Cinta memang bisa memebutakan segalanya. Bahkan, bisa membawa kita terjerumus dalam kesesatan.
Aku Laras Eka Cahya. Aku memiliki sahabat yang bernama Ajeng Dwi Septiana, dia anak yang masih sangat naif. Dia, memiliki pacar bernama Satria Agung.
Sifat yang dimiliki Ajeng sahabatku mudah untuk dimanfaatkan. Dia tipe orang yang setia, ia akan setia kepada orang yang sudah sangat dekat kepadanya. Dia orang yang rela berkorban demi orang yang disayang. Justru sifat itulah yang membuat Ajeng mudah dimanfaatkan.
Satria Agung, pacar Ajeng. Dia hanya memanfaatkan Ajeng. Satria mendekati Ajeng untuk hartanya, karena, Ajeng sangat kaya dan dari keluarga terpandang.
Aku mengetahui niat busuknya. Setelah, satu minggu mereka berpacaran, tapi, aku tidak berani untuk mengatakannya kepada Ajeng
"Laras". Panggil Ajeng kepadaku.
"Ya". Jawabku dingin. Sejak aku mengetahui niat buruk Satria, aku menjadi dingin kepada Ajeng. Karena, dengan aku menjadi dingin, aku tidak akan keceplosan mengatakan hal itu.
"Kamu, kok dingin sih". Sahut Ajeng
"Lalu". Sahutku.
"Ada yang kamu sembunyiin". Kata Ajeng.
"Gak". Singkatku.
"Ngaku aja". Dia mengatakan sambil menyenggol pundakku.
"Kalau, aku mengatakannya. Apa kamu akan percaya". Sahutku sambil menatap Ajeng.
"Kamu mau bicara apa?". Dia bingung dan gemetaran. Pastilah, dia gak pernah liat ekspresiku yang menakutkan.
"Satria, cuma manfaatin kamu Ajeng". Jawabku dengan menepuk pundaknya.
"Mana mungkin". Dia menepis tanganku dari pundaknya dan melangkah mundur kebelakang.
"Sudah kubilang, kau gak akan percaya". Ucapku.
"Satria, bukan orang yang seperti itu". Dia membentakku.
"Baiklah". Aku meninggalkan Ajeng.
"Sialan". Dia mengepalkan tangan dan menatapku dengan kebencian.
Sesampainya di sekolah. Ajeng mengejarku, dan minta maaf kepadaku. Dia salah, harusnya menghargai perkataanku, walaupun dia ridak menerimanya.
Aku menerima permintaan maafnya.
Waktu istirahat di kantin sekolah.
Aku duduk santai bersama Ajeng sambil memebaca buku novel.
"Hai". Sapa Satria dan duduk di kursi kosong sebelah Ajeng.
"Hm". Aku hanya mengatakan "hm". Aku muak melihat mukanya.
"Hai, sayang kamu mau makan". Tanya Ajeng kepada Satria.
"Iya". Jawab Satria.
"Ras, tolong pesenin kayak kita buat Satria". Dia menyuruhku memesankan makanan.
Aku langsung pergi, memesankan .setelah beberapa menit aku memebawa makanan itu.
"Nih". Aku menyodorkan ke meja dan kembali duduk di tempatku, aku terfokus lagi ke Buku.
"Jutek banget sih". Kata Satria bercanda kepadaku.
"Hm". Aku hanya tersenyum miring.
"Jangan jadi es lah". Kata Ajeng sambil tertawa dengan Satria.
"Pingin banget, aku menghabisi pria brengsek kayak dia". Dalam hatiku marah-marah.
Bagaimana aku tidak marah. Sejak mereka berpacaran, sifat Ajeng berubah dia jadi lebih posesif, Setiap bertemu hanya menceritakan tentang Satria. Aku bosan mendengarnya.
"Aku ke kelas dulu". Aku langsung beranjak pergi
Ajeng hanya melihat aku pergi dengan muka sedih dan aku tahu dia pasti ngerti maksudku.
Keesokan harinya. Sekarang hari libur, jadi aku ingin rebahan sepuasku.
belum lama aku rebahan. Ajeng datang kerumah.
Aku membukakan pintu untuknya.
Aku dan dia hanya diam canggung. Aku terfokus ke hp.
"Laras, kamu tau gak". Dia mengawali pembicaraan denganku.
"Gak" Sahutku.
"Aku mau cerita". Kata Ajeng.
"Hm". Aku tidak mempedulikannya, karena aku tahu dia akan cerita tentang pria brengsek.
