. Tidak ingin terlihat matanya berkaca-kaca, Lara membuang pandangan.
"Lakukan misi ini dengan sebaik-baiknya, jangan menyerah. Dengan begitu, kita bisa kembali dekat. Lagian ... apa kita pernah menjauh?" Lara bertanya, seolah lupa apa yang selama ini ia lalui. " ... anggap saja kita sibuk dan sama-sama lupa dengan itu. Lalu takdir kembali mempertemukan kita. Namun rasa canggung menyelemuti dan membuat kita berjarak. Bisa, kan?"
Kenzo tersenyum, "Boleh ... aku memelukmu, Lara?"
Lara mengangguk ragu, Kenzo menarik lengan Lara memeluk tubuhnya erat. Seolah enggan melepaskan, Lara membalas pelukannya.
"Aku mencintaimu, Lara .... "
Hening ....
Lara memejamkan mata, merasa benar-benar sesak. Ucapan cinta itu, bagaikan sebuah perpisahan. Dan itu membuat dadanya tertekan kuat ... sakit.
"Aku tidak marah, Kenzo. Sedikitpun tidak merasa menyesal. Bertemu dan membuat janji denganmu, meski menyakitkan aku lebih merasa bahagia. Sangat," lirih Lara, melepas pelukan memberikan senyuman tulus. "Karena itu kembali lah dengan selamat, aku akan menunggumu."
Kenzo menggeleng, merasa ragu. "Jangan, jangan lagi menunggu aku."
"Kali ini, aku tidak akan menunggu lama. Jika kamu tidak bisa menemuiku, maka aku yang akan menemuimu."
Lara tersenyum sendu. "Aku juga bangga melihatmu begitu tampan dengan pakaian tentara, Kenzo."
_________________
Panas terik matahari seolah menjadi saksi pertempuran itu. Padang pasir dan angin kencang seolah turut andil. Beberapa tentara gugur. Memberikan kejelasan ekspresi cemas bagi rekan-rekan lainnya.
Sesak, melihat begitu banyak darah bercucuran akibat benda api.
"Dokter, tolong. Dia tertembak." Seorang pria berseragam tentara terseok-seok membawa rekannya menuju pos kesehatan. Lara segera turun tangan. Gery, perutnya berlumuran darah.
"Bawa ke bed!" Cepat, Lara mengambil sarung tangan. Menekan perut Gery menahan pendarahan.
"Pasien ini terkena peluru beracun, Dokter," kata rekan kerja Lara, memberi kecemasan tersendiri bagi gadis itu. Lara memikirkan Kenzo. Kata-kata itu ....
"Mari lakukan operasi."
"Tidak bisa, Dokter. Peralatan kita tidak memadahi."
Lara dirundung kecemasan, Kenzo ....
"Panggil Dokter Kalandra! Saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk menyelamatkan pasien."
"Baik, Dok."
"Ini akan sangat menyakitkan, tapi bertahanlah," kata Lara menyemangati Gery, ditekannya lagi perut pria itu. Menahan agar pendarahannya tidak terlalu parah.
"Tolong siapkan darah untuk pasien, cepat!" titah Lara, mengambil beberapa alat medisnya, lalu mengambil peluru dari perut Gery.
"Ada apa?" Kalandra baru datang sedikit terengah-engah.
"Pelurunya sudah saya keluarkan, tolong lanjutkan pengobatan pasien. Saya akan turun langsung ke medan tempur," kata Lara setengah memohon. Tidak mampu menahan rasa khawatirnya kepada Kenzo.
"Saya akan mengambil alih pengobatan ini, tapi ... Anda tidak bisa mendekati mendan tempur. Tidak, Anda tidak boleh!" tegas Kalandra.
"Saya minta bantuan Anda, Dokter. Saya permisi."
Lara langsung berlari, berganti pakaian tentara dan menyelinap masuk ke mobil yang akan membawanya ke medan tempur. Lara benar-benar gamang. Kata-kata Kenzo sebelum pergi bertempur membuat ia terngiang-ngiang.
"Sepertinya ini misi terakhirku."
"Aku mencintaimu, Lara .... "
Tidak mungkin bukan? Tidak mungkin bahwa apa yang dipikirkan Lara benar. Tentang ia akan kehilangan Kenzo. Kali ini benar-benar kehilangannya.
Lara segera turun dari mobil, mencari keberadaan Kenzo. Pria itu tengah membopong rekannya yang terluka untuk berlindung. Cepat Lara menghampirinya untuk mengobati.
"Kenzo," panggil Lara.
Kenzo terkesiap. "Bodoh! Kenapa kau kemari?"
"Kenzo, jangan menyerah, oke. Ingat aku. Ingat bahwa kamu memiliki aku sebagai alasan untuk tetap hidup."
Kenzo tak menggubris ucapan Lara, segera berlari kembali menggerakkan pistolnya.
Dorrr!
Berhenti melangkah dengan bola mata membesar, Kenzo membalikkan badan langsung menangkap tubuh seseorang. Jantungnya seketika seolah berhenti berdetak mengetahui siapa yang tertembak pistol demi melindunginya.
