May merupakan seorang pemain tenis meja terbaik di sekolah. Dia telah memenangkan beberapa kejuaraan tenis meja dan juga mengharumkan nama sekolah. Perempuan yang berciri khas rambut kuncir kuda itu sangat mudah sekali terlihat di kawasan sekolah. Karena dia adalah murid terkenal di sekolah.
Lim yang hanya seorang siswa lelaki biasa, tertarik dengan seorang May yang penuh ketenaran. Perempuan yang selalu bersikap ramah terhadap para pendukungnya itu, membuat Lim menyukai sosok dirinya. Hal itu terus berlangsung ketika ia melihat aksi dari perempuan itu kala bertanding. Permainan yang apik ditampilkan olehnya, sampai membuat penonton bertepuk tangan dan bersorak.
Pada suatu hari, Lim baru saja menyelesaikan tugasnya dan pulang paling akhir. Sekolah sudah mulai sepi menyisakan beberapa orang murid yang terlihat sedang menunggu jemputan di gerbang depan.
Lim berjalan menuruni anak tangga melalui lorong kelas yang sunyi tersebut. Saat sudah menuruni anak tangga, tiba-tiba ia melihat seorang perempuan yang tidak asing baginya itu. Perempuan itu adalah May. Duduk seorang diri sambil meregangkan kedua kaki kedepan. Melihat hal itu, Lim langsung berinisiatif untuk coba mendekati perempuan tersebut.
"Hai." sapa Lim pada May.
Mengangguk tanpa sepatah katapun. Itulah respon dari seorang May. Kali ini Lim tidak melihat senyum yang biasa terukir di wajahnya. Sisi keramah tamahan dari sebuah senyuman yang manis itu tidak terlihat dan seketika Lim berpikir akan sesuatu. Sebuah kecurigaan muncul di benaknya. Ada apa gerangan sehingga membuat May tidak menampilkan senyuman khasnya itu.
"Bolehkah aku duduk disini?"
Kalimat tanya mengenai izin itu tidak di tanggapi oleh May. Lim merasa tidak enak padanya, dan membalikkan badan karena hal itu. Saat Lim ingin melangkah pergi karena merasa sia-sia, May seketika membolehkannya duduk di samping dirinya.
Lim senang mendengarnya, dan ia pun langsung duduk di sebelah May. Lelaki itu memandang perempuan yang ada di dekatnya.
Memandang ke depan dengan sendu. Ingin bertanya, namun tidak berani karena takut mencampuri urusan orang lain. Itulah yang ada dipikiran Lim saat itu.
Hanya mampu melihat seorang perempuan dengan penuh keringat disertai suasana hati yang tidak baik-baik saja. Lim hanya sanggup diam dan merasakan momen berduaan tersebut. Awalnya dia berpikir bahwa momen itu akan terus dalam keadaan sunyi. Namun, pemikiran itu salah. May mulai berbicara sambil merapatkan kedua telapak tangannya.
"Apa yang aku lakukan selama ini salah?"
Sekejap May menoleh ke arah Lim. Lelaki itu sedikit terkejut dan secara spontan menggelengkan kepala. Padahal dia tidak tahu dasar permasalahan yang dialami oleh May tersebut.
"Kalau aku tidak salah, kenapa aku merasakan hal semacam ini?"
Pertanyaan dari May itu membuat Lim semakin bingung. Ia tidak tahu apa yang sedang dialami oleh seorang May, dan Lim pun bingung harus menjawabnya bagaimana. Dengan memberanikan diri, Lim mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui perihal permasalahan dari May tersebut. Perempuan itu langsung meminta maaf pada lelaki disebelahnya.
"Maaf, Aku terbawa suasana." ucap May.
"Kalau boleh tahu apa permasalahanmu?"
Lim terus coba memberanikan diri walau sebelumnya ia tidak ingin ikut campur.
"Aku mengalami masalah dengan kehidupanku ini. Selalu dan selalu saja seperti ini."
"Katakan lebih detail mengenai masalahmu. Apakah kamu berkenan?" tanya Lim.
"Aku punya masalah dengan pertemananku." jawab May.
"Aku ingin punya teman yang benar-benar berniat untuk menjadi temanku. Tidak sebatas kata semata namun tiada niat dalam hatinya."
lanjutnya.
