Pertengkaran terjadi di antara Rehan dan Sindi, hari ini tepat 1 tahun hari pertunangannya, Sindi meminta Rehan untuk menikahinya secepatnya, namun Rehan masih sibuk dengan bisnisnya yang sedang di jalaninya saat ini.
"Kamu mau tunda sampai kapan pernikahan kita?" Tanya Sindi dengan marah.
"Sabar sayang, bisnisku masih butuh pemantauan langsung, kalau aku tinggal, bisa jadi gak memuaskan hasilnya" Jawab Rehan.
"Tapi aku gak mau terlalu lama gini sayang, kita udah tunangan 1 tahun lalu, aku gak enak sama keluarga, aku juga malu" Jelas Sindi.
"Oke oke sayang nanti kita cari solusi bersama ya" Ucap Rehan menenangkan Sindi.
Rehan mengantar Sindi pulang, di mobil Sindi masih diam tidak bicara apapun pada Rehan.
Sampainya di Rumah Sindi, Sindi langsung masuk ke Rumah tanpa berpamitan pada Rehan.
Di perjalanan, Rehan berpikir bagaimana mencari tanggal yang pas untuk mengambil cuti menikah dan tidak menggagu bisnisnya.
"Aku harus gimana yah?" Ucap Rehan.
"Apa aku tanya Bimo aja kali ya"
Rehan menelfon Bimo dan bergegas menuju rumah Bimo.
"Bimo.." Sapa Rehan.
"Ada apaan sih, tumben banget lu kesini?" Tanya Bimo
"Gue butuh solusi dari lu Bim, Sindi minta gue nikahin dia secepatnya" Jelas Rehan.
"Ya lu lagian lama banget, nikah itu jangan di tunda terlalu lama, apalagi lu udah tunangan hampir setahun, eh udah setahun kan lu?" Jelas Bimo
"Udah setahun hari ini, makanya Sindi ngotot minta nikah secepatnya, tapi gue bingung, gue lagi ada project yang harus gue pantau, gue belum bisa ambil cuti selama 6 bulan ini" Ucap Rehan.
"Coba lu ambil cuti waktu kerjaan lu udah mulai ringan deh"
"3 bulan lagi gue baru bisa santai"
"Ya udah lu bicarain ini bareng sama Sindi, dan atur tanggalnya, kasian juga Sindi, dia kan udah gak punya Ayah, jangan di sakitin sama lu" Jelas Bimo.
"Iya iya gue tau"
Akhirnya Rehan menemukan solusi dan langsung menghubungi Sindi, Rehan agak lebih tenang saat ini, dan Sindi pun sudah mulai bicara pada Rehan.
Pagi Hari.
"Sayang gimana ini jadinya?" Tanya Sindi.
"Kita tentuin untuk tanggal pernikahan kita 3 bulan dari sekarang, kamu juga jadi ada waktu untuk mempersiapkan pernikahan kita, aku serahin ke kamu untuk masalah ini" Jelas Rehan.
"Beneran sayang?? Ahh akhirnya kita nikah juga, nanti aku hubungi WO yang terpercaya dan terbaik untuk kita" Ucap sindi.
"Nanti kita kasih tahu Ibu juga dan semuanya untuk tanggal pernikahan kita"
Siang Hari.
Rehan dan Sindi sampai di Rumah Sindi, dan langsung menjelaskan pada Ibu Sindi tentang pernikahannya yang di adakan 3 bulan yang akan datang.
"Bu, kami mau memberitahu tentang tanggal pernikahanku dengan Rehan, kita mau melangsungkan pernikahan tanggal 15 Agustus nanti, kira-kira gimana Bu?" Tanya Sindi pada Ibu.
"Emmm Agustus yah, kalau gak salah di tanggal orang Jawa itu bulan Suro nak" Ucap Ibu.
"Ah Ibu, ini udah jaman modern, yang penting kan harinya berkesan, soalnya Rehan gak ada waktu lain selain bulan Agustus bu" Jelas Sindi.
"Iya bu, saya ada project di 3 Kota yang harus di pantau terus, Agustus baru bisa ambil cuti lama" Ucap Rehan.