"Lara .... "
"Kamu gak papa, kan?" tanya Lara.
"Bodoh!"
"Kenzo ... jangan pernah menyesal. Kamu tidak salah. Sama sekali tidak bersalah."
"Diam!" pekik Kenzo, matanya berkaca-kaca, yang dalam sekali berkedip saja air matanya pasti berhasil keluar.
"Aku juga mencintaimu, Kenzo ... sangat."
"Lara! Lara!" teriak Kenzo, Lara tidak sadarkan diri. Dadanya penuh dengan darah akibat tembakan. Air mata Kenzo kali ini benar-benar mengalir deras.
"Lara ... maaf. Karena pada akhirnya aku benar-benar membuat kamu terluka."
___________________
Seminggu sudah berlalu, akhir-akhir ini Kenzo selalu melamun memikirkan Lara. Dia seperti orang yang tak punya tujuan hidup. Karena memang alasan dia hidup hanya Lara. Dan gadis itu sudah menghilang. Pergi bersama takdir.
Kenza memutuskan untuk pulang ke kota kelahiran setelah menyelesaikan misi. Meski banyak rekan-rekannya gugur, ia berhasil memenangkan misi sebagai pemimpin pasukan.
"Lara ... aku baik-baik saja. Aku tidak tahu malu, bukan? Hidup dengan nyaman bahkan tanpa ada kamu." Kenzo menatap langit-langit dengan sendu. Semilir angin di taman menerpa wajahnya, membuat kenangan-kenangan itu kembali muncul di ingatannya.
"Kamu tau, Lara? Aku selalu meminta seseorang mengawasimu. Juga menjagamu. Dan setiap mendengar kamu sakit, aku benar-benar kacau. Hingga kadang terkena beberapa luka di medan tempur."
Kenzo melanjutkan, " ... tapi tidak papa. Aku pantas mendapatkannya. Maaf, aku belum sempat membahagiakanmu. Belum sempat mengucapkan terimakasih. Maaf, Lara .... "
"Sudahlah, jangan terus menerus menangis!" Seorang pria menepuk pundak Kenzo pelan, menguatkannya. Juga sedikit menggoda untuk mencairkan suasana. "Lara pasti bahagia di sana."
"Karena hidupnya terus saja aku sakiti."
"Jangan bicara begitu, Kak Kenzo. Karena aku tau, Lara cukup bahagia karena pernah bertemu kamu. Tidak, dia sangat bahagia."
"Angga ... terimakasih untuk selama ini karena sudah menjaganya. Memberitahuku semua tentangnya," kata Kenzo.
"Kalian sama-sama tersakiti, aku tau kakak tidak bermaksud menyakiti Lara. Jadi, jangan terus menyalahkan diri sendiri. Aku yakin Lara juga tidak ingin kamu begini."
Kenzo tersenyum perih, merasa amat sakit hatinya.
Lara ....
Gadis itu terlalu baik untuknya. Kenzo sadar. Karena itu ia lebih dulu dipanggil tuhan.
"Lara selalu menulis di ruangannya, tapi aku hanya menemukan selembar kertas di mejanya. Untuk Kakak." Angga menyerahkan selembar kertas kepada Kenzo, lalu beranjak pergi. Memahami dengan sangat, bahwa sepupunya itu perlu waktu untuk sendiri.
Dibukanya setiap lipatan kertas dengan tangan gemetar, membaca kalimat pertama bahkan membuat Kenzo menangis. Mengingat betapa sakitnya Lara selama ini.
"Kamu tau, Kenzo. Aku suka cara berbeda kamu dalam memanggil namaku. Aku suka caramu bicara, aku benar-benar suka dengan semua tentangmu.
Seharusnya aku tidak memintamu menjadi tentara, pasti kamu punya waktu untukku kan kalau kamu pengangguran."
Kenzo tersenyum hambar, melanjutkan membaca di kalimat selanjutnya.
"Kenzo ... aku benar-benar rindu. Seperti akan mati sekarang juga. Aku marah. Bukan karena kamu tidak menepati janjimu, tapi karena rindu ini tanpa tahu diri terus saja bertambah. Kamu tau kan, aku tidak bisa marah padamu.
Di tempatku berkerja, ada pria bernama Angga. Dia mengingatkanku padamu. Dan dia benar-benar membuat kesal karena selalu datang ke taman itu. Tapi setidaknya, karena dia aku tidak melupakanmu.
Kenzo ... aku mencintaimu. Terimakasih sudah singgah di hidupku. Selanjutnya ... mari saling berbahagia bersama. Dan jangan menyesal karena tidak sempat membahagiakan di masa lalu.
Lara .... "
Kenzo tergugu, menyesal telah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan hanya karena opini sendiri. Seandainya ia abaikan perasaan takutnya, mungkin Lara akan bahagia meski pada akhirnya akan pergi meninggalkannya.
Kenzo merasa amat sakit, bahkan rasa sakit ini belum seberapa dibandingkan rasa sakit yang ia torehkan untuk Lara. Selama ini.
"Aku pantas lebih sakit dari ini, Lara. Aku harap luka ini bertahan lama. Sampai aku menemuimu di sana."