Lim akhirnya tahu masalah yang di alami oleh May. Kemudian ia coba untuk menenangkan dan berbicara dengan May. Perempuan itu mulai bercerita dan Lim mendengarkan setiap perkataannya. Setelah bercerita panjang lebar, kini saatnya Lim untuk menanggapi hal yang baru saja di dengarnya tadi.
"Jadi permasalahannya begitu. Karena iri dan juga menyangkut strata sosial ya."
Lelaki itu mendekatkan pandangannya pada perempuan bernama May, dan berkata padanya.
"Kamu tidak salah. Jangan salahkan dirimu karena mereka menganggapmu begitu. Lakukan apa yang terbaik bagimu hingga bisa membalikkan keadaan dan menyadarkan mereka yang mengataimu. Dengan begitu kamu bisa menutup mulut mereka setelahnya."
May menatap Lim dengan air mata yang sudah terkumpul di sudut matanya.
"Soal teman, aku bisa menjadi temanmu. Kalau kamu butuh seseorang untuk menemani dirimu kala merasa sepi, aku akan usahakan untuk datang menghampirimu. Jadi jangan bersedih lagi."
kata Lim sambil tersenyum lebar.
Dalam hati masih merasa malu karena sudah memaksakan diri untuk berani dalam berucap. Tetapi hal itu tidak perlu ia sesali, karena orang yang ada di hadapannya kini sudah mulai menampilkan senyum di wajahnya.
May tersenyum dan memegang tangan dari Lim.
"Terima kasih banyak. Aku harap kamu sesuai dengan perkataanmu. Apakah kamu serius?" tanya May.
"Iya. Aku paham mengenai apa yang kamu alami. Jadi mari berteman!" balas Lim.
Mereka berdua berjabat tangan di iringi dengan senyuman antar keduanya.
May dan Lim tegak dan saling memandang.
Mengucapkan terimakasih sekali lagi dan keduanya pun berpisah untuk hari itu.
Hari-hari selanjutnya, Lim benar-benar melakukannya. Menemai May kala ia sedang berlatih seorang diri atau pergi kemanapun selagi bisa ditemani. May merasa senang, begitu pula dengan Lim.
Di sebuah pertandingan tenis meja, May bermain di babak final. Lim menonton sambil memfotonya. Gerakan terampil saat memukul bola dan melancarkan serangan, membuat May memimpin skor pada pertandingan itu. Sampai pada akhirnya, May berhasil menjadi juara pada kejuaraan tenis meja antar sekolah tersebut.
Melompat dan meluapkan kebahagiaan. May sudah berhasil menjadi juara yang mana merupakan targetnya sejak awal.
Menaiki podium juara dan memperoleh piala dan kalungan bunga. May menangis bahagia dan mencium piala yang ada di tangannya.
Usai pertandingan, May bertemu dengan Lim yang sudah menunggu di depan gedung. Perempuan itu menunjukkan pialanya dan menceritakan soal perasaan senangnya kini.
Sedangkan Lim menunjukkan hasil jepretan foto pada perempuan itu dan membuatnya takjub seketika.
"Terimakasih karena sudah mendukungku dan menjadi temanku tentunya." ungkap May pada Lim.
"Sama-sama. Senang bisa membuatmu bahagia dan tersenyum kembali." balas Lim.
Kemudian Lim memberikan sebuah hadiah pada May atas perjuangannya. Perempuan itu bertanya-tanya mengenai isi dari dalam bungkusan yang diberikan oleh Lim tersebut. Akan tetapi ia memilih tidak menjawab dan menyuruhnya untuk membuka bungkusan itu nanti.
"Baiklah aku akan membukanya nanti. Aku harap ini hadiah yang bagus ya haha!"
"Semoga kamu suka, May."
"Kamu menbuatku makin penasaran, sungguh!"
ucap May.
Setelah pertemuan itu, May pulang kerumah dan membuka hadiah pemberian dari Lim sebelumnya. Membuka hadiah dan melihat isinya.
May seketika merasa terharu dan meneteskan air mata. Senyum pun terlukis di wajah, karena perasaan senang dibalik haru yang menerpa tersebut.
"Terima kasih, Lim. Aku akan berusaha keras untuk menggapai mimpiku dan tentunya..."
"Selalu bersama dirimu."
tutup May yang menundukkan kepala seraya memandang hadiah pemberian dari Lim.
-----SELESAI-----