"Ya udah kamu pergi ke rumah kakek sana, karena kita orang Jawa kita harus minta hitungan tanggal pernikahan ke sesepuh di Desa" Jelas Ibu.
Keesokan Harinya.
Rehan dan Sindi menuju Rumah Kakek Sindi yang berada di Desa, perjalanan menempuh waktu 3 jam dari Kota.
Sampainya di Rumah kakek, Rehan dan Sindi di sambut hangat oleh Kakek dan saudara di Desa.
"Mbah, pripun kabare?" Tanya Sindi.
(Kakek, gimana kabarnya?).
"Yo apik, koe sehat ta nduk?" Tanya Kakek.
(Ya baik, kamu sehat kan nak?).
"Sehat mbah alhamdulillah, kulo teng mriki badhe ngendikakaken tanggal nikahan kalih mas Rehan".
(Sehat mbah alhamdulillah, saya kesini mau membicarakan tanggal nikahan sama mas Rehan).
"Loh wes meh rabi ta?"
(Loh udah mau nikah aja?).
"Lah nggih mbah, sampun ndangu soale, kedah di enggali".
(Lah iya mbah, udah lama soalnya, harus di cepetin).
"Yo bener, ora apik suwe-suwe, meh tanggal piro karo wulan opo?"
(Ya bener, gak baik lama-lama, mau tanggal berapa dan bulan apa?).
"Tanggal 15 Agustus mangke mbah".
(Tanggal 15 nanti mbah).
"Loh kuwi kan wulan suro? Kok milih wulan suro sih nduk, wulan suro kuwi ra apik ngge kabeh acara".
(Loh itu kan bulan suro? kok milih bulan suro sih nak, bulan suro itu gak baik buat semua acara).
"Iih mbah iki koyo ibu, saniki sampun modern mbah, sing penting berkesan"
(Iih mbah ini kaya ibu, sekarang sudah modern mbah, yang penting berkesan).
"Kowe iki kudu manut wong tuo, wulon suro ora apik ngge acara, opo meneh ngge acara kawinan, dedemit ning wulan suro kuwi bakal ganggu acara nikahan mu" Jelas kakek.
(Kamu ini harus nurut orang tua, bulan suro gak baik buat acara, apalagi buat acara nikahan, setan di bulan suro bakal ganggu acara kamu).
"Nanging mbah, kulo wonten libur teng wulan Agustus mawon" Ucap Rehan.
(Tapi mbah, saya ada libur di bulan Agustus aja).
"Mendingan di undur wae lah, nunggu mas mu iki libur" Jelas kakek pada Sindi.
(Mendingan di undur saja lah, nunggu mas kamu ini libur).
"Tapi mbah, Sindi sampun ngehubungi sing ngge nyiapke acara nikahan, undangan nggih sampun di pesen teng tanggal niku" Ucap Sindi.
(Tapi mbah, Sindi udah ngehubungin yang buat nyiapin acara nikahan, undangan ya udah di pesen di tanggal itu).
"Duh gusti, nduk nduk.. Kowe iki domongi angel, yo wes ngono karepanmu meh tanggal piro, titenono omongane mbah sing mau"
(Ya alloh, nak nak.. Kamu ini di bilangin susah, ya udah terserah kamu mau tanggal berapa, liat aja omongan mbah yang tadi).
"Iih mbah iki nyupatani putune? Do'ane mugo-mugo lancar mbah"
(Iih mbah ini nyupahin cucunya? Do'anya semoga lancar mbah).
"Iyo iyo wes mbah manut kowe sing nikah, nek ono opo-opo, mbah wes ngomongke marang kowe kabeh"
(Iya iya udah mbah nurut kamu yang nikah, kalau ada apa-apa, mbah udah bilang ke kamu semua).
Rehan dan Sindi akhirnya kembali lagi ke Kota dan membicarakan perkataan kakek tadi.
"Sebenernya kalau kita gak percaya hal-hal kaya gitu gak bakal ada kejadian aneh kan?" Tanya Sindi.
"Iya sih, ya mau gimana lagi kita kan asli keturunan Jawa memang banyak pantangannya" Jelas Rehan.