"Kemarin, aku belanja bareng Satria". Dia memulai ceritanya
"Lalu". Sahutku dingin.
"Satria itu baik banget, dia lho beliin ibunya gaun dan satu set perhiasan.
"Oh". Sudah kuduga begini jadinya.
"Dia, itu.....". Dia terpotong olehku.
"Kamu, besok berangkat sekolah sendiri aja ya". Sahutku dengan nada ketus.
"Kenapa". Tanya Ajeng kepadaku.
"Kita bukan lagi sahabat". Ucapku.
"Kalau, kamu masih mau jadi sahabatku, kamu harus tinggalin laki-laki itu.
Ajeng kaget melihat kata-kataku tadi.
Ajeng langsung mengepalkan tangan penuh amarah.
"Oke fine, aku turuti peemintaanmu. Kita bukan lagi sahabat". Teriak Ajeng memebentakku.
Dia langsung beranjak pergi dari rumahku dengan kemarahan yang melewati batas normal Ajeng.
"Ini mungkin yang terbaik". Aku sambil menatap Ajeng yang semakin menjauhi rumahku.
❤
Besoknya di sekolah. Aku hanya diam dengan Ajeng.
Dia melirikku dan pergi ke kamar mandi
aku hanya berharap dia mengetahuinya sendiri.
"Iya, ma...". Suara Satria dari suatu sudut kamar mandi.
"Seperti suara Satria". Gumam Ajeng.
Ajeng melihat dan mendengarkan pembicaraan Antara Satria dan Ibunya.
"Iya, ma secepatnya aku akan ambil harta keluarganya Ajeng". Ucap Satria dari sudut tersebut.
Ajeng hanya menggeleng tak percaya.
"Akan aku ambil sedikit demi sedikit dan kalau sudah akan aku tinggalkan wanita posesif itu". Kata Satria lagi.
Ajeng menangis sedih. mendengar perkataan Satria dan Ibunya di Telfon.
"Satria...". Ajeng dengan sigap muncul di belakang Satria.
"A-Ajeng". Kata Satria dengan gugup.
"Kita-Kita putus". Kata Ajeng dengan air mata mengalir.
"Ke-kenapa". Tanya Satria kepada Ajeng.
"Kamu dekati aku, hanya untuk harta. Setelah mendapatkannya kamu tinggalkan aku". Ucap Ajeng dengan membentak Satria.
"Gak-gak gitu, Ajeng". Sahut Satria dengan kepanikan.
"Sungguh, Pria bajingan". Ajeng menampar Satria dengan keras hingga berdarah.
Ajeng langsung beranjak pergi dari tempat itu.
Di jalan akan ke kelas, Aku bertemu Ajeng. aku tetap dingin, sebab aku tidak tahu jikalau Ajeng sudah mengetahuinya.
"Laras". Panggil Ajeng kepadaku.
"Ya". Jawabku Formal.
"Kita, tetap sahabat kan?". Ajeng memegangi tanganku.
"Kalau tidak ada urusan, saya permisi". Aku pergi langsung dari hadapannya.
Ajeng tiba-tiba berlari kencang keluar sekolah sambil membawa tasnya di punggung, dari gedung tinggi di sekolah aku melihat sendiri dia berlari sedih.
Itu pilihan Ajeng sendiri, aku tidak bisa ikut campur.
Keesokan paginya adalah hari dimana aku masuk sore, jadi aku melihat TV sebentar untuk meredakan pikiran, tapi bukan refreshing yang kudapat, aku malah dapat berita yang menyakitkan.
"Telah ditemukan jasad seorang Wanita di kolam bunga teratai yang berada di taman kota.
Di ketahui Wanita tersebut seorang mahasiswi dari Universitas Jakarta. Buktinya adalah sebuah kartu pelajar dan KTP yang berada di tasnya. Dia berinisial A-D-S". Berita hari ini di TV.
Seketika aku. Aku berlari ke taman kota.
Tidak kusangka ternyata wanita itu adalah Ajeng Dwi Septiana.
Dia bunuh diri di kolam bunga tengah taman itu.
Aku merasa bersalah dengan sikapku padanya, Semoga kau tenang disana Ajeng bestieqw.
Sejak hari Ajeng tiada, aku berubah menjadi wanita dingin yang benci akan cinta.
Aku juga trauma saat melihat kilam bunga di taman itu.
Karena bunga indah di kolam itu jadi saksi bunuh diri Ajeng.
❤Done❤