Namaku Rina, 28 tahun. Malam itu adalah malam puncak perayaan HUT RI di komplek perumahan kami. Sejak sore, lapangan sudah dipenuhi warga. Bendera merah-putih berkibar di setiap rumah, lampu hias menyala, dan suara musik perjuangan bercampur dangdut memenuhi udara.
Suamiku, Andi, menjadi salah satu panitia inti. Sejak pagi dia sudah sibuk mengurus lomba makan kerupuk, balap karung, sampai pembagian hadiah. Aku hanya membantu di bagian konsumsi. Aku memasak nasi bungkus, menyiapkan air mineral, dan membagikan kue kepada panitia.
Jam 9 malam, aku mulai lelah. Kaki pegal, baju basah keringat. Aku minta izin pulang lebih dulu. Andi mengangguk sambil tersenyum lelah.
“Pulang saja, Say. Nanti aku susul kalau sudah selesai.”
Aku berjalan pulang sendirian. Jalanan masih ramai, anak-anak masih main petasan, ibu-ibu masih ngobrol di teras. Aku masuk rumah, langsung mandi dan ganti baju. Aku pakai kaos merah-putih yang agak ketat dan celana pendek longgar. Rambut masih basah, wajah tanpa make-up.
Jam 11 malam, suasana di luar mulai sepi. Sebagian besar warga sudah pulang. Hanya sisa panitia yang masih membersihkan lapangan. Aku sedang duduk di sofa menonton televisi ketika ada ketukan di pintu.
“Bu Rina… Pak RT nih.”
Aku mengenali suara itu. Pak RT, 45 tahun, ketua RT yang disegani warga. Badannya kekar, kulit sawo matang, kumis rapi, dan suaranya selalu tegas tapi ramah. Aku buka pintu.
“Maaf mengganggu malam-malam, Bu. Ini sisa kue dan minuman dari panitia. Andi masih di lapangan ya?”
Aku mengangguk. “Iya Pak, silakan masuk.”
Pak RT masuk membawa dua kantong plastik besar. Dia meletakkannya di meja ruang tamu. Matanya sempat melirik ke arah tubuhku. Kaosku menempel di dada karena masih sedikit basah, dan celana pendekku memperlihatkan paha.
“Bu Rina kelihatan lelah ya,” katanya sambil tersenyum. “Bapak boleh minta air putih?”
Aku pergi ke dapur. Saat kembali, Pak RT sudah duduk di sofa. Aku menyerahkan gelas, lalu duduk di kursi seberang.
Obrolan kami dimulai dari acara Agustusan, lalu beralih ke Andi yang terlalu sibuk, sampai akhirnya ke kehidupan rumah tangga. Pak RT bilang istrinya sudah tidur, dan dia masih harus keliling memastikan keamanan komplek.
“Bu Rina… sendirian di rumah begini, tidak takut?” tanyanya pelan.
Aku menggeleng. “Biasa Pak. Andi sering pulang malam.”
Pak RT mengangguk, lalu mendekat sedikit. “Bapak sering lihat Ibu bantu-bantu di lapangan. Ibu orangnya rajin dan… cantik.”
Aku merasa pipiku panas. Aku tertawa kecil, mencoba mengalihkan. Tapi Pak RT tidak berhenti. Tangannya menyentuh lututku sebentar, seolah tidak sengaja.
Suasana mulai berubah. Aku sadar ada ketegangan yang aneh. Pak RT menatapku lebih lama dari biasanya. Aku juga tidak langsung menjauh.
“Pak… sudah malam. Nanti Andi pulang,” kataku pelan.
Pak RT tersenyum tipis. “Andi masih sibuk minimal sampai jam 1. Bapak cuma sebentar.”
Dia berdiri dan duduk di sebelahku. Jarak kami sangat dekat. Bau aftershave-nya tercium jelas. Tangannya kembali menyentuh lututku, kali ini lebih lama.
“Bu Rina… Bapak sudah lama perhatikan Ibu,” bisiknya. “Setiap kali ada kerja bakti, setiap kali ada rapat RT… Bapak selalu lihat Ibu.”
Aku menelan ludah. Jantungku berdegup kencang. Aku tahu seharusnya aku menolak, tapi tubuhku terasa lemas. Nafsu yang sudah lama terpendam karena Andi sering sibuk membuat aku goyah.
“Pak… ini salah…”
“Cuma malam ini,” jawabnya pelan. “Tidak ada yang tahu.”
Pak RT tidak memberi waktu aku berpikir lebih lama. Dia menarik wajahku dan mencium bibirku. Ciumannya kuat, penuh nafsu yang sudah lama tertahan. Lidahnya masuk ke mulutku, bermain dengan lidahku. Aku sempat menolak sebentar, tapi akhirnya membalas.
Tangannya naik ke dada, meremas payudaraku dari luar kaos. Aku mendesah di mulutnya.
“Ahh… Pak…”
Dia angkat kaosku pelan. Bra hitam langsung dilepas. Payudaraku yang montok terbebas. Pak RT menatapnya lama, lalu menunduk dan menghisap puting kiriku.
“Ahhh… Pak… pelan… hhh… sensitif…”
Dia hisap bergantian, lidahnya muter, gigit kecil, lalu tarik pelan. Aku menggelinjang di sofa. Tanganku memegang kepalanya.
Sambil terus menghisap, tangannya turun membuka celana pendekku. Celana dalam hitam sudah basah. Dia geser ke samping, dua jarinya masuk ke memekku yang licin.
“Ahhh… jari Bapak tebal… lebih dalam… hhh… gerak cepat…”
Pak RT gerak jarinya dengan ritme yang semakin cepat. Jempolnya memutar klitorisku. Aku tidak tahan. Orgasme pertama datang dengan cepat. Tubuhku gemetar hebat, cairan basah membasahi jarinya dan sofa.
“Bu sudah basah banget,” bisiknya serak.
Dia berdiri, membuka celana kerjanya. Kontolnya besar, tebal, dan sudah tegang penuh. Aku menatapnya dengan napas tersengal. Pak RT menarik pinggangku, memposisikan aku di tepi sofa, lalu menyodok pelan.
“Ahhh… gede banget… hhh… pelan dulu Pak… isi aku penuh…”
Dia masuk perlahan sampai mentok. Aku merasakan perut bawahku penuh. Pak RT mulai bergerak. Awalnya pelan, lalu semakin cepat. Setiap dorongan membuat payudaraku bergoyang.
“Memek Bu Rina enak sekali… sempit… nyedot kuat…” desahnya.
“Ahhh… lebih keras Pak… entot aku… hhh… suami saya masih di lapangan… ahh… lebih dalam…”
Pak RT semakin ganas. Dia mengangkat kedua kakiku ke bahunya, menyodok lebih dalam. Bunyi basah memenuhi ruang tamu. Di luar, masih terdengar samar-samar suara musik Agustusan dan tawa panitia di lapangan.
Aku orgasme kedua dengan sangat intens. Memekku berdenyut kuat, memerah kontolnya. Pak RT belum berhenti. Dia membalikkan tubuhku, membuatku berlutut di sofa, lalu menyodok dari belakang.
“Ahhh… Pak… dalem banget… hhh… pelan… ahh… enak sekali…”
Dia meremas pantatku sambil terus bergerak. Satu tangannya meraih payudaraku dari belakang, memilin putingku. Aku mendesah liar, mencoba menahan suara supaya tidak kedengaran ke luar.
Kami berganti posisi lagi. Aku naik di pangkuannya. Aku goyang pinggulku sendiri, naik-turun di kontolnya yang besar. Payudaraku bergoyang di depan mukanya. Pak RT menghisapnya rakus sambil sesekali menampar pantatku pelan.
“Bu suka ya diginiin Pak RT di malam 17-an?”
“Iya Pak… ahhh… suka… hhh… lebih cepat… aku mau keluar lagi…”
Aku orgasme ketiga. Tubuhku lemas, tapi Pak RT masih kuat. Dia membaringkanku di lantai ruang tamu, membuka kakiku lebar, lalu menyodok lagi dengan tempo yang lebih cepat.
Pak RT semakin tidak terkendali. Dia menyodokku dengan dalam dan cepat. Keringat membasahi tubuh kami berdua. Aku sudah tidak kuat menahan desahan.
“Pak… ahhh… aku keluar lagi… hhh… jangan berhenti… isi aku…”
Dia menunduk, mencium bibirku kasar sambil terus bergerak. Beberapa detik kemudian, aku merasakan kontolnya berdenyut kuat di dalamku. Pak RT mengeluarkan spermanya dalam jumlah banyak, hangat dan kental, memenuhi rahimku sampai meluap ke paha.
Kami berdua terengah-engah. Pak RT masih berada di dalamku beberapa saat, lalu pelan-pelan keluar. Cairannya menetes ke lantai.
Dia berbaring di sebelahku, menarik napas panjang.
“Bu Rina… enak sekali,” katanya pelan. “Bapak tidak menyangka bisa seperti ini.”
Aku diam, masih mencoba mengatur napas. Rasa bersalah mulai muncul, tapi kenikmatan yang baru saja kurasakan membuatku sulit menyesal.
Pak RT bangkit, merapikan celananya. Dia melihat ke arah jam dinding.
“Andi mungkin sebentar lagi pulang. Bapak pergi dulu.”
Sebelum keluar, dia menoleh dan berkata, “Besok malam masih ada acara di lapangan. Kalau Andi sibuk lagi… Bapak datang.”
Aku hanya mengangguk lemas.
Setelah Pak RT pergi, aku buru-buru membersihkan sofa dan lantai. Aku mandi cepat, ganti baju, dan pura-pura tidur di sofa sambil menonton TV.
Tidak lama kemudian, Andi pulang. Wajahnya lelah, baju penuh debu dan keringat.
“Sayang, masih bangun? Capek ya nungguin?”
Aku tersenyum. “Iya Mas. Sudah selesai semua?”
“Sudah. Besok masih ada bersih-bersih lapangan.”
Andi langsung mandi dan tidur. Aku berbaring di sampingnya, memeluknya dari belakang. Tapi pikiranku masih penuh dengan bayangan Pak RT. Memekku masih basah dan sedikit perih. Cairannya masih terasa di dalam.
Malam Agustusan itu, di tengah perayaan kemerdekaan, aku kehilangan kendali. Aku ditiduri ketua RT di rumah sendiri, sementara suamiku sibuk mengurus acara di lapangan.
Dan yang lebih parah… aku sudah menantikan malam berikutnya.