"Ya udah semoga pernikahan kita lancar ya sayang"
Besok harinya Sindi dan Rehan datang ke rumah kak Risti tempat penyewaan baju pengantin untuk fitting baju.
"Kakak gak salah ambil tanggal pernikahannya? Itu kan bulan suro, bulan pantangan buat nikah" Tanya Kak Risti.
"Gak salah kok, ya gimana lagi kak kita gak ada pilihan lain" Ucap Sindi.
"Ya udah, yang penting kita tetap berpikir yang baik-baik aja, semoga lancar"
3 Bulan kemudian.
Pernikahan Rehan dan Sindi akan segera di laksanakan besok siang, Sindi sudah mempersiapkan semua untuk acara besok, keluarga, saudara dan kerabat sudah berdatangan di acara pernikahan Rehan dan Sindi.
Ke esokan harinya.
Pagi hari Sindi sudah selesai di make up dengan riasan natural, karena parasnya yang sudah cantik, Sindi tidak perlu riasan yang terlalu mencolok lagi. Ayah Sindi sudah meninggal 3 tahun lalu, pernikahan ini di walikan oleh paman Sindi yang ada di Desa.
2 jam berlalu, akhirnya Rehan dan Sindi sudah Sah menjadi pasangan suami istri, sekarang waktunya untuk resepsi pernikahan di mulai, hiburan Band pun sudah berlangsung, tamu undangan secara bergilir bersalaman dengan pengantin untuk mengucapkan selamat.
"Mbakk Sindi.." Terikan Bibi dari belakang.
"Iya bi ada apa?" Tanya Sindi.
"Ini makanan banyak yang bau, padahal semua makanannya baru semua tapi kok cepet banget bau ya?" Tanya Bibi kebingungan.
"Ya udah hubungin orang dapur untuk cepet ganti ya bi, sekalian bilang ke ibu" Ucap Sindi.
Tidak lama kemudian saudara Rehan datang menyampaikan hal serupa seperti Bibi Sindi tadi.
"Sindi, ini makanan masih banyak banget gak ada yang makan, apa makanannya udah gak enak ya?" Tanya Tante.
"Masa sih tante, barusan aja baru di ganti sama orang dapur"
"Para tamu juga diem aja dari tadi gak ada yang mau makan hidangan ini, tante jadi heran, apa karena gak enak?"
"Tadi Sindi makan, enak kok tante" Ucap Sindi.
"Waktu kita bersalaman sama tamu juga wajah mereka kaya biasa aja gak seneng gitu, masa iya gara-gara makanannya sih" Ucap Rehan.
"Nanti tante hubungin kakek mu"
Sindi dan Rehan masih bersalaman dengan semua tamu, namun ada yang aneh dari semua tamu, banyak tamu yang Sindi dan Rehan tak mengenalinya.
"Kamu ngundang berapa orang sih sayang kok ini gak habis-habis tamunya, udah cape banget lagi" Tanya Rehan.
"Aku cuma ngundang temen sekolah, temen kuliah, sama temen kantor udah, aku juga heran banyak yang engga aku kenal wajahnya" Ucap Sindi.
Tidak lama kemudian saat tamu sedang ramai-ramainya bersalaman, sampai Sindi tidak ada waktu untuk duduk, Sindi melihat dari kejauhan ada tamu yang wajahnya tanpa ekspresi berdiri di sebelah meja hidangan, saat Sindi sedang memperhatikannya tiba-tiba ada tamu lain yang menghalanginya.
"Sepertinya aku kenal orang itu" Ucap Sindi dalam hati.
Sindi mencari orang itu kembali, karena merasa tidak asing dengan wajahnya, ternyata orang itu ada di pintu masuk.
Tiba-tiba, orang itu menengok ke arah Sindi dari kejauhan.
"Ayahh....??????" Teriak Sindi.
Sindi lalu menangis dan pingsan.
Sore hari.
Sindi terbangun dan acara sudah selesai, semua keluarga dan saudara menunggu Sindi siuman dan memberikan minum pada Sindi.
"Sayang, kamu gak papa kan?" Tanya Rehan dengan khawatir.
"A.. A..ayah.. Tadi aku lihat ayah" Ucap Sindi dengan menangis.
"Ayah? Gak mungkin sayang kamu tadi kecapean aja"
"Engga sayang tadi ayah datang ke acara nikahan kita"
Tiba-tiba kakek datang menghampiri Sindi dan Rehan.
"Mbah wes ngerti kawit mau, akeh tamu sing dudu menungso alias wujud demit ning acara kawinan mu" Jelas kakek.
(Mbah udah tau dari tadi, banyak tamu yang bukan manusia alias wujud setan di acara pernikahanmu).
"Maksude pripun mbah?" Tanya Rehan.
(Maksudnya gimana mbah?).
"Yo kuwi, mbah wes pernah cerito, wulan suro kuwi wulane dedemit podo gangguni menungso, separo tamu ning kawinanmu mau kuwi yo akeh sing demit, mbah weruh dewek, ono sing ngerusak ben panganan mambu, ono sing ganggu ben kowe ngerasa kesel banget, padahal ora ngopo-ngopo, lah mau kuwi bapakmu melu teko neng acaramu ngewujudna ning ngarepmu, bapakmu pengen weruh kowe dadi penganten"
(Ya itu, mbah udah pernah cerita, bulan suro itu bulannya setan pada ganggu manusia, sebagian tamu di nikahanmu tadi ya banyak yang setan, mbah liat sendiri, ada yang ngerusak makananmu biar bau, ada yang bikin kamu biar capek padahal gak ngapa-ngapain, lah tadi itu ayah kamu ikut datang di acara kamu, muncul di depanmu, ayah kamu pengin liat kamu jadi pengantin).
"Bapak tenan teko mbah?" Tanya Sindi masih dengan menangis.
(Ayah beneran dateng mbah?).
"Iyo, mau mbah wes ngongkon bapakmu lungo, ojo ngasih anakmu weruh kowe ngadek neng kene, tapi bapakmu wegah"
(Iya, tadi mbah udah nyuruh bapakmu suruh pergi, jangan sampai anakmu liat kamu berdiri di sini, tapi bapakmu gak mau).
"Tadi juga aku liat tamu dengan wajah yang pucat banget dia cuma diem aja" Ucap Rehan.
"Aku juga ngerasa tamu yang salaman sama kita tadi tangannya dingin semua" Jelas Sindi.
"Iya bener, kirain aku aja yang ngerasain itu"
Anak tante Rehan ikut mendekati Sindi dan berkata hal yang aneh di alaminya.
"Kak Rehan, tadi aku lihat ada tamu yang tangannya berdarah dan memegang semua makanan yang ada di meja" Ucap Riki.
"Apa itu yang membuat semua makanan bau?" Tanya Rehan.
"Berarti kita sudah di ganggu makhluk halus?" Ucap Sindi dengan nada lemas.
"Yo biso wae, kowe wong loro wes di gangguni dedemit, saiki kowe podo do'a marang gusti Allah, nyuwun diparingi keselamatan lan perlindungane, mangke mbah sing bersihna awakmu lan tempat iki saking dedemit ben ora ono meneh demit sing ketinggal ning kene"
(Ya bisa jadi, kamu berdua sudah di ganggu setan, sekarang kamu berdua berdo'a pada Allah, meminta di beri keselamatan dan perlidungan, nanti mbah yang membersihkan tubuhmu dan tempat ini dari gangguan setan tadi biar gak ada setan yang tertinggal disini).
Semua sudah membaik, dan Sindi juga sudah lebik baik dari yang tadi. Sindi dan Rehan sedang berbincang-bincang dengan keluarga dan saudara di ruang tamu, semua sudah kembali senang dan tertawa, suasana mulai hangat kembali.
"Aku ke kamar mandi dulu ya sayang" Ucap Sindi.
"Iyah istriku yang cantik"
"Apaan sih kamu" Jawab Sindi dengan tertawa genit.
Tiba-tiba di dapur ada seseorang yang sedang makan menghadap kompor membelakangi Sindi.
"Mbah.. Niku mbah ta?" Sahut Sindi dengan berjalan pelan mendekati orang tersebut.
(Mbah.. Apa itu mbah?).
Orang itu menoleh kepada Sindi.
..
..
..
..
"Aayyahh.....????"
Dan ternyata arwah Ayah masih